Tia menikmati setiap gigitan roti blueberry dengan berbagai pikiran. Bagi Tia menulis buku dan novel dengan imginasi tinggi adalah hal yang biasa. Namun ketika kini dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa di belahan bumi yang lain ada seorang pemuda dengan hidup yang begitu sulit. Pemuda yang sedang meraih mimpi, dan keluar dari semua ketidak mungkinan menjadi mungkin.
Meski mereka baru bertemu tapi perasaan yang hadir begitu dalam. Dari satu chat ke chat berikutnya. Dari satu sambungan telepon ke sambungan berikutya. Tia percaya pada Salman. Dia merasakan bahwa Salman memberikan semua kesungguhan. Meski Tia telah memiliki rencana untuk menolong Salman tapi terlalu dini untuk menyampaikan.
Tia menyelesaikan gigitan terakhir roti sarapannya untuk kemudian mandi dan kembali duduk di depan laptopnya menulis cerita. Bagi Tia bermain dengan kata dan menuangkan semua imajinasi adalah bagian indah yang membuatnya merasa ringan dari segala rasa di dalam hati.
Dua jam kemudian Tia telah tenggelam dalam sebuah cerita yang seang dia kerjakan. Sebuah pesan masuk terlihat di ponsel Tia. Dia melihat pesan itu dari Salman. Tia membiarkan pesan itu beberapa saat dan tidak membukanya sampai di menyelesaikan bagian cerita yang sedang digarap.
“Tia, mulai malam ini aku tidak tidur sendiri. Seseorang mengisi tempat tidur sebelahku dan tinggal disini”
Pesan dari Salman ketika Tia membuka ponselnya. Tia sedang duduk di ruang kerja. Tempat itu terlektak di bagian paling depan rumah. Dengan dinding motif kayu dibagian bawah dan kaca hampir di seluruh dinding bagian atas. Tia membuat sebagian halaman rumahnya sebagai kebun. Jajaran wortel, strawberry, cabai berbaris rapi. Pemandangan yang memanjakan mata bukan sekedar bunga – bunga cantik. Beberapa kelinci berlarian diantara pepohonan. Bagi Tia pemandangan ini adalah mini surga yang ada dalam pikirannya. Ketika menulis di siang hari, Tia akan membuka seluruh jendela. Membiarkan udara segar masuk untuk memberikan inspirasi.
Tia membalas pesan dari Salman,
“Jadi sekarang kamu tidak lagi sendiri. Semoga teman kamarmu yang baru bisa menjadi teman baikmu.”
“Tia, dia adalah dosenku di kampus. Orangnya baik dan dia juga yang memberiku pekerjaan tambahan yang aku ceritakan padamu.”
Tia tertawa membaca penjelasan Salman. Tidak bisa dia bayangkan tinggal satu kamar asrama dengan dosen.
“Aww … Salman, selamat kamu punya dosen pribadi di kamarmu.”
“Hehehe, sejujurnya aku tidak nyaman. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Lagi pula program beasiswa itu akan selesai dalam dua tiga bulan. Baik lulus atau tidak aku akan keluar dari Khatmandu.”
“Aku yakin kamu akan lulus. Kamu sangat cerdas dan memiliki kemampuan juga keinginan yang kuat.”
“Tapi, sejak ada masalah dengan ayah temanku itu. Beberapa kali aku tidak hadir absensi pelatihan. Mungkin itu juga akan bisa mempengaruhi pointku.”
“Salman, inilah gunanya berpikir jernih. Usiamu tidak muda lagi menurutku. Harusnya kamu bisa lebih tenang, jangan jadikan satu masalah mengganggu kepentingan yang lain.”
Salman mengingat baik – baik setiap kata yang Tia berikan. Entah sejak kapan Tia mulai menjadi panutan Salman. Cara berpikir dan tulisan Tia dalam membalas chatnya membuat Salman semakin mengagumi wanita yang sedang bercakap dengannya. Dan Salman sedang mencari tahu apakah semua yang dirasakannya adalah bentuk dari cinta.
“Tia, boleh aku tanya sesuatu.”
“Tentu, tanyalah. Aku sedang istirahat sekarang. Karena saat aku mulai menulis, maka aku akan membalikkan ponselku dan tidak melihat pesan dari siapa pun.”
