Cobaan Hari Pertama

1073 Words
“Ehh pengantin baru sudah bangun,” ucap Sari menyambut kedatangan menantunya yang baru saja masuk ke dapur. Syifa tersenyum kaku mendengar godaan dari mertuanya, “Maaf ya mah Syifa baru turun! Tadi habis sholat subuh Syifa malah tidur lagi,” balas Syifa merasa bersalah karena sudah meninggalkan kesan jelek di hari pertamanya menjadi seorang menantu. “Ahh tidak papa! Namanya juga pengantin baru! Dulu juga mamah begitu,” balas Sari dengan mengedipkan sebelah matanya. “Bagaimana semalam hmm?” Sari mendekatkan tubuhnya kepada menantunya ingin mendengar cerita pengalaman malam pertama Syifa. Syifa yang tidak mengerti ke arah mana pembicaraan mertuanya melihat Sari dengan tatapan penuh tanya. “Kau ini polos sekali! Mamah bertanya tentang malam pertama dirimu dan Atlas! Apa Atlas terlalu kasar padamu.” Seketika Syifa tersedak ludahnya sendiri, “Mah—” ucap Syifa yang tidak tahu harus membalas apa pertanyaan dari mertuanya itu. “Hahaha mamah hanya bercanda! Tidak mau cerita juga tidak papa, tapi semoga yang semalam langsung jadi ya,” Syifa mengusap tengkuknya sendiri. Bagaimana mau jadi jika mereka saja tidak melakukannya bahkan tidur tidak satu ranjang! Syifa jadi ngeri sendiri bagaimana jika mertuanya itu tahu dengan semua ini. Mereka pasti akan marah besar dan tentunya dia juga akan terseret dalam kemarahan itu. “Ekhmm,” dehem seseorang yang membuat Syifa dan juga Sari menengok. “Ibu!” ucap Sari melihat mertuanya aneh jarang-jarang masuk ke dapur. “Ibu butuh sesuatu?” tanya Sari langsung menghampiri mertuanya yang berjalan saja sudah harus menggunakan tongkat karena usianya yang memang sudah renta. Tapi meski begitu jangan salah mertuanya itu tetap lincah bergerak ke sana ke mari meski bahkan dia akan mengomel jika di suruh untuk diam. “Suruh anggota keluarga baru kita itu yang menyiapkan sarapan untuk kita semua,” perintah dari Ratna neneknya Atlas. “Tapi bu—” “Jangan membantahku! Kau tahu bukan Sari aku sama sekali tidak suka dibantah,” potong Ratna yang membuat mulut Sari langsung bungkam. Pernikahan ini memang sangat ditentang oleh neneknya Atlas, neneknya Atlas tidak mau cucunya menikah dengan orang kampung. Tapi sayangnya ucapan Ratna sama sekali tidak didengar oleh anaknya sendiri yang tetap kekeh ingin menikahkan Atlas dengan orang dari tanah lampung. “Kau dari kampung bukan? Tentu pintar memasak, maka masak untuk kami semua,” Syifa mematung mendengar perintah yang ditujukan untuknya. Dia bukannya tidak bisa memasak! Tapi Syifa heran saja mengapa sepertinya neneknya Atlas itu melihatnya dengan tatapan tidak suka. “Punya mulut tidak,” bentak Ratna yang membuat Syifa terperanjat. “Ehh iya nek! Syifa akan memasak untuk kita sarapan,” jawab Syifa dengan cepat. Ratna yang melihat Syifa diperlakukan kasar oleh mertuanya merasa kasihan tapi dia juga tidak bisa membantah apa yang diperintahkan oleh mertuanya. Di rumah ini setelah suaminya ucapan mertuanya ini berada di urutan kedua yang harus mereka patuhi, suaminya selalu bilang mumpung ibu masih ada jadi akan percuma jika dia mengadu. Kecuali tentang pernikahan kemarin entah mengapa suaminya sampai keras kepala menentang keputusan ibunya sendiri. “Bagus! Ayo Sari kau ikut dengan aku! Punggungku pegal ingin dipijat,” Sari dengan lemas menatap Syifa. “Sayang! Maaf ya mamah tidak bisa membantumu, kau yang semangat ya mamah yakin nenek akan