21. Peringatan dan Perpisahan

3060 Words
Aku memandangi bangunan itu dengan perasaan campur aduk. Dari luar, bangunan itu jauh lebih buruk daripada saat aku ada di dalam. Aku melirik tumpukan kotak kayu beraroma busuk dengan banyak … sayuran busuk dan … lalat menempel di sana. Lalu aku membandingkannya dengan tumpukan kotak yang sampai beberapa menit lalu masih aku kira sebagai rumah tinggal yang layak. Aku sudah datang dua kali tapi tidak pernah memerhatikan bangunan itu lebih baik, sampai detik ini. Bangunan itu tidak lebih baik dari kotak-kotak kayu yang ditumpuk menjadi satu. Kotak-kotak kayu dalam berbagai ukuran dengan terlalu banyak orang di dalamnya. Sapta mungkin memiliki ruangan sendiri, tapi ruangan-ruangan lain yang aku lintasi tadi setidaknya memiliki delapan orang yang berjejalan dalam keringat dan pakaian lusuh di dalamnya. Mereka menjahit, mencuci, mandi, dan merawat anak-anak di tempat itu. Entah apa yang mereka lakukan untuk hidup, aku tidak sempat bertanya. Mereka semua keburu mengusirku beramai-ramai. Tiba-tiba seseorang melirik ke arah sini. Aku buru-buru bersembunyi di balik kotak kayu. Dalam diam, aku menunduk menatap kaki bercakarku sendiri. Anjani memiliki sarung tangan untuk menutupi cakarnya. Aku … memiliki apa? Apa ada sepatu yang cukup besar untuk dipakaikan ke kakiku? Sekalipun ada, memangnya tidak terlalu mencolok ya? Maksudku, besarnya pasti akan berbeda jauh. Aku menghela napas. Ini lebih rumit dari yang aku duga. “Apa yang Anda lakukan di sini?” Aku terkesiap dan melompat, merapat ke tembok. Sementara kotak-kotak kayu di belakangku terjatuh dan menimbulkan kegaduhan. Panik, aku melongok ke belakang, menyaksikan lusinan mata menangkap basah diriku. Tidak butuh waktu lama bagi orang-orang itu untuk mulai menatapku sinis lagi. “Apa Anda sedang bersembunyi?” Laki-laki di hadapanku berkata lagi. “Maaf jika saya mengganggu, kalau begitu.” “Tidak!” Terpaksa aku mengabaikan tatapan curiga nan tajam dari orang-orang di belakang untuk fokus ke lelaki di hadapanku. “A-aku justru ke sini karena mencarimu!” Sapta mengerjap kaget, tampak tidak menyangka jawaban itu. Pemuda itu menyisir penampilanku dari atas ke bawah. Kalau dipikir lagi, sejak kapan dia ada di belakangku? Kenapa aku tidak mendengar langkahnya? Apa dia sengaja melakukannya? “Ada perlu apa dengan saya?” Sapta bertanya. Ia sudah kembali menatap mataku dan melipat tangan di d**a. Wajahnya bukannya terlihat tidak sabaran, tapi ada sesuatu yang memancar darinya dan bilang kalau ia tidak sedang ada di sini untuk bermain-main. “A-aku hanya ingin bertanya beberapa hal….” Tanpa sadar pandanganku turun menyusuri penampilannya juga. Sapta mengenakan pakaian yang kurang lebih sama seperti saat terakhir aku bertemu dengannya: kemeja putih, rompi cokelat, celana katun, dan sepatu hitam. Kali ini sepatu hitam itu berlumuran tanah dan debu, tampak kumal dibanding terakhir kali kami bertemu. “Apa kamu habis dari suatu tempat?” Sapta mengikuti arah pandangku. “Saya hanya belum sempat mencucinya,” ujarnya. “Dan saya malah ingin pergi ke suatu tempat.” Pergi? “Karena itukah tempatmu kosong?” Aku menunjuk tempat tinggal Sapta. Sapta mengikuti arah jariku