Sesuai kata-kata Rass, aku mengenali jalan yang membentang di balik jalan sempit itu. Rupanya gang sempit itu menghubungkan apa yang disebut oleh Rass sebagai weltevreden dengan jalan utama Jayagiri, tepat di dekat alun-alun kota yang kini telah sepi dari kehidupan.
Tidak ada orang di jalanan selain diriku. Lampu-lampu menyala dalam sunyi di kanan dan kiri, membantu rembulan sedikit di atas sana. Langkah kakiku yang mengendap-endap di jalan terdengar seperti bunyi trem yang berjalan. Sangat keras, meski tidak ada yang terbangun karenanya. Tidak ada manusia yang hidup untuk melirikku di luar sini. Tidak ada Marsose meringkusku.
Setidaknya tidak di jalan tempatku berada.
Dari balik salah satu bangunan yang kelihatannya adalah toko, aku mengintip. Masih ada beberapa Marsose yang hilir mudik. Wajah-wajah mereka yang ketakutan tampak jelas dari tempatku berdiri. Suara-suara mereka bergema dengan jelas di tengah kesunyian.
“Termutilasi seperti sebelumnya.”
“Pelakunya melukis nama Dayuh dengan darah korban.”
Bersama dengan kata-kata mengerikan yang terlontar dari bibir dua Marsose pria itu, aku kembali dipaksa mengingat kejadian mengerikan yang berlalu di depan mataku, hanya beberapa saat yang lalu.
Rasanya mustahilm bahkan bagi diriku sendiri.
Selamat dari orang—makhluk—seperti itu, ketika dia bisa mencabik-cabik tubuhku dengan mudah, hampir tidak mungkin. Tapi ada banyak hal yang memang tidak bisa dijelaskan dari pertemuan itu. Mulai dari entah bagaimana aku bisa ada di sana, ketika makhluk itu membunuh, sampai pertemuanku yang begitu aneh dengan Rass.
Segalanya, seperti sudah direncanakan.
Bunyi berderap membawaku kembali ke kenyataan. Kedua Marsose itu melangkah masuk ke dalam gang, aku mengambil kesempatan untuk menyeberang melalui jalan raya yang mati.
Jalanan yang telah sepi memang sedikit menyulitkanku. Rasanya setiap langkah terdengar sekencang gemuruh petir. Sementara di kanan dan kiri, seolah ada ratusan mata mengawasi dari balik kegelapan, menungguku lengah untuk mencabik leherku, meski pada kenyataannya tidak ada yang terjadi. Tidak lagi.
Aku benar-benar beruntung.
“Anggap saja kamu sangat beruntung.” Kata-kata Rass kembali bergema dalam kepalaku. “Karena Anjani memintaku melakukannya sampai sejauh ini.”
Anjani, sekali lagi nama itu disebut. Dia yang membuatku beruntung malam ini, menurut Rass. Entah apa maksudnya. Rass tidak pernah berbalik sekalipun aku memanggilnya dengan suara yang akan membangunkan orang mati.
Apa Anjani tahu aku akan keluar? Anjani tahu aku akan bertemu Dayuh? Anjani yang menyuruh Rass menolongku?
Aku tidak tahu seberapa besar kemungkinan akan bertemu Marsose seperti Rass yang tidak akan menahanku. Tapi di tengah jalanan yang gelap dan banyak gang sempit di Jayagiri, kesempatan itu terdengar mustahil bahkan di kepalaku yang kosong ini.
Anjani, seberapa banyak gadis itu membantuku malam ini?
Dan untuk apa?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab bahkan sampai pagi menjelang. Ketika aku secara ajaib bisa kembali bertemu Ira dan Markandra di tengah jalan yang sepi, berdua dan pucat seperti hantu, tapi langsung memelukku ketika bertemu.
***
“Aku masih tidak mengerti.” Ira melipat tangan, tampak tidak puas. “Kamu bilang kamu mendengar suara aneh, lalu bertemu dengan … Dayuh?”
“Aku tidak tahu apa itu dia atau bukan, tapi….” Aku memejamkan mata ketika genangan darah itu kembali hadir dalam ingatanku. “Dia jelas menuliskan nama itu besar-besar di tanah, dengan darah….”
