20. Misteri dan Menghilang

3534 Words
Aku tidak bisa menyembunyikan banyak hal dari Ira dan Markandra, terlebih saat mereka sampai di kamarku dan melihat bercak kekacauan yang—sepertinya—aku buat di lantai. “Wanita itu pasti menyembunyikan sesuatu!” Segera setelah mereka membersihkan kekacauan di lantai, sambil berusaha tidak menarik perhatian anggota laskar mana pun, Ira terus saja menggerutu. Tentu saja tidak mungkin ada anggota Laskar yang tidak akan melihat bercak ini dan mulai bertanya-tanya. Mungkin bahkan aku juga akan bertemu dengan Ketua karena hal ini. Tidak mungkin bisa lari selamanya. Tidak mungkin juga terus membebani Ira dan Markandra. “Jangan menyimpulkan lebih dulu.” Markandra menaruh kain lap yang kotor ke air dalam ember besi. Air di dalamnya sudah hitam. “Setidaknya jangan tanpa bukti. Kita tidak bisa menyerang seseorang, apalagi Jager tanpa bukti. Marsose tidak akan membiarkan itu.” Mendengarkan Anjani akan terancam, entah kenapa mengaduk-aduk perutku. Apalagi dengan wajah Markandra yang seolah menimpali ucapan istrinya, tidak menyangkalnya kali ini. “Ira, Markandra … ini bukan masalah yang harus melibatkan kalian berdua … lagi.” Ucapan itu mendapat pelototan sengit dari suami-istri itu. “Tidak, ini tidak bisa dianggap remeh, Damien! Nyawamu bisa saja sedang terancam!” Ira menyanggah dengan semangat. “Kami sudah membayarnya mahal, kami tidak mau misi penyelamatanmu harus dibayar dengan kesehatanmu! Apalagi kalau kesehatanmu malah tambah buruk!” Wajah Ira mengernyit, tampak kesakitan. “Siapa yang tahu … apa yang sudah kamu alami di sana? Kamu sampai tidak ingat kami … artinya pasti ada sesuatu yang buruk kan?” Mata Ira berkaca-kaca, menatapku secara bergantian dengan suaminya. “Dan perempuan itu pasti tahu sesuatu! Dia tahu sesuatu dan menyembunyikannya, kan?” “Ira, aku tahu kamu khawatir….” Markandra merangkul istrinya dengan hati-hati, jangan sampai tangan kotornya m*****i pakaian istrinya. “Tapi jangan sampai kamu bertindak gegabah dan terpaku pada satu orang. Ingat kalau yang kita hadapi ini bukan Londo ataupun pengkhianat.” Aku mengangguk, membenarkan kata-kata Markandra walau berat hati. “Markandra benar,” Aku mengaku. “Ini makhluk lain di luar nalar kita. Makhluk yang….” Pandanganku menunduk, menatap kakiku sendiri. “Makhluk yang sepertiku.” Ira mengatupkan bibir dengan wajah masam. Ketenangan akhirnya hadir dari lisannya meski tidak begitu dengan wajahnya. Namun satu hal bagus, ia tidak lagi berapi-api. “Dan orang yang menolong Damien pun bukan orang sembarangan,” Markandra kembali mengingatkan. “Kita tidak bisa asal langsung menyerangnya. Utang budi kita dan Simmo sudah selesai.” Untuk kata-kata itu, aku menaikkan sebelah alis. “Hutang budi?” “Simmo pernah beberapa kali ditolong oleh Laskar, jauh sebelum ia jadi tangan Marsose seperti sekarang. Saat … dia masih simpatisan.” Markandra menjelaskan dengan wjaah enggan. “Simmo memang tidak salah pilih orang karena kamu selamat, tapi … kalau keadaannya seperti ini, hutang budi sudah lunas pun … rasanya tidak enak.” “Ya, kan?” Ira langsung menimpali. “Hutang budi macam apa yang dibayar lunas dengan cara seperti ini?” “Tapi kita tetap tidak bisa memungkiri kalau segalanya sudah selesai, Ira.” Markandra kembali menenangkan istrinya, dengan nada lebih lembut kali ini. “Damien sudah kembali, kita sudah membayar Anjani. Semua sudah selesai.” “Apa tidak bisa bayaran itu dipotong atau ditarik lagi?” Ira memukul lultutnya sendiri. “Ini tidak benar!” “Ira, kita sebaiknya— “Membayarnya penuh bukan berarti tidak akan membuatnya menjadi musuh kita di lain hari, kan?” Ira menukas. “Kalau kita sedari awal adalah musuh, lebih baik sekalian saja kita kobarkan permusuhan!” “Aku sudah bilang jangan gegabah kan?” Markandra mendebas lalu merangkul isrtinya mendekat. “Jangan pernah memancing musuh. Kita tidak sendirian. Akan ada orang-orang yang juga dirugikan. Kecuali kamu sudah berdiskusi dengan semuanya, jangan sekali-kali menimbulkan masalah.” “Aku yakin semuanya juga sudah paham….” Ira menundukkan kepala. “Karena ini menyangkut keluarga dan orang yang mendukung kita….” Dadaku sesak oleh perasaan bersalah dan haru yang menyerang bersamaan. Ada orang-orang yang rela menolongku di sini, bersusah payah sebegitu jauhnya hanya agar aku kembali. Jager, aku mengingat nama itu sekarang. Satuan pemburu di bawah divisi khusus Marsose. Mereka khusus memburu buronan Maroses yang tidak tertangkap dalam berbagai operasi, penggeledahan, dan penyitaan. Ira dan Markandra, tidak diragukan lagi, ada dalam daftar buruan Jager. Tapi mereka membahayakan diri agar aku selamat, meminta tolong kepada salah satu pemimpin Marsose sendiri untuk menyelamatkanku. Tentunya, tidak akan ada kali kedua “Kalian sendiri tidak apa-apa?” tanyaku, gantian cemas. “Tidak ada yang mengejar kalian?” Markandra menggeleng. “Untuk saat ini.” Ia tersenyum kepadaku. “Jangan khawatirkan kami. Keselamatanmu saat ini adalah prioritas, Damien.” Ira ikut memandangku. Mereka berdua duduk tegap, bersama denganku di lantai. “Benar, kondisimu saat ini jauh lebih darurat. Kita harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Mereka tidak sekalipun ingin menanyaiku terkait hal ini. Bahkan jika mungkin mereka curiga, mereka tidak mengatakannya dengan terang-terangan kepadaku. Mereka tidak membiarkan kecurigaan itu tampak di wajah mereka. Bahkan jika mereka memaksudkannya untuk mengkhianatiku pada akhirnya, aku tidak akan sakit hati. Mereka sudah melakukan banyak hal untukku yang bahkan bukan keluarga mereka. “Terima kasih.” Markandra dan Ira terperanjat, tapi mereka tidak berkata apa-apa. Aku memberikan senyum terbaik untuk mereka. “Tapi aku ingin menyelesaikan ini sendiri.” Markandra dan Ira termenung. Mereka saling bertatapan, tapi tidak berkata apa-apa. Aku berharap mereka setuju, karena sekalipun mereka tidak setuju, aku akan buat mereka setuju. Karena ini masalahku. Aku yang harus menyelesaikannya sendiri. Tidak perlu mereka juga ikut campur. Lagipula, ada banyak … banyak sekali hal yang harus aku tanyakan kepada Anjani. *** Apa yang terjadi di Jayakarta malam itu? Kata-kata itu bergema dalam kepalaku, di setiap langkah. Membuat kakiku seperti melayang di tanah, tidak menapak tanah yang solid ataupun melangkah dengan benar. Aku melangkah di dalam gelap, sekalipun langit di atasku sudah bercahaya. Jalan di depanku dipenuhi kabut dan kesunyian. Sementara langkahku tidak satu kali pun menapak kepastian, segalanya terombang-ambing dalam pikiranku sendiri yang tersesat di labirin pertanyaan yang tidak pernah menemukan ujungnya. Jayakarta. Sebuah nama yang asing. Sama seperti Batavia. Aku tidak mengingat nama-nama itu. Kendati demikian, nama itu terus bergema dalam kepalaku, seperti halnya kenyataan yang terus terbentang di hadapanku tanpa ampun. Tanpa bisa menghilang begitu saja tanpa alasan. Apa yang kamu lihat? Aku memandangi Jayagiri dari ketinggian atap datar markas. Sinar matahari terus meninggi dari arah yang kurasa adalah Timur, tempat terbitnya matahari. Sementara di arah yang sebaliknya, mataku menangkap sebuah tembok besar yang menjulang menutupi tanah kosong yang sama sekali tidak berharga untuk dilindungi. Sebuah tanah kosong yang terlalu luas. Sulur-sulur atma berwarna biru keluar dari tanah kosong itu. Aneh. Ini alam Sekala, Anjani bilang demikian dan aku pun merasa itu tidak bohon. Semua atma di tempat ini berwarna merah. Semuanya dengan beberapa pengecualian. Jayagiri sendiri mengeluarkan atma merah di setiap jengkal tanahnya. Kalau begitu kenapa atma biru justru keluar dari tempat itu? Padahal ia ada di alam Sekala…. “Damien?” Aku menoleh ke belakang. Markandra telah berdiri di belakangku, memegangi pundakku. Ia segera melepaskan tangannya dan ikut berdiri di sisiku, memandang arah yang sama denganku. Ekspresi wajahnya menjadi muram. “Ingat sesuatu?” Aku menggeleng. “Apa tanah kosong itu dulunya … Jayakarta?” “Orang-orang lebih mengenalnya dengan Batavia sekarang.…” Markandra mengoreksi. “Tapi, ya, memang itu tanah yang dulunya Batavia.” Markandra memberikanku sedikit info soal Jayakarta—Batavia—beberapa saat yang lalu dan aku memutuskan naik ke atap untuk melihatnya secara langsung. Batavia, nama itu tidak membunyikan apa pun di dalam kepalaku. Lain dengan nama Jayakarta yang memikirkannya saja membuatku bergidik ngeri. Mungkin karena aku telah berulang kali mendengar nama itu keluar dari mulut—Bajrandhaksa. “Sekarang, perlihatkan kepadaku apa yang kau lihat dan dengar hari itu.” Tubuhku bergidik lagi. Rasa sakitnya masih tersisa di seluruh tubuhku. “Apa aku yang dulu … biasa memanggil kota itu dengan … Batavia?” Markandra diam dan aku langsung tahu jawabannya. “Tidak.” Oh. “Ah, ta-tapi kalau kamu….” Markandra buru-buru menambahkan. Suara dan wajahnya canggung. “Kalau kamu tidak nyaman menggunakannya tidak apa-apa. Malah lebih baik jika kamu memanggil kota itu dengan Batavia.” Aku tersenyum. “Apa aku lebih sering memanggilnya Batavia?” Markandra mengedikkan bahu. “Hanya ketika kamu ada di luar.” “Berbahaya-kah jika aku menggunakannya terlalu sering?” tanyaku lagi. “Kalau kami, jelas berbahaya.” Markandra mendebas pelan, lalu memandang ke langit. Pandangannya kosong. “Tapi kalau kamu … sepertinya tidak akan ada yang mau tahu.” Ia menunduk, memandang lantai kelabu di bawah kaki kami. Ekspresinya tampak berat. Aku bisa menebak apa jawabannya. “Karena Siluman … tidak pernah mendapat perlakuan yang baik dari Manusia, dari pihak mana pun….” Sambungku. “Ya?” Markandra mengangguk dengan enggan. Ia menatapku. Sorot mata hitamnya