“Bagaimana pendapatmu tentang diriku?”
Beberapa saat pembicaraan mereka hening. Tia tidak membalas pesan dari Salman.
“Tia, kamu disana.”
“Ya, kenapa ada pertanyaan seperti ini datang darimu?”
“Aku banyak mendapatkan penolakan. Dan orang asing yang baru, kemudian bisa menerimaku. Mungkin kamu yang pertama. Meski pun kamu tahu siapa aku. Kemiskinan dan juga kebodohanku.”
“Salman, kita bertemu di dunia maya. Kamu punya peluang untuk menutupi jati dirimu. Lalu kenapa kamu jujur padaku? Bahkan menceritakan masalahmu?”
“Karena, aku nyaman denganmu dan aku tidak ingin berdusta pada siapa pun tentang diriku.”
“Kamu lihat dimana kelebihanmu? Jujur! Itu kelebihanmu yang jarang aku dapati dari pria lain. Terlebih di dunia maya. Aku bukan wanita muda yang sekedar mencari gaya atau bersenang-senang. Aku senang berhubungan dekat dengan orang yang tahu, apa tujuan hidupnya.”
Salman mengusap beberapa air mata yang jatuh membasahi pipi. Sesederhana itu dia bisa diterima oleh wanita secerdas Tia. Salman memberikan kebenaran diri dan Tia menerima dengan hati.
Pertama kali, Salman merasa dirinya bernilai dan berharga.
Lama Tia menunggu balasan dari Salman.
“Salman, kamu masih disana?”
“Ya, maaf aku sedang sibuk mengusap air mata.”
Meski malu tapi Salman mengakui pada Tia bahwa, penerimaannya membuat Salman bahagia dan terharu.
“Kenapa?”
“Aku tidak pernah menangis untuk penolakan. Dan ini pertama kali aku menangis untuk sebuah penerimaan.”
Hati Tia bergear dengan pernyataan Salman. Penerimaan seorang Tia telah berarti besar baginya. Sementara selama ini Tia justru menghindari orang yang ingin dekat dengannya. Tia gerah dengan mereka yang berusaha akrab karena nama besar dan kemampuannya.
“Aku menilai orang dari nilai di dalam hati dan kepalanya. Bukan apa yang dia miliki di luar dirinya. Aku melihat orang-orang dengan banyak harta tanpa hati. Aku bertemu orang-orang dengan kekuasaan besar tanpa perasaan. Dan sekarang aku bertemu dirimu. Seorang pria dengan pemikiran dan hati luar biasa. Kamu berharga Salman.”
“Terlalu banyak orang yang menolakku dan memandang sebelah mata.”
Tia menarik nafas sebelum membalas pesan Salman.
“Karena mereka melakukan itu bukan alasan kamu sekarang ada di Khatmandu? Jika bukan karena itu, jika bukan karena penolakan Miranha, karena pandangan orang yang sebelah mata. Maka kau pasti sekarang masih tenang di Ittahari dan tidak memiliki keinginan lebih.”
“Tia, ajarkan aku untuk berpikir seindah dirimu.”
Tia tersenyum membaca pesan permintaan dari Salman. Dengan hati-hati dia membalasnya.
“Setiap kejadian adalah bagian dari rencana. Semua itu hanya batu lompatan untuk menuju. Dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari satu bagian ke bagian lainnya. Dan tidak semua batu itu mulus indah. Ada yang tajam juga membuatmu terluka. Namun jika kamu ingin sampai di tujuanmu, suka tidak suka. Mau tidak mau, kamu harus melewatinya.”
Salman membaca berkali-kali pesan dari Tia. Seolah semua pesan itu dikirimkan Tuhan untuknya dari tangan seorang Tia. Salman yang semula merasa semua hal tidak berpihak padanya sekarang menjadi lebih percaya.
Pertemua mereka yang semula tentang beasiswa, justru menjadi anugrah di saat Salman dirundung masalah. Saat Salman perlu kekuatan sebelum menuju langkah baru di negara lain. Salman sekali lagi menelisik, apakah pikirannya akan Tia adalah kekaguman ataukah cinta.