Wajah kedua temanku pucat di bawah temaram cahaya lilin. Kami tiba dan masuk di bangunan yang sempat dimasuki Ira dan Markandra sebelumnya. Bangunan yang aku tolak untuk masuki, tapi sekarang pada akhirnya menjadi tempat paling aman bagiku, lebih aman setidaknya dibanding di luar sana.
“Seperti apa wujudnya?” Markandra bertanya penasaran. Ira menyikutnya dengan tatapan sengit. Markandra buru-buru berdeham dan menambahkan. “Maksudku jika kamu tidak keberatan bercerita….”
Aku menggeleng. “Disuruh menggambarkan pun … aku tidak tahu bagaimana menjelaskaannya….” Sebisa mungkin, aku mengingat apa yang aku bisa lihat dari wajah itu, lepas dari semua darah dan teror mengerikan di wajahnya. “Aku hanya tahu … dia berkulit seperti kalian. Dia tidak putih, tapi matanya….” Bulu kudukku berdiri saat dingin menusuk itu kembali menyerang. “Matanya merah.”
“Seperti dirimu?” Markandra mengernyit.
Diriku?
Mendengar pertanyaan itu, aku sedikit terkesiap. Tidak menyangka akan keluar dari mulut Markandra. Tapi tidak untuk waktu lama. Karena aku sadar, ucapannya memang benar.
“Ya….” Tanganku tanpa sadar menyentuh bagian bawah mata sendiri. Ada cermin di ruangan itu dan aku menoleh ke arah pantulan keruh kaca yang telah lama tak dibersihkan itu. Sepasang mata merah dari sana menatapku balik. “Sepertiku.”
Agak sakit. Rasanya di perutku ada yang menusuk-nusuk dari dalam….
Tidak mau berlarut-larut dalam perasaan aneh itu, aku pun mengingat kembali detail menakutkan orang itu. Setelah kata-kata Markandra, ia tidak begitu menakutkan lagi. Setidaknya sebagian dari penampilannya.
“Dia juga punya cakar.” Aku menunjuk tangan kanan. “Di sini. Cakar hitam yang besar.”
“Untuk digunakan menandai tempat kejadian.” Ira bertukar pandang dengan suaminya. “Apa itu … artinya dugaan para petugas kalau pelakunya adalah Siluman … benar adanya?”
Markanda tampak berpikir keras. “Sebaiknya kita tidak memikirkannya,” ujarnya. “Selama yang ditargetkan bukan salah satu dari kita, aku rasa aman bagi kita untuk tidak mengambil serius perkara ini, kecuali kita terdampak langsung.”
“Bukankah itu tinggal menunggu waktu saja?” Ira menyahut dengan jengkel. “Pemerintah sudah menghubung-hubungkan kasus ini dengan kita, menganggap Dayuh bersekongkol dengan para pejuang.”
“Bukan pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi kan?” Markanda mencoba menenangkan. “Tidak akan berlangsung selamanya. Seperti yang sebelum-sebelumnya. Kita hanya perlu menjaga aktivitas agar jangan terlalu terlihat. Biarkan mereka fokus pada Dayuh.”
“Aku harap semua memang bisa semudah itu.”
Aku tidak ingat kasus seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Namun jika Markandra bilang, semua ini tidak berlangsung selamanya, artinya aku bisa percaya. Semua ini akan segera berakhir. Lagipula dengan Marsose ada tepat di ekornya, tidak mungkin orang itu akan membunuh-bunuhi semua orang di Jayagiri kan?
***
Rumah tempatku dilarikan oleh Markandra dan Ira bukanlah rumah yang buruk jika dilihat dari dalam. Memang sebagian besar bagian dalam tidak dicat dengan warna yang terang, atau mungkin pernah dicat dengan demikian sebelum cat-cat cerah itu mengelupas, meninggalkan ruang-ruang kosong kelabu dari tembok semen dan bata. Sekarang tidak ada cat yang tersisa di dinding. Semuanya kelabu.
Atau setidaknya di sebagian besar ruangan.
Tempatku tidur tidak demikian. Masih ada cat cerah di sebagian besar ruangannya. Tidak dalam keadaan yang benar-benar bagus karena bercak air terlihat jelas dan ada beberapa bagian mulai mengelupas, tapi aku tidak lagi mempermasalahkannya.
Aku dapat satu ruangan bercat cerah ketika semua ruangan lain dicat gelap. Ada lemari baju-meski dalamnya kosong—sebuah dipan beralaskan selembar kain harum dan sebuah cermin badan.
Aku berjalan mendekati cermin.
Bahkan dari bayangan saja, tubuhku sudah kelihatan berat sebelah. Kaki cakarku membuat penampilanku limbung. Aku menggerak-gerakkan cakar itu dan mengangkatnya. Mencoba melangkah dengannya.
Tidak terasa sakit ataupun panasn. Tapi jelas noda hitamnya semakin menyebar.
“Apa ini sebenarnya….?” Aku mengingat tangan kanan orang itu. Warna hitam dan merah yang sama … mau tidak mau aku sekarang berpikir demikian. Kaki dan tangan kami tidaklah jauh berbeda.
Tapi apa dia juga menyebar seperti ini?
Apa … ini semacam kutukan? Atau penyakit?
Kemudian aku ingat Anjani juga punya tangan yang sama. Apa … itu hanya perasaanku saja? Apa Anjani tahu hal ini?
“Kaliandra.”
Tiba-tiba kakiku panas. Aku menunduk dan buru-buru mengangkat kaki. Ada noda hitam di lantai sekarang. Noda bekas tapak kakiku. Panik dan kaget, aku terjungkal ke atas dipan. Pantatku langsung membentur dipan dan aku mengaduh sakit.
Aroma asap menusuk hidung dan aku pun kembali menunduk, menatap lantai.
Bekas hitam itu tidak hilang. Kakiku menginjaknya, tidak hanya melihat kesesuaian yang mengganggu antara jejak hitam itu dengan bentuk kakiku, tapi juga merasakan kehangatan yang aneh dari sana. Bukan dalam arti perasaan, tapi benar-benar hangat.
Seperti terbakar.
Kenangan terakhir malam itu kembali masuk ke benakku, sesaat sebelum aku memutuskan melompat ke tepi gedung dan mendarat di tumpukan sampah yang menggunung melampaui batas tampung tempat sampah.
Api. Ada api yang keluar entah dari mana. Api yang membuat makhluk itu kaget.
Api yang menyelamatkan nyawaku.
Aku lantas menunduk, meraba kaki sendiri, merasakan kehangatan yang aneh menjalar di sana. Kehangatan yang sama seperti di lantai.
“Api itu … asalnya….” Aku meraba kulit kasar di kaki. “Apa mungkin….?”
Tiba-tiba kakiku berdenyut. Seperti ada yang merayap hidup di balik kulit. Aku tersentak dan langsung duduk tegak. Tapi denyut itu segera berhenti.
“A-apa-apaan itu….?”
Pintu kamarku yang terbuka diketuk. Baru saja syok oleh kejadian tadi, aku pun tersentak kaget saat suara ketukan itu tiba-tiba terdengar.
Markandra mengerjap membalas pelototanku. Ia berdiri bersandar di sana. Tubuhnya terlihat santai, tapi wajahnya kaget, mungkin tidak menyangka akan melihat reaksiku seperti itu.
Aku buru-buru menghela napas, menenangkan diri sendiri sebelum semua menjadi kacau dan canggung. Lalu menengok ke jam di atas dinding. Sudah hampir pagi.
“Kamu tidak tidur?”
Markandra menggeleng. “Sulit untuk tidur belakangan ini.”
Aku bergeser di atas dipan, mempersilakannya duduk di sebelahku dalam kamar.
Namun Markandra menunjuk pintu. “Tidak membiarkan ini ditutup?”
“Tidak, lebih nyaman seperti itu.” Markandra pun melangkah masuk. Saat ia menghampiri dipan, seorang pria melintas. Ia melirikku sekilas dan mengangguk singkat.
Satu hal yang aku sadari di tempat ini adalah, tidak ada yang memusuhiku sama sekali di tempat ini. Tidak seperti di luar ketika semua orang menunjuk kakiku, tidak ada yang mempermasalahkan bagaimana penampilanku. Bahkan ketika aku sendiri mempertanyakan penampilan di depan cermin: kulit gelapku, rambut putihku, mata merahku, tidak da satu pun dari mereka yang mempermasalahkannya. Mereka mungkint idak menyapaku, tersenyum, atua melakukan obrolan tidak berguna denganku.
Tapi setidaknya mereka tidak menolakku meski aku sudah membuat dua anggota mereka kerepotan.
Terbersit dalam diriku kalau mungkin mereka melakukannya karena mereka mengenalku di masa lalu. Kemungkinan itu cukup besar, tapi aku tidak mempermasalahkannya.
Aku tidak bisa berharap apa pun lebih baik sekarang.
“Aku belum meminta maaf karena sudah membuat kalian berdua pontang-panting,” ujarku ketika Markandra duduk di dipan. “Dan aku belum menitipkan terima kasih kepada pemimpin kalian.”
Markandra membalas ucapanku dengan seulas senyum sedih yang aku tidak yakin tepat dikeluarkannya di saat-saat seperti ini. A
Aku ingat tidka menangis tadi.
Apa aku mengatakan sesuatu yang salah … lagi?
“Kamu benar-benar tidak mengingatnya?” Markandra bertanya kepadaku, tapi entah siapa subjek yang sedang ia bicarakan. “Pemimpin kami? Laskar Pejuang?”
Aku tidak mau melihat kekecewaan di wajah Markandra, tapi memaksakan diri juga bukan pilihan yang ingin aku ambil. “Aku mencoba.”
“Ti-tidak, maksudku bukan memaksamu, hanya saja….” Markandra mengepalkan tangan. Ia menunduk. Pandangannya menerawang jauh ke sekadar sudut sembarangan di dalam kamar. “Kami benar-benar minta maaf tidak bisa menolongmu dengan cepat.”
“He-hei, setidaknya itu sudah berlalu kan?”
Markandra melirikku. Dan seketika aku gugup. Ada sesuatu dalam pandangannya. Sebuah keraguan. Dan Markandra tidak ragu menyuarakannya. “Benarkah begitu?”
Tidak, tentu saja itu belum berlalu. Aku mungkin bsia membohongi diriku sendiri dan orang lain untuk hal ini. Tapi ada seseorang di luar sana yang menanggung entah kesalahan apa yang sudah aku perbuat. Orang yang dengan sukarela pergi ke tempat terkutuk itu untuk menebusku.
Bayangan wajah Anjani muncul di benakku.
“Ya.” Pada akhirnya, aku tidak bisa berkata jujur pada Markandra. “Sudah selesai.”
Markandra tersenyum, tapit idak berkata apa-apa. Ia kembali menatpa ke depan. Kembali menerawang jauh dari ruangan ini. Lalu pandangannya berpindah ke arah pintu yang terbuka.
“Tapi ada beberapa hal yang tidak akan kembali seperti dulu,” ujarnya dan aku tahu, aku tidak berhasil membohonginya. Mungkin tidak sama sekali. “Kapan pun kamu mau cerita, kami siap mendengarkan.”
Diam-diam aku mengepalkan tangan. Aku ingin bercerita. Aku sangat ingin. Tapi mereka punya banyak agenda. Merek apunya hidup dan tujuan sendiri. Aku tidak bisa membebankan hal yang entah apa ini kepada pundak mereka berdua yang sudah terbebani nasib negeri ini.
“Ya….” Menjadi jawaba paling jujur dariku malam ini. “Aku rasa aku tidak mau lagi terikat atau terkurung untuk beberapa lama….”
“Ataupun berada di ruangan yang gelap.” Markandra melirikku. Ia kembali duduk tegak. “Dengar, kami bisa mencarikan penginapan lain bagimu sampai beberapa lama. Kamu tidak harus berada di sini dan mungkin kami bisa mencarikan pekerjaan untukmu.”
Aku ingin menolak dua hal itu. Tapi mengingat apa yang baru saja aku alami dan malam yang tidak lagi aman, aku tidak punya banyak alasan, terutama karena sebelumnya aku hampir tidak bisa menyelamatkan diri.
“Aku akan sangat menghargainya,” ujarku, lalu teringat sesuatu. “Apa kalian ingin pergi?”
Markandra mengangguk sedih. “Besok lusa kami akan ke Semarang. Ada pesan darurat yang tiba di tangan Ketua tadi. Semarang butuh pasukan bantuan,” Pria itu berubah serius. “Aku takut akan ada pertempuran nanti.”