menujuk dan mengangguk. “Saya tidak pernah tinggal di satu tempat yang tetap. Karena masalah pekerjaan.” Sapta lalu melirikku. Tatapannya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi aku tidak yakin, jadi alih-alih, aku malah menelengkan kepala dan mengerjap. “Ada apa?” “Apa hari ini Anda tidak bekerja?” tanyanya. “Ini hari kerja.” Telingaku rasanya berdengung saat ia bertanya. “Be-kerja?” Bukannya aku tidak tahu bekerja itu apa. Tapi untuk mendengarnya lagi terarah kepadaku saat ini, rasanya aku sama sekali belum siap. “Maksudnya … pekerjaan?” “Ya.” Sapta menjawabku dengan nada yang kurang lebih tampak seperti bukankah-itu-sudah-jelas milik Anjani. “Pekerjaan yang … diupah?” Aku bertanya lagi, sekadar memastikan. Wajah Sapta berubah masam. Ia berkacak pinggang. “Anda tidak ingat ya?” Ini lebih dari sekadar tidak ingat. Aku berpikir keras. Kerutan dalam terbentuk di dahiku saat kenangan demi kenangan dari masa lalu kembali muncul. Kata-kata dan informasi yang telah aku ingat sejauh ini pun kukumpulkan sebisanya. Sayangnya, itu percuma. Aku hanya mengingat beberapa kata yang sepertinya tidak berarti dan beberapa informasi soal Ira dan Markandra. “Tidak,” jawabku lesu. Apa pakerjaanku sebelum ini? Tidak mungkin aku sama sekali tidak bekerja kan? Jika aku tidak bekerja, bagaimana aku menghidupi kehidupan sehari-hari? “Anda tidak bertanya ke dua teman Anda sebelum ini?” Sapta bertanya lagi. “Anda sudah bertemu mereka kan?” Dia benar. Demi Langit, aku tahu dia benar! Astaga, kenapa aku tidak bertanya ke Markandra dan Ira sebelum ke sini? Mereka pasti tahu apa yang aku lakukan, di luar simpati terhadap para pejuang. Selain berjuang bersama mereka. Kenapa aku mudah sekali melupakan berbagai hal?! Eh, tunggu sebentar…. Aku mengerutkan kening saat menatap Sapta lagi. “Kamu tahu … aku sudah bertemu dua temanku?” “Anjani yang memberitahu saya,” jawabnya. “Dan saya sudah menerima bayaran atas bagian saya.” “Anjani….” Aku berdiri tegak ketika nama itu tersebut dari bibirnya. “Di mana Anjani?” Sekarang Sapta mengernyit. Ia melipat tangan di d**a. “Anda ada perlu apa dengan Anjani?” Nada sengit dalam suara Sapta membuatku sedikit sungkan. “Ti-tidak bolehkah?” “Bukannya tidak boleh,” Sapta menyanggah. “Tapi Anjani sedang dalam misi berikutnya. Dia meminta saya untuk tidak membiarkan siapa pun menggaggunya di misi kali ini.” Tidak boleh ada yang mengganggunya? Sekalipun itu … aku? Mendengar Anjani menjalankan sebuah misi, mau tidak mau aku teringat pada pertemuan kami. Pertemuan kami juga menjadi bagian dari misi Anjani kan? Dan dia melibatkan diri ke dalam bahaya yang tidak kecil yang bahkan belum selesai. Tunggu, mungkinkah misi kali ini ada hubungannya dengan misi penyelamatanku yang belum selesai? Perjanjian Anjani dengan Khalikamaya? Makanya dia memberitahu Sapta untuk jangan membiarkan siapa pun mengetahuinya? Pelan-pelan, aku melirik Sapta. Apa pemuda ini tahu misi Anjani sekarang? Ia tahu perjanjian Anjani dengan Khalikamaya? “Kamu tahu … misi Anjani?” Sapta mengangguk. “Tapi aku diminta untuk tutup mulut.” Aku jadi semakin tidak tenang. “Apa ini misi yang … berbahaya?” Untuk pertanyaan kali ini, Sapta terdiam. Ekspresinya tidak tertebak. Pemuda itu memandang tanah lalu menghela napas. Sudah kuduga, ia pasti tahu perjanjian Anjani dengan Khalikamya. Anjani pasti sudah menceritakannya. “Apa ini … ada kaitannya denganku?” tebakku, dalam hati terbagi antara ingin jawabannya ya atau tidak. Namun alih-alih, Sapta justru mengerutkan kening. “Kenapa Anda berpikiran begitu?” Eh? “Ka-karena wajah Anda tampak sangat … gelap.” Sapta tampak tidak puas dengan jawabaku. “Dan kenapa wajah saya berarti Anjani dalam bahaya? Anda tahu sesuatu?” Eh, apa? “Kamu tidak tahu juga?” Sapta membelalak, lalu membuang muka lebih dulu. Jadi bahkan Sapta saja tidak diberitahu. Sungguh, misi apa yang kiranya sedang dikerjakan oleh Anjani? “Saya tidak suka menebak-nebak,” ujarnya, setengah menggerutu. Sekilas, ia sempat melirikku, sebelum menghela napas kasar. Kemudian ia memandangi sekeliling kami. “Ngomong-ngomong, apa yang Anda lakukan di tempat ini? Saya cukup terkesan Anda tidak diduga pencuri.” Melihatnya memandangi sekeliling dengan heran, mendadak saja aku ingin kabur dari sini. “Sa-saya … aku bermaksud mencari kalian, tapi karena orang-orang di sana bilang kamu tidak ada lagi di sana—tapi aku tidak bermaksud buruk, hanya sedang berpikir di sini.” “Saya hanya separuh bercanda soal pencuri itu.” Separuh? Artinya separuh lagi benar adanya, begitu? “Tapi Anda punya tempat berpikir yang cukup unik. Apa penciuman Anda tidak terganggu dengan aroma setajam ini?” Pertanyaannya sedikit-banyak membuatku tertegun. “Maksudmu karena … aku Siluman?” “Kurang lebih.” Sapta mengedikkan bahu. “Anjani sering terganggu ada di sini. Bau sayuran busuknya mengganggu.” Setelah ia bilang begitu, aroma busuk dari kotak-kotak kayu itu sedikit lebih tajam dari sebelumnya. Tanganku menggosok-gosok hidung tanpa sadar, tapi aroma yang sama rupanya sudah menempel di jariku. Sejak kapan? “Saya lihat Anda sudah lebih baik dari sebelumnya. Syukurlah.” Sapta tersenyum tipis. “Apa Anda sudah mengingat sesuatu? Anjani bilang, Anda lupa ingatan.” Anjani … sebenarnya sudah cerita berapa banyak dengannya? “Ya … sedikit—aku tidak yakin—setidaknya aku mengingat wajah teman-temanku … setidaknya dua di antaranya.” “Saya turut lega mendengarnya.” Sapta berujar, terdengar tulus. “Anjani mungkin tidak bisa diganggu, tapi mungkin saya bisa menyampaikan pesan. Siapa tahu saya bisa membujuknya untuk bertemu dengan Anda nanti.” “Sungguh?” Sapta menganguk. “Anda tinggal beritahukan tempat saya bisa menemui Anda untuk menyampaikan pesan Anjani, lalu pesan apa yang hendak Anda sampaikan.” Aku menimbang-nimbang, merasa ragu mendadak. Kebanyakan yang ingin aku tanyakan kepada Anjani adalah hal yang sebaiknya … tidak didengar Sapta. Soal tawaran pernikahan Anjani, soal perjanjian Anjani dengan Khalikamaya yang sepertinya dijaga Anjani dari semua orang, termasuk Sapta, lalu soal keterlibatan Anjani dan Rass … bagaimana ia menyelamatkanku semalam, bagaimana ia bisa tahu aku akan bertemu … Dayuh.… Mendadak saja, panas yang aneh menjalari telapak tanganku.  Aku menatap tangan sendiri dengan kaget. Kulit telapak tanganku memerah. Panas aneh sekali lagi mengalir dari sana. Bersamaan dengan itu, surlu-surlu atma serentak keluar dari tubuhku. Atma berwarna merah dan biru. Atma itu menari di udara, mengalir menuju Sapta, dan kian membesar setiap waktu. “Jangan berani kalian memasuki rumahku….!” Kilasan-kilasan aneh kembali datang ke kepalaku. Berwarna dan bersuara kali ini. Jelas seperti air yang jernih. Sebuah … pondok kayu. Di tengah sebuah desa yang sepi dan damai. Tempat tidak banyak orang tinggal. Tidak ada kendaraan yang melintas. Ah, ya, aku ingat. Aku memang tinggal di pondok. Tempat sunyi itu adalah tempat tinggalku. Sekelompok tentara. Mereka berseragam hitam dan datang dalam jumlah banyak. Mereka membawa senjata dan … automaton … dan … mobil. Mereka merangsek masuk ke dalam pondokku. Mereka menuduhku. “Di mana kamu sembunyikan Markandra?!” Ingatan akan rasa sakit meringkuk di tanah dengan kaki-kaki dan popor senapan mereka menghajarku tanpa jeda, membuat sekujur tubuhku bergidik ngeri. Mereka semua marah. Mereka semua tidak punya ampun. Jangan…. Sebuah suara terdengar. Mereka semua pergi ke arah dapur, tempat aku menyembunyikan Ira dan Markandra. Mereka mengabaikanku, menganggapku tidak lagi penting. Bersenjata lengkap, mereka menyerbu dapur. Jangan berani kalian memasuki rumahku….! Kemudian dari ujung jariku, keluar percikan api. Aku membelalak kaget. Api itu nyata, panas membara di tanganku yang memerah. Nyalanya hangat dan terang di tengah gang sempit tempatku berada yang gelap dan beraroma busuk. Tanganku yang lain mencoba meraih api itu, merasakan panas yang nyata membakar tanganku yang lain, tanganku yang tidak terbakar api. Tiba-tiba Sapta meraih pergelangan tanganku. Mata kami bersirobok. Mata Sapta yang tenang, melawan pandangan mataku yang jelas-jelas panik. “A-anu Sapta … i-ini— Sapta memotong kata-kataku dengan pelototan tajam. Ia lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah … kacamata, aku mengingat. Tapi kacamata miliknya cukup aneh. Warna kedua matanya berbeda. Merah dan hijau. Lensanya juga berbentuk seperti corong yang aneh. Di mataku kacamata itu memancarkan atma merah dan biru yang berpadu. Benda mati tidak seharusnya memancarkan atma. Kenyataan itu merasuk ke dalam benakku. Tapi jika memang begitu, kenapa kacamata itu bisa memancarkan atma? Kacamata macam apa itu? “Apa ini sudah berulang kali terjadi?” Sapta mendadak bertanya, mengalihkan perhatianku. Aku tergugu di bawah tatapan tajam Sapta. Aku memandangi tangannya di pergelangan tanganku secara bergantian dengan wajahnya. Telapak tangan Sapta yang telanjang tampak memerah karena menyentuhku. Saat itu juga, aku memekik panik. “Sa-Sapta, tanganmu— “Jawab dulu pertanyaan saya!” Sapta menukas. “Apa ini sudah pernah terjadi sebelumnya?” Aku tidak bisa menjawab. Degup jantungku berdentam-dentam di telinga, membuatku setengah tuli dari suara-suara di sekeliling kami. Api di jariku sudah padam sekarang. Begitu juga dengan panas dan merah tanganku. Sementara Sapta terus mendelik ke arahku. Kacamata aneh itu bahkan tidak bisa menutupi tajam pelototannya. “A-aku….” Dengan enggan aku mengangguk. Lalu aku melepaskan tangan dari Sapta. Pemuda itu kali ini tidak menahan tanganku. “Tanganmu….” Aku memandangi miris tangannya yang mulai memerah. Sapta mengibaskan