sedikit ketakutan. “Kamu … sudah… mengalaminya?” Aku mengangguk. “Beberapa kali.” Saat aku bersama Anjani. Bayangan soal Anjani kembali muncul di benakku. Tangannya yang menarikku lembut, punggungnya yang senantiasa ada satu langkah di hadapanku, sosoknya yang meski kecil dan tampak rapuh, pada kenyataannya menjadi pembimbingku sejak aku ada di dunia ini. “Mereka hanya tidak suka ada siluman sepertimu berjalan di tengah kota seperti ini.” Kata-kata Anjani ketika aku pertama kali datang ke kota ini bergema. “Dan bagaimana … pendapatmu soal itu?” Markandra bertanya. Wajahnya … tampak lucu. Ekspresi apa itu? Aku tidak tahu … tapi dia kelihatan sangat bingung. Sangt terbebani. Aku menatap Markandra, mengenang Ira dan Anjani. Lalu mengenang kata-kata kebencian yang sudah aku terima selama ini. Keduanya sangat berbeda. “Aku tidak begitu yakin….” Ada dua wajah yang aku terima. Wajah penuh penerimaan dan wajah penuh celaan. Salah satunya menyakitiku, sementara salah satunya membuatku nyaman. “Tidak semua orang menerimaku, tidak semua orang menghinaku. Aku tidak tahu harus berpendapat seperti apa.” Markandra menatapku dengan sorot mata yang aneh. “Kamu tidak membenci Manusia?” Aku tercengang. “Kenapa?” Alih-alih menjawab pertanyaanku, Markandra justru balas memandangku bingung. Aku baru saja hendak bertanya apa yang salah, tapi Markandra sudah keburu tersenyum. “Tidak ada apa-apa,” ujarnya. “Aku senang kamu tidak membenci mereka semua … meski mereka pastinya sudah berlaku tidak menyenangkan kepadamu.” Memandangku sinis dan menghinaku sepanjang jalan agak terlalu kasar untuk dibilang sekadar ‘tidak menyenangkan’. “Mana mungkin, kan?” sahutku santai. “Aku masih punya kalian.” “Jangan bersikap seolah kami akan mati dalam waktu dekat!” Markandra menepuk bahuku satu kali. Ia tersenyum miring. “Ingat, Semarang tidak begitu jauh sekarang. Kami bisa langsung ke mari kalau kamu bilang ada bahaya di sini.” Aku mengangguk mengiyakan. Benar-benar bersyukur karena kebaikan hatinya. Namun aku ingat, tujuanku naik ke atap ini bukan hanya untuk menikmati langit. Pandangan mataku kembali berpindah ke arah tanah kosong di sebelah barat yang tertutup dinding. Seharusnya dinding setinggi itu bisa menghalangi pandangan kami. Mungkin karena aku bukan Manusia, makanya bisa melihat jelas. Tapi Markandra di sisiku juga mengernyit, jadi mungkin dia juga bisa melihat. “Buruk ya?’ gumamnya, membenarkan dugaanku, sehingga aku pun mengangguk mengiyakannya. Ah, mungkin juga karena tanah itu terlalu luas untuk sekadar ditutupi. Bahkan dari jauh, keadaannya jauh lebih buruk dari yang aku bayangkan. Tanah itu benar-benar kosong tanpa penghuni. Tanpa bangunan seperti sekelilingnya. Aku melihat ada beberapa titik yang bergerak, tapi tidak bisa memastikan apa kiranya itu. Mungkin Manusia. Mungkin masih ada yang tinggal di sana. “Masih ada yang tinggal di sana?” Kenapa dan bagaimana ada orang mau tinggal di dalam wilayah tertutup tembok dan gersang seperti itu, sama sekali tidak terpikirkan olehku. “Beberapa staff pemerintahan sering bolak-balik ke sana,” Markandra menjelaskan. “Entah apa keperluan mereka. Aku pernah melihat mereka satu kali. Mereka memakai seragam yang tidak pernah aku lihat.” Aku mengernyit ke arah Markandra, tapi sahabatku itu hanya mengedikkan bahu. “Aku ingin memikirkannya juga, tapi agenda di tangan kami sudah terlampau banyak saat ini, jadi….” Ia berdecak, lalu mendongak ke langit. “Meski jelas-jelas ada yang tidak beres berlangsung di sana….” “Kalau kamu tidak bisa, aku bisa mengurusnya kan?’ “Tidak.” Markandra buru-buru melotot. “Kenapa?” Markandra tampak bimbang sejenak. Kemudian ia mengangguk-angguk sendiri. “Ah, benar, kamu tidak tahu—begini….” Tangan Markandra menunjuk tanah itu, tepat ke arah atma biru yang menyala dari sana. “Ada rumor yang berkata—dan aku sudah sering melihatnya saat ada misi malam—ada suara tidak enak datang dari sana. Seperti suara monster. Setiap malam selalu keluar kabut aneh padahal daerah sekitar sini sedang tidak berkabut.” “Oh ya?” “Itu wilayah berbahaya.” Markandra memperingatkan. “Warga sipil dilarang mendekat. Untuk alasan yang benar-benar bagus, kurasa.” Ia lantas mendongak dan aku mengikuti arah matanya, tepat ke arah aliran-aliran petir merah kecil yang ada di langit. “Kita sudah cukup bersinggungan dengan bahaya setiap hari, sebaiknya jangan menambah masalah dengan penghuni Niskala yang lain.” Hah? “Kamu sadar kalau tempat itu … Batavia … mengeluarkan atma Niskala?” Pertanyaanku dijawab wajah bingung Markandra. “Mengeluarkan atma?” Kemudian ia tampak paham. “Ah, maksudmu dari mana tuduhanku itu berasal?” Aku mengangguk. “Itu bukan hal yang aneh.” Markandra menggaruk belakang lehernya. “Karena bersamaan dengan kabut itu … sering kali terlihat sosok raksasa dari balik kabut. Sosok raksasa bermata merah yang tingginya menjulang melampaui tembok pembatas.” Apa? “Sekarang….” Markandra menarik napas. “Tidak mungkin makhluk setinggi itu berasal dari alam Sekala.” *** “Damien.” Suara Anjani bergema berkali-kali sementara aku berjalan meniti alamat sesuai arahan Markandra dan Ira. Suara dalam benakku itu bukan suara Markandra maupun Ira. Itu suara Anjani. Suara ceria yang sangat ramah. Senyumnya yang mengembang lebar. Kebahagiaan yang kadang terlihat sangat tidak alami. Seolah tidak seharusnya ada di dunia ini. Indah. Seandainya aku tidak pernah melihat kemarahan dan ekspresi lain dari Anjani di jam-jam berikutnya, aku tidak akan berpikir apa pun selain Anjani benar-benar cantik dan bahagia. “Aku sama sekali tidak tertarik….” Wajah Anjani membayang kembali dalam kepalaku. Senyumnya tampak hampa. Seolah hanya bibirnya yang tersenyum sementara seluruh dirinya menjeritkan rasa jijik dan kemarahan yang beku. “Pada orang yang mungkin akan jatuh cinta kepadaku.” Kemarahan yang beku. Tapi bukan berarti Anjani tidak bisa marah dengan berapi-api. Seperti orang yang benar-benar murka. “Bukankah mereka yang paling pantas berada di sini?!” Senyumnya, kebahagiaannya, wajahnya yang temaram di bawah lampu kota sementara kami menari dalam nuansa yang kaku, kemarahannya saat dirinya dan sorot jauh yang selalu ditampilkannya setiap kali kami membahas Sandhikala … semua tentang dirinya, seolah bertolak belakang. Tidak konsisten. Yang manakah Anjani yang asli? Apa sebenarnya tujuan wanita itu? “Menikahlah denganku!” Tanganku langsung membekap