Salman kembali ke kamar dengan perasaan lebih baik. Setidaknya sekarang Anil tahu kebenaran yang dia simpan. Semoga Anil tidak menyampaikan pada ayahnya, Salman tidak ingin melukai siapa pun meski dia telah banyak dirugikan dalam hal ini.
Sebelum memasuki kamar, Salman teringat Tia. Dia menekan nomor Tia untuk mendapatkan sambungan. Dan beruntung, pemilik nomor mengangkat dalam hitungan detik.
“Hai, Tia. Apa kabar?” sapa Salman dengan ceria.
“Hai, aku baik. Kau terdengar senang. Ada kabar baru? Kau sudah menemukan solusi dari masalahmu?”
Tia memberondong Salman dengan pertanyaan. Tia peduli dengan Salman, meski bukan karena cinta namun pemikiran dan mimpi besar Salman menggugah perasaan dalam diri Tia. Dengan banyak aset, uang dan kemudahan yang Tia miliki dia bisa menujudkan banyak hal dari Alinea.
Berbanding terbalik dengan Salman, yang perlu bekerja keras, jauh dari keluarga dan banyak tantangan untuk membuat semuanya menjadi nyata.
“Aku mengatakan pada Anil semuanya.”
“Oh, dan bagaimana tanggapan Anil?”
“Ternyata Anil sudah tahu semuanya, dan dia juga korban. Maria ternyata bukan ibu kandung Anil. Dan dia juga merayu Anil untuk keinginannya.”
Dari seberang sana, Tia terdiam, dunia sudah sejauh itu?
“Dan apa solusi yang Anil tawarkan?” Tia meminta penjelasan pada Salman.
“Anil akan mengatakan semua pada ayahnya. Tapi aku melarangnya, sampai semua bukti jelas. Aku tidak ingin ayah Anil terluka secara harga diri.”
“Ya, aku setuju dengan sikapmu. Itu urusan keluarga mereka, urusanmu adalah menyelesaikan masalahmu dan hutang kepada ayah Anil agar tidak menjadi masalah di masa depan.”
Salman setuju dengan pemikiran Tia. Dia mengakhiri pembicaraannya dengan Tia dan melangkah ke dalam kamar. Dimana Firoz sedang duduk menghadap laptop.
Salman duduk di tepi ranjang. Melihat ponselnya, berbicara dengan Tia menenangkan hati. Dia merebahkan diri dan tersenyum menutup mata. Firoz melihat Salman dengan rasa kasihan. Tanpa kata Salman memejamkan mata dan mulai tertidur pulas.
Dia sendiri tidak dalam posisi bisa membantu. Firoz memiliki tanggungan hidup Ibu dan adik – adiknya. Ibu Firoz adalah seorang petani di Pokhara, ayahnya meninggal beberapa tahun lalu. Satu – satunya anak yang telah mandiri adalah dirinya. Kedua adiknya masih belajar, karena itu Firoz selalu memberikan semua hasil gaji untuk ibunya.
Firoz adalah pria dengan pendidikan terakhir sebagai guru. Selama ini dia bekerja di kampus Salman sebagai guru pembimbing untuk siswa-siswa yang akan mengambil program beasiswa. Memberikan edukasi dan bimbingan tentang negara yang akan mereka datangi.
Ketika dia melihat Salman, membaca latar belakang keluarganya. Mengingatkan Frioz dengan masa mudanya. Firoz saat itu juga berjuang untuk mendapatkan pendidikan. Dia tidak mengambil jalur beasiswa yang belum tersedia. Firoz tinggal di lain kota dan bekerja sebagai tukang kebun saudaranya yang kaya. Sebagai imbalan, Firoz diberikan pendidikan.
Beberapa tahun mengajar, Firoz mengenal banyak siswa dengan berbagai latar belakang kehidupan. Kisah mereka membawa Firoz pada keinginan untuk menjadi penulis. Setiap cerita yang mengesankan Firoz simpan dalam tulisan di laptopnya. Perjuangan mereka yang belajar untuk meraih mimpi dan masa depan. Dengan keberhasilan dan banyak kegagalan.
Hati Firoz tersentuh mendengar pemaparan Salman tentang perjuangannya hingga tiba di Khatmandu. Kaca mata serupa telah membuat Firoz bisa melihat kesulitan yang Salman alami. Namun malang pertolongan yang Firoz tawarkan malah menjadi bencana.
