“Kamu tidak bertemu dengannya?”
Ketika sampai di markas, Markandra dan Ira sudah bersiap-siap akan berangkat. Tanpa membawa perlengkapan maupun perbekalan berlebihan, mereka berdua tidak ragu bertolak ke Semarang untuk menjadi regu bantuan bagi pasukan Laskar Pejuang di Semarang yang mula terdesak.
Tugas mereka hanya untuk menyelamatkan kelompok itu, membawa dengan selamat semua pejuang keluar dari kota Semarang yang mulai dikepung musuh.
Aku mengangguk. “Tapi aku bertemu Sapta dan dia bilang dia sudah pindah dari tempat itu. Ada misi baru.”
“Aku tidak tahu Jager berpindah-pindah sesering itu,” Ira sekali lagi menyuarakan pendapat dengan nada penuh kecurigaan. “Aku harap dia tidak tahu-tahu muncul dan memeras kita di tengah jalan.
Aku terdiam sementara Markandra menimpali seadanya. Sama-sama berharap mereka tidak akan kena masalah. Di belakangku terdengar suara langkah. Aku menoleh lebih dulu, menyaksikan beberapa saat sebelum seorang wanita tua melangkah ke dalam keremangan cahaya di lorong kami.
Kami sudah berjumpa beberapa kali, tapi aku tidak bisa terbiasa dengan penampilan Ketua. Aku dengar dari Markandra, nama kecil Ketua adalah Sumirah. Nama itu sudah dilupakan oleh semua orang termasuk pemiliknya sendiri. Nama yang konon membawa luka. Dan aku bisa menerka luka semacam apa yang pernah ditorehkan di tubuh ringkih itu. Ratusan bekas luka di tubuhnya telah bersaksi.
“Kalian masih di sini.” Ia menyapih ke pojok ruangan. Suaranya yang serak sarat akan kemarahan. “Anak-anak muda jaman sekarang senang sekali menghabiskan waktu orang tua. Bisa-bisa sebelum kalian keluar, aku sudah mati lebih dulu di sini.”
Markandra dan Ira hanya bisa menjawab sapaan tak sedap itu dengan berdiri tegap, menunjukkan kesiapan mereka dalam tindakan, alih-alih pembicaraan. Dan respons diam dari Sumirah biasanya sudah cukup menjadi persetujuan bagi mereka.
“Kami akan segera berangkat.” Markandra menyahut. “Kita menghitung nyawa setiap detiknya.”
Saat Sumirah mengangguk muram, wajahnya yang sudah keriput tampak semakin tirus. Tapi memang wanita paruh baya itu tidak pernah tampak sehat satu hari pun. Tubuhnya kurus, tampak ringkih, meski itu hanya penampakannya saja. Aku sudah merasakan satu kali tinjunya selama menginap di sini, jadi aku bisa katakan, meski lenganku masih lebih besar dari dua lengannya digabungkan, Sumirah masih lebih dari sanggup untuk menghajarku sampai babak belur.
Dan ia langsung mempraktikkannya dengan menghajar punggungku sampai tegap berdiri juga. “Tegakkan punggungmu dan tatap wajah teman-temanmu saat mereka pergi,” ujar beliau sembari menggerutu. “Jangan lepas mereka dengan wajah muram begitu!”
“Ma-maafkan saya.” Padahal sebelumnya Beliau tidak begitu keras kepadaku.
“Dia benar-benar tidak bisa diharapkan. Apa kamu yakin dia teman kalian?” Sumirah menggerutu. “Dia kelihatan seperti cucu priyayi yang terlalu banyak minum madu dan makan keju!”
Markandra dan ira menyemburkan tawa sementara aku harus menanggung malu. Bahkan untuk alasna yang sama sekali tidak bisa aku ingat.
Priyayi itu memangnya apa? Apa buruk? Keju dan madu itu apa? Memangnya rasanya enak?
“Biar begini, dia sudah berulang kali membantu kami, Ketua.” Ira menyahut. “Kami mau membantunya sedikit sekarang sebagai gantinya.”
“Karena itu, mohon jangan keras-keras padanya, Ketua.” Ira terkekeh. “Tulangnya dari kapas dan kulitnya dari kertas. Bisa hancur dengan mudah.”
Ketua mengibaskan tangan kesal. “Ini hari terakhir dia menginap di sini. Jika tidak ada kalian, aku tidak sudi menanggung beban yang lain.”
Markandra tampak keberatan dengan hal ini. “Sungguh?”
“Tempat ini sudah cukup sempit.” Sumirah menyipitkan mata dengan sengit ke arah Markandra. “Dan mengertilah kalau kita tidak bisa sampai ketahuan. Tidak peduli seberapa percayanya kalian pada pemuda satu ini.”
Kata-kata itu menohok kami. Kesunyian segera mengepung kami semua dalam suasana yang tidak menyenangkan. Aku mungkin tidak ingat apa-apa, tapi Markandra dan Ira sepertinya memahami kata-kata itu.
Aku pun … meski tidak begitu mengerti … rasanya agak sakit.
“Jangan sakit hati pada kami.” Sumirah mengingatkan, kali ini matanya tertuju kepadaku. “Kami sudah banyak kehilangan orang-orang baik hanya karena sentiment semacam ini.”
“Anda akan pindah setelah ini?” Ira memastikan dan Sumirah pun mengangguk.
“Ke tempat yang tidak akan bisa dijangkau siapa pun. Lagi.” Sumirah melirik kepadaku sekilas. Tapi tidak berkata apa-apa.
Tidak perlu. Kecurigaannya lebih dari cukup. Dan aku tidak menyalahkan itu. Aku … juga tidak bisa percaya pada diriku sendiri sampai sekarang.
“Yah, pastinya saya tidak akan bisa membayar kalau tinggal di sini lebih lama.” Aku menggaruk belakang leher. “Keputusan Anda sudah benar.”
“Ah, ya, kamu kan sampai sekarang belum memegang uang sendiri ya?” Ira tiba-tiba berkelakar. “Kasihan. Aku harap kamu cepat dapat pekerjaan baru.”
Aku mendelik main-main ke arah mereka. Ira dan Markandra tertawa. Aku ikut tertawa. Kemudian kami bertiga saling berangkulan. Sebuah tindakan yang membawa tubuh dan jiwaku ke kenangan-kenangan masa lalu kami, ketika kami berpelukan seperti ini.
Kenangan saat p*********n itu kembali kepadaku. Bukan kenangan saat semua tentara itu datang membombardir dan menghancurkan segalanya, melainkan sesaat sebelumnya ketika kami bersembunyi, selesai mengamankan semua anak-anak dan lansia, lalu berpelukan untuk terakhir kalinya.
“Aku akan melindungi kalian.”
Ah, benar juga. Sebelum p*********n itu terjadi, kami pun berangkulan seperti ini. Sebelum Markandra dan Ira aku sembunyikan di bawah tanah.
“Sampai jumpa lagi.” Markandra dan Ira berbisik. “Kita akan bertemu lagi di sini…..”
Aku tidak mendengarkan. Alih-alih, aku memeluk mereka lebih erat. “Sembunyilah. Jangan sampai terlihat,” bisikku. “Tunggu aku di luar. Aku akan mengantar kalian sampai ke stasiun.”
“Apa yang kalian bicarakan di sana?”
Aku buru-buru melepas pelukan dengan Ira dan Markandra. Secara bersamaan, kami memandang Sumirah yang sekarang sedang menyipitkan mata, menatap kami penuh kecurigaan. Jelas ia tadi mendengar sedikit suara dariku yang lupa diri.
Aku memutar otak dengan cepat, mencoba mencari jawaban yang paling masuk akal. “Saya hanya bilang … saya akan melindungi mereka.”
Alih-alih lega, mata Sumirah semakin menyipit. Semakin penuh kecurigaan.
Oh, tidak. Jangan sampai. Jangan sampai ia curiga.
“Bah!” Sumirah menyembur, tampak muak. “Apa yang bisa dilakukan pemuda ringkih tidak tahu caranya memegang senjata sepertimu?! Mulut besar saja yang kamu punya!”
Aku seketika lega. Setidaknya ia tidak curiga.
“Cepatlah, jangan buang-buang waktu teman-temanmu di sini! Antar mereka, kemasi barang-barangmu, dan segera pergi!”
Aku tidak perlu diperintah dua kali untuk mematuhi Sumirah.
***
Stasiun Jayagiri rupanya tidak memakan banyak waktu. Hanya butuh dua kali naik trem menuju wilayah timur Jayagiri. Dua perjalanan yang masing-masing tidak memakan banyak waktu sampai kami memiliki waktu untuk bicara.
Ah, tidak, bukannya tidak punya. Aku memilih untuk mengunci mulut selama perjalanan. Ini bukan pembicaraan yang layak dikatakand I muka umum.
Kecurigaan. Sekarang aku memilikinya juga. Setelah pertemuan dengan Dayuh dan Rass, mengetahui Anjani ada di baliknya, lalu Sapta yang mendadak berubah mencurigakan, aku tidak tahu lagi. Segalanya semakin gelap. Aku merasa tersesat semakin jauh dari jalan yang sebelumnya tidak pernah ada. Sekarang Markandra dan Ira juga ikut pergi.
Aku akan benar-benar sendirian, di tengah kota yang terlalu ramai, tempat tidak ada yang bisa aku percayai.
“Tadi Sumirah sempat menemuimu di kamar?” Markandra bertanya untuk pertama kalinya sejak kami menaiki trem.
“Kamu tahu?”
“Katakan saja aku sudah mengenalnya terlalu lama untuk bisa tahu gelagatnya,” Markandra tersenyum, lalu mengalihkan pandang ke arah jalan raya yang berlalu di dekat kami. “Jadi … apa yang dia katakan kepadamu? Petuah yang lain?”
Aku menggeleng. Aku menunduk, melihat tas kulit yang diberikan Sumirah cuma-cuma kepadaku. Isinya pakaian yang aku bawa atau harus aku bilang, pakaian yang diberikan kepadaku oleh Anjani. Satu-satunya barang yang aku bawa pergi. Tidak ada senjata. Tidak ada uang.
Tapi beratnya terasa membebaniku.
***
“Aku harap kamu tidak membebani teman-temanmu.” Kata-kata Sumirah saat ia menemuiku lagi di kamar, kembali bergema dalam kepalaku. Dia sengaja menemuiku lagi, sembunyi-sembunyi, untuk mengatakan dengan jelas, bahwa kebohonganku payah sekali.
“Anda….”
“Kamu pikir aku ini sudah umur berapa?” Sumirah berdecak. Ia lantas menyipitkan mata ke arahku. “Aku tidak tahu siapa kamu, Nak. Aku menerimamu karena kondisimu menyedihkan malam itu. Seperti nyaris mati.”
Aku bahkan tidak bisa tertawa ataupun bereaksi. Malam aku tiba ke sini, ketika untuk pertama kalinya aku menjadi pusat perhatian banyak Manusia dalam simpati alih-alih rasa jijik, masih terasa segar dalam kepalaku. Mereka semua menatapku dengan sorot aneh: mata membuka lebar, berkaca-kaca, sebagian malah menyapaku tanpa ragu. Mereka membawaku ke kamar, merawat lukaku dengan berbagai obat yang tidak aku kenal. Mereka menyentuhku tanpa berjengit, bicara padaku tanpa menghina.
“Apa kamu tidak apa-apa?”
“Bagian mana lagi yang sakit?”
“Mohon tahan sedikit. Rasa sakitnya akan mereda segera.”
Sebuah sikap dan sorot mata yang belum pernah aku terima, yang kemudian hari aku kenali sebagai rasa iba.
Sikap yang tidak berani aku minta lebih lagi dari apa yang sudah aku terima.
“Dan saya benar-benar berterima kasih untuk itu.” Aku menundukkan kepala tanpa ragu di hadapan Sumirah yang masih berdiri. “Saya tidak ingin merepotkan Anda sekalian lebih dari ini.”
“Biasanya aku akan menghajar laki-laki yang sok kuat sepertimu. Karena tampangmu benar-benar menjijikkan sekarang, tapi….” Sumirah melipat tangan di d**a. “Kamu menyimpan banyak rahasia berbahaya, bukan begitu, Nak?”
Aku tidak sanggup mengangkat kepala. “Saya sendiri … tidak tahu.”
“Kamu tahu ke mana tujuanmu setelah ini?”