d**a, merasakan denyutnya menguat seolah tadi baru saja ia melompat. Sekujur tubuhku seperti tersentak oleh sebuah sentuhan mendadak. Tapi tidak untuk waktu lama. Segera semua sensasi itu lenyap. Kata-kata itu pernah menjadi begitu mengejutkan sampai aku tidak bisa berkata-kata ataupun bertindak. Pernah begitu membuatku gugup dan berdebar-debar sampai salah tingkah. Dan mungkin masih akan membuatku salah tingkah, jika aku ada di hadapan Anjani. Tapi sekarang, saat sendirian, aku tidak merasakan apa pun dari kata-kata itu. Tidak ada selain debar yang membuat seluruh tubuhku hangat. “Menjijikkan.” Anjani tidak tertarik pada orang yang mungkin jatuh cinta padanya. Dia mungkin melepaskanku begitu mudah malam itu, bahkan menyatakan dengan jelas bahwa ia tidak berniat memperpanjang pernikahan itu. Tapi … kenapa ia membuat pernikahan itu? Kenapa ia merasa perlu melakukannya? Ah, benar juga. Saat aku menanyakan hal ini, Anjani mengalihkan perhatianku. Ia bertanya balik dan membuatku lupa pada pertanyaan awal. Langkah kakiku berhenti. Tepat di jalan raya. Dengan mata terpaku ke kerikil di jalan, aku termangu berdiri di tepi keramaian. Waktu seolah berhenti di sekelilingku Apa mungkin ia juga lupa? Tidak, aku rasa tidak seperti itu. Tapi sekalipun pernikahan itu hanya tipuan, apa yang dijanjikan Anjani pada Khalikamaya bukan khayalan. Apa yang aku alami di sana juga bukan ilusi. Itu benar nyata dan perjanjian itu benar adanya. Anjani menipu … tapi bukan menipu. Dia menipu makhluk-makhluk itu? Mungkinkah Anjani akan menipu makhluk-makhluk yang bukan manusia sampai sejauh itu? Untuk menolongku? Aku yang bahkan tidak ia kenali dan hanya menjadi bebannya selama ada di sini? Markandra bercerita bahwa sebenarnya Anjani sempat menolak misi ini. Ia tidak mau, tapi Sapta dan Ira memaksa. Memaksa, tapi pada akhirnya Anjani sendiri yang justru membuat perjanjian dengan Khalikamaya. Anjani membahayakan dirinya sendiri demi misi yang sangat ia benci. Kenapa? Aku adalah orang asing bagi Anjani. Tidak seharusnya Anjani berkorban sejauh itu untuk orang asing jika tidak mengharapkan apa pun sebagai imbalan. Ira dan Markandra memang menyebutkan sesuatu soal bayaran mahal, tapi apa mungkin perjanjian dengan alam Niskala sepadan dengan kantung-kantung emas?   Makhluk semengerikan Khalikamaya, demi menghindarinya mungkin orang-orang akan rela jatuh miskin, kan? Tapi Anjani justru merelakan entah bahaya semacam apa untuk menimpanya nanti jika gagal, hanya untuk orang asing. Kenapa? Aku mengacak-acak rambut. Frustrasi pada diri sendiri. Tidak hanya karena aku terus menerus memikirkan gadis itu tanpa bisa melupakannya sedetik pun, tapi juga karena kenyataan bahwa gadis itu terus menerus terlibat dalam hidupnya. “Kamu sangat beruntung….” Kata-kata Rass semalam kembali terngiang di benakku. Anjani. Dia yang menyuruh Rass menolongku. Anjani seolah tahu aku akan keluar dan bertemu … Dayuh. Dia seolah bisa menebak hal itu. Menebak segalanya. Dan ia menggunakan kemampuan itu untuk menolongku. Lagi. “Hei, Siluman!” Aku menoleh dengan kaget. Seorang pria berdiri di sisiku. Seragamnya coklat muda dan terlihat familier. Aku membaca tulisan di pundak dan