“Aku akan pindah hari ini,” ucap Atlas setelah mereka menyelesaikan sarapan.
“Apa maksudmu Atlas kau mau meninggalkan nenek di sini,” sahut Ratna yang tidak setuju jika cucu yang sangat dia sayangi berjauhan dari dirinya.
“Bukan begitu nak! Tapi Atlas sudah menikah, Atlas ingin membangun keluarga Atlas di rumah yang Atlas siapkan sendiri.”
Ratla lalu memandang Syifa yang duduk tepat di samping Atlas dengan tajam, “Pasti karena dirimu kan? Kau mempengaruhi Atlas untuk pindah dari sini kan,” tuduh Ratna yang membuat Syifa langsung menatap neneknya Atlas dengan tatapan yang seolah mengatakan bukan dirinya dalang dari semua ini.
Ingin sekali rasanya Syifa berteriak di meja makan ini kalau dia bisa dia juga tidak akan mau menikah dengan Atlas.
“Nak! Ini semua bukan Syifa yang minta, tapi memang Atlas yang ingin tinggal di rumah Atlas sendiri,” sahut Atlas seolah melindungi Syifa dan itu membuat neneknya Atlas makin kelas.
“Terserah kalau kau memang tidak sayang pada nenek lagi! Keluar saja dari sini,” Ratna lalu mendorong kursinya sampai jatuh dan pergi dari sana sebagai bentuk bahwa dia marah saat ini.
“Kau sudah pikirkan dengan matang Atlas?” tanya Herman membuat Atlas yang ingin mengejar neneknya kembali duduk.
“Sudah pah, Atlas pikir akan bagus untuk kemajuan Atlas dan Syifa jika kami tinggal di rumah sendiri! Papah kan tahu kami menikah karena di jodohkan banyak hal yang aku dan Syifa harus mengenal lebih dalam.”
“Bukankah kau dan Syifa dulu adalah teman! Apa lagi yang harus kau tahu tentang Syifa,” bantah Herman yang nampaknya juga tidak setuju jika anaknya keluar dari rumah.
“Itu memang benar pah! Tapi 10 tahun itu adalah waktu yang lama untuk aku dan Syifa menjadi orang yang berbeda dari waktu kami remaja,” balas Atlas yang membuat Herman menghela nafas mengalah.
Dia tidak bisa memaksa Atlas untuk tinggal bersama dengannya jika anaknya itu memang tidak mau.
“Baiklah! Papah setuju dengan keputusanmu! Tapi ingat sering datang kemari, kau tahu bukan kau itu adalah anak satu-satunya di rumah ini.”
Atlas mengangguk mengerti, “Baik pah! Atlas akan sering datang kemari.”
“Kalau begitu Atlas ke atas dulu untuk membujuk nenek,” ucap Atlas yang ingin memberikan pengertian kepada neneknya.
Herman yang juga sudah selesai sarapan meninggalkan meja makan itu meninggalkan istri dan menantunya yang masih setia duduk di tempat mereka masing-masing.
Sari yang tahu bagaimana perasaan Syifa langsung pindah tempat duduk bekas Atlas anaknya duduki tadi.
“Nak!!” ucap Sari dengan mengelus kepala Syifa yang tertutup jilbab.
“Maafkan nenek ya! Dia kan sudah tua jadi ya maklum saja dengan kata-kata pedasnya ya!” tambah Sari mencoba untuk membuat menantunya itu membuka kesabaran yang luas untuk menghadapi nenek Atlas yang menunjukkan ketidak sukaannya.
Syifa memegang tangan mertuanya, “Tidak papa mah! Apa yang nenek katakan memang benar, Syifa ini hanya orang kampung yang tidak mengerti cara-cara orang kota.”
Hati Sari terenyuh mendengar ucapan Syifa yang menunjukkan bahwa menantunya itu mengambil hati dari semua kata-kata pedas yang dia terima pagi ini.
“Sabar ya sayang! Mamah janji akan mengajarimu, sehingga kau tidak akan dihina lagi oleh nenek seperti tadi hmm.”
Syifa membalas dengan senyum yang dipaksakan, “Tidak perlu mah! Syifa pikir Syifa tidak mau menjadi orang kota seperti nenek.”
