“Tia!”
“Kenapa kau berseru mengangkat panggilan video call-ku? Seolah kau terkejut,” ujar Tia.
“Iya, aku pikir sekarang kau sedang sibuk berbalas pesan dengan Selo,” Salman mengatakan dengan tersenyum.
Namun Tia melotot melihatnya. Bola matanya membesar membuat Tia nampak cantik di layar ponsel Salman.
“Maaf,…” ujar Salman perlahan.
“Berikan nomorku pada Selo!” pinta Tia.
Gantian Salman yang mengerutkan kening.
“Untuk apa?” tanyanya
“Agar jika kau hilang, aku tahu kemana harus mencarimu. Ha … ha … ha,….” Tia mengatakan sambil diiring tawa.
Membuat Salman tersenyum dengan alasan yang diberikan. Jadi, Tia dekat dengan Selo hanya demi Salman. Sekali lagi sebuah penerimaan tulus yang tidak pernah Salman dapatkan dari orang lain. Tia, yang pertama!
***
Salman dan Firoz tengah bersiap untuk berangkat ke kampus. Hari ini adalah hari ujian kelulusan beasiswa. Wajah tegang sejak pagi telah nampak di muka Salman. Firoz memperhatikan muridnya yang sedang mengenakan sepatu.
“Tegang?” tanyanya.
Salman tersenyum, sambil menaikkan kaki ke kursi untuk mengikat tali sepatunya.
“Sedikit,” jawab Salman singkat.
“Sebaiknya kau tenang. Karena ketegangan, kekalutan dan ambisi membuat orang sulit berpikir. Apa yang semula mereka tahu bisa mendadak menghilang jika otak mereka dalam tekanan.”
Salman mengangguk mengerti.
“Lagi pula, aku yakin kau akan lulus dengan angka terbaik. Itu hasil review-ku selama mengajarmu. Dan selama lima tahun mengajar, hasil review-ku selalu sembilan puluh persen benar.”
“Dulu aku berangkat ke Khatmandu karena rasa sakit hati. Dengan gadis yang telah menolakku karena kemiskinan. Namun hari ini, aku akan menjalani ujian dan berhasil demi diriku dan orang-orang yang percaya bahwa aku bisa. Termasuk anda, Tuan.”
Firoz berjalan ke arah jendela, membuka daunnya dan membiarkan udara sejuk masuk memenuhi ruangan mereka.
“Salman, beasiswa ini hanyalah sebuah awal untukmu berpijak ke tahapan selanjutnya. Aku senang mendengar bahwa kau telah meninggalkan luka. Karena dengan beban luka seberat itu. Akan sulit bagimu untuk melangkah di masa depan.”
“Iya, Tuan. Tia telah menjadi tangan Tuhan yang secara langsung menyentuh diriku, lukaku, kesedihan dan hatiku. Memulihkan sekaligus menguatkan.”
Mendengar nama Tia disebut, spontan membuat Firoz membalikkan badan.
“Dan belajarlah dari masa lalu, bahwa hidup ini tergantung pada diri kita sendiri. Boleh saja bertemu dengan orang baru. Tapi tidak untuk menjadikannya sebagai sandaran. Kau hanya akan berakhir kecewa. Karena manusia berubah seiring perputaran waktu.”
Salman mengangguk setuju dengan kata-kata Firoz. Dia sebisa mungkin mengendalikan perasaannya pada Tia untuk tidak terlalu dalam dan kecewa di kemudian hari nanti.
Pintu terbuka dan Selo masuk.
“Selo! Sudah berapa kali kubilang, kamar ini sekarang bukan hanya milikku. Belajarlah mengetuk pintu!” hardik Salman.
Selo berdiri di batas pintu dengan wajah kebingungan menatap Firoz yang tersenyum dan Salman yang tegang. Dia mundur satu langkah dan kembali menutup pintu. Lalu mengetuknya,
Tok! Tok! Tok!
Firoz dan Salman tertawa bersamaan, dan Selo masuk dengan wajah ceria.
“Aku dengar kalian berbincang, jadi aku putuskan langsung masuk saja. Aku rasa kau dan Tuan Frioz sudah siap untuk sarapan. Ayo kita ke dapur. Sepertinya tinggal kita bertiga yang belum makan!”
Selesai berkata, Selo langsung balik badan menuju arah dapur. Sementara Firoz dan Salman mengekor dari belakang. Wajah tegang Salman yang nampak sejak pagi kini sedikit lebih tenang setelah bertemu Firoz dan Selo.