seragamnya. Ah, benar. Politie. “Ini bukan kawasan bebas Siluman!” Dengan tongkat kayu, ia menunjuk leherku. “Di mana kalung pengenalmu? Kamu ini Siluman ilegal ya? Penyusup?” Di belakang pria itu, orang-orang saling berbisik. Jumlah mereka mungkin ratusan. Sebagian besar menatapku dengan marah. Suara bisik-bisik mereka yang terdengar pun sinis dan mengerikan. “Untuk apa dia sini? Mengotori jalanan saja!” “Dari tadi ia berdiri di tengah jalan dan diam saja! Seram sekali!” Aku menunduk, menatap sebelah kakiku yang bercakar dan sebelah lagi yang tertutup sepatu pemberian Sapta yang masih setia aku kenakan karena tidak punya sepatu lain dengan tinggi yang sama. Sekali lagi, atas perintah Anjani. Dia meminta Sapta menyiapkannya. Secara khusus meminta Shan membuatkannya. Seolah sepatu ini khusus hanya untukku. Terlalu banyak. Aku menggertakkan gigi. Dia telah melakukan terlalu banyak hal untukku. Entah berapa banyak uang yang telah dikeluarkannya untukku. Entah berapa jam yang telah ia habiskan untukku … jam-jam yang terasa seperti hari dan sudah sangat lama berlalu. Aku melirik orang-orang yang masih berkerumun dan melihatku dengan sinsi. Sementara ada orang yang rela menghabiskan waktu dan tenaga mereka di sini untuk menghina para Silumand an mengusirnya hanya karena aku berjalan tepat di bawah hidung mereka. Ada yang rela mempertaruhnkan nyawa mereka untukku, tapi ada pula yang menghinaku. Dua sisi belrawanan yang sangat bertolak belakang. Sangat tidak seimbang. Memgbingungkan. Seperti Anjani. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Tidak, bukan Anjani yang bermasalah. Di sini, akulah yang bermasalah. Aku yang tidak bisa melihat segalanya dengan benar. Aku tidak bisa mencerna sebuah masalah dengan baik karena ingatanku yang  tidak lengkap. Semua ini harus segera selesai. Aku bereaksi tepat saat politie itu mengayunkan tongkat kayunya dan hendak memukulku. “Hei!” Polisi itu mengumpat. “Jangan lari kamu!” Aku berkelit dan menunduk. Politie itu tidak menyerah. Ia mengayunkan dan memutarkan tongkatnya, berusaha mengenai minimal kepalaku. Pukulannya yang keempat mengarah tepat ke wajahku. Dengan cekatan, aku menghindari pukulan dekat itu dan melompat. Tepat ke jalan raya. Untuk sesaat, aku lolos dari sebuah ancaman. Namun tidak untuk waktu yang lama. Sebuah trem berjalan tepat ke arahku. Benda itu membunyikan klakson. Puluhan penumpang di dalamnya menjerit panik. Sang pengemudi trem membelalak kaget. Aku menunduk, melihat cakarku menancap di salah satu batang besi rel trem. Aku buru-buru mencabut cakarku dari sana sebelum ada yang rusak. Jeritan di dalam trem segera berhenti dan bergantimenjadi makian ketika kendaraan itu melintas dengan aman. Tidak mau kena masalah, aku pun berlari lebih cepat lagi. Meninggalkan semua keramaian itu dan berlari lurus ke depan. Teriakan-teriakan para Politie masih terdenagr di belakang, diikuti makian beberapa orang yant diak aku kenal. “Tangkap dia! Dia hampir mencelakai banyak orang!” Aku mengabaikan semua teriakan penuh protes itu. Membiarkan tubuhku berlari begitu saja menembus semua orang yang ada. Menuju tempat yang baru beberapa hari lalu aku tinggalkan, tapi rasanya sudah lama sekali. Aku