Aku bahkan tidak bisa menjawab satu itu.
Aku mendengar suara dengkusan dari Sumirah. “Begitu rupanya….” ujarnya pelan, lalu sebuah kantung kulit diletakkan di dekatku. Bunyinya bergemericing saat bersentuhan dengan lantai batu.
Saking terkejutnya, aku mendongak, tapi Sumirah sudah memunggungiku.
“Aku harap kamu tidak sakit hati,” ujarnya. “Ada banyak nyawa yang aku tanggung di pundakku sekarang ini. Termasuk teman-temanmu.”
Aku menatap kantung kulit itu. “Tidak….” bisikku pelan. “Ini sudah lebih dari cukup.”
***
“Beliau memberiku uang tambahan,” ujarku, mencoba menghindari kenyataan sambil berharap Markandra tidak cukup tajam kali ini untuk melihat kebohonganku. “Dan beliau menyuruhku mencari kerja segera.”
Aku memaksakan tawa. “Seolah siluman sepertiku bisa mencari kerja dengan mudah saja.”
“Kalian membicarakan kerja?” Ira tiba-tiba ikut pembicaraan kami. Aku mengangguk, membiarkan dia ikut terlibat. Ia menatapku bingung. “Kamu mau mencari kerja baru?”
Aku mengangguk.
“Tidak mau kembali menjalankan pekerjaan sebelum ini?”
Aku terkesiap. Aku punya pekerjaan sebelum ini?
Seolah sadar sudah salah bicara, Ira langsung tertegun. “Ah … kamu … tidak ingat ya?”
Dengan enggan, aku menggeleng. Markandra menatap Ira, menegurnya tanpa suara dan Ira langsung meminta maaf.
“Tidak apa-apa, Markandra. Menurutku itu malah bagus,” ujarku. “Kadang aku butuh bantuan untuk mengingat berbagai hal.”
“Aku anggap artinya kamu tahu jalan pulang,” Markandra menanggapi. “Karena jalan dari sini kembali ke pusat Jayagiri itu lumayan memakan waktu dan biaya.”
“Itu benar,” Ira menimpali. “Belum lagi jika kamu sampai lupa. Butuh kepercayaan diri yang kuat untuk mengantar kami lho.”
Sejujurnya, aku tidak memikirkan sampai ke sana. Aku tidak berpikir jalan pulang saat mengantar mereka.
Lagipula … aku pulang ke mana? Aku tidak ingat ke mana aku harus pulang.
“Kita sampai.” Markandra melangkah lebih dulu. Ia melihat selembar tiket putih yang ada di tangannya. “Peron tujuh.” Ia menyerahkan satu tiket kepada Ira. “Jangan sampai salah kereta.”
Ira mengangguk patuh dan mereka berjalan lebih dulu dariku.
Aku mendongak, memerhatikan bangunan yang menjulang di seberang jalan ramai di hadapan kami. Bangunan itu dicat putih dengan pintu di bagian depan melebar menjadi banyak sekali lengkung. Jendela-jendelanya dicat hijau dan dibiarkan terbuka. Orang-orang berlalu lalang di dalam, maupun di sekitar bangunan itu. Dari dalamnya, aku bisa mendengar peluit nyaring yang ditiup berkali-kali. Dari balik atapnya yang hijau, aku melihat kepulan asap yang bergerak menjauh dari stasiun, diikuti bunyi berderap yang aneh dan baru pertama kali ini aku dengar.
Inikah Stasiun Jayagiri?
Tiba-tiba tanganku disentuh. Keduanya. Melongok ke depan, aku bersitatap dengan Markandra dan Ira yang menyunggingkan senyum kepadaku.
“Jangan sampai tersesat,” ujar Markandra, lalu menatap ke arah Ira. “Teman kita satu ini sudah berubah kembali menjadi bocah.”
Ira mengiyakan ucapan itu, mengabaikan sepenuhnya protes dariku. Mereka lantas menuntunku berjalan melintasi jalan trem yang banyak diseberangi oleh mobil dan kereta yang sepertinya ditarik hewan tapi … aku tidak yakin. Hewan-hewan itu terlalu tinggi, mengilap, dan kaku untuk ukuran hewan.