***
Kampus pagi ini sangat tenang. Karena mahasiswa biasa sedang dalam liburan sekolah. Hanya ada beberapa puluh orang yang mengikuti program beasiswa. Mereka datang untuk ujian.
Salman dan Selo kembali tegang melangkah ke dalam ruang kelas. Semua wajah tertunduk sibuk dengan buku masing-masing. Dan di sudut ruangan ada Anil yang sedang tersenyum sibuk dengan ponselnya.
Salman mengambil duduk di depan Anil dan Selo di samping Salman.
“Kau tidak sibuk seperti yang lain? Tanya Salman perlahan pada Anil.
“Tidak! Aku tidak peduli dengan program beasiswa ini. Lulus atau tidak, aku akan tetap pergi ke UK. Beasiswa ini hanya tentang gengsi ayahku. Dan aku tidak peduli dengan itu!” wajah Anil nampak keras dengan perkataannya.
Salman menatap Selo yang kemudian mengangkat bahu. Selo mulai membuka buku pelajaran dan tenggelam dalam keseriusan. Bagaimana pun, Selo tidak ingin mengecewakan orang tuanya yang telah menyiapkan segala sesuatu. Mereka selama ini tidak tahu bahwa sebagian besar waktu Selo habis untuk mengejar pada gadis di kampusnya.
Pandangan Salman berkeliling. Melihat seluruh siswa di kelas. Dengan wajah-wajah serius dan mimik penuh harapan. Dia lalu berjalan keluar, ke depan kelas agak ke tengah taman. Mengangkat ponsel dan menekan nomor.
“Ibu,” sapanya begitu panggilan sudah di jawab.
“Dimana kau? Hari ini harusnya sedang berlangsung ujian?” tanya ibunya.
“Ya, aku sudah di kelas. Jangan khawatir.”
“Lalu kenapa kau malah sibuk menelponku? Belum mulai?” terdengar bahwa ibunya juga tegang dengan hari ini.
“Ibu, aku menelponmu untuk meminta restu dan doa. Agar Tuhan mudahkan aku dalam menghadapi ujian hari ini. Juga agar aku tidak gugup. Aku percaya doamu akan menjadi penyelamat dan kemudahan bagiku.”
Terdengar isak tangis dari ibunya di seberang sana. Dan tanpa kata.
“Jangan menangis bu, doakan aku. Aku akan berhasil untuk keluarga kita. Lima tahun dari sekarang, ayah dan ibu akan bangga dengan pencapaianku.”
“Dasar! Aku ini ibumu, tanpa kau minta doaku akan selalu mengalir menyertaimu. Tidak usah terlalu tegang, Tuhan akan selalu mempermudah jalan yang memang sudah ditakdirkan untukmu.”
“Aku sentuh kakimu, Ibu. Untuk sebuah restu dan keberhasilanku.”
“Jaga dirimu, Salman.”
Salman memutuskan sambungan telepon ke ibunya dan bergegas kembali ke kelas. Nampak Tuan Firoz dan seorang wanita paruh baya berkaca mata besar sedang berjalan menuju ruangan mereka. Mungkin itu adalah konselor beasiswa.
Dia kembali duduk di bangkunya. Semua bangku penuh terisi dan sekilas dia melirik ke arah Selo yang sudah tegang dengan keringat bercucuran.
“Hey! Selo! Tenanglah, jika kau setegang ini kau tidak akan bisa berpikir nanti. Tarik nafas dan hembuskan. Bayangkan saja kau sedang menghadapi gadis-gadismu seperti biasa. Keluarkan semua keahlianmu!”
Salman mengatakan sedikit berbisik dan senyum di tahan. Selo melotot ke arah Salman. Sebelum dia sempat membalas, Tuan Firoz telah masuk ruangan bersama seorang wanita yang membawa tumpukan berkas beramplop coklat. Nampaknya itu soal ujian yang harus mereka kerjakan.
Firoz memandang seisi kelas dengan tersenyum bangga. Inilah anak-anak yang telah dia latih berbulan-bulan. Semua berwajah tegang. Mengingatkan Firoz pada perjuangannya sepuluh tahun lalu untuk mendapatkan pendidikan. Dua wajah terlihat tenang di sudut ruangan. Yaitu wajah Salman dan Anil.
Hari ini semua takdir akan ditentukan.