“Ya Tuhan pah! Apa Atlas terlalu kasar sampai Syifa teriak dengan keras begitu?” ucap Sari mamahnya Atlas yang ternyata sekarang sedang menguping bersama dengan suaminya.
“Mah! Ayo kita ke kamar saja, untuk apa menguping malam pertama anak kita mah! Malu kalau sampai kita ketahuan oleh besan dan juga pelayan di rumah kita ini,” bujuk Herman kepada istrinya.
Herman sebenarnya tidak mau sama sekali melakukan hal konyol begini tapi ancaman istrinya yang akan mengusirnya dari dalam kamar membuatnya dengan terpaksa berdiri di depan pintu kamar anaknya.
“Bentar pah!! Mamah dengar sedikit lagi,” Herman menghembuskan nafas beratnya istrinya ini memang keras kepala untung saja dia sayang dan tidak mau menukar dengan yang lainnya.
“Aiss kok tidak terdengar apa-apa lagi sih,” kesal Sari yang tidak mendengar apapun dari dalam.
“Tuh kan mah! Itu menandakan bahwa kita harus pergi dari sini! Sudah yuk mah ke kamar saja papah lelah sekali hari ini.”
Sari berpikir sejenak akhirnya menurut apa yang suaminya katakan, “Ya sudah ayo! Karena papah sudah mengabulkan keinginan mamah, mamah akan memijat papah sampai tidur.”
Herman langsung menatap istrinya penuh arti, “Plus plus tidak?” ucap Herman dengan menaik turunkan alisnya.
“Katanya lelah?”
“Kalau itu mah beda mah! Papah masih kuat kalau untuk melakukannya,” balas Herman yang dibalas dengan senyuman penuh maksud yang membuat Herman menarik tangan istrinya agar cepat masuk ke dalam kamar mereka.
***
“Kau sudah gila hah! Kenapa membuka semua bajumu di sini? Kau bilang tidak akan menyentuhku,” kesal Syifa karena matanya sudah ternodai.
Dia hanya memiliki adik wanita dan ayahnya tidak pernah sama sekali tidak memakai baju di depannya membuat wajah Syifa langsung memerah mendapatkan suguhan dari Atlas.
“Heh memangnya siapa yang mau menyentuhmu! Aku mau bersih-bersih,” balas Atlas tidak terima dituduh hal yang tidak dia lakukan.
“Memangnya tidak bisa apa di kamar mandi, kau tahu kan aku ada di dalam kamar ini juga,” Syifa bagai tidak mau kalah terus saja mendebat Atlas.
”Ya mana aku tahu kau bangun lagi! Tadi aku lihat kau sudah tidur.”
Kesal karena Atlas yang tidak sama sekali mengaku dia salah membuat Syifa tidak sadar membuka kedua telapak tangan yang menutup matanya.
“Aaaa—” teriak Syifa untuk kedua kalinya yang membuat Atlas menutup telinga merasa gendang telinganya sakit mendengar teriakan melengking Syifa.
“Kau sok berteriak! Padahal sengaja kan kau memang ingin melihat tubuhku yang seksi ini,” ucap Atlas dengan cepat memakai bajunya kembali sebelum mendengar teriakn Syifa untuk yang kedua kalinya.
“Enak saja! kau itu terlalu percaya diri! Tubuhmu tidak sama sekali sebanding dengan opa-opa korea yang sering muncul di TV,” jawab Syifa asal padahal dia sendiri saja tidak pernah menonton film korea.
Syifa lebih suka menghabiskan waktunya dengan membaca buku atau pergi ketempat dimana dia bisa belajar hal yang belum dia ketahui.
Atlas yang malas berdebat lagi dengan Syifa memilih untuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Ck! Aku pikir dia masih menjadi wanita cengeng dan penurut, tapi ternyata dia sudah banyak berubah,” ucap Atlas dengan mengusap kaca di depannya.
Memang salah satu alasannya menerima perjodohan ini karena Atlas pikir Syifa masih menjadi gadis yang 10 tahun dia kenal.
Tapi ternyata Atlas salah bahkan gadis itu tadi bisa terlihat tegar saat Atlas mengatakan hal yang pasti Atlas tahu bahwa apa yang dia katakan tadi sangat menyakiti hati Syifa.
Atlas mandi hanya sekedarnya saja setelah memakai baju di dalam kamar mandi karena tidak mau kejadian seperti tadi terulang.
“Apa dia tidur begini?” ucap Atlas melihat Syifa bahkan tidak sama sekali membuka jilbab saat tidur.
“Bukankah aku juga sudah pernah melihat rambutnya, lalu kenapa dia menyembunyikan rambutnya yang tidak indah itu,” lanjut Atlas masih betah melihat wajah damai Syifa ketika tidur.
Atlas merasa Syifa akan kedinginan jika tidak memakai selimut membuat Atlas membuka lemari pakaiannya dan menarik selimut dari salam sana untuk dia pakaikan pada Syifa.
Meski Atlas tidak menyukai wanita yang sekarang sedang dia selimuti itu tapi Atlas bukan pria kejam yang akan tega dengan seorang wanita.
“Maafkan aku yang menyeretmu ke dalam pernikahan ini! tapi aku janji aku akan memberikan banyak hartaku padamu setelah kita bercerai.”
“Dengan begitu kau bisa hidup dengan lebih layak dan tidak akan ada orang yang menghina dirimu dengan status jandamu itu.”
***
Syifa mengerjabkan matanya saat mendengar alarm ponsel yang memang dia stel pukul 3 pagi! Syifa sangat suka sholat malam.
Syifa merasa jika berdo’a saat sholat malam lebih nyaman karena keadaan hening, untuk memastikan dia terbangun Syifa selalu menyetel alarm di ponselnya.
“Ahh badanku pegal sekali,” keluh Syifa dengan memijat lehernya sendiri.
Meski di rumahnya yang sederhana tidak ada kasur empuk seperti yang sekarang di tiduri oleh Atlas tapi setidaknya dia tidak pernah tidur di tempat yang sempit begini.
“Dasar!! Harusnya dia membujukku untuk tidur di kasur,” omel Syifa yang merasa kesal melihat Atlas yang nyenyak tidur sedangkan dirinya harus bangun dengan keadaan yang pegal begini.
“Huu tenang Syifa jangan membuat dirimu pusing karena suami yang tidak menganggap dirimu istri ini,” ucap Syifa mencoba untuk tetap bahagia meski kehidupan pernikahannya tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan.
Dengan menyeret paksa kakinya Syifa masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.
“Ya Allah aku tidak tahu takdir apa yang sekarang sedang aku jalani! Aku tidak mengerti mengapa saat aku meminta keyakinan tentang lamaran dari Atlas kau memberikan aku keyakinan penuh hingga aku menerima pinangan dari Atlas.”
Syifa mulai mengeluarkan air matanya, hanya di atas sajadah dia bisa menangis tanpa rasa malu ada orang yang mengatakan dia lemah.
“Tapi kenapa keyakinanku ini malah seperti sebuah kesalahan! Apa aku salah mengartikan petunjuk darimu ya Allah.”
“Ya Allah aku mohon kuatkan aku untuk menjalani pernikahan ini! meski bagaimanapun di mata agama dan semua orang aku adalah istrinya Atlas! Jadi tolong ya Allah kuatkan aku agar aku tetap bisa menjaga marwahku sebagai seorang istri meski suamiku sendiri tidak pernah menganggap aku istrinya.”
Setelah mengeluarkan semua keluh kesahnya Syifa menyelesaikan sholatnya dia kembali membuka mukenanya.
Biasanya Syifa akan melanjutkan untuk tilawah, tapi tidak untuk kali ini Syifa takut jika nanti Atlas mendengar dia tilawah Atlas akan bilang dia sedang mencari perhatian laki-laki itu.
Jadi kali ini Syifa akan kembali tidur menunggu adzan shubuh.
“Ehh tunggu kan semalam aku tidak pakai selimut?”