MELEPAS TUNTAS

1096 Words
Langkah arogan merasakan kemenangan. seolah dunia adalah miliknya. Dengan segala yang dia punya, dia bisa memiliki dunia. Begitulah mungkin yang ada di kepala ayah Anil. Dengan jarak lebar-lebar dia menuju ke gedung kampus tempat Salman dan Anil sedang melangsungkan pendidikan. Ini adalah hari dimana Salman harus membayar kekurang ajarannya yang dengan berani memasuki kamarnya untuk percobaan pencurian. Dua orang polisi ada di belakangnya bersiap untuk membawa Si Terdakwa. Hingga dia sampai di ruangan Firoz. Di kursi panjang depan ruangan, tampak Anil dan Salman sedang duduk terdiam. “Anil, sedang apa kau disini?” Anil menatap ayahnya tanpa jawaban. Lalu ayah Anil melirik sombong pada Salman. Seolah dia adalah penjahat besar yang harus segera disingkirkan. Tanpa mengetuk, dia langsung masuk ke ruangan Firoz. Pemilik ruangan sedang sibuk menekuni beberapa berkas. “Tuan Akash, silahkan masuk,” serunya yang tidak berguna. Karena Akash dan dua polisi itu sudah berada di dalam sebelum dipersilahkan. Dengan arogan, ayah Anil mengambil duduk di kursi depan Firoz dan menyilangkan kaki. “Jadi, hari ini aku akan membuat laporan resmi,” ujarnya penuh rasa percaya diri. Firoz tersenyum, mempersilahakn dua orang polisi yang bersama ayah Anil untuk duduk. “Tuan Akash, terima kasih atas kedatangan anda. Namun begini, di dalam rekaman CCTV itu dan barang bukti juga tidak bisa dikatakan Salman melakukan upaya pencurian. Karena ternyata, tidak ada yang hilang di rumah anda.” Firoz berani mengatakan ini setelah sehari sebelumnya dia berkonsultasi dengan temannya yang seorang pengacara. Firoz yakin Salman tidak melakukan kejahatan. Karena itu, dia berusaha untuk membantu Salman keluar dari jeratan hukum yang sekedar jebakan. Akash menegakkan duduk, lalu badannya sedikit maju. Agar kata-katanya terdengar jelas di telinga Firoz. Matanya menatap dosen itu penuh dengan ancaman. “Tapi dia masuk rumahku tanpa izin!” tentang Akash. Firoz menatap dua polisi yang duduk di hadapannya. “Dia masuk di persilahkan oleh istri anda. Dibukakan pintu oleh pembantu anda. Apa yang terlihat di CCTV bisa saja kita katakan, Salman bingung dan tersesat di rumah anda. Bukan begitu, Bapak Polis?” Dua polisi itu saling berpandangan dan mengangguk setuju. Akash semakin geram dengan teori yang diberikan oleh Firoz. “Baiklah, untuk kasus ini dia boleh lolos. Tapi dia masih punya kasus lain yaitu hutangnya padaku. Dari tiga bulan pembayaran yang aku berikan, baru satu bulan beberapa hari yang dia penuhi. Bagaimana dia akan menyelesaikan hal ini?” Firoz tersenyum, dan berdiri. Melangkah keluar dimana Salman dan Anil berada. “Masuklah!” serunya. Salman masuk dengan wajah berseri dan berani. Sementara Anil masuk dengan mimik muka khawatir. Firoz kembali duduk dan mulai bicara. “Salman, tuduhan pencurian itu sudah batal secara hukum. Sekarang, ayah Anil mempermasalahkan tentang pembayaran yang dia berikan kepadamu. Kamu belum memenuhi kewajiban itu seluruhnya.” Salman mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah amplop coklat tebal. “Tuan, aku kembalikan dua bulan pembayaran yang telah aku terima. Tidak ada hutang dan kewajiban lagi diantara kita.” Salman mengulurkan amplop coklat itu pada Akash. Dengan wajah berani dan penuh kelegaan. Ayah Anil berdiri, mengambil amplop itu dengan sengit, lalu melemparkan ke arah meja Firoz. “Aku menyumbangkan uang ini untuk biaya kebersihan kampus. Uang ini tidak ada artinya bagiku. Namun penghinaan anak ini, harus dibayar lunas!” Ayah Anil berjalan keluar sambil melotot penuh ancaman pada Salman. Yang dibalas dengan anggukan penuh penghormatan. “Kami permisi, Tuan,” ujar dua polisi yang sejak tadi bersama mereka pada Firoz. Dengan sebuah anggukan, Akash dan dua polisi itu meninggalkan ruangan Firoz. Anil duduk lemas di kusi depan meja Firoz, “Maafkan ayahku, Tuan. Dan kau juga, Salman.” Salman tersenyum santai menatap ke arah Anil. “Jangan khawatir, aku tidak sakit hati dengan perlakuan ayahmu. Dan aku sangat mengerti. Dengan posisi yang dia miliki, wajar jika dia merasa kesal. Karena gagal membuat pemuda miskin sepertiku turut dalam ambisinya.” Firoz menatap Salman dengan kekaguman. Pemuda ini memang luar biasa. Selain pribadi yang jujur baik juga penuh perjuangan, dia juga seorang yang sangat empati. Melihat Salman bagi Frioz seperti melihat gambaran dirinya sepuluh tahun lalu. Ketika dia masih berjuang untuk mencapai pendidikan. “Salman, masalah ini sudah selesai. Aku harap kalian kembali fokus untuk ujian minggu depan,” tutur Firoz. Anil dan Salman mengangguk tanda mengerti. “Hmm … Anil, jika kau masih ingin pelajaran tambahan aku akan bisa memberikan. Maksudku, les tambahan. Masih ada waktu satu minggu. Datanglah ke asrama dan kita bisa belajar bersama disana.” Anil menatap Salman dengan secercah rasa malu. Betapa dengan semua kejadian, Salman masih mau berbaik hati padanya. Dan Salman juga melindungi kehormatan keluarga mereka. Anil mengangguk dan terdiam. Pintu ruangan terbuka, Selo masuk dengan wajah pucat pasi. “Salman! Salman! Kau baik-baik saja?!” Selo menghambur dan memeluk Salman. “Selo! Lepaskan aku!” seru Salman lucu. “Ya Tuhan … aku berlari setelah seseorang mengirimkan pesan padaku. Dia bilang ayah Anil datang dengan dua orang polisi. Aku pikir pastilah mereka datang untuk menangkapmu. Tapi kau disini dan selamat!” Dengan nafas terengah-engah Selo kembali memeluk Salman. Bagaimana pun, Salman adalah temannya sejak awal berjuang hingga sekarang. Selo tidak ingin sesuatu terjadi, tanpa Salman mungkin Selo tidak akan setuju untuk pergi keluar negeri. Selo melepaskan pelukan itu dan mengerutkan kening pada semua yang ada di ruangan. “Tunggu! Kenapa kau masih disini? Ayah Anil baik hati dan batal memenjarakanmu?” Firoz tersenyum, Anil menunduk malu sementara Salman tertawa. “Ya, ayah Anil berubah pikiran,” ujarnya. Selo menggelengkan kepala. Dia tahu karakter ayah Anil yang arogan. Mustahil berubah pikiran. “Bohong!” Salman kembali tertawa. Dan Anil dengan wajah lesu menyahut. “Salman membayar seluruh hutangnya pada ayahku.” Dengan sengit Selo menatap ke arah Anil. Seolah menuduh bahwa Anillah penyebab semua kekacauan ini. Lalu kembali melihat ke arah Salman. “Kau merampok dimana? Dalam semalam mendapatkan uang?” Salman terbahak, “Ha … ha … ha … sebuah bank!” katanya menggoda Selo. Selo memasang wajah kesal. Dan Salman menghentikan tawanya. “Seorang malaikat Tuhan kirimkan untuk membantuku. Jika Tuhan berkehendak, dalam hitungan menit DIA bisa menyelesaikan masalahku dengan segera.” Kembali kening Selo berkerut. Dia semakin tidak mengerti dengan apa yang Salman katakan. “Sudahlah Selo, jangan kau pikirkan. Atau kau akan berubah. Masalahku sudah selesai, dan dewi penolong itu telah jadi bagian indah dalam hidupku. Saat ini dan di masa depan.” “Dewi? Jadi dia seorang wanita? Wew!” Selo menanggapi Salman dengan sangat antusias. Keterkejutan yang sama hadir di wajah Firoz dan Anil. Mereka saling berpandangan lalu mengangkat bahu. Menandakan tidak tahu satu sama lain. Sementara Salman, merasa bahagia dalam dirinya. Penuh bunga dan cinta. Untuk kemudian melupakannya di masa depan.                    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD