“Syifa kau di dalam kenapa pintunya di kunci,” ketukan pintu yang dilakukan oleh Atlas membuat Syifa tersadar dari lamunannya.
Syifa dengan segera menghapus air matanya baru setelah itu dia membuka pintu untuk Atlas, “Maaf tadi aku di kamar mandi,” ucap Syifa yang berusaha agar matanya tidak bertatapan dengan Atlas.
Syifa takut Atlas tahu bahwa dia habis menangis tadi, “Nenek sudah setuju kita pindah dari sini! Jadi kau beresi semua pakaianmu dan diriku juga.”
Syifa menaikkan sebelah alisnya, “Kenapa aku harus memberesi pakaianmu juga?” tanya Syifa yang membuat Atlas langsung menolah padanya.
“Kau kan istriku! Memang itu tugasmu melayani aku,” jawab Atlas asal tanpa dicerna lebih dulu.
“Hahaha,” tiba-tiba saja Syifa tertawa dengan sumbang.
“Kau lupa dengan apa yang kau katakan bahwa kau tidak mau kita saling menganggap bahwa kita berdua ini adalah sepasang suami istri! Apa perlu aku ingatkan lagi apa yang kau katakan padaku.”
Atlas ingin mengumpati Syifa bisa-bisanya wanita ini terlihat menentang dirinya, “Jadi kau tidak mau memberesi pakaianku juga.”
“Jelas! Tidak mau,” sahut Syifa yang membuat Atlas sebal menatapnya.
“Ya sudah aku juga bisa sendiri,” Atlas yang kesal langsung mengeluarkan kopernya dari dalam kemari dan mulai membereskan pakaiannya sambil mengomel.
“Padahal aku akan memberikan kau banyak harta setelah bercerai! Tapi melakukan hal kecil begini saja tidak mau,” omel Atlas sambil tangannya sibuk memasukkan baju ke dalam kopernya secara sembarang.
“Minggir—“ usir Syifa yang menyuruh Atlas menyingkir dari sana.
Atlas yang ingin kembali mengoceh terdiam saat dia melihat Syifa menggantikan pekerjaannya, “Kau bilang tidak mau melakukannya.”
“Kenapa berubah pikiran dengan cepat.”
“Takut nanti setelah aku jadi janda kau tidak jadi memberikan hartamu yang banyak padaku! Kan percuma nantinya aku sudah jadi janda miskin juga,” balas Syifa sembarangan.
Padahal bukan karena itu Syifa melakukannya, Syifa sadar bahwa meski Atlas menikahi dirinya dengan main-main, tapi ijab kabul yang diucapkan oleh Atlas mengikatnya di hadapan Tuhan.
Itu artinya dia memang harus mengabdikan dirinya kepada Atlas selagi dia masih menjadi istri dari pria yang ternyata suka mengomel di sampingnya ini.
“Nah itu kau sadar! Baik-baik kau padaku, nanti aku berubah pikiran tidak jadi memberikan kau hartaku.”
“Awas saja sampai kau memberikan aku sedikit aku tuntut kau,” jawab Syifa makin meladeni apa yang Atlas katakan.
“Oh kau tenang saja asal kau menjadi gadis yang menyenangkan aku akan memberikan kau sesuai dengan apa yang kau pikirkan! Apa lagi kalau kau melayaniku di atas ranjang aku akan memberikan lebih,” canda Aksa yang berpikir Syifa akan tersipu malu mendengar ucapannya.
“Heleh bilangnya tidak nafsu melihaku tapi minta aku melayanimu! Mau menjilat ludahmu sendiri pada kekasihmu itu heh,” Atlas tersentak mendengar jawaban dari Syifa.
Ternyata benar jika semalam Syifa mendengar semua obrolannya dengan kekasihnya itu, “Aku hanya bercanda! Siapa juga yang mau dengan tubuh teposmu itu.”
Syifa mengedikkan bahunya lalu berusaha menutup kopernya Atlas yang sudah penuh terisi dengan baju-baju pria itu.
“Minggir biar aku saja,” usir Atlas yang melihat Syifa kesulitan mengancingi kopernya.
“Cuman itu saja! yang di dala lemarimu masih banyak, ada koper lagi tidak biar sekalian aku beresi,” ucap Syifa melihat di dalam lemari Atlas masih banyak tersusun baju-baju pria itu yang Syifa yakin harganya pasti mahal.
