BERKISAH DENGAN SAHABAT

1018 Words
Salman sedang di kamar membaca lagi semua chatnya bersama Tia. malam ini dia tidak bisa dihubungi. Siang tadi tia sudah mengirim pesan dan menyampaikan bahwa dia tidak bisa membalas chat sampai besok pagi. Salman merasa beban di bahunya telah lepas dan sirna. Dia mendengarkan beberapa lagu kesayangannya di ponsel. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara pintu diketuk. Dengan segera Salman bangkit membuka pintu. "Selo!" Salman terkejut, tidak biasanya Selo mengetuk pintu. "Sejak kapan kau jadi begitu sopan?" Selo melirik ke dalam. Ke ranjang Tuan Firoz yang terlihat kosong. "Tuan Firoz belum kembalu?" Salman menggeleng. Tanpa dipersilahkan Firoz menerobos Salman untuk masuk ke dalam ruangan. Lalu merebahkan diri di ranjang Salman. Sementara Si Empu kamar hanya bisa menggeleng dan menyusul duduk di lantai sebelahnya beralas karpet. Hari belum terlalu malam, beberapa dari mereka baru selesai makan. Berlalu lalang di depan kamar Salman yang sekarang pintunya terbuka. Mereka menegur juga melambaikan tangan. Selo menarik nafas panjang sambil menatap ke atap. "Salman, dari mana uang itu kau dapatkan?" Salman yang sedang memainkan ponsel, menoleh ke arah Selo. " Maksudmu?" " Jangan pura-pura bodoh, Salman! Baru kemarin kita membahas tentang uang itu. Kau masih bingung mencari pertolongan. Dan pagi ini, uang itu tersedia untuk membayar ayah Anil. Apa kau mau bilang uang itu diturunkan dari langit?" "Kenyataannya begitu, " tukas Salman menanggapi celotehan Selo. Firoz masuk ke dalam kamar mereka. Dan menutup pintu. terlihat dia membawa dua buah kantong kresek warna bening. Firoz meletakkan tas kerjanya di atas ranjang. Lalu bergabung dengan Salman duduk di lantai. Selo yang semula merasa nyaman turut tidak enak hati. Dan dia pun merosot untuk kemudian ikut duduk di lantai. Firoz membuka kantong plastik yang tadi dia bawa. Sebuah berisi limq cake coklat dengan cream yang terlihat sangar lezat. Dan satu kantong lainnya berisi dua gelas kopi. Kening Selo berkerut. "Hanya dua?" tanyanya. Firoz dan Salman saling berlihatan dan tersenyum. "Aku tidak tahu ada kau disini, Selo," ujar Firoz. Wajah Seli nampak cemberut dan muram. Salman tersenyum lebar melihat reaksi sahabatnya. "Sudah ambil saja bagianku!" kata Salman. Wajah Selo kembalu ceria. Dan kemudian menunduk berpikir, " Kita nikmati bersma saja," ujarnya. Dan Salman mengangguk setuju. Sambil berbincang ringan ketiganya mulai menikmati kopi dan cake yang Firoz bawa. "Apakah setiap hari Tuan Firoz membawakanmu makanan? Kau beruntung sekali sekamar dengannya" ujar Selo sambil mengunyah cake coklat yang tampak belepotan di bibirnya. "Tidak, hari ini spesial. Aku mengucapkab selamat pada Salman yang berhasil keluar dari masalahnya hari ini. Sejak semula aku yakin, kau akan bisa mengatasinya." Salman tersenyum dengan ucapan Firoz. "Terima kasih, Tuan." "Dan bolehkah kau ceritakab padaku, dari mana kau dapatkan uang itu?" dengan tenang Firoz bertanya. Salman menelan potongan terakhir cakenya dengan susah payah. Jika sebelumnya Selo yang bertanya, dia bisa mengelak. Namun sekarang Firoz yang bertanya. Tentu saja, Salman harus menjawab jujur. "Dari temanku. Aku meminjam padanya." "Teman yang mana? ujar Selo. Selo tau semua teman Salman. Dan dia tahu, Salman bukan orang yang mudah dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Pribadinya sangat tertututp. Firoz menyimak pertanyaan Selo dan turut menunggu jawaban Salman. Namun Salman menikmati makanannya dan seolah mengabaikan pertanyaan Selo. "Salman, siapa nama temanmu yang memberi pinjaman? Setidaknya aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena Dia telah membantu murid kesayanganku." Salman membersihan sekitar mulutnya dengan tangan. Lalu menatap Firoz dan Selo bergantian. "Namanya Devina, seorang wanita dari Indonesia." "Indonesia?!" Selo dan Firoz mengucap bersamaan penuh nada heran. "Aku juga belum pernah bertemu dengannya. Kami bertemu sekitar sebulan lalu. Dia menawariku beasiswa untuk belajar budaya di Indonesia. Dia seorang duta konselor beasiswa bagi pemerintah Indonesia." Selo dan Firoz berpandangan dan menatap heran. "Meski aku menolak tawaran yang dia berikan, namun kami terus berkomunikasi sebagai Teman. Dia wanita yang sangat baik, cantik, cerdas dan dewasa. Nyaman bertukar pikiran dengannya, mendapatkan saran dan terakhir dia menawarkan bantuan. Sebenarnya aku sudah menolak. Tapi, kami punya perjanjian atas uang itu." Firoz dan Selo semakin bingung dengan kata2 Salman. "Tunggu! Kalian hanya bertemu lewat telepon tapi dia sudah memberimu uang? Dalam jumlah banyak?" Seli menegaskan. Dan Salman mengangguk untuk mengiyakan. "Wanita itu terlalu baik atau terlalu bodoh?" Selo berkata jengkel melihat reaksi Salman yang dingin. Dia berkata sambil meneguk tetesan terakhir kopi di gelasnya. "Dia wanita yang sangat cerdas. Dan baik, kuat dan luar biasa, " Salman menegaskan tentang Tia, matanya menatap ke arah Selo tajam. Firoz dengan tenang menarik nafas. "Salman, kamu sudah membuktikan bahwa dunia ini kadang begitu gila. Dan aku harap kamu berhati-hati. Orang yang kita kenal baik pun bisa melakukan kejahatan. Apalagi orang yang baru kita kenal." Salman mengangguk setuju dengan kata-kata Firoz. "Pembicaraan kami jauh dan panjang. Wanita itu pernah mengalami masa sulit. Ketika aku menyampaikan tentang masalah ini, dia turut berempati. Dia tahu betapa sulitnya melewati itu semua." Selo menatap Firoz tajam. Berharap sebuah penjelasan yang lebih masuk akal. Namun Firoz hanya mengangkat bahu. Gerakan yang terbaca oleh Salman. "Aku tahu, kalian tidak percaya. Namun begitulah sesungguhnya yang terjadi. Dia seperti kiriman langsung dari langit. Dari Tuhan untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya dalam menyelesaikan masalah ini. Ketika semua jalan buntu dan tertutup, dia hadir begitu indah dan penuh keajaiban," tutur Salman. "Aku harap tidak ada perjanjian atau kesepakatan yang sulit kau buat dengannya. Apalagi wanita itu berbeda negara. Jika sesuatu terjadi, ini akan menjadi masalah International!" Firoz menegaskan. "Tuan, wanita itu sangat baik. Hatiku teduh hanya dengan melihat matanya. Jiwaku tenang hanya dengan membaca kata-katanya. Setiap huruf yang dia kirim begitu berharga dan sarat makna. Dia adalah anugrah yang Tuhan kirim langsung untukku. Di kamar ini," sekali lagi Salman mencoba meyakinkan Selo dan Firoz. Firoz mengangguk, mencoba memahami keadaan yang sedang Salman hadapi. Sementara Selo menjadi gagal memahami. Baginya masih banyak yang harus dipertanyakan. Selo mengenal banyak gadis yang meminta uang darinya. Tapi Salman mengenal satu wanita yang memberikan dia uang dalam jumlah besar. Kelihatan tidak adil! "Berapa usia wanita itu? Apakah dia pelajar seperti kita?" selidiknya lebih lanjut. "Aku sudah bilang, dia seorang konselor beasiswa. Dan usianya tidak muda, sekitar tiga puluh dua tahun." "Apa?!" Selo kembali berteriak. Salman mulai berdiri untuk beranjak keluar ruangan. Menghindari pertanyaan dari Selo dan Firoz. Tidak peduli dengan kecurigaan mereka. Karena rasa di hatinya, hanya Salman yang mengerti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD