Andre sedang asyik bermain ponsel ketika aku menemuinya. Waktu tahu aku datang, dia segera memasukkan ponselnya ke dalam kantung. Aku tersenyum tipis padanya. Sebelum kami bicara, Andre membukakan pintu mobil untukku. Meski ragu, aku masuk ke dalamnya. Andre memasang seat belt, ketika dia sudah duduk juga di dalam. Kemudian, menoleh ke arahku yang masih diam saja dari tadi. "Mau langsung pulang?" tanyanya. Aku menggeleng. "Dre, soal yang waktu itu-" kataku ragu-ragu. Dia mengernyitkan dahi. "Yang mana?" Melihat senyum tulus di wajah Andre, diri ini semakin takut menyakiti hati sahabatku ini. "Sebelumnya, aku mau minta maaf dengan kamu." "Maaf?" Andre keheranan. "Maaf untuk apa?" Aku menghela napas. “Waktu itu aku pernah bilang, kalau aku mau punya pendamping kaya, inget?” “Oh i