Mereka berdua lantas menuntunku ke bagian yang lebih sepi, tempat keramaian mengurai menjadi hanya kerumunan orang. Tempat kios-kios yang tutup berjajar tak berpenghuni selain oleh para pemuda yang bertampang gahar.
“Markandra….?”
“Bersembunyi, kan, kamu bilang?” Ira menyahut.
Para pemuda yang berdiam di sana menatap kami penuh curiga, tapi tidak mengatakan apa pun. Pandangan mata mereka tidak mengikuti kami setelah kami bersatu dengan bayangan. Mereka tertuju ke satu titik dan membelalak. Aku mengikuti arah pandang mereka, namun Markandra dan Ira sudah keburu menarikku ke dalam bayangan yang menutupi segalanya.
Kemudian kami berhenti. Tepat ketika para pemuda itu pergi dan meninggalkan kami sendiri di tengah bayangan.
“Jadi?” Markandra bertanya. “Kenapa kamu menyuruh kami bersembunyi?”
Aku menatap dua temanku dengan tidak percaya. “Bukankah kalian harusnya segera berangkat?”
“Masih ada sepuluh menit.” Markandra mengeluarkan jam sakunya. “Jika kamu menjelaskan dengan cepat dan tanpa berbelit-belit.”
Ira ikut bersedekap. “Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan? Ini ada kaitannya dengan kamu yang tahu-tahu bangun dengan bekas gosong di lantai?”
Dyaksa. Kata itu bergema dalam kepalaku. Mungkinkah mereka percaya jika aku mengatakan Dyaksa dan Sandhikala? Apa aku tidak akan melibatkan mereka ke dalam bahaya yang lebih besar jika aku menceritakan segalanya kepada mereka?
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. “Ma-af tapi … aku tidak bisa cerita….” Bibirku terkatup rapat. Aku menggigitnya sebelum menatap mereka lagi, menghadapi kebingungan dan sorot terluka dari mata kedua temanku itu. “Maaf, tapi … aku belum bisa memastikan bahaya yang akan aku hadapi. Nanti kalau aku sudah tahu … aku janji akan….”
Ira memegangi pelipisnya. Ia melirik Markandra dengan sorot aneh. “Ini … tidak terjadi lagi kan? Katakan padaku, ini tidak sedang terjadi lagi?”
Apa? Lagi? “Apa maksudmu?”
Ira menatapku dengan kening berkerut-kerut. Ia tampak mencari-cari sesuatu di wajahku, tapi tidak menemukan apa pun. Ira lantas menggeleng. “Aku tidak percaya sekalipun ingatanmu belum kembali, sifatmu yang ini justr kembali lebih dulu.”
Sifatku kembali? “A-apa maksudmu?”
Maksudnya dulu aku juga pernah seperti ini?
“Dulu, kamu mengatakan hal yang sama persis.” Markandra menyentuh pundakku. “Hanya beberapa bulan sebelum kamu ditangkap.”
Ditangkap? Maksudnya digiring ke alam Niskala? Beberapa bulan sebelum itu … aku juga bersikap seperti ini? “Maksudnya aku berhadapan dengan sesuatu yang berbahaya?”
“Kami tidak tahu. Kamu tidak pernah cerita.” Ira menjawab dengan sengit. “Dan alasanmu sama persis seperti apa yang kamu katakan tadi. Kamu mau memastikan dulu risikonya.”
Ah, mendadak saja kepalaku pusing.
Mereka mau bilang, kejadian ini pernah terjadi sebelumnya dan aku mengulangi sikap yang sama? Apa ini artinya … aku hendak mengulangi keslaahan yang sama?
“Bu-bukankah itu seharusnya tidak aneh?” sanggahku. “Memastikan risiko itu kan….”
“Tidak aneh, memang, tapi kamu bersikap seperti itu hanya beberapa bulan sebelum kami kehilangan dirimu….” Markandra menjawab. “Sebelum itu, kamu orang yang tidak mempertimbangkan banyak hal—bukan berarti kami protes, tapi … setelah kami kehilangan dirimu, kami jadi merasa, kamu mungkin menyembunyikan sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan besar dari yang bisa kamu tanggung.”
Kebenaran kata-kata itu menikamku. “Dan kami takut kamu sedang melangkah ke jalan yang sama.”
Benar. Sekali lagi mereka benar. Ketakutanku sama seperti ketakutan mereka. Dugaanku sama seperti dugaan mereka.
Aku menggertakkan gigi. Dalam kenangan saat mereka diringkus, aku memang tidak ingat mempertimbangkan banyak hal. Kami sudah berjuang bersama sekian lama. Kami sudah berada di jalur ini bertahun-tahun. Aku tidak mempertimbangkan banyak hal saat menerima mereka dan mengakali para tentara.
Sementara sekarang … aku seperti sedang menghindar dari kejaran seseorang. Tanpa ingin melibatkan siapa pun. Hanya diriku sendiri yang menanggungnya. Padahal aku saja tidak merasa semua ini masuk akal.
Sandhikala. Dyaksa. Alam Niskala. Semua itu jelas ada jauh di luar jangkauanku kan?
Jadi benar … aku sedang mengulangi kesalahan yang sama?
“Damien…..” Markandra menepuk bahuku. “Jika ada yang bisa kamu bantu … kami siap membantu. Bahkan hanya sekadar untuk telinga.”
Pening di kepalaku semakin berdenyut. Sulur-sulur atma di sekelilingku menyala semakin terang. Panas aneh itu kembali menjalar di sekujur tubuhku. Atma merah dari tubuhku mengalir kian kencang, diikuti atma biru.
Oh, tidak. Jangan di sini. Jangan sekarang.
Namun tidak peduli berapa kali pun aku mencoba menenangkan diri, semua malah semakin di luar kendali. Sakit kepalaku semakin bertambah. Tubuhku limbung dan bersandar ke tembok. Suara-suara kembali ke kepalaku.
“Kalau bisa lakukan sekarang, kenapa harus berpikir?”
Ini … suara ini … apa ini suaraku? Kapan? Kapan aku pernah mengatakan hal seperti ini?
“Aku tidak bisa melibatkan kalian. Maaf.”
Aku membelalak. Sentuhan di bahuku kembali terasa. Aku menepisnya dan bersitatap dengan Ira serta Markandra yang membelalak kaget. Mereka terlonjak, tapi tidak mundur. Mereka masih tidak menjauh.
“Damien … ada apa?” Ira mendekat. “Apa ada yang sakit? Kepalamu sakit?”
Wajah mereka tiba-tiba memudar dan berubah. Wajah mereka berkurang kerutnya dan tampak lebih bersih. Tinggi mereka tampak berkurang. Mereka bertambah … muda. Hanya sedetik kemudian, sosok mereka yang aku kenal kembali: berkulit gelap dan tampak tua. Kemudian berganti lagi menjadi versi mereka yang lebih muda.
Ada apa ini?
Kenapa sosok dua temanku seperti … tumpang tindih? Yang mana yang asli? Kenapa … aku tidak bisa fokus melihat satu saja dari mereka?
Sosok Markandra dan Ira yang lebih muda menatapku kaget dan terluka dan bingung. Ekspresi mereka yang muda sama seperti mereka yang lebih tua. Sama persis. Sama-sama bingung dan kaget. Terluka dan sedih di saat yang sama.
“Jangan khawatir….” Suara kembali bergema dalam kepalaku. Entah suaraku sendiri ataukah suara di dalam kepalaku. “Segalanya akan baik-baik saja.”
“Pembohong.”
Satu suara asing terdengar. Aku membelalak, merasakan sakit aneh yang menjalar di sekujur tubuh saat suara itu bergema. Tubuhku mendadak kaku saat aku mencoba mendongak, melihat sosok lain berdiri di belakang Ira dan Markandra.
Tidak … sejak kapan dia ada di sana? Siapa dia? Aku ingat tadi tidak ada siapa-siapa di sana sebelum ini.
“Kebohongan yang kamu ucapkan benar-benar memuakkan.”
Sosok itu tersenyum entah kepada siapa. Ia laki-laki berambut pendek dengan pakaian serba hitam. Kulitnya pucat, berkebalikan dengan rambut dan pakaiannya. Kedua matanya terpejam. Tapi ia berdiri tegap di sana seorang diri. Terlewatkan dari pandangan semua orang. Tanganku bergerak perlahan, sama seperti kepalaku yang kaku. Jariku terangkat menuding ke arahnya. Markandra menoleh ke arah yang aku tunjuk, tapi ia lantas berbalik kepadaku.
“Ada apa, Damien?” Ia menghampiriku, mengabaikan sepenuhnya sosok di belakang sana.
Apa? Markandra tidak melihatnya?
“Tidak akan ada yang baik-baik saja.” Sosok itu perlahan membuka mata. “Karena aku sudah ada di sini, berkat dirimu.”
Tangan sosok itu terangkat. Sama sepertiku. Kemudian tangannya terbuka. Terulur kepadaku. Bersamaan dengan mata merahnya yang membuka lebar. Menatap hanya kepadaku.
“Segera, kita akan bertemu.” Sosok itu berkata. Jelas sekali. “Saat gerbang Sandhikala terbuka. Para Dyaksa sudah menunggumu … Ayah.”
Aku menutup mata kuat-kuat, menahan rasa sakit yang semakin tidak tertahankan.
Perlahan, semuanya mereda. Suara-suara itu lenyap, kembali menjadi suara keramaian stasiun yang penuh dengan deru kereta dan kendaraan yang hilir mudik. Aku mendongak. Sosok itu sudah lenyap.
“Damien?” Markandra dan Ira sudah ada di hadapanku, memanggil-manggil namaku secara bersamaan. Dengan wajah yang sama-sama panik dan pucat.
Sementara aku berpegangan pada mereka berdua, sosok itu terus melekat dalam kepalaku. Beserta kata-katanya. Aku lantas mendongak menatap Markandra.
“Kalian tidak lihat?” Aku menuding tembok kosong di belakang mereka. “Ada laki-laki yang berdiri di sana tadi?”
Markandra dan Ira saling tatap, kemudian menatap ke belakang.
“Da-damien … dari tadi tidak ada siapa-siapa selain kita di sini.” Ira berkata dengan nada yang benar-benar khawatir. “Apa … apa kamu lihat sesuatu?”
Ia dan Markandra sekali lagi bertukar pandang.
“Mungkinkah … orang dari Niskala itu masih megnincarnya?” tanya Markandra.
Aku buru-buru menggeleng. Bukan. Bukan Bajrandhaksa. Aku tidak kenal pemuda itu. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini. Aku tidak kenal.
“Ayah….”
Kata itu bergema dalam kepalaku.
Ayah?! Ia memanggilku ‘Ayah’? Aku tidak salah dengar kan? Tidak, akut tidak merasa salah dengar. Ia memang memanggilku ayah.
“Sandhikala akan terbuka….” gumamku, mengulangi kata-katanya. “Sandhikala….”
Benar rupanya. Semua ini berada di luar jangkauanku. Di luar segala nalar.
“Sandhikala?” Markandra mengulangi ucapanku. “Damien, apa yang….”
“Sembunyi!”
Tiba-tiba Ira mendorong kami berdua merapat ke tembok yang tersembunyi di balik kios-kios yang tutup. Punggungku terasa nyeri saat membentur tembok besi. Markandra mengaduh di sisiku. Ia melotot ke arah istrinya.
“Apa-apaan….?” Tapi Ira sudah lebih dulu membungkamnya dengan satu arah ke jalanan yang membentang di depan kami. Jalanan yang kini jauh lebih ramai dari biasanya.
Namun keramaian ini tidak biasa. Keramaian ini tampak rapih. Semua orang berbaris di kanan dan kiri. Trem-trem yang berjalan pun berhenti. Kereta-kereta yang ditarik hewan pun terparkir rapih, tidak sembarangan.
Kemudian satu sosok keluar dari area stasiun. Satu pria yang meski tidak aku kenal, tapi melihat sosoknya yang tegap berdiri, tinggi menjulang jauh dibanding orang-orang di sekitarnya, membuat sesuatu dalam perutku terjun bebas. Kaki-kakiku seakan meleleh.
“Si-siapa….” Suaraku lenyap. Seiring dengan tenagaku yang entah ke mana. “Siapa dia….?”
“Damastra.” Markandra berkata dengan suara tercekik di sebelahku. “Apa yang dilakukan penguasa nomor dua di negeri ini di Jayagiri?”
***