harus mendengarnya sendiri dari Anjani. *** Ruangan itu telah kosong. Saat aku tiba di sana, tirai sudah menutupi rumah itu dan tali sudah mengikat daun pintunya ke kusen pintu. Tali yang digunakan pun tebal, mirip seperti yang ada di atas kepala trem yang melaju. Bukan ikatan yang rumit, tapi aku merasa tali itu ada di sana bukan untuk dibuka secara sembarangan dan kurang ajar dari luar, apalagi dari orang asing sepertiku. “Mau apa kamu ke mari?” Seseorang tiba-tiba bicara di dekatku. Dengan kaget, aku menoleh. Seorang wanita paruh baya telah berdiri dengan wajah galak di sisiku. Di tangannya ada sebuah tongkat kayu berkepala burung. Tongkat kayu itu mungkin sudah pucat, keropos, dan dimakan entah binatang apa sampai penuh lubang begitu, tapi paruh tajam kepala burungnya tampak menyakitkan. Aku buru-buru berdeham sebelum wanita itu meledak. “Maaf mengganggu.” Mendadak saja, mulutku terasa pahit. Ada aroma yang aneh darinya ketika ia ada di dekatku. Aroma amis dan apak yang kuat sampai aku harus menahan diri agar tidak mengernyit di hadapannya. Aku buru-buru melipat bibir ke dalam, berusaha menahan erangan atau cairan apa pun yang hendak keluar.. “Cepat katakan urusanmu dengan jelas, Siluman!” Wanita itu menghardik sambil mengetukkan tongkat kayunya ke lantai. Dan aku berani sumpah, sudah mendengar bunyi gemeretak entah dari lantai atau dari tongkat itu. Aku rasa yang kedua. Ketukan dan hardikan wanita itu keras sekali, sampai mengundang rasa penasaran orang-orang lain. “Atau aku akan melaporkanmu ke Politie terdekat yang dari tadi sudah membuat telingaku sakit bukan main!” Dalam waktu singkat, kerusuhan yang ia buat sendiri menular ke orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Aku sudah bisa mendengar bisik-bisik di belakang. “Siluman! Ada Siluman di sini!” “Apa dia teman penghuni kamar itu? Kalau aku ingat, memang penghuni kamar itu agak aneh! Kenapa tidak diusir saja ya?” Padahal ketika aku ada bersama Anjani dan Sapta, akut dia mendapat perlakuan seperti ini. Apa aku saja … yang kurang perhatian saat berada bersama mereka? Aku mengabaikan semua bisik-bisik itu untuk fokus pada wanita yang kelihatannya akan meledak di hadapanku. Tanganku menunjuk pintu kamar Sapta. “Anu, maaf, penghuni kamar ini ke mana, Nona?” tanyaku sesopan mungkin. “Beberapa waktu lalu saya menginap di sini. Nama pemiliknya Sapta— “Mana aku peduli! Mau dia pergi ke mana, itu bukan urusanku, kan? Kalau kamu ke sini bukan untuk membeli ruangan ini, sebaiknya kamu pergi!” Wanita itu mendecih, lalu berbalik, melangkah gontai bahkan dengan bantuan tongkat kayunya. “Menghabiskan waktu saja! Siluman senang sekali bertingkah i***t!” Mata-mata sinis mengikuti wanita itu sama seperti aku. Tapi segera setelah ia pergi, mata-mata sinis itu berpindah kepadaku. Puluhan pasang mata menatapku sengit. Bisik-bisik di belakangku semakin keras. Nada yang mereka gunakan semakin tajam. Pandangan dari mereka semakin tidak bersahabat. Namun aku hanya terpaku kepada pintu yang tertutup rapat itu. Terfokus pada kekosongan yang aku rasakan dari ruang di baliknya. Anjani dan Sapta … mereka pergi ke mana? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD