Salman tidur nyenyak. Beban hati yang selama ini menjadi miliknya kini telah terbagi. Meskipun dia belum menemukan solusi, tapi ada orang lain tahu apa yang Salman alami. Dan dia adalah Tia. Dinginnya Khatmandu membawa Salman tidur lebih dalam, hingga waktu sarapan usai Salman masih meringkuk dalam selimut.
Tok! Tok! Tok!
Samar Salman mendengar suara pintu diketuk. Rasa enggan menghampiri, 'siapa yang datang di udara dingin sepagi ini?' Salman belum melihat jam yang telah menunjukkan pukul sembilan.
Dengan langkah gontai, Salman menuju ke pintu dan membuka. Matanya menemukan seorang wanita bertubuh gempal berdiri tepat di garis pintu.
“Nyonya Gopi?”
“Jangan menatapku seperti hantu Salman!” nyonya Gopi menyahut dengan nada sengit.
Salman tersenyum, entah kenapa nyonya Gopi selalu ketus pada semua orang. Mungkin sebagai pemilik asrama dengan penghuni pria, nyonyai Gopi perlu terlihat garang.
“Salman, hari ini kamu akan mulai berbagi kamar dengan seseorang. Kamu tahu kan kamar ini memang diperuntukkan bagi dua orang.” Nyonya Gopi menjelaskan.
“Tentu nyonya, saya tidak ada masalah.”
Kumar datang dengan dua koper besar, dibawanya masuk ke kamar Salman. Di belakang Kumar terlihat seorang pria mengikutinya.
“Tuan Firoz?” tegur Salman heran.
Jadi dia akan berbagi kamar dengan dosennya? Nyonya Gopi melihat Salman heran,
“Kamu mengenalnya?”
“Tentu, Tuan Firoz adalah dosen pembimbing program beasiswaku nyonya.”
“Oh… terdengar bagus. Baiklah aku tinggalkan kalian.”
Nyonya Gopi segera kembali ke lantai bawah dengan kumar mengiring di belakangnya. Salman menatap Firoz yang telah melangkah ke dalam. Dia turut menyusul dan membiarkan pintu terbuka. Dinginnya udara Khatmandu mulai memenuhi ruangan.
Salman membantu Firoz memasukkan dua tas lainnya ke dalam kamar. Firoz duduk di ranjang yang menjadi bagiannya. Dan Salman duduk di sisi lain tempat tidurnya.
“Salman, sudah berhari – hari setelah masalah dengan ayah Anil kau tidak datang ke kampus.”
“Iya tuan, aku sedang memikirkan solusi untuk menyelesaikannya.”
“Kamu tahu kan, absensi kehadiran selama pelatihan akan mempengaruhi poin penilaian beasiswamu.”
“Iya saya tahu Tuan.”
“Salman, melihat kesungguhan dan kecerdasanmu aku ingin kamu berhasil dalam mendapatkan beasiswa ini. Tidak semua orang punya tujuan dalam hal belajar. Aku tahu beberapa orang menginginkan beasiswa ini bukan untuk belajar. Sekedar membuka peluang mereka untuk hidup di luar negeri.”
“Iya Tuan.”
“Dengan cara apa kamu akan menyelesaikan masalahmu dan ayah Anil. Apakah kamu menunggu ayahmu mengirimkan uang?”
“Tidak tuan, sejak aku mulai mengajar Anil aku sudah mengatakan pada ayah untuk berhenti mengirimku uang. Karena aku sudah bisa menghidupi diriku sendiri dengan gajiku dari ayah Anil. Dan ini baru bulan kedua, ayah akan bertanya jika aku meminta uang lagi darinya.”
Firoz mengangguk setuju.
“Meski aku tidak mempercayai semua cerita ayah Anil. Tapi aku tidak punya bukti lain untuk menyelamatkanmu”
“Aku akan usahakan segera Tuan, mungkin dengan meminjam pada ayah Selo. Tuan beristirahatlah, aku akan ke dapur. Anda mau teh?”
“Ya, terima kasih.”
Salman beranjak menuju dapur, dan menemukan Kumar disana. Dia sedang sibuk menyiapkan makan siang.
“Salman, kau melewatkan waktu makan pagi. Semua yang aku masak sudah tidak tersisa. Ingin kubuatkan sesuatu?”
“Dua gelas teh,” pinta Salman.
Kumar meletakkan pisau dan sayuran di tangannya. Menyalakan api untuk merebus air dan mulai menyiapkan dua gelas teh.