Kenangan-kenangan peperangan kembali masuk ke benakku. “Kamu akan membawa Ira?”
Markandra tersenyum. “Jika saja aku punya pilihan yang lebih baik….”
Di luar medan tempur, Markandra tidak lebih dari seorang pria beristri .Dia rapuh, dia bisa bimbang, dan dia seringkali mempertanyakan keputusan sendiri. Dengan beban emosi seperti itu, ia masih bisa mementingkan perasaan orang lain. Mementingkan keselamatanku.
Dan utnuk itu, selamanya aku berhutang budi padanya.
“Terima kasih.”
Markandra menepuk bahuku. Kami berangkulan selama beberapa lama di kamar itu. Dalam kedamaian yang selamanya akan aku kenang.
***
Bunyi-bunyi senapan yang dilepaskan dari pengamannya bergema dalam telingaku. Semuanya ditarik dalam saat yang sama. Sementara aku terdiam dan enggan memberikan jawaban.
“Kami tanya, di mana Markandra?!” Pria Londo yang paling depan bertanya. Berseru gahar.
“Saya tidak tahu apa yang kalian bicarakan,” jawabku, berusaha untuk terdengar tidak takut, tapi juga tidak terlalu berani seperti sudah terlatih untuk kondisi ini. “Kalian hanya mengacaukan desa ini! Pergi dari sini!”
Wajah-wajah Londo memenuhi pandanganku. Mereka tampak marah luar biasa. Senapan siaga di tangan mereka. Moncong-moncong besinya mengarah kepadaku. Jari-jari mereka tepat ada di depan pelatuk dan siap menariknya.
Kemudian mereka melihat ke bawah, tepat ke arah kakiku. Pria paling depan langsung melayangkan popor senapan ke wajahku.
“Dasar Siluman licik!” Dalam bahasa Melayu beraksen, ia langsung menghajarku. Teman-temannya mengikuti karena merasa sudah mendapat izin. Mereka tanpa ragu ataupun kasihan, langsung mengeroyokku. “Hajar dia! Jangan beri ampun! Terus hajar sampai dia tidak bisa melawan!”
Salah satu dari mereka tertawa ketika sepatu-sepatu bot merek menginjak tanganku. Bunyi tulang retak terdengar dari sana dan aku pun menjerit.
“Kapten, apa kita bisa membunuhnya? Kita bunuh saja dia di sini ya!”
“Tidak, tidak dalam perintahku, Sialan!” Pria yang dipanggil kapten yang rupanya adalah pria yang sama yang menghajarku pertama kali, berseru. “Lihat saja! Akan aku bawa kamu ke teman-temanmu yang sama menjijikkan, rendah, dan berota pengkhianat ke pasar gelap! Batavia akan senang mengadakan satu lagi lelang b***k Siluman!”
Kemudian terdengar suara dari arah dapur. Suara kecipak air.
Oh, tidak.
Aku membelalak. Pasukan yang mengeroyokku pun membelalak. Serangan demi serangan mereka berhenti. Dari balik mata yang bengkak dan sakit, aku menyaksikan wajah-wajah mereka semua tergugu di tempat. Saling bertukar pandang. Sang kapten sepertinya bukan tipe pemikir lambat, karena tidak sampai dua detik setelahnya, ia kembali ke kenyataan dan mengangguk dengan tenang ke arah rekan-rekannya. Sama sekali tidak terlihat baru saja meledak-ledak menghajar seorang pria tidak bersenjata.
Dengan senjata teracung sekali lagi, mereka semua perlahan meninggalkanku. Seolah aku tidak lagi berharga.
“Ti-dak….” Mulutku berusaha bersuara, tapi dari balik bibir yang sobek, tidak banyak kata bisa keluar. “Hen-tik-an … ja-ngan….”
Tanpa suara, mereka melangkah ke dapur. Mendekati tempat persembunyian Markandra dan Ira. Dua keluargaku. Dua sahabatku. Orang-orang berarti bagiku. Satu-satunya yang tersisa dari masa laluku….
Satu-satunya….
“Jangan….” Mataku memaksakan diri untuk terbuka sepenuhnya, melawan semua rasa sakit dan darah yang mongering. Semua retak dan cedera.
“Hen-tikan….” Tanganku menggapai-gapai tanah tanpa hasil. Suaraku yang semula parau dan lemah, perlahan kembali. Energi mengisi tubuhku, seperti api yang memakan bara dan menyalakan tungku, aku bangkit berdiri.
Semua nyeri di tubuh hilang. Semua sakit dan jeritan yang sebelumnya memakan habis suaraku, seolah tidak pernah terjadi. Aku bangkit perlahan. Awalnya berlutut, merangkak, kemudian berdiri tegap. Mataku membuka lebar seutuhnya. Mulutku membuka lebar dan gigi geligiku bergemretak amarah. Panas menjalar di seluruh tubuhku, menghangatkanku seperti api unggun.
Sulur-sulur atma merah mengelilingiku. Perlahan, sulur-sulur atma biru ikut muncul. Bersama dengan atma merah, keduanya menari dan membentuk harmoni di sekeliling tubuhku.
“Jangan….” Aku mengepalkan tangan kuat. Sulur atma berkumpul di sana. Kedua tinjuku terasa panas seketika. Tanah di bawah kakiku bergetar.
Kemudian atma di sekelilingku berubah.
Atma merah dan biru yang tadi mengelilingiku berubah semakin tearng. Warna merah dan birunya memudar, berganti putih. Kemudian warna putih itu menyala terang.
Berubah menjadi emas.
Semua prajurit Londo itu berbalik, seolah sadar ada yang tidak beres. Mata mereka semua membelalak ngeri ke arahku. Dan aku puas melihatnya. Senjata-senjata mereka terarah kepadaku.
“Tembak dia!”
Peluru-peluru dilepaskan. Tepat ke arah kepala dan dadaku. Tapi mereka semua terempas dengan mudah. Semuanya membara menjadi bola api dan jatuh ke tanah, berubah menjadi arang dan bara.
Aku menginjak serpihan peluru itu dengan kaki telanjang. Panasnya bahkan tidak terasa.
Memang tidak ada yang terasa di tubuhku sekarang. Yang ada hanyalaha amarah. Sebuah tumpukan kemurkaan yang siap meledak dari kaki dan tinjuku yang mengepal.
Aku mengangkat tinju. Tanganku terbungkus api yang anehnya tidak panas.
Itu aneh, tapi benakku tidak punya waktu memprosesnya. Aku terlalu marah. Terlalu bersemangat. Sehingga saat tinjuku terbungkus api membara, yang terlintas di benak dan hatiku bukanlah pertanyaan dan kebingungan.
Melainkan amarah dan sebuah seruan mengancam:
“Jangan berani kalian memasuki rumahku seenak kalian, Manusia-manusia laknat!”
***
Aku terbangun dengan peluh membasuh sekujur tubuh.
Kedua mataku membelalak, tapi tubuhku kaku. Napasku memburu tapi tubuhku terbaring. Selama beberapa saat awal, aku mengerjap. Berusaha mencerna apa yang tadi aku mimpikan dan apa yang sedang terjadi, tapi gagal. Tidak ada penjelasan masuk akal yang bisa aku pikirkan.
“A-apa itu….?”
Api yang membakar segalanya. Api yang membungkus tinjuku. Api yang seakan mengalir dalam darahku. Seolah menjadi bagian dari diriku.
Kemudian tubuhku terasa panas.
Aku menunduk, menyadari dan bertanya-tanya, sejak kapan dipan tempatku tidur jadi sekeras ini?
Kedua mataku seketika membelalak saat sadar apa yang sedang terjadi. Tidak hanya karena aku ternyata entah sejak kapan sudah jatuh dan berbaring di lantai, tapi juga karena aroma hangus yang langsung datang menusuk penciumanku.
Aroma hangus yang berasal dari sekeliling tubuhku, tepat dari tanda hangus yang mengelilingi tubuhku yang berbaring. Berasap dan mengeluarkan aroma hangus batu yang terbakar.
Aku langsung bangun dan duduk tegap di lantai. Mataku memandangi bekas hitam itu dengan ngeri dan sejuta tanya di hati.
“A-apa yang sebenarnya….?” Sebuah panas sekali lagi menyerang tubuhku. Asalnya dari kaki. Aku mengalihkan pandang ke sebelah kakiku yang bercakar dan jantungku mencelus.
Warna merah di kaki itu membara. Berdenyut dan menyala-nyala laksana api.
***