Meski Firoz belum menemukan masalahnya sebenarnya, namun Firoz yakin Salman tidak bersalah dalam hal ini.
Selo masuk ke ruang kamar Salman, tanpa mengetuk pintu dia begitu saja melangkah ke dalam.
“Tuan Firoz? Sedang apa di sini?” tanya Selo heran.
“Maaf, Tuan Selo. Harusnya aku yang bertanya padamu. Sedang apa kamu di kamarku.”
“Kamarmu? Kau tinggal di sini Tuan?” tanya Selo heran.
“Sejak kemarin pagi.” Tegas Firoz.
Selo tertawa tergelak yang membuat Salman terbangun dengan suaranya yang bising.
“Selo, berisik sekali. Sedang apa kau di sini?”
Salman duduk di tepi ranjang dengan kepala agak sedikit pusing.
“Kau satu ruangan dengan Tuan Firoz? Mungkin sekarang kau akan sulit bernafas. Ha … ha … ha,….” Selo tertawa lepas.
Firoz berdiri, “Selo, di kampus aku memang dosen pembimbing kalian. Tapi di kamar ini kita teman. Aku tidak mengawasi gerak gerik kalian. Aku juga sibuk dengan urusanku sendiri.”
Dia kemudian melangkah keluar, dan berhenti di pintu.
“Hey! Kalau kalian tidak menuju dapur segera. Semua makanan pasti habis tidak bersisa.”
Lalu melanjutkan langkah meninggalkan Salman dan Selo di dalam kamar. Selo mendekati Salman dan berbisik.
“Kenapa kau tidak bilang Tuan Firoz di kamarmu sekarang?”
Salman mengerutkan kening, berdiri dan mulai berjalan menuju dapur. Saat melewati Selo dia bergumam,
“Kenapa aku harus bilang padamu?”
Selo tertawa terbahak dengan candaan Salman dan segera mengekor menuju dapur.
Di meja makan itu terdapat beberapa penghuni asrama yang masih asik makan. selebihnya telah kembali ke kamar masing-masing termasuk Firoz. Tersisa Salman, Selo, Kumar dan beberapa teman yang datang belakangan saat waktu makan siang.
“Selo, kau tahu negara Indonesia?”
“Indonesia? Rasanya pernah kudengar tapi aku tidak tahu banyak tentangnya. Kenapa?” tanya Selo curiga.
“Nggak, aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang negara itu.”
Seorang teman Salman dari sudut meja menyahut.
“Saudaraku ada yang tinggal disana. Dia seorang pemilik bisnis travel. Ketika membawa rombongan berwisata ke Bali, dia bertemu wanita Indonesia. Mereka jatuh cinta dan menikah.”
Mata Salman berbinar mendengar penjelasan temannya.
“Jauhkah negara itu? Dan apakah itu sebuah negara dengan kehidupan yang baik?”
“Kau lihat saja di google map, semua jelas disana. Dan tentang kondisi negaranya aku tidak tahu. Tapi saudaraku hidup sangat baik disana dan itu negara yang sangat indah. Banyak lautan, berbeda dengan Nepal yang tidak memiliki laut. Dia sering mengirimkan foto di laut.”
“Ah … Jika aku ingin kesana, saudaramu bisa membantu?”
Selo menatap heran ke arah Salman,”Ke Indonesia? Apa maksudmu? Kita sedang dalam rencana menuju UK setelah lulus ujian.”
“Aku tahu, dan di UK aku akan berusaha mendapatkan pekerjaan. Setelah cukup aku akan menuju Indonesia segera.”
“Untuk apa? Kau bahkan tidak tahu tentang negara itu. Kau juga tidak mengenal siapa pun disana.”
Salman tersenyum menanggapi wajah heran Selo.
“Tidak semua urusanku kau tahu Selo. Mungkin Indonesia akan menjadi tujuan takdirku.”
Dia meninggalkan semua temannya yang menatap Salman heran. Dan berlalu menuju ke kamar.
“Temanmu itu akhir-akhir ini terlihat aneh. Aku beberapa kali memergoki dia sedang berbicara dengan bahagia pada seseorang di ponselnya,” ujar Kumar pada Selo.
“Keluarganya?”
“Bukan, aku pernah melihat. Seorang wanita cantik.”
Selo berpikir keras, siapa wanita itu. Rasanya semua teman yang Salman miliki Selo juga tahu.