“Tidak papah Syifa dipandang orang kampung begini tapi Syifa tahu bagaimana cara menghargai dan menegur orang lain dengan cara yang benar.”
“Kalau memang orang kota seperti nenek maka Syifa tidak mau menjadi orang kota,” jawab Syifa yang membuat Sari tertampar mendengarnya.
“Maaf ya mah jika ucapan Syifa membuat mamah tersinggung! Syifa ke atas dulu,” Syifa berdiri dan pergi dari sana dengan hati yang makin sakit.
Setelah suami yang menolak kehadirannya sekarang nenek dari suaminya juga tidak suka dia menjadi bagian dari keluarga ini.
“Ibu!! Syifa mau pulang,” ucap Syifa yang sudah duduk di belakang pintu kamar dengan membekap mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak di dengar oleh orang lain.
“Ibu!! Syifa menyesal tidak mendengarkan ucapan ibu,” lirih Syifa yang mengingat apa yang dikatakan ibunya sebelum dia menjawab lamaran dari Atlas.
Flashback
“Nak! Kau yakin mau menerima lamaran dari Atlas! Dia dan kita sekarang berbeda dengan yang dulu nak! Kau tahu bukan keluarganya Atlas sudah sukses di Jakarta.”
Syifa memandang ibunya yang terlihat cemas setelah Syifa mengatakan bahwa dia sudah mengambil keputusan akan menerima pinangan dari Atlas.
“Ibu!! Kenapa jadi takut begitu, aku dan Atlas kan dulu teman satu geng! Aku tahu benar bagaimana sifat Atlas bu, dia adalah pria baik yang tidak pernah meninggalkan sholat lima waktunya.”
Sumarti memandang putri sulungnya dengan resah ada banyak ketakutan di dalam dirinya jika anaknya itu menikah dengan orang yang statusnya jauh di atas mereka.
“Coba pikirkan lagi nak! Apa kau tidak mau menikah dengan orang yang dekat-dekat di sini saja, ayahmu sudah tidak ada nak! Di rumah ini hanya tinggal kita bertiga lagi! Jika kau menikah dan tinggal di Jakarta ibu dan adikmu hanya tinggal berdua di sini.”
Itu juga yang tadinya membuat Syifa ragu kemarin untuk menjawab langsung dia takut meninggalkan ibu dan adiknya berdua di rumah ini.
Tapi setelah Syifa sholat istikharoh dia mendapatkan keyakinan penuh untuk menerima lamaran dari Atlas.
Untuk itu Syifa berani mengambil keputusan ini dia yakin Allah pasti akan menjaga ibu dan juga adiknya, lagi pula di kampung ini banyak sanak saudara dari pihak ibunya yang tentu akan memperhatikan dua orang yang sangat Syifa sayang ini.
“Ibu! Syifa sangat yakin dengan pilihan Syifa, Syifa yakin Atlas dan keluarganya akan memperlakukan Syifa dengan baik.”
“Lagi pula Syifa tidak mau menikah dengan orang dekat sini! Syifa tidak mau mendapatkan laki-laki seperti ayah,” lanjut Syifa dengan tatapan marah.
Syifa membenci ayahnya yang dengan tega meninggalkan mereka untuk selingkukannya! Ayahnya menelantarkan mereka sekolah tapi dengan entengnya mengurus anak orang lain.
Syifa dan adiknya harus hidup serba pas-pasan sedangkan ayahnya yang sekarang memiliki gaji yang cukup besar karena sudah menjadi mandor di pabrik hanya memberikan uang 500 ribu untuk dia dan adiknya selama satu bulan.
Itu pun terkadang dikurangi oleh ibu tirinya yang memang tidak suka jika ayahnya masih memberikan uang kepada mereka.
“Nak! Tidak semua pria di sini sama seperti ayahmu nak, masih banyak pria yang setia! Ibu yakin kau akan mendapatkannya.”
“Dan itu Atlas ibu! Syifa yakin Atlas adalah orangnya,” jawab Syifa yang membuat ibunya harus rela menerima keputusan anaknya dengan lapang d**a.