“Tidak usah ini saja! yang di dalam sana sengaja aku tinggal, biar kalau menginap di sini aku tidak perlu membawa baju lagi,” jawab Atlas yang membuat Syifa menganggukkan kepalanya kecil.
“Barang-barangmu sudah kau beresi! Karena kita akan berangkat satu jam lagi.”
“Semua barangku masih ada di dalam koper! Sisanya yang aku pakai semalam bisa aku beresi dengan cepat, mau sekarang juga aku sudah siap,” balas Syifa yang membuat Atlas menyilangkan kedua tangannya di atas d**a.
“Sepertinya kau sangat ingin keluar dari rumah ini secepatnya ya!! Kenapa? Kau tidak mau bertemu dengan nenek lagi kan?”
Tuduhan Atlas itu tidak bisa untuk dijawab tidak oleh Syifa, dengan mereka keluar dari rumah ini setidaknya Syifa mengurangi beban pikirannya dengan tidak mendengar kata-kata pedas dari mulut neneknya Atlas.
“Tentu saja! wanita manapun tidak akan sanggup mendapatkan perlakukan yang nenekmu lakukan padaku tadi! Untung saja aku masih bisa tahan dan tidak melawan.”
“Jangan pernah melawan nenek,” peringat Atlas dengan nada serius.
“Nenek sudah tua dengarkan saja apa yang dia katakan tidak usah dimasukkan ke dalam hati,” lanjut Atlas yang membuat Syifa menatap Atlas dengan pandangan yang berbeda.
“Aku pikir kau benar-benar berubah! Ternyata ada satu hal yang tidak sama sekali berubah dari dirimu,” ucap Syifa yang membuat Atlas menaikkan sebelah alisnya.
“Kau masih tetap sayang kepada nenekmu seperti dulu,” tambah Syifa yang masih sangat ingat bahwa Atlas sering sekali jika mereka keluar untuk makan maka dia akan membungkus makanan di tempat itu untuk nenek dan juga mamahnya di rumah.
Karena itu Atlas dulu sering di ejek sebagai anak mami oleh teman-teman mereka yang lain meski dulu Atlas tidak pernah menanggapi ucapan teman-teman mereka dengan emosi.
Palingan Atlas akan menjawab, ya memang aku anak mamah! Kan aku dilahirkan dari mamahku bukan dari langit yang turun begitu saja.
“Heii,” Atlas mengguncang bahu Syifa dengan sedikti kencang karena melihat wanita di depannya ini tiba-tiba tersenyum sendiri sambil melamun.
“Kau sudah gila ya tertawa sendiri.”
Syifa memukul kepalanya sendiri di depan Atlas bisa-bisanya dia tersenyum mengingat kenangan masa lalu dengan Atlas yang Syifa tidak yakin apakan Atlas yang sekarang ini masih mengingat itu atau tidak.
“Melamunkan apa dirimu! Apa melamunkan ABS opa-opa koreamu itu,” ejek Atlas yang membuat Syifa mendelik melihatnya.
“Kalau iya memangnya kenapa? Masalah untukmu,” sahut Syifa dengan sewot.
“Ck! Dasar gadis di desa memang suka menghayal yang tidak pasti! Untuk apa kau menghayalkan seseorang yang tidak mengenalmu sama sekali.”
Syifa rasanya sudah biasa mendengar sebutan gadis kampung yang tertuju untuk dirinya, “Yah mau bagaimana lagi mau menghayalkan suami yang ada di depan mata kan tidak mungkin! Suamiku saja tidak menginginkan aku.”
“Bukankah lebih baik sekalian menghayalkan orang yang tidak aku kenal sekalian! Jadi sakit hatinya tidak terlalu menancap,” sindir Syifa pada Atlas.
Atlas lalu maju selangkah yang membuat Syifa memundurkan tubuhnya, “Kau memang benar-benar tumbuh menjadi gadis yang luar biasa.”
“Pintar membantah begini! Aku jadi penasaran siapa yang mengajari dirimu menjadi begini.”
“Keadaan!! Keadaan yang membuatku menjadi begini,” jawab Syifa dengan menatap mata Atlas dalam.