segera luluh denganmu.” Syifa membalas dengan senyuman kecil, tidak apa-apa juga jika neneknya Atlas ini tidak menyukai dirinya toh pernikahan ini juga tidak akan lama. Setelah Atlas menceraikannya dia juga tidak akan mau lagi berurusan dengan keluarga kaya ini lagi. “Sari—” teriak Ratna dengan keras karena Sari masih ada di daput dan tidak mengikuti dirinya pergi dari sana. “Ya bu! Ini Sari sedang jalan,” balas Sari yang buru-buru keluar dari dapur sebelum mertuanya itu makin menjadi, Sari yakin yang akan menjadi sasaran empuk dari kemarahan mertuanya itu pasti bukan dirinya. Anak mantunya ini pasti yang akan menjadi samsak empuk untuk menerima semua kemarahan mertuanya. “Huuu aku harus masak apa?” tanya Syifa takut jika masakannya ini tidak selera dengan lidah keluarga yang sudah lama tinggal di kota besar ini. “Terserahkan! Aku akan memasak nasi goreng saja! kalau mereka tidak suka ya tidak usah dimakan,” ucap Syifa sendiri yang mulai memasak apa yang bisa dia masak. Semua orang sudah berkumpul di meja makan, “Cih! Jadi ini yang bisa kau hidangkan hah, kampungan,” umpat neneknya Atlas yang membuat Syifa menunduk. Syifa merasa dia sudah memasak nasi goreng terbaik yang bisa dia lakukan, dan rasanya juga enak! Syifa sudah merasakannya sendiri. Tapi kenapa masakannya malah diumpat sebelum neneknya Atlas ini mencicipi masakannya. “Ibu namanya juga Syifa masih baru! Biar aku saja yang menyiapkan s**u dan jus untuk kita,” sela mamahnya Atlas yang tahu bahwa Syifa tidak mengerti cara sarapan orang-orang kota. “Mangkanya ibu tidak suka Atlas menikah dengan orang kampung itu begini! Tidak tahu cara-cara orang kota!! Lihat menghidangkan sarapan saja tidak bisa.” “Apa kau pikir hanya dengan nasi goreng dan air putih itu bisa membuat tubuh anak dan cucuku yang akan bekerja keras seharian di kantor akan bergizi.” Syifa tidak menjawab sama sekali, dia tidak mengerti cara sarapan bagaimana yang dimaksud neneknya Atlas, di rumahnya beginilah sarapan yang sering dihidangkan oleh ibunya. “Ibu! Jangan membesarkan masalah kecil begini ... pelayan,” panggil Herman yang membuat pelayan langsung berlari ke arahnya. “Siapkan hidangan sarapan seperti biasanya,” perintah Herman yang membuat pelayan mengangguk mengerti. Tidak lama meja makan itu sudah penuh dengan menu sarapan yang katanya ini adalah sarapannya ala orang kota. Dimana ada s**u ada jus dan juga roti bakar dan juga selai di atas meja, “Lihat ini dengan mata kepalamu! Begini caranya menghidangkan makanan.” Sementara istrinya di caci oleh neneknya sendiri Atlas hanya melihat saja, tidak ada niat untuk Atlas membela Syifa sama sekali. Meski ada sedikit rasa kasihan yang menyusup ke dalam hati Atlas atas perbuatan kasar yang neneknya lakukan. “Ayo nek kita sarapan!” ajak Atlas dengan mendorong kursi untuk neneknya duduk. “Terima kasih ya cucu nenek ini sudah tampan dan baik pada nenek! Harusnya kau itu mendapatkan istri yang lebih dari dirinya.” “Ibu—” tegur Herman yang merasa telinganya sakit mendengar ucapan pedas dari ibunya yang ditujukan untuk menantu pilihannya. “Kenapa? Kau mau marah kepada ibumu ini! mau jadi anak durhaka.” Herman menarik nafasnya dalam dia menahan segala ucapan yang ingin keluar dari dalam mulutnya, “Ayo kita sarapan!” perintah Herman tidak mau sampai membuat ruang makan menjadi lebih mencekam lebih dari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD