Salman mengurungkan niat. Berbicara dengan Kumar dan Selo hanya akan membuat mereka gelisah tanpa bisa membantu. Lagi pula malam ini Tia akan menyampaikan sesuatu padanya.
Disuapkannya potongan Black forest hingga tersisa setengah. Dia melirik ke arah Selo yang sejak tadi sibuk dengan ponsel dengan wajah cemberut. Lalu menyodorkan setengah Black forest itu ke arah Selo.
“Untukmu, terlalu banyak untukku,” ujar Salman.
Wajah Selo yang mendung berubah bahagia. Menyambut setengah Black forest itu dan mulai memakan langsung dengan tangannya. Hingga seluruh cream memenuhi jari kanannya.
Salman membereskan tegukan terakhir teh di gelasnya.
“Kumar, terima kasih makanannya.”
Dia berkata sambil berjalan keluar dapur untuk menuju kamar. Selo yang masih sibuk dengan kuenya bergegas mengikuti Salman dari belakang. Dan turut masuk ke dalam kamar Salman, merebahkan diri di ranjang Firoz sambil menjilati sisa cream di jarinya.
Salman menekan nomor ibunya,
“Halo, ibu apa kabar?”
Ibunya menyahut, “Ibu baik, bagaimana denganmu.”
“Aku baik, Bu. Bagaimana dengan adik-adik?”
“Semua baik. Kapan kau akan kembali ke Ittahari? Minggu ini harusnya ujian sudah dimulai bukan?”
“Aku … akan kembali jika sudah waktunya. Dan … maafkan aku atas semua yang terjadi bu.”
Suara Salman bergetar menahan tangis. Terdengar jelas oleh Selo yang segera memicingkan mata melihat ke arah Salman. Sepertinya Salman memang dalam masalah besar. Selo akhir-akhir ini sibuk dengan teman lain. Lagi pula Salman hampir tidak punya waktu untuk bersamanya. Di sela waktunya dia akan sibuk mengajar Anil.
Setelah Salman menyelesaikan pembicaraan dengan ibunya, Selo bertanya. Meski dia tahu, Salman sangat tertutup untuk urusan pribadi.
“Kau sedang ada masalah?”
Salman menengok ke arah Selo yang bertanya tanpa melihat. Selo menatap ke dinding langit kamarnya.
“Aku perlu uang dalam jumlah besar untuk membayar hutangku pada ayah Anil.”
“Hutang? Sebenarnya kenapa kau berhenti mengajar Anil?”
“Aku sulit menjelaskan padamu. Kau bisa bantu meminjamiku uang?”
“Mana mungkin aku punya uang sebanyak itu. Tapi aku akan menghubungi ayahku. Mungkin dia bisa membantumu.”
“Tidak! Jangan, aku tidak ingin ayahmu tahu. Karena jika dia tahu maka ayahku pasti akan tahu juga dan itu bisa jadi masalah besar bagiku.”
“Hmm,….”
Selo berhenti bertanya, dan mulai sibuk menggulirkan daftar nama di ponselnya. Mencari peluang siapa yang mungkin bisa meminjami mereka uang.
Namun tampaknya mereka berdua memang memiliki lingkaran yang sama. Orang-orang yang sulit untuk membantu.
***
Tia sedang duduk di teras rumah. Menghirup sejuknya udara puncak bogor. Suasana yang sedikit berkabut diantara bunga dan tumbuhan kebun di hadapannya. Mengalirkan inspirasi yang tiada henti di kepala Tia.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Alinea telah sejak beberapa jam lalu berpamitan untuk tidur. Hampir seluruh ruangan lampunya telah padam. Hanya dua petugas keamanan yang suaranya samar terdengar. Tia duduk dan membenahi scraft lebar hangat yang membalut tubuhnya hingga ke leher.
Dia mulai mengetik sapaan pada Salman.
“Kamu disana?”
Salman yang sejak tadi telah menunggu pesan dari Tia langsung membalas.
“Ya, aku disini. Menunggumu.”
“Aku ingin menawarkan solusi untuk masalahmu. Aku akan mengirimu uang untuk membayar ayah Anil.”
Salman terdiam. Keajaiban apalagi ini, setelah pertemuan yang begitu menakjubkan dengan seorang Tia yang istimewa. Sekarang Tia menawarkan uang dalam jumlah tidak sedikit. Salman membalas,
“Tidak, aku tidak bisa menerima uang dari orang yang belum lama aku kenal. Terlebih dia seorang wanita.”
“Lantas kenapa kalau aku seorang wanita?”
“Seorang pria, menerima uang dari seorang wanita dan yang baru dikenalnya. Kau tidak tahu siapa aku dan aku tidak tahu siapa dirimu.”
Chat mereka terhenti beberapa lama. Tia mencari kalimat tepat untuk dikatakan pada Salman.
“Apa kau percaya sebuah istilah bahwa, ‘Tuhan tidak pernah menutup mata. Dia akan memberikan pertolongan pada manusia dengan seribu satu cara. Bahkan yang tidak dapat manusia duga’?”
“Ya, aku percaya.”
“Anggap saja pertolonganku ini adalah salah satu cara Tuhan menyelamatkanmu. Karena kita berdua tahu bahwa kau tidak bersalah dalam hal ini.”
“Tapi … aku tidak bisa, Tia. Ini memalukan, meminta uang pada seorang wanita yang baru kukenal.”
“Kau tidak meminta, aku yang berikan. Ingat Salman resiko jika kau menolak bantuanku. Dan ini adalah malam terakhir kesempatanmu untuk menyelamatkan diri.”
“Tapi Tia,….”
“Jangan egois, Salman. Pikirkan juga ayah dan ibumu, juga saudara-saudaramu. Sebelumnya kau katakan tetang Miranha yang menolakmu karena kemiskinan. Tentu seluruh desa tahu masalah itu. Lalu, jika sekarang kau masuk penjara karena tuduhan pencurian. Bagaimana keluargamu akan di pandang di desa? Bagaimana kau akan menyelamatkan kehormatan mereka? Meski pun semua itu tidak benar adanya.”
Salman terhenyak dengan kata-kata Tia. Dan semua memang benar adanya. Tapi, berat hati Salman menerima bantuan Tia. Dia merasa malu. Dan perasaan ini bisa dibaca oleh Tia dengan baik.
“Salman, baiklah jika kau tidak mau menerima dengan cuma-cuma aku menawarkan sebuah perjanjian denganmu.”
“Perjanjian?” Salman mengerutkan kening membaca pesan Tia.
“Ambil uang itu, akan kukirim malam ini ke rekeningmu. Dan berikan besok pada ayah Anil. Hitung uang itu sebagai pinjaman. Nanti jika tiba waktunya kau akan mengembalikan kepadaku. Setelah kau menyelesaikan pendidikanmu dan aku ingin pembayaran langsung dari tanganmu. Kau akan datang ke Indonesia menemuiku untuk mengembalikan pinjaman istimewa ini.”
Salman sekali lagi terdiam. Air matanya berjatuhan. Dia tahu, Tia membuat perjanjian sesulit itu untuk memaksa dirinya menerima bantuan dari Tia. Dan Salman juga mengerti, dibalik pesan itu. Tia memaksanya untuk menjadi manusia berhasil di masa depan. Agar mereka bisa bertemu.
“Salman, kau setuju?” Tia kembali mengirim pesan, setelah beberapa saat Salman tidak membalas pesannya.
“Ya, Tia. Aku setuju.”
“Kirimkan nomor rekeningmu sekarang.”
Salman mengirim nomor rekening dan kode bank yang dibutuhkan. Beberapa menit kemudian bukti pengiriman uang Tia kirimkan. Bergegas Salman memeriksa saldonya dengan aplikasi mobile banking. Dan semua kiriman uang dari Tia telah tersedia di rekeningnya.
Tia menarik nafas lega, membaca balasan dari Salman. Bagi Tia, mimpi dan harapan Salman adalah sebuah keajaiban. Menjadi sesuatu dari bukan siapa-siapa. Meski dalam sulitnya tantangan. Tia ingin menjadi bagian bagi perjalanan Salman.
Uang itu tidak seberapa bagi seorang Tia. Namun menjadi jembatan penyelamat masa depan pemuda seperti Salman juga pijakan harapan bagi keluarganya.
Sementara Salman, setelah menyetujui tawaran Tia. Hatinya gemetar, jika dulu dia merasa sebagai pria yang selalu tiak beruntung. Maka kali ini dia merasa sebagai orang yang selalu beruntung. Seperti Tuhan begitu luar biasa mulai memperlihatkan padanya jalan menuju masa depan, mimpi dan harapan yang ingin di raihnya.
“Tia, aku akan menjadi orang yang berhasil. Untuk mendapatkan kesempatan datang ke Indonesia dan menemuimu.”
“Kamu akan menjadi orang berhasil. Aku yakin itu.”
Butiran air mata jatuh bersamaan di wajah Tia dan Salman. Sebuah ikatan kedekatan yang terjalin tanpa pertemuan. Sebentuk damai menyapa keduanya. Membawa larut malam itu menjadi titik balik suatu hari nanti untuk dikenang.