Matahari belum lagi terbit, namun suara ketukan itu begitu mengganggu. Salman merasa belum puas dengan tidurnya. Setelah berhari-hari dia tidak bisa dengan baik memejamkan mata. Akhirnya malam tadi dia bisa tidur dengan nyenyak. Pembicaraan dengan Tia telah menjadi solusi bagi Salman.
Suara ketukan di pintu itu terus belanjut, nampaknya sesuatu yang sangat penting. Dengan lambat Salman berjala untuk membuka.
“Kumar! Kenapa kau kesini malam hari?” tanya Salman pada Kumar yang berdiri dengan wajah kesal di ambang pintunya.
Tanpa menjawa, Kumar menggeser berdirinya. Dan terlihat sosok lain di belakang Kumar.
“Anil? Sedang apa kau disini?” tanya Salman ketika melihat Anil di belakang Kumar.
“Dia bilang, dia temanmu dan ada urusan sangat penting. Dia memaksaku untuk mengantarnya ke kamarmu,” kata Kumar dengan nada kesal.
Salman melihat Kumar dan Ail bergantian. Wajah Kumar yang terlihat ngantuk dan kesal sementara Anil memperlihatkan cemas juga lelah. Sepertinya Anil tidak tidur semalaman.
“Ya, Kumar. Dia temanku, biarkan dia disini. Masuklah, Anil.”
“Tentu saja dia temanmu. Jika bukan, sudah kulempar dia keluar,….” Kumar berkata kesal sambil berlalu dari hadapan Salman dan Anil.
Setelah Kumar pergi, Salman menutup rapat pintu. Sementara Anil telah duduk di kursi yang tersedia di tepi kamar Salman.
Salman mengambil tempat di kursi lain. Dan melihat Anil yang berwajah khawatir. Menunggu Anil untuk memulai bicara tentang maksud kedatangannya.
“Salman,….”
Anil mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal yang dia sodorkan pada Salman. Namun yang diberi hanya menatap tanpa mengerti.
“Apa itu?” tanya Salman bingung.
“Aku tahu hari ini adalah batas terakhir waktumu. Untuk menyelesaikan masalah dengan ayahku. Aku belum menemukan potongan CCTV untuk membuktikan kamu tidak bersalah. Dan aku belum memiliki nyali untuk bicara dengan ayahku tanpa bukti.”
“Ok, nggak apa. Aku bisa mengerti posisimu. Lalu, ini apa?”
“Ini adalah uang pribadiku. Gunakan untuk membayar hutangmu pada ayahku. Aku merasa sangat jahat, jika kau masuk dalam kesulitan karena kejahatan Maria.”
“Oh, Anil. Aku telah menemukan solusi untuk masalah ini. Aku tidak akan masuk penjara dan aku juga tidak perlu menerima uangmu.”
Anil mengerutkan kening. Dari mana Salman mendapatkan uang. Dia tahu persis bahwa Salman hanyalah anak seorang petani miskin.
“Siapa yang meminjamimu uang?” selidik Anil.
“Seseorang, kau tidak mengenalnya.”
Salman berdiri membuka jendela kamar, semburat merah senja yang ingin merona mulai terlihat. Namun begitu kabut dan udara dingin Khatmandu masih begitu pekat. Seiring dengan daun jendela yang mengembang, udara dingin masuk memenuhi ruangan.
“Anil, aku memang tidak sekaya dirimu yang bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah. Namun aku adalah orang yang percaya bahwa, nilai baik akan selalu dipertemukan dengan kebaikan. Detik terakhir aku menyerah dengan keadaan, justru saat itulah Tuhan mengirimkan pertolongan. Sebuah jalan yang istimewa penuh keajaiban. Aku sendiri tidak menyangka bahwa malam ini luar biasa Tuhan turut campur tangan dalam menyelamatkanku.”
Anil tertunduk lesu. Betapa semua kata-kata Salman bagai sembilu menusuk hatinya. Dia memang anak pejabat yang kaya dan terpandang. Namun nilai kebaikan tidak pernah ayahnya ajarkan. Ayahnya selalu mengajar Anil tentang gengsi dan harga diri dari sebuah materi.
