VIDEO CALL PERTAMA

1148 Words
Hari terakhir liburan sekolah. Pagi ini Salman telah selesai membersihan ruangan kamar. Mengatur kembali perlengkapan untuk kembali ke kampus besok. Meski satu ruangan tapi Salman tidak mengizinkan Firoz untuk berbagi tugas. Semua tugas membersihkan adalah pekerjaan Salman. Sambil duduk di teras menikmati segelas s**u, Salman mengirim pesan pada Tia. Dinginnya udara Khatmandu dan lelah membuat Salman enggan keluar. Selo dan beberapa teman sedang pergi untuk duduk dan melihat para gadis di taman tengah kota. “Tia, kau disana?” Tia tersenyum melihat pesan masuk di ponselnya. Salman begitu dekat di hati Tia. Dia tertarik dengan semangat Salman dalam meraih mimpi. Tia ingin menjadi bagian dari sebuah perwujudan keajaiban jalan Tuhan untuk Salman. “Hai, sedang apa?” “Istirahat, lelah membersihan ruangan dan bersiap kembali ke kampus besok.” Chat mereka terhenti beberapa saat. Sampai Tia mengirimkan sebuah pesan yang mengejutkan Salman. “Salman, boleh aku melihatmu secara langsung? Boleh aku melakukan panggilan video call sekarang?” Salman ragu dengan permintaan Tia. Salman memang ingin melihat Tia secara langsung, namun permintaan yang tiba – tiba membuat Salman merasa gugup. Tia tidak menunggu jawaban dari Salman. Tanpa membalas dia langsung menekan tombol panggilan telepon pada nomor Tia. Dan dalam beberapa detik, Tia menjawab dari seberang. Wajahnya belum terlihat jelas karena Tia masih sibuk mencari posisi terbaik untuk meletakkan ponsel. Akhirnya , dia meletakkan ponsel di depan laptop. Sesaat kemudian sesosok pria dengan kulit coklat , hidung tinggi dan mata indah muncul di ponsel Tia. “Hai Tia” “Halo Salman, apa kabar?” “Iya aku baik dan kamu?” “Iya aku baik juga. Senang akhirnya bisa melihatmu secara langsung.” “Aku pun sama. Tia, usiamu sungguh tiga puluh dua tahun?” “Seingatku begitu.” Tia menjawab Salman diiring tawa mereka berdua “Kamu terlihat seusia denganku.” “Ah ... benarkah, terima kasih aku mengambil kata – katamu sebagai pujian bagiku.” Saat itu tampak pintu di belakang Tia terbuka. Alinea masuk dengan sedikit berlari menghampiri Tia. “Mamah, sedang sibuk?” Alinea mencium pipi Tia dan melihat seorang pria di ponsel ibunya. “Siapa Mah?” “Seorang teman, kamu mau berkenalan?” Alinea melihat Salman lagi di ponsel Tia dan Salman pun melihat Alinea. “Lain kali aja Mah, Alinea lapar. Mamah minta Mbok Supi masak apa hari ini?” “Gudeg kesukaanmu” “Ok Mah, aku makan dulu ya” Alinea sekali lagi mencium pipi ibunya dan berlari keluar menuju pintu di belakang Tia. Salman mengembalikan fokus pada ponselnya, di mana Salman masih menunggu untuk berbicara. “Hey Salman, maaf ya putriku sedikit menginterupsi pembicaraan kita.” “Oh its ok Tia. Jadi itu putrimu?” “Iya, namanya Alinea. Aku memintanya untuk berkenalan denganmu. Sepertinya kalian seumuran, kalian bisa jadi teman.” “Lalu kenapa dia pergi?” “Dia kelaparan, hari ini aku meminta pembantu memasak makanan kesukaannya.” “Oh, mungkin dia tidak tertarik berkenalan dengan pria miskin sepertiku.” Tia menatap Salman tajam. Tia membaca jelas bahwa Salman telah membawa luka masa lalu ke kehidupannya di masa sekarang. Sikap yang selalu menganggp dirinya rendah, adalah indikasi bahwa Salman memiliki krisis percaya diri. “Salman, jangan mudah menilai orang dari pandangan mata.” “Maksudmu?” “Alinea bukan gadis seperti kebanyakan yang pernah kamu temui. Dia punya lebih dari cukup. Namun Alinea tidak pernah memilih seseorang berdasarkan kekayaan. Sekarang dia memiliki pelatihan bahasa inggris yang diajar sendiri olehnya dan beberapa teman.” “Wah luar biasa, berapa usia putrimu Tia?” “Empat belas tahun. Dan kamu tahu pelatihan itu dia berikan secara gratis untuk anak – anak di desa sekitar tempat kami tinggal” Salman terdiam mendengarkan penjelasan Tia, sedikit penyesalan muncul di hatinya. “Maaf Tia.” “Its ok. Aku bisa mengerti dengan luka masa lalumu memang tidak mudah kemudian bisa melihat orang lain secara positif. Tapi setidaknya berusahalah.” Salman, mengagumi cara berfikir sekaligus mengambil pelajaran dari setiap yang Tia katakan. Bagi Salman, Tia bukan lagi sekedar teman. Namun juga teman hati yang selalu memberi energi untuknya menguatkan hati. Selama ini Salman memandang dunia sebagai keangkuhan tanpa belas kasihan. Sulit menemukan orang baik yang sungguh bisa menerima dirinya. Namun kehadiran Tia bagai oase di kering tandusnya hati Salman. Menunjukkan bahwa masih ada hati yang peduli untuk mengerti dan mencintai tanpa peduli apa yang dia miliki. Kehadiran Tia memberi Salman keyakinan bahwa semua harapan menjadi lebih baik akan terwujud. Untuk Salman yang lebih senang tinggal di kamar dari pada berteman. Tuhan kirimkan langsung seseorang yang bisa mengerti dirinya dan memberikan semangat tanpa ragu menasehati. Kata-kata Tia jadi embun bagi hati Salman yang selalu penuh keraguan. “Tia, pernahkah kau merasa sedih dalam hidupmu?” “Pertanyaan apa ini? Ha … ha … ha … siapa orangnya yang tidak pernah sedih. Sedih adalah bagian dari rasa yang lengkap dalam diri setiap manusia.” “Apa yang kamu lakukan jika kamu merasa sedih?” “Menangis dan menerima. Perasaan yang tidak mudah tapi luar biasa, adalah bagian dari perjalanan kita sebagai manusia.” Salman sejenak termenung. Apa istimewa dirinya di mata Tia. Orang sehebat Tia pastilah bisa mendapatkan teman dari berbagai kalangan. Namun Tia mau berteman dengan Salman dan berbicara dengan menyenangkan. Di dunia nyata pun Salman tidak pernah mendapatkan perlakuan sebaik ini. “Tia, apa pendapatmu tentangku. Kenapa kamu mau dekat denganku?” Sekali lagi pembicaraan mereka terjeda. “Aku pernah di posisi sulit. Lain hal aku punya kemampuan untuk membaca kebenaran dari kata-kata seseorang. Membaca dan memdengar semua penuturanmu, membawaku kembali pada ingatan tentang sulitnya meraih mimpi. Aku mungkin tidak bisa membantumu secara langsung. Tapi aku berusaha jadi bagian yang menyertai untuk menumbuhkan keberanian dalam dirimu.” Salman tertegun membaca kata-kata Tia. Mengulangnya lagi dan lagi, jiwanya bergetar dan pikirannya tenang tertata. Dia tahu, banyak manusia yang berusaha dekat dengan orang lain karena kelebihan mereka. Untuk kebahagiaan dan kesenangan. Tapi orang yang mau menyertai dalam duka di sulit kehidupan, baru kali ini Salman menemukannya. “Tia, kamu tidak khawatir jika ternyata aku seorang penipu? Atau berniat buruk.” Senyum mengembang di wajah Tia membaca pesan dari Salman. “Tidak ada penipu yang berani mengakui dirinya penipu. Dan orang yang bisa memberi peringatan akan bahaya dirinya, itulah kebenaran yang sesungguhnya.” Dua tetes air mengalir di pelupuk mata Salman. Dia berjanji untuk tidak mengecewakan orang yang telah menerima dan percaya pada dirinya. Untuk tidak menyerah meraih mimpi, sesulit apa pun jalan yang dia hadapi ke depan nanti. “Halo … Salman … kamu masih disana?” “Kata-katamu begitu mempesona. Aku belum pernah merasa begitu berharga. Dan kamu membangkitkan semuanya yang aku pikir tidak ada dalam diriku. Dan … aku …” “Dan …. “ Tia menunggu jawaban Salman. “Tia, aku akan mengerjakan sesuatu, sampai jumpa lagi ya.” Salman mengakhiri pembicaraan, dia tidak ingin menyampaikan sebuah rasa yang membuat hubungan mereka lebih canggung. Rasa yang belum pernah Salman rasakan sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD