Mas Agung menutupi tubuhnya dengan dua tangan, ketika aku terus memperhatikan. “Ngapain, sih, ngeliatin melulu?” tanyanya. “Mau m***m, ya?” Dia bergidik. “Enak aja!" sergahku. Mas Agung baru saja selesai makan siang, dan hendak kembali pada tugasnya--melayani konsumen dan mengantarkan pesanan. Sebelum masuk kafe, aku menyusul. Dia bicara lagi, "Terus, ngapain daritadi liatin melulu? Naksir, yaa?” Aku mengeluarkan tawa yang sama sekali tidak enak didengar. “Enak aja.” Setelah Mas Agung usai dengan tawanya, aku tanya tentang satu hal. Dari tadi, aku memang memperhatikan. Bukan karena naksir, melainkan aku sedang mengukur badan Mas Agung. Aku rasa, dia punya postur badan yang tidak jauh beda dengan Ran. “Mas Agung punya kemeja bagus, nggak?” tanyaku. “Yang cocok untuk daleman jas."

