Aku dan Ran duduk di kursi panjang depan mini market. Kubelikan dia minuman bersoda rasa lemon. Tidak masalah, 'kan, kalau aku sering traktir dia. Karena aku tahu, kalau Ran memang tidak punya uang. Misalkan dia cowok pemalas, yang hobinya bangun siang, merokok tidak pakai aturan, terus ditraktir, baru salah. Ran berbeda. Meski dengan tampangnya yang bisa membuat perempuan tergila-gila, dia masih mau buang sampah, mau angkat-angkat barang, mau juga bersih-bersih. Walaupun agak tidak beres kerjanya. Waktu menunjukkan pukul delapan malam lebih empat puluh menit ketika kami menikmati minuman. Aku tersenyum lebar. "Makasih loh, udah buat malam ini jadi ajang balas dendam yang sempurna." "Yah, kalau lihat muka si Ubur-ubur tadi, jadi terhibur juga." Ran tak kalah senang dariku. "Nggak ke