Dari anak petani miskin inilah Anil melihat bahwa tidak semua hal bisa ditukar dengan uang. Anil malu bagaimana harus menatap mata Salman. Dalam hati dia berjanji, untuk mengungkap kebenaran itu sebelum mereka pergi ke UK.
“Aku akan menemui ayahmu siang ini bersama Tuan Firoz. Beberapa jam lagi, Tuan Firoz akan datang. Kami akan bersama pergi menemui ayahmu. Aku akan mengembalikan semua uang itu dan urusan diantara kita selesai,” Salman memaparkan pada Anil.
“Salman, kau telah membuatku malu. Aku bahkan tidak mempunyai peluang untuk menolongmu. Padahal semua masalah ini timbul karena aku. Dan perilaku ibu tiriku. Maafkan kami Salman.”
Salman mendatangi Anil dan merangkul bahunya.
“Anil, kau tetap sahabatku. Dan ayahmu akan tetap kuhormati layaknya ayahku. Hanya saja, kau perlu memperlihatkan sosok asli Maria pada ayahmu. Hatiku terluka melihat pengkhianatan yang tega dia lakukan pada ayahmu.”
“Pasti Salman, aku akan memperlihatkan wujud asli dari Maria. Dia harus pergi dari hidup ayahku selamanya. Ayahku telah buta oleh cinta yang sebenarnya tidak ada. Maria tidak semanis yang selama ini ayahku sangka.”
Salman merentangkan tangan ke atas sambil menguap. Dia melirik jam dinding di kamar. Masih beberapa jam lagi sebelum Firoz tiba. Dia ingin sekali lagi tenggelam dalam tidurnya yang nyenyak. Sehingga dia akan segar dan siap bertemu dengan ayah Anil siang nanti.
“Aku ingin tidur lagi, sepertinya kau juga perlu istirahat. Kau mau tidur disini? Di ranjang Tuan Firoz?”
Anil tidak menjawab, dan langsung merebahkan diri di ranjang yang Salman tunjukkan. Sementara Salman segera menuju ranjang yang menjadi bagiannya.
“Aku berhari-hari tidak bisa tidur sejak terakhir kali bertemu denganmu,” ujar Anil dari ranjangnya.
“Kenapa?” dengan malas Salman menyahut.
“Ini bukan sekedar uang tapi juga pengkhianatan yang Maria lakukan. Dia menjebak ayahku dengan perangkap cinta. Ayahku adalah seorang pejabat terhormat di Nepal. Setiap orang akan menunduk angguk di hadapannya. Dan wanita ini dengan berani menginjak harga diri ayahku.”
“Selalu ada adegan salah dari kehidupan. Tapi semua itu bukannya tanpa alasan kan? Setelah ini ayahmu akan lebih berhati-hati. Dan percaya padamu. Setelah ini, aku yakin hubunganmu dengan ayahmu akan jauh lebih baik.”
“Mungkinkah aku lulus beasiswa itu? Jika Maria pergi dan aku ke UK, itu artinya ayahku akan sendiri.”
Sepi … tidak ada jawaban. Anil menengok ke arah Salman. Dan dia telah tertidur lelap dalam mimpi indahya tentang Tia. perlahan tapi pasti, Salman telah jatuh cinta pada sosok wanita yang baru saja ditemuinya itu.
Jika bukan karena gengsi dan ambisi, semua ini tidak perlu terjadi. Toh Anil bisa pergi ke UK dengan biaya pribadi. Namun gengsi beasiswa sebagau putra pejabat yang cerdas telah membawa Anil dalam pusaran masalah.
Rasa bersalah semakin bertambah karena sekarang ada orang lain yang turut menjadi korban. Anak petani miskin yang berada di Khatmandu karena mimpi dan harapan. Anil merasa sebagai bagian dari kejahatan.
Terbayang, entah bagaimana reaksi ayahnya nanti jika tahu kebenaran dibalik semua ini. Ayahnya begitu arogan untuk mencoba menjerumuskan Salman. Hanya karena aduan seorang Maria. Tanpa belas kasihan dan mempertimbangkan perasaan Salman. Namun kini keadaan justru berbalik, Salmanlah yang akan menyelamatkan hidup dan masa depan Ayah Anil dari sebuah pengkhianatan dan penghinaan.
Bagi Anil, Maria hanya menunggu waktu untuk ditendang jauh dari kehidupannya dan Nepal.