Firoz beradu pandang dengan selo, mengangkat alis untuk mempertegas apa yang baru saja dia dengar dari Salman.
"Kau tahu siapa wanita itu?"
"Aku baru pertama kali mendengar tentang ini. Dan pertama kali juga tahu bahwa Salman memiliki teman perempuan. Dengan karakter begitu. Berbeda negara, juga ... lebih dewasa." jawab Selo
"Nampaknya hubungan mereka tidak main-main. Wanita itu mengirimi Salman uang dalam jumlah banyak. Dia begitu percaya pada Salman."
Firoz berpikir keras. Rasa khawatirnya menyeruak dengan keadaan Salman. Dia takut Salman akan masuk ke dalam masalah berikutnya.
"Selo, cari tahu siapa wanita ini. Dan, jika menurutmu perlu kau bisa katakan padaku. Aku khawatir, Salman akan mendapat masalah baru."
"Baik, Tuan," jawab Selo.
Sementara di luar ruangan Salman menghubungi Tia dalam sambungan telepon.
"Halo," Tia menjawab dari seberang.
"Hai, Tia."
"Salman! Senag kau menghubugiku. Aku baru saja tiba di rumah."
"Kau ingin beristirahat? Apakah aku mengganggu?"
"Oh, nggak. Aku sedang duduk di ruang tamu, sambil memblas beberapa pesan. Hari ini sangat sibuk."
"Ah, iya. Tia, aku sudha menyelesaikan masalahku dengan ayah Anil. Dan kau tahu, dia sangat marah. Bahkan, dia tidak mau menerima uang itu. Dan melemparkannya ke meja Tuan Frioz sebagai donasi. sungguh pria yang sombing dan arogan."
"Ya sudahlah, dia sebenarnya merasa kalah. Hanya saja untuk orang-orang sekelas ayah Anil, pasti akan menutupi dengan cara arogan. Aku lega masalahmu selesai dan sekarang kau bisa berfokus tetang ujian dan keberangkatanmu."
"Hmm .... ya. Tia, dosenku Firoz dan teman baikku, Selo sangat ingin tahu siapa orang yang memberikan aku pertolongan dalam semalam. Baru saja aku keluar kamar dan lari dari mereka. Mereka berdua memberondongku dengan pertanyaan tentangmu."
"Aww ... dan apa jawabmu?"
"Aku katakan singkat tentangmu. Semoga kau tidak keberatan ya."
"Oh, nggak apa kok. Jangan khawatir."
"Dan ... Tia, bolehkah aku memperkenalkanmu kepada mereka?" tanya Salman ragu.
"Boleh saja, tapi nanti kau akan memperkenalkanku sebagai apa?"
"Sebagai teman dekat, sebagai teman hati, sebagai orang yang dikirim Tuhan untuk menopang jatuhnya aku. Maaf Tia, aku mengatakan sebenarnya.bukan karena kau memberiku uang. Tapi, karena kau memang terasa sangat dekat di hatiku."
Sejenak Tia terdiam memikirkan dan meraba kebenaran yang Salman berikan.
"Salman, aku adalah orang yang percaya dengan kata hati yang terdalam. aku berteman dengan banyak orang. Namun tidak lantas semua bisa dekat seperti aku dekat denganmu. Entah kenapa sejak pertemuan hari kedua, aku merasa ada satu sudut di hatiku yang begitu saja terisi olehmu. Kamu tahu, aku disini hanya tinggal dengan Alinea. Pria menjadi makhluk langka dan sulit di terima olehku dan Alinea. Meski begitu, ketika aku bertemu denganmu, hatiku begitu saja mudah merima dirimu."
Salman memikirkan penuturan TIa. Karena hal sama terjadi ada dirinya. Sejak penolakan Miranha, Salman menjaga jarak dengan semua wanita. dia tidak tertarik lagi dengan wanita dalam hidupnya. Baginya seua wanita sama. Mereka penggila Harta.
Tapi Tia, begitu saja hadir mengisi sisi-sisi kosong yang Salman rindukan. Bukan hanya soal cinta namun juga rasa nyaman yang telah lama pergi. Salman mencoba mengerti, apakah ini cinta atau sekedar kekaguman biasa. Namun setidaknya Tia telah membuktikan dirinya tulus menyayangi Salman.
"Tia, apakah suatu hari nanti kita akan bertemu?"
"Pasti, dan aku haya akan bertemu dengamu jika kamu telah mencapai apa yang kamu ingikan, Perjuangkan semua mimpimu. Ingat saja jalan yang telah kamu lewati tidaklah mudah. Dan kamu tidak akan kembali dengan tangan kosong untuk mempermalukan dirimu sendiri di hadapan orangyang pernah menghinamu."
"Tia, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu, silahkan."
"Ketika kamu memberiku uang, apakah kamu tidak khawatir bahwa aku adalah seorang penipu. Uang itu jumlahnya lumayan banyak."
"Tidak!" jawab Tia tegas.
Lalu Tia melanjutkan,
"Aku telah menemukanmu di hatiku. Dan aku juga bukan wanita bodoh yang begitu saja percaya dengan ucapan seseorang. Aku punya pertimbangan untuk melakukan tindakan sebesar itu. Lagi pula ini hanya masalah uang. Aku mengabadikan uang yang aku punya dalam bentuk kebahagiaan. Untuk orng-orang sekitarku, juga untuk orang lain yang memang perlu dibantu. Uang itu akan menjadi kebahagiaan bagi mereka dan kebahagiaan mereka akan menjadi bentuk kebahagiaan dan energi baru bagiku. Kenapa kau bertanya begitu," tanya Tia heran.
"Aku hanya memastikan apakah kau memang melakukan untuk semua orang atau hanya untukku."
"Disini, di dunia nyata aku melakukan untuk banyak orang. Namun untuk orang yang belum pernah kutemui. Ini memang pertama kali. Tapi tidak perlu kau pikirkan. Itu hanya soal uang, sebuah benda yang datang dan pergi dengan mudah. besok lusa bisa kita cari dan temukan kembali."
"Lalu kalau ternyata aku seorang penipu?"
"Ha ... ha ... ha ... yang paling buruk aku kehilangan uang itu saja kan? Namun dirimu? kau akan kehilangan segalanya. Kebahagiaan, dikejar rasa bersalah, lalu akan tenggelam dalam kebingungan. Kau akan kehilangan dirimu sendiri. Namun sekali lagi aku katakan, aku bukan perempuan bodoh. Aku punya pertimbangan!"
Kata-kata terakhir Tia terdengar sangat tegas. membuat Salman tidak berani lagi mendebat. Bagi Salman, cukup mendengar bahwa Tia percaya padanya.
Setelah berbincang dengan TIa, Salman menghubungi ayahnya.
"Halo, Ayah."
"Ya, Salman! Kenapa beberapa hari ini kau tidak menghubungi ayah?"
"Iya ayah, ada sebuah masalah besar yang sedang aku hadapi. Dan ... sekarang masalah itu telah selesai."
"Masalah? Kenapa ayah tidak pernah mendengar tentang ini? Setahu ayah, kau disana baik-baik saja."
"Aku sudah berhenti bekerja pada ayah Anil seminggu lalu."
Dengan perlahan Salman mencoba memberi penjelasan pada Khan. Cepat atau lambat berita ini akan sampai pada Khan, dan Salman ingin ayahnya tahu dari mulutnya langsung.
"Berhenti? Kenapa? apa masalahnya? Bukankah kau selalu mengatakan mereka sangat baik padamu?" suara Khan terdengar protes dan bingung.
"Ya, ayah Anil memang sangat baik. Tapi ibunya telah menjebakku dalam sebuah tuduhan rencana pencurian."
"Pencurian?! Memalukan! apa yang kau lakukan, Salman! Kita boleh miskin, tapi ayah selalu mengajarimu untuk menjadi manusia yang jujur!" suara Khan naik dengan nada emosi yang meledak.
"Ayah, dengar aku dulu. Aku tidak melakukan itu. Ayah harus percaya padaku. Itu adalah rencana yang dibuat oleh ibu Anil untuk menjebakku."
"Untuk apa ibu Anil melakukan itu? apa kaitanmu dengannya? Penjelasan ini terdengar tidak masuk akal bagiku."
Salman terdiam dan ragu untuk melanjutkan penjelasan. Dia tidak munhkin mengatakan pada ayahnya bahwa ibu Anl memaksanya untuk melampiaskan hasrat. Ayahnya akan sangat kecewa. Lalu bagaimana mengatakan ini sekarang?