“Jadi, tuan Firoz adalah dosenmu?” Kumar bertanya.
“Ya,” Salman menjawab singkat.
Matanya menerawang, mencari solusi untuk masalah yang sedang dia hadapi. Kumar menatap heran pada Salman.
“Kau sedang ada masalah? Akhir-akhir ini kau nampak lebih banyak tinggal di asrama dan termenung. Ada yang bisa kubantu?”
“Aku butuh uang dalam jumlah besar, atau … aku akan kehilangan peluang beasiswaku.”
“Kenapa?” Kumar duduk serius di hadapan Salman sambil meletakkan dua buah gelas berisi teh dan sepiring kudapan.
“Aku telah dituduh melakukan kejahatan yang tidak aku lakukan.”
“Siapa pelakunya?” Kumar menatap heran.
Salman berhenti, masalah ini terlalu riskan untuk diketahui oleh orang lain. Kumar mengerti keraguan Salman dalam menyampaikan.
“Berapa banyak yang kau butuhkan? Aku punya dua ekor kerbau di kampung halamanku. Apakah itu cukup?”
Salman terkejut dengan pernyataan Kumar.
“Tidak Kumar, aku tidak akan menerima itu.”
“Dengar Salman, aku ingin kau menjadi seorang dokter bedah seperti cita-citamu. Meski kita baru sebentar mengenal, tapi aku akan bangga menjadi bagian dari perjuanganmu.”
Mata Salman merah berkaca-kaca mendengar pernyataan Kumar.
“Tidak, Kumar. Aku akan menemukan solusinya dengan segera. Hari ini Selo sarapan di dapur?”
“Ya, dan dia keluar untuk menemui seseorang di distrik lain. Dia bilang hari ini kalian libur sekolah.”
“Hmm … ya, baiklah aku akan membawa teh dulu untuk Tuan Firoz.”
Salman mengangkat dua gelas teh dari meja dan bersiap kembali ke kamarnya. Kumar berdiri dari duduknya dan berseru.
“Salman! Kapan pun kau butuh bantuan, katakan padaku. Aku akan senang hati membantumu.”
Salman tersenyum dan berlalu. Kumar yang baru dia kenal begitu percaya akan mimpi dan cita-cita Salman. Sekarang giliran Salman untuk percaya bahwa akan ada jalan keluar untuk peliknya masalah yang sedang dia hadapi.
Salman kembali ke kamar dan meletakkan teh di atas meja yang tersedia di tengah ruangan.
Firoz menyecap tehnya yang mulai hangat.
“Terima kasih,” ucapnya pada Salman.
Salman mengangguk.
“Salman, ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya dengan hubunganmu dan keluarga Anil.”
Dengan pandangan penuh keraguan Salman memandang Firoz. Mengungkapkan semua pada Firoz? Sesuatu yang tidak mungkin Salman lakukan. Dia melindungi kehormatan ayah Anil. Apa yang ayah Anil rasakan jika dunia tahu bahwa dia bukan pria yang sempurna.
Salman menggeleng, “Aku akan keluar sebentar, Tuan. Beristirahatlah, jika kau perlu sesuatu pergilah ke dapur di ujung lorong. Kumar akan membantumu.”
Segera Salman mengenakan baju, jaket dan sepatu. Melangkah keluar meninggalkan Firoz sambil mengangkat ponsel.
“Anil, bisa kita bertemu?”
Salman berjalan menuju sebuah taman yang telah dia sepakati dengan Anil. Apa pun yang terjadi, setidaknya Anil perlu tahu.
Sesampainya Salman di taman, Anil telah duduk menunggu dengan wajah kaku.
“Kenapa kau ingin bertemu denganku?” tanya Anil arogan.
“Duduklah, aku ingin mengatakan sesuatu,” Salman merendahkan nada dan berusaha sabar dengan sikap angkuh Anil.
Jantung Salman berloncatan untuk menyusun kalimat terbaik. Dia ingin Anil tahu tanpa terluka.
“Anil, apa kau tahu ayahmu sakit?” tanya Salman perlahan.
“Sakit? Setahuku ayah baik-baik saja. Sandiwara apa yang sedang kau mainkan.”
Salman menarik nafas, sesuai dugaan. Anil tidak tahu kondisi ayahnya.
“Anil, apa rekaman CCTV lengkap tersedia di rumahmu? Rekaman di hari, dimana aku dituduh melakukan kejahatan.”
“Rekaman itu terpotong, security yang menyimpan rekamannya. Sebenarnya apa maksudmu? Jangan bertele-tele, katakan terus terang!”
“Hari itu aku datang ke rumahmu untuk mengajar seperti biasa, kau tidak menginformasikan padaku bahwa kau akan pergi. Jadi aku datang. Dan ternyata hanya ada ibumu di rumah. Dan,….”
Salman berhenti, Anil memutar duduknya menghadap ke arah Salman.
“Dan,…?”
“Ibumu memasukkan obat penggugah ke dalam minumanku. Dengan sengaja, dan terjadilah perbuatan memalukan itu di rumahmu.” Salman mengakhiri kalimatnya dengan suara bergetar.
“Kurang ajar!!! Ibuku yang memasukkan atau kau yang merayunya?!”
Anil berdiri dan mencengkeram kerah jaket Salman. Tidak ada perlawanan dari Salman.
“Anil, jika aku yang merayunya aku tidak perlu menyampaikan padamu. Ayahmu sakit, itulah sebabnya ibumu, mencari keinginan dengan cara yang dia bisa. Mungkin aku bukan yang pertama."
Anil menurunkan kerah jaket Salman perlahan. Lalu terduduk di bangku taman dan menutup wajahnya dengan frustasi.
“Salman … tolong rahasiakan dari siapa pun tetang hal ini,” suara Anil memelas. Dia menunduk dengan kedua tangan menggosok kepala.
Dengan tenang Salman duduk di samping Anil. Menyentuh bahunya,
“Kau tahu?”
“Aku tahu, tapi aku diam. Sebenarnya, Maria bukan ibuku. Ayah menikah dengannya lima tahun lalu, dua tahun setelah ibuku meninggal. Sejak awal aku tidak setuju dengan keputusan ayah. Tapi selama ayahku tinggal di luar negeri untuk sebuah tugas, banyak yang terjadi antara ayahku dan Maria.”
Anil menatap jauh, ke danau yang terletak di tengah taman. Tampak dua buah Kano sedang didayung perlahan. Dinginnya udara tidak memadamkan panas dalam hati Anil.
“Tiga tahun lalu ayahku terkena penyakit yang membuat dia kehilangan kemampuannya sebagai pria.”
Anil berhenti untuk mencari nafas, dadanya terasa sesak untuk melanjutkan.
“Maria bertahan karena ayahku memiliki banyak harta. Meski secara wanita, dia tidak bahagia. Sejak awal aku sudah menduga, Maria menginginkan harta dari ayahku.”
Hembusan angin membawa dingin dan menyapu kedua wajah tampan yang sedang berbagi perasaan.
“Beberapa kali, Maria datang ke kamarku dengan baju tipis menerawang. Mencoba merayuku, tapi aku tidak segila itu. Aku juga tidak mengatakan pada ayahku. Dia sangat mencintai dan bangga beristri Maria.”
Salman terkejut dengan pernyataan Anil. Dia merangkul bahu Anil. Semua terlalu sulit untuk diungkapkan, Salman sulit mengungkap bagaimana perasaan Anil saat ini.
“Salman, aku akan bicara dengan ayahku untuk membebaskanmu dari semua hutang itu.”
“Tidak! Jangan Anil, aku menghormati ayahmu. Aku tidak ingin ayahmu tahu bahwa kita berdua tahu tentang rahasianya. Aku akan mencari jalan keluar.”
Anil terdiam, tidak adil Salman berada di posisi korban untuk kedua kali. Pertama karena Maria dan sekarang karena ayahnya.
“Aku akan menemukan rekaman video lengkap untuk membuktikan kau tidak bersalah. Dan biar ayahku melihat kebenaran Maria untuk mengembalikan dia ke negara asalnya. Cukup sudah ayahku memelihara ular di dalam rumah kami.”
Salman setuju, ayah Anil harus tahu kebenaran tentang Maria. Tapi sebelum semua bukti itu tersedia Salman tetap perlu menemukan solusi untuk masalahnya.
“Anil, hutangku pada ayahmu tetaplah hutang. Aku akan membayarnya segera. Mengenai kejahatan Maria, itu hal lain antara keluargamu. Lindungilah harga diri ayahmu sebaik mungkin.”
Anil memeluk Salman, berterima kasih atas pengertian Salman tentang kondisi ayahnya. Jika bukan karena Salman, seluruh dunia akan tahu aib dan warna hitam dalam keluarganya.