tangan itu ke udara beberapa kali, seperti mengipasi angin. “Tidak usah dipikirkan. Sedikit luka bakar tidak akan mengganggu.” Ia kembali menatap tanganku yang kini tidak lagi merah. “Anda ingat kenapa dan kapan itu terjadi sebelumnya?” “Apa … ada yang salah?” Sapta tidak menjawab, tapi ekspresi muram di wajahnya sudah memberiku lebih dari cukup jawaban lebih dari yang bisa dikatakan bibirnya. Sebuah peringatan menyala di dalam kepalaku. “Apa Anda berencana untuk kembali dalam waktu dekat? Bersama teman-teman Anda? Apa teman-teman Anda tahu soal ini? Mereka ada di sini juga?” Sapta menghujaniku dengan berbagai pertanyaan yang bertubi-tubi sampai aku mau meledak. “Tidak—apa yang sebenarnya terjadi?” Aku menggeleng, tidak mau menerima kenyataan kalau ada bahaya lain yang mengancam. “Apa ada yang mengetahui hal ini sebelum saya?” Sapta bertanya lagi, tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya. Dan ini membuat sisa-sisa amarah yang sebelumnya tidak tersampaikan, semakin tidak tertahankan. Aku menggeleng, tapi bukan berarti menjawab tidak. “Ira dan Markandra bertanya-tanya juga…..” “Karena inilah Anda ingin menemui Anjani?” Sapta bertanya lagi. “Apa dia tahu jawabannya?” Aku balik bertanya. “Dia tahu apa yang terjadi lagi dan mengirimmu kepadaku?” “Apa?” Sapta ikut bingung. Kemudian pemahaman muncul di matanya. Pemuda itu membelalak. “Sebentar—ini bukan kali pertama … Apa Anda pernah ditolong Anjani diam-diam sebelumnya? Melalui perantara orang lain?” Kata-katanya terlalu persis hinga aku tidak bisa menemukan alasan lain untuk tidak menganggguk. Kengerian semakin menyesakkanku. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa yang sebenarnya disembunyikan Anjani? Kenapa rasanya semua berpusat kepada gadis itu? Sapta menyumpah serapah di hadapanku. Ia tampak benar-benar berang dan gusar. “Kenapa di saat yang tepat—jangan-jangan dia juga sudah tahu….?!” “Tolong katakan,” pintaku tidak tahan, menukas pikiran apa pun yang ditanggung Sapta hari ini. “Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Anjani?” Kali ini Sapta memandangku dengan gusar. Segala sikap santai dan suasana tenang yang ada di antara kami saat pertama kali bertemu di gang ini telah lenyap sepenuhnya. Seolah semua ketenangan dan sapaan itu tidka pernah terjadi. Hanya karena satu percikan api. Hanya karena satu nama. Anjani. “Satu pertanyaan terakhir,” Sapta mengangkat satu jarinya. “Apa ada sesuatu yang terjadi di Niskala … yang mungkin tidak saya tahu?” Aku menggeleng nyaris seketika. “Saya juga tidak tahu. Apa Anjani memberitahumu sesuatu? Apa saja yang diceritakannya?!” Jari Sapta mengepal. Ia sekali lagi menyumpah serapah, kali ini dalam kata dan bahasa yang benar-benar berbeda. Bahasa yang tidak aku mengerti. “Kita benar-benar celaka….” gumamnya, tidak sengaja tertangkap pendengaranku. “Celaka?” Kata itu membuatku ngeri. “Apa maksudmu?” Tanpa memberiku jawaban yang pasti, Sapta sekali lagi meraih lenganku. Menarikku sejenak keluar gang itu, sebelum melepas tanganku hampir saat itu juga. Ia memberiku isyarat untuk mengikutinya keluar gang. “Tetap di belakangku. Jangan jauh-jauh. Dan jangan sampai terlihat.” Kami melangkah. Sapta merapata ke tembok, tersembunyi di bayang-bayang. Aku terpaksa mengikutinya meski masih bertanya-tanya. Hingga kami sampai di depan jalan raya yang ramai penuh aktivitas yang tentunya akan membuat perintah tetap tidak terlihat jadi setengah mustahil, aku pun menyentuh bahu Sapta. Tidak lagi bisa menahan penasaran dan kegusaran yang kian menggunung. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku. “Kamu tahu kan, Sapta?” Aku meraskaan bahu pemuda itu tegang di bawah sentuhanku sebelum ia menoleh dengan wajah yang kaku. Rahangnya mengeras dan giginya bergemeretak ketika mengatakan kata demi kata yang selanjutnya terasa membekukan jantungku. “Anjani menjebakmu. Dia mengakaliku. Dan pastinya sedang merencanakan sesuatu yang nekat.” Sapta mengucapkan kata demi kata perlahan, agar meresap sepenuhnya ke dalamd iriku. “Tepat ketika orang itu datang ke kota ini untuk mengikuti jejak yang sengaja ditinggalkan Anjani.” Orang itu? “Siapa … yang kamu maksud?” Sapta menggeleng. “Orang yang benar-benar berbahaya,” ujarnya. “Aku hanya bisa berharap dua temanmu menjauh dan bersembunyi sampai semua ini selesai kalau tidak ingin terlibat.” “Apa … apa yang sebenarnya terjadi?” “Saya punya dugaan.” Hanya itu jawaban Sapta. “Tapi saya sarankan Anda cari saja persembunyian. Ikuti saran saya tadi. Jangan libatkan diri lebih jauh. Apa Anda mau?” “Tidak.” Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku akan mundur setelah ia bilang teman-temanku dalam bahaya? “Ini menyangkut teman-temanku kan?” Sapta menggeleng. “Ini tentang dunia ini. Seluruh Mandala dan takdir yang akan membimbingnya.” Mandala.   Satu kata itu bergema dalam kepalaku. Sama seperti Sandhikala. Sama seperti Sekala dan Niskala. Seperti ada kerinduan merebak dalam diriku setiap kali nama itu disebut. “Mandala….” Ketika nama itu terucap dari bibirku, ada sesuatu yang bergetar dalam tubuhku. Tanganku kembali panas membara. “Apa … itu?” “Bukan urusan Anda.” Suara Sapta, entah kenapa, bergema dengan suara Anjani. Sama seperti jawaban Anjani malam itu, di toko Shan. “Ini bukan pertarungan Anda.” Aku menggertakkan gigi. Kenapa segalanya jadi semakin membingungkan dari waktu ke waktu? Kenapa segalanya terasa … kian membesar dan semakin gawat, bukannya semakin terang? Apa aku mengikuti saja saran Sapta? Aku jauhi Anjani, sembunyi di tempat aman, mengamankan Ira dan Markandra, sampai entah apa yang terjadi ini selesai? Itu kedengaran seperti solusi terbaik. Anjani, meski dia sudah menolongku berkali-kali, meski ia sudah menolongku dari … Dayuh … aku tidak bisa membahayakan teman-temanku lebih dari ini.   “Aku akan sembunyi dan ikuti saranmu,” putusku. “Tapi sebelum itu….” Aku mengangkat tangan yang sekarang kembali panas. Sapta membelalak. Sudah aku duga. “Tolong katakan, apa yang terjadi padaku. Kamu tahu kan?” Sapta memejamkan mata sejenak. Aku melihat dahinya berkedut, lalu ia berdecak kesal. “Sekali lagi, ini hanya dugaan.” Sapta melepas kacamatanya. “Benda ini bisa melihat atma. Dan dari yang saya lihat….” Sapta menunjuk tanganku. “Atma yang keluar dari tubuh Anda sekarang bukan atma biasa.” “Maksudmu atma-ku merah dan biru?” Sapta sekali lagi tertegun. Ia terdiam sejenak. “Kurang lebih seperti itu.” Tidak. Sesuatu dalam diriku berkata. Ia tidak mengatakan semua hal. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. “Atma ini bisa membawa Anda pada bahaya yang cukup besar, terutama karena orang yang berbahaya sudah tiba di kota ini hari ini.” “Siapa?” desakku kali ini. “Siapa yang datang?” “Saya tetap menyarankan Anda di sini.” Ia lantas memalingkan pandang ke arah jalan raya. Sekali lagi mengabaikan pertanyaanku. “Sebelum semuanya dimulai.” Dimulai? Apa yang dimulai? “Yang jelas Anda harus segera sembunyi. Sejauh mungkin dari sini. Bersama orang-orang yang Anda sayangi. Hanya itu yang bisa saya sarankan,” Sapta berkata dengan tegas. “Damastra dan para Dyaksa tidak akan melepaskan siapa pun yang terlibat dengan mereka. Jangan sampai terlibat dengan mereka.” Damastra? Dyaksa? Kata terakhir bergema dalam kepalaku. Pertama dalam suara Sapta, kemudian dalam suara Anjani. Sama seperti malam kami di alun-alun, menari dalam cahaya lembut bulan dan alunan musik. Hanya kami berdua di tepi keramaian. “Pintu yang awalnya bebas dimasuki akhirnya dikunci. Dengan pusaka-pusaka Dewa yang disebut Nawadewata,” Aku terkenang saat Anjani menceritakannya dengan sorot mata aneh yang tampak sendu. “Dari sanalah, lahir delapan Dyaksa.” “Maksudmu … para penjaga gerbang Sandhikala?” Sapta membelalak mendengar pertanyaanku. “Anda … dari mana Anda….?” Ia lantas menggeleng. “Tidak, sekarang yang penting Anda sembunyi.” “Tunggu, tidak bisa seperti ini!” tolakku, menggenggam bahu Sapta dan membalikkannya hingga kami berhadapan. “Dyaksa itu nyata? Mereka benar-benar ada? Kenapa mereka terlibat? Apa hubungannya mereka dengan semua ini?” Sapta melepas tanganku darinya. “Sembunyi saja,” ujarnya. “Jika Anjani dan para Dyaksa sudah terlibat, tidak akan ada yang hal baik menimpa Anda untuk seterusnya. Saya berani jamin itu.” Anjani dan para Dyaksa? Apa hubungan di antara mereka? “Apa … ada apa sebenarnya ini, Sapta? Kenapa … Anjani … lalu aku….” Apa yang akan terjadi padaku … yang terlibat dengan Anjani? Benarkah masih ada waktu untukku mundur dan selamat? Masih bisakah aku bersembunyi dan mengamankan Ira serta Markandra dari semua ini? “Masih ada waktu.” Sapta meyakinkanku. “Jaga diri Anda.” Sebelum berjalan dengan sangat cepat melintasi jalan raya. Di belakangnya, aku hanya bisa terperangah pada betapa cepatnya kaki anak itu berlari. Bahkan tanpa menabrak siapa pun. Orang-orang yang dilintasinya hanya bertanya-tanya pada angin yang tiba-tiba meniup topi-topi lebar mereka. benar-benar tidak terlihat. Sebelum helaan napasku selesai, Sapta sudah berada di seberang jalan. Sukses melewati dua lintasan trem dan dua lintasan besar mobil. Melewati trotoar yang penuh dengan orang-orang yang hilir mudik, sementara aku mengerjap. Dari kejauhan, Sapta memandangku. Sesuatu dalam diriku sadar, ekspresi pemuda itu tampak aneh. Tampak begitu jauh dan tidak terjangkau, secara nyata dan secara … emosi. Seolah ini kali terakhir kami bertemu. Dari jauh, mulut Sapta menggumamkan kata-kata yang masih bisa aku tangkap. Kata-kata yang bergema tanpa suara di tengah keramaian. “Selamat tinggal.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD