Kami tiba di sebuah rumah yang tertutup tembok dari segala penjuru. Untuk memasuki rumah ini, kami harus lebih dulu melompati pagar besi dan masuk melewati gang sempit berliku yang aku tidak yakin sempat aku hapal.
Tapi Ira dan Markandra sangat lega saat sampai ke tempat ini, jadi aku rasa, aku tidak seharusnya panik dan tegang sendiri.
Sembari memulihkan napas yang masih terengah dan degup jantung mereka yang bahkan bisa aku dengar, dua orang itu kembali bangkit berdiri, menatap tembok pekat nan hitam di depan mata.
Mereka menatapnya dengan kegelaan, sementara aku menatapnya dengan ketakutan.
“Ini … tempat kalian?” tanyaku ragu-ragu.
“Tidak seperti rumah, tapi percayalah, di dalamnya jauh lebih nyaman.” Markandra menjawab. “Dan di atas itu semua, tempat ini aman dari mata siapa pun. Tidak terdeteksi selama berbulan-bulan kami ada di sini.”
Aku bisa melihat sebabnya dengan jelas.
Dinding batu kelam itu berdiri setidaknya tiga kali tinggi tubuhku. Dengan sepenuhnya dinding terbuat dari batu, sosoknya kokoh tidak tertandingi bagai raksasa hitam di tengah gelapnya malam.
Tapi di sanalah persisnya aku tidak nyaman.
Aku memegangi tangan sendiri yang gemetar bukan main tanpa aku sadari. Kedua tanganku basah oleh keringat yang terasa dingin menusuk kulit. Aku menelan ludah, menelan segala kegugupan, tapi percuma. Jantungku justru bertalu-talu semakin kencang.
Dinding hitam itu tumpang tindih dengan bayang-bayang yang muncul di penglihatanku. Detik pertama aku mendongak, aku tidak lagi menatapnya sebagai sebuah dinding bangunan biasa tempat tinggal Manusia. Tidak peduli seberapa banyaknya cahaya atma keluar dari dalam dinding, aku hanya bisa melihat warna merah yang tidak berujung.
Langit kelam di atas kepalaku berubah merah dengan awan-awan yang berarak hitam. Dinding-dinding di sekelilingku berubah menyempit dan dinding di hadapanku berubah semakin gelap. Di atas kepalaku tergantung rantai dengan belenggu. Di dinding penuh darah di hadapanku, berdiri sesosok pria berbaju hitam. Ia menyeringai kepadaku. Gigi geliginya yang mengilap tampak runcing. Matanya merah menyala. Kuku-kukunya hitam. Enam cambuk hitam berdiri di belakangnya, seperti hidup.
“Sampai bertemu lagi….”
Kemudian cambuk-cambuk itu meraihku.
“Damien!”
Wajah Ira tahu-tahu saja sudah ada di depan mataku. Ia tampak khawatir. Begitu juga dengan Markandra. Keduanya mengerjap, menatapku dengan sorot cemas yang tidak main-main sampai aku merasa wajah mereka memutih.
“Kamu baik-baik saja?” Markandra menjadi yang pertama bertanya. Suaranya gemetaran. “Kamu mendadak melamun.”
Aku segera mengenyahkan semua kenangan tidak enak itu dan mengangguk. “Ya….” Namun suaraku sama sekali tidak terdengar meyakinkan. “Aku baik-baik saja, hanya….”
“Kalau kamu tidak enak badan, katakan saja. Jangan segan.” Ira menyentak bahuku. “Kami akan langsung membawamu ke dokter kenalan kami. Dia tidak pemilih.”
Melihat kecemasan mereka berdua, aku tersenyum tipis. Ada kehangatan yang terpancar dari mata mereka dan menular kepadaku dalam setiap kata dan tindakan, membuatku merasa sedikit lebih baik. Menyingkirkan semua kenangan buruk yang tadi sempat singgah.
“Sebenarnya aku masih agak….” Aku melirik bangunan gelap di hadapan kami. “Agak kurang nyaman jika harus berada di dalam ruangan berdinding rapat lagi.”
Haruskah aku meminta untuk di luar saja?
Aku menengok kanan-kiri. Bangunan ini terletak jauh dari jalan utama. Tidak ada patroli dan tentara yang terlihat. Aku pun ragu mereka akan masuk ke tempat ini. Ada terlalu banyak gang berliku yang harus mereka lewati dan mobil raksasa mereka tidak akan muat. Serta tidak akan cukup waktu semalaman untuk menyisir tempat ini sekadar menegakkan peraturan.
Namun Markandra dan Ira bertukar pandang dengan gelisah.
“Aku tidak yakin….” Markandra bersuara lebih dulu. “Ada Dayuh yang berkeliaran di luar dan patroli malam….”
“Kamu mungkin bukan sasaran karena selama ini sasarannya Manusia dan kaum Londo, tapi tetap saja….” Ira menimpali. Tampak sama khawatir. “Kami memang tidak mau mengambil risiko.”
Aku menunduk mengamati kulit sendiri dan paham. Helai-helai rambut putihku tertiup angin, mempertegas kekhawatiran mereka terhadapku. Mereka tidak sepenuhnya salah, tapi aku tidak yakin bisa mengatasi bangunan gelap dan dinding lagi dalam waktu dekat.
Markandra menatap bangunan di belakangnya, lalu kepadaku, secara bergantian. “Kamu tidak nyaman melihatnya ya?” tanyanya, seolah bisa membaca kekhawatiranku.
Aku membisu kali ini. Jika aku berada di luar, risiko bahaya semakin meningkat. Jauh lebih berbahaya jika dibanding aku ada di dalam sana. Aku menarik napas.
“Aku akan menyusul,” putusku. Markandra dan Ira tampak tidak dapat diyakinkan oleh jawaban ini, jadi aku menambahkan. “Setidaknya lima menit.”
Mereka kembali saling bertukar pandang sebelum Ira mengangguk dan Markandra menghela napas. “Baiklah.” Pria itu lalu menyibak bagian dalam kemejanya, memperlihatkan satu bilah pisau tersembunyi di balik kantung di dalam kemejanya. “Untuk berjaga-jaga.”
“Kamu masih ingat cara pakainya kan?”
Sebenarnya tidak, tapi karena tidak ingin membuat mereka semakin khawatir, aku pun mengangguk. “Ya.”
“Baiklah….” Ira tampaknya masih sedikit ragu, tapi mengurungkan niat. Ia dan Markandra sepakat untuk masuk.
Dan pada akhirnya aku sendirian di tengah gelapnya malam.
***
Suasana semakin sepi di sekelilingku. Keramaian di kejauhan semakin lama semakin senyap. Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Aku tidak membawa jam. Di sekitar sini juga tidak ada alat yang bisa mengingatkanku pada waktu selain rembulan yang semakin meninggi.
Aku menengok ke tembok di belakang tubuhku. Apa sebaiknya aku masuk saja? Mungkin Ira dan Markandra sudah khawatir di dalam. Aku tidak mau fokus mereka terpecah hanya karena aku ada di luar sini. Mereka punya cita-cita yang harus diperjuangkan.
Memerdekakan tanah ini.
“Kenapa?”
Aku terlonjak. Kepalaku menoleh ke kanan dan kiri. Tapi tidak ada siapa pun di sekelilingku. Aku benar-benar sendirian. Suara tadi … hanya perasaanku saja kah?
Tidak, tapi suara itu bergema dengan jelas tadi. Ia bergema di dalam kepalaku.
Dayuh, nama itu mendadak muncul dalam benakku. Teror yang menghantui kota ini. Alasan Ira dan Markandra khawatir meninggalkanku di luar. Mungkinkah suara tadi….
“Siapa di sana?” Aku berseru ke dalam kegelapan sembari mengedarkan pandang ke sekeliling. Diam-diam, aku menarik pisau yang diberikan Markandra. “Keluarlah! Aku tahu kamu ada di sini!”
Tidak ada jawaban. Tidak ada suara. Hanya ada suara dan degup jantungku saja yang terdengar.
Setidaknya sampai suara jeritan tiba-tiba terdengar.
Aku menarik pisau keluar dan memasang posisi yang aku anggap sebagai posisi bertahan. Pisau teracung ke depan, tangan terentang lurus. Ujung runcing pisau itu menatap kegelapan. Sulur-sulur atma merah menari-nari di sekelilingku. Jumlahnya tidak berubah, tidak bertambah ataupun berkurang.
Kemudian aku mencium bau amis.
Tidak, bukan bau amis, benakku mengoreksi, mengingat lagi bau apa ini sebenarnya. Aroma yang senantiasa aku cium di dalam penjara.
Aroma darah.
Pandanganku berpindah ke arah kiri, tempat aku datang ke tempat ini bersama Ira dan Markandra. Aku memang telinga baik-baik. Hidungku membaui udara. Jeritan tidak lagi terdengar. Tidak ada suara terdengar, tapi aroma darah itu semakin lama semakin kuat. Asalnya dari arah kiri. Keluar dari tempat ini.
Tanpa berpikir dua kali, aku pun berlari meninggalkan tempat itu. Menyusul ke tempat aroma darah itu berasal. Dan tanpa sadar, aku meneguk ludah. Mulutku penuh dengan air liur yang terus menetes tanpa henti. Gigi-gigiku semakin lama terasa semakn berat. Aku menjilat bibir, merasakan permukaannya yang entah sejak kapan kering.
***
Aku sempat yakin telah lupa jalan keluar dari tempat penuh liku itu, tapi pada kenyataannya, aku bisa keluar kembali ke jalan raya dengan mudah. Tubuhku ringan seakan mengendarai angin. Langkah-langkah kakiku tidak lagi terasa berat seperti di tempat gelap itu.
Aku bebas.
Dan bebas artinya aku bisa melakukan apa pun yang aku mau.
Aku sanggup melakukan segalanya.
Sulur-sulur kehidupan mengalir dari setiap jengkal kota. Dari setiap rumah, di setiap blok dan jalan. Denyutnya mengalir dalam satu harmoni yang menyatukan segala perbedaan. Aku tersenyum, membayangkan jika satu saja denyut itu lenyap dan harmoni ini hancur.
Segalanya akan hancur.
Aku berhenti di satu atap datar bangunan yang tinggi. Di bawah, ada suara yang terdengar. Nyaring dan mengganggu. Aku melongok. Sebuah mobil besar berisikan enam orang berjalan. Senjata-senjata siaga di badan mereka.
Konyol, aku menertawakan usaha mereka dalam hati. Semua itu akan sia-sia saja.
Mengalihkan perhatian dari mobil itu, aku pun menghirup udara sekali lagi. Dalam-dalam kali ini. Aroma darah itu semakin kuat. Aku menoleh ke tenggara, tempat asal aroma darah yang tajam itu.
Satu? Dua? Ah, entahlah. Semakin banyak semakin baik.
Aku segera melompat sekali lagi, berpijak sesaat di atap-atap segitiga dan berlari memacu langkah agar lebih cepat ketika berada di atap-atap yang datar. Aku tidak boleh berhenti. Tidak sekarang ataupun selamanya. Aroma darah ini sudah semakin dekat.
Bangunan dalam berbagai tinggi menjulang menghalangiku.
“Mengganggu…” Aku mendecih. “Semuanya mengganggu saja.”
Kakiku berpijak keras pada atap yang terlalu tinggi. Beberapa batu berjatuhan dari langkahku, tapi aku tidak peduli. Mereka pantas hancur. Semua ini pantas hancur.
Kemudian aku berhenti.
Darah memercik ke wajahku, menetes turun di pipi. Aku menjilatnya saat jatuh di bibir. Rasa manisnya membuatku tersenyum senang. Lagi, aku butuh lebih banyak lagi!
Aku menoleh ke sosok yang berdiri di atap bangunan di seberangku. Dia memegangi satu tubuh yang tidak lagi bergerak. Tubuh itu meneteskan darah dari seluruh tubuhnya, wajah, kaki dan bahkan kepalanya. Kaki tubuh itu melayang beberapa jengkal dari tanah. Sementara sosok sang penggenggam, cakar raksasanya mencengkam tubuh makhluk itu seperti tangan Manusia yang memeras seekor ulat sampai remuk. Sosok itu menyeringai. Di bawah sinar rembulan, aku bisa melihat deretan taringnya berkilau.
“Nah … karya seni apa lagi yang akan aku buat malam ini, hm?” Sosok itu terkikik.
Rasa tidak senang perlahan menggeliat dalam diriku.
Aku tidak senang.
Tidak boleh ada yang meneteskan darah selain aku. Tidak boleh ada yang menghancurkan semua ini kecuali aku.
“Karya macam apa yang bisa membuat Dayuh Datu senang, hm?”
Saat itu juga, degup jantungku seolah berhenti.
***
Eh?
Aku memandang sekeliling dengan bingung. Di mana aku?
Aku memandang sekeliling, melihat ratusan atap bangunan yang membentang di sepanjang mata memandang.
Tunggu sebentar, atap?!
Seketika, aku membelalak, memandang sekeliling, mencoba meyakinkan diri sendiri tidak sedang bermimpi. Rasa sakit kemudian menyerang kakiku. Menunduk, aku mencelus saat melihat telapak kakiku mengeluarkan cairan hitam. Aku menggerakkan kaki itu dan merasakan nyeri menyengat sampai ke belakang kepala.
Cairan hitam ini … darahku?
Sementara aku heran, rasa sakit yang menyengat tubuhku terus berlanjut. Ini nyata. Ini bukan mimpi.
Sekali lagi, aku memandangi atap yang membentang di kanan dan kiri, puncak dari banyak bangunan, tempat tidak seharusnya aku berada. “Ba-bagaimana bisa?”
“Siapa?”
Aku bergidik. Suara itu tidak seperti suara orang-orang yang aku jumpai di dunia ini. Sosok menyeramkan Khalikamaya langsung singgah dalam benakku ketika aku mendelik, menoleh dengan kaku ke arah depan tempat suara itu berasal.
Dan melihat pemandangan yang membuat seluruh darahku membeku.
Sulur-sulur atma biru dan hitam menari di udara, tidak berapa jauh dari tempatku berdiri. Asalnya dari seseorang yang berdiri mendelik ke arahku dengan sepasang mata merah yang berpendar dalam gelap. Seorang pria dengan rambut hitam dan tak berpakaian.
Di dekat orang itu, seseorang terangkat dari tanah. Tubuh itu tampak tak bergerak dalam kungkungan cakar raksasa sang pria. Cairan merah menetes dari tubuhnya. Beraroma amis.
Darah, diriku berteriak dalam hati. Itu semua darah.
Pakaian, tubuh, tangan, dan kaki dari orang yang tidak bergerak itu, semuanya meneteskan darah. Tetesannya mengalir sedikit demi sedikit ke tanah … yang telah berwarna merah. Aku menelan ludah ketakutan ketika sadar, genangan darah di tanah di bawah kaki orang itu tidak tergenang begitu saja.
Ada sesuatu yang tertulis di sana. Sesuatu yang cukup jelas bahkan dari jarak tempatku berdiri.
DAYUH
Jantungku berdentam kuat.
Dengan kengerian yang baru, aku menatap pria bermata merah itu sekali lagi. Menyadari betapa besar dan penuh otot tubuhnya sekarang. Kesimpulan dari tulisan itu membuat sekujur tubuhku menggigil dalam ketakutan.
Dayuh. Pria itu adalah Dayuh. Dia yang menebar teror. Dia yang membuat patroli malam berjalan di kota ini.
“Kamu … siapa?” Pria itu berkata dalam suara yang aneh. Seperti serpihan kayu yang terinjak. Suaranya seakan bergema. “Kenapa aku … tidak mendengarmu saat datang?”
Dayuh mencampakkan orang dalam cengkaman tangannya secara tiba-tiba. Tubuh orang yang ternyata pria itu terbanting ke tanah. Darahnya memercik menjadi kubangan. Tubuhnya hancur menjadi serpihan. Tempat tubuhnya jatuh berubah menjadi genangan merah. Aroma darah semakin kuat tercium.
Aroma kematian.
“Kamu tidak mau menjawabku?” Tanpa aku sadari, pria itu sudah melangkah mendekat. Aku terlonjak mundur.
Tapi sekejap kemudian pria itu sudah ada di hadapanku.
Aku tidak sempat menghindar ketika cakar raksasanya mencengkam tubuhku. Mulai dari mulutku.
Aroma lain menusuk hidungku. Asalnya dari cakar pria ini yang mengenggam separuh nyawaku sekarang. Aroma busuk yang familier, mirip dengan aroma penjara tempat Dari dekat, mata merahnya tampak semakin terang. Mirip dengan genangan darah yang menetes dari tubuh pria tadi.
Pria yang sudah mati tadi.
Pikiran itu mengirim kengerian baru ke dalam diriu. Jika pria tadi mati, bukan tidak mungkin aku
“Kamu … jika aku perhatikan … wajahmu berbeda.” Pria itu menyeringai, memperlihatkan kepadaku, deretan taring runcing yang mengisi mulutnya. “Ah … mata merah … jiwa birau … kamu bukan dari tanah ini.” Lidahnya keluar, menjilat gigi-gigi tajam itu. Lidah yang hitam pekat. Setetes liur keluar dari sudut bibirnya. “Dua orang … Manusia biru … Dayuh akan senang.”
Dayuh? Kenapa dia berbicara seolah….
“Ka-kamu bukan….” Aku berusaha bicara meski leherku dicekik kuat-kuat. “Da-yuh?”
“Jangan berani kamu menyebut namanya dengan lidah kotormu!” Cengkaman di leherku menguat. “Dasar makhluk kotor tidak tahu diri!”
Tubuhku dibanting ke tanah. Diempaskan ke atap yang keras dari semen dan bata. Atma biru dan hitam menyala terang, menelan atma merah dariku. Di atas, kilat-kilat kecil terlihat, sementara seekor Asura terbang melintas. Paruh Asura yang membuka itu menjadi pemandangan jelas terakhir yang aku lihat sebelum penglihatanku memburam dan segalanya berubah menjadi semburat warna yang tidak jelas.
Rasa sakitnya meretakkan tulang belulang. Jeritanku tertahan dan meledak di d**a, tidak bisa keluar karena cekikan kuat di leher. Seluruh tubuhku rasanya hancur lebur. Rasa sakitnya membawaku kembali ke dalam kegelapan penjara itu. Rasa sakit, pertanyaan yang tidak aku ketahui jawabannya, tuduhan atas kesalahan yang tidak pernah aku perbuat, dan segala ingatan yang tidak pernah aku ingat pernah terjadi.
“Kamu membenci segalanya, bukan?”
Membenci? Apa mungkin? Tapi kalaupun, ya, kenapa aku harus membenci segalanya?
Rasa dingin tiba-tiba membasuh tubuhku. Kegelapan yang berwarna merah pekat membalut mataku. Memperlihatkan kepadaku sebuah dunia yang berputar berisi cermin raksasa tempat ratusan keping ingatan berputar dalam saat yang bersamaan.
Seperti lautan.
Salah satunya datang dan mendekat. Gambaran dalam retakan cermin itu semakin jelas. Aku tenggelam ke dalamnya.
***
Ratusan kata, bunyi, dan pengetahuan membanjiri ingatanku bagai air bah. Beberapa hal yang tidak aku ketahui sebelumnya mendadak menjadi sangat jelas. Berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, kini tersaji di depan mataku.
Sebuah padang membentang luas sejauh mata memandang. Namun aku tidak bisa melihat ujung pangkalnya. Puluhan panji dalam berbagai warna berkumpul dalam satu arena luas. Ratusan Manusia berkumpul. Atma merah mengalir bagai kobaran api dari setiap diri mereka masing-masing.
“Hancurkan mereka!”
“Demi Yang Mulia Raja!”
Kemudian mereka bertemu dalam arena tempur. Pedang beradu pedang. Perisa beradu tombak. Teriakan bersahut-sahutan dalam amarah yang saling menyulut.
“Kamu lihat itu?” Sebuah suara tiba-tiba berbunyi dalam kepalaku. Lembut dan merdu, seperti belaian senandung malam. “Mereka bertempur dan berperang. Saling menghancurkan. Saling mencuri. Mengaku paling pintar, tapi ternyata yang paling biadab.”
Aku memerhatikan wajah para tentara itu dan mengiyakan dalam hati.
Tidak ada wajah kebahagiaan. Hanya ada kemarahan dan kesedihan yang menyusul di akhir ketika satu per satu manusia itu tumbang dalam kobaran api dan genangan darah mereka sendiri. Padang yang luas berubah menjadi kuburan massal. Pohon-pohon kering oleh racun yang dibawa darah manusia dan kobaran api. Air diracuni oleh darah dan mayat orang mati. Sementara mereka yang masih hidup mengungsi dan hanya bisa meratapi nasib sendiri.
“Pada akhirnya mereka yang menghancurkan diri sendiri.” Suara itu berubah semakin lembut, meski apa yang ia tuturkan semakin tragis. “Tapi apa? Mereka saling menyalahkan. Mereka kembali saling menghancurkan.”
Gambar ratapan para wanita berubah. Anak-anak mereka yang tadinya masih kecil, perlahan berubah dewasa. Mereka kembali memegang pedang dan perisai. Di tanah yang berbeda, tanah penuh rumput hijau dan asri, pertempuran kembali berkobar. Sekali lagi, pemandangan yang sama berulang.
Mereka tidak pernah menyesal.
“Tidak pernah.” Suara itu mendukungku. “Jika mereka menyesal, mereka tidak akan mencuri lagi. Mereka tidak akan menjajah. Bukankah temanmu bertempur karena alasan yang sama? Karena tanahnya dicuri? Bukankah itu artinya tidak pernah ada hal yang berubah, hm?”
Ingatan demi ingatan mengalir masuk ke dalam kepalaku. Pertempuran demi pertempuran. Panji-panji yang berbeda, tapi kondisi yang sama. Ratapan yang sama, korban yang sama, dan pengulangan yang sama. Segalanya terhubung dalam rantai konflik yang tidak pernah berakhir.
“Karena itu kita hancurkan semua ya?” Suara itu tertawa di telingaku. “Kita hancurkan semua dan kita buat dunia yang baru. Dunia yang tanpa peperangan. Dunia tanpa bahaya.”
Buat dunia yang baru? Usulan itu terdengar menyenangkan. Apa dunia yang baru itu tidak punya sesuatu seperti ini?
“Tidak, tentu saja tidak.” Suara itu mengalun lagi. “Kamu hanya tinggal menghancurkan segalanya dan semua akan semakin baik.”
Menghancurkan? Aku membelalak. Mendadak saja semua pertempuran di hadapanku musnah, menjadi warna hitam. Menjadi ketiadaan. Aku membelalak ngeri. Tidak, aku tidak mau! Aku tidak mau menghancurkan apa pun!
Suara itu tertawa. “Ah, ya, menghancurkan itu memang tidak baik,” ujarnya. “Tapi perubahan bukankah sama saja dengan kehancuran? Kita menghancurkan sebuah sistem penuh perbedaan. Penuh perdebatan dan rapuh. Cacat dan tidak pantas.”
Sekali lagi pertempuran tercipta di hadapanku. Panji-panji yang sebelumnya bertempur dan hancur, bangkit kembali. Mereka kembali saling bertempur di medan perang, namun kali ini, sesuatu terjadi. Ada bala pasukan lain yang datang dari arah yang tidak terduga.
Peperangan itu berhenti.
“Tapi jika kita musnahkan semua perbedaan itu dan buat dunia baru dalam satu pimpinan, bukankah itu indah?” Suara itu berkata lagi. Kemudian pemandangan di depan mataku berubah. Pasukan yang tadi bertempur, kini saling berjabat tangan. Dengan satu panji baru, sebuah panji hitam yang tidak memiliki simbol apa pun berkibar di tengah, dua pihak yang tadinya bertempur, berhenti dan berdamai. “Sebuah dunia dalam satu kepemimpinan tanpa perbedaan, tanpa konflik. Sebuah surga tanpa pengorbanan.”
Itu memang indah. Itu pasti surga. Tidak ada perbedaan. Tidak ada konflik.
“Benar.” Tiba-tiba semua orang yang ada dalam penglihatan itu menghadap ke arahku. Semuanya mengulurkan tangan. Semuanya tersenyum. “Sambut uluran tangan kami. Kita akan mewujudkan surga itu bersama.”
Sebuah surga. Sebuah dunia tempat aku tidak akan lagi dihina. Tempat tidak ada lagi peperangan. Markandra tidak perlu berjuang. Ira tidak perlu terus berlari. Aku tidak perlu terus bersembunyi.
Aku mengulurkan tangan. Senyum mengembang di bibirku, siap menyambut uluran tangan itu.
“Itu sama saja menghancurkan.” Sebuah suara lain bergema dalam kepalaku. Suara sumbang yang terlalu nyaring. Telingaku pekak mendengarnya. Suara itu bahkan tidak bergema. Ia bergaung, seolah ada dalam jarak yang sangat dekat denganku. “Membuat segalanya dalam satu kepemimpinan? Maksudmu tida boleh ada yang bebas memilih? Bukankah itu sama saja seperti para penjajah itu? Para pencuri yang mengatas namakan keadilan egois mereka sendiri?”
Sebuah denting aneh mendadak bergema. Semua orang di hadapanku menghilang, sekali lagi berganti warna hitam. Tiada apa pun di dalamnya kecuali aku sendiri.
Aku menunduk, melihat pantulan wajahku sendiri di atas cermin raksasa. Riak air perlahan terlihat di sana. Bayangan wajahku terdistorsi.
Kemudian aku menyadari bahwa aku tidak sendiri.
Sebuah bayangan lain muncul di air, tumpang tindih dengan bayanganku. Bayangannya tidak begitu jelas karena riak air, tapi aku yakin itu bukan bayanganku. Rambutnya terlalu panjang, wajahnya terlalu putih. Itu bayangan orang lain.
“Setelah dunia berada di satu kepemimpinan, lalu apa?” Sosok itu bertanya. “Kalian semua akan menurut kepada siapa? Kita tidak akan punya kehendak. Sebuah dunia tanpa kehendak untuk bergerak maju hanya akan hancur dengan sia-sia. Seperti keinginan Kali.”
Nama itu menyentakku. Rasa sakit mendera sekujur tubuhku.
Kali. Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi di mana?
“Jangan hanya menerima.” Tiba-tiba aku merasakan sentuhan di punggungku. Seperti sebuah dorongan lembut. Aku berusaha menoleh, tapi seluruh tubuhku keburu membeku. “Api tidak hanya membakar. Api memberi kehidupan. Api membuka jalan bagi kehidupan baru.”
Tubuhku terdorong secara tiba-tiba.
“Jadilah api yang menerangi Mandala.” Sentuhannya mendadak terasa hangat. “Seperti matahari.”
Kemudian sekujur tubuhku terbakar api. Segala ketiadaaan itu musnah menjadi terang benderang.
***
Cahaya terang itu mengikutiku bahkan sampai membuka mata. Kobaran api memenuhi pandangan mataku. Cahaya kuning mengalir bak air bah di hadapanku.
Tidak, bukan kuning.
Emas.
Atma berwarna emas.
Seluruh duniaku berguncang. Kemudian secara mendadak, aku terbatuk. Seakan napasku tersumbat sejak lama dan terbuka kembali secara tiba-tiba. Tubuhku terbanting ke tanah. Kepalaku terbentur batu yang keras. Pandanganku yang memburam perlahan kembali.
Namun atma emas tadi sudah lenyap.
Yang tersisa hanya api yang membara. Dan manusia mengerikan itu yang mendelik penuh kemarahan.
Dalam cahaya api yang terang, sosoknya menjadi jelas. Cakar hitamnya terbakar. Atma hitam yang mengalir dari tubuhnya lenyap, tertelan api yang berkobar. Merasakan panas asing di tangan, aku pun menengok tangan kananku.
Api perlahan lenyap dari tanganku.
Aku terperangah. Beberapa percik api itu masih tersisa di ujung jari jemariku. Sambil menggerakkan jari jemari yang terbakar itu, aku ternganga heran.
Tidak terasa panas. Jari-jariku juga tidak terbakar.
Api ini … terasa hangat.
“Ah, padahal nyaris saja berhasil.” Sosok di hadapanku itu kembali bicara. Mulutnya yang penuh taring itu membuka semakin lebar, menyobek wajahnya, sementara cakarnya membesar. Api musnah dari cakar itu, menyisakan sebelah lengan yang terbakar hangus tanpa pulih sedikit pun. “Pengganggu memang selalu datang terakhir.”
Pengganggu? Apa maksudnya?
Baru saja aku bertanya, ingatan yang tadi masuk ke dalam ingatanku. Sebuah sentuhan hangat, suara yang lain, suar ayang begitu familier namun kini tidak bisa aku ingat.
“Jadilah api yang menerangi Mandala.”
Mata merah pria itu mendelik ke arahku. Aku mencelus. Bola matanya sebelah kiri berubah menjadi hitam pekat.
“Padahal aku berharap banyak karena wanita itu sama sekali tidak bisa dirasuki. Tinggal sedikit lagi….” ujarnya dengan suara yang anehnya, ganda. Seperti ada orang lain yang bicara dalam dirinya. Ia menyeringai lebar. “Tapi dengan ini, semuanya lengkap.”
Pria itu tertawa. Cakarnya terangkat, menyentuh wajah sendiri, lalu yang tidak bisa aku percaya, pria itu mencakar wajahnya sendiri. Matanya membelalak ke arahku. Mulutnya membuka lebar dan tertawa sumbang. Tawanya bergema ke langit malam.
Gemuruh petir tiba-tiba terdengar.
Aku mendongak, melihat aliran-aliran petir aneh menyelimuti langit. Awan berkumpul di atas kepala. Semburat emas terlihat di antara warna kelabu.
Para Asura yang sebelumnya tidak ada, kini berkumpul di atas kami. Paruh dan cakar-cakar mereka menggebuk dan mencakar, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang sanggup menyentuh kota.
Secara bersamaan, kaki kananku diserang panas. Aku menunduk, melihat kaki itu memerah dan menghitam. Seperti hangus. Tapi warna merah yang membara di sana memberiku sesuatu yang lain. Sebuah firasat buruk.
Apa yang terjadi dengan kakiku? Apa ada yang sudah aku lewatkan?
Kemudian tawa itu berhenti. Aku mendongak, sembari menahan sakit. Sosok itu masih menyeringai. Dengan wajah yang berlumuran darah, wajahnya yang rusak tampak jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
“Aku tunggu saat keajaiban kembali turun ke Marcapada ini.” Suara yang keluar dari bibirnya terdenga ganjil. Dan seiring dengan suara itu, aku merasakan sakit yang semakin menjadi di kaki. “Kaliandra.”
Nama itu menghunjam dadaku. Menyakitiku dalam cara yang belum pernah aku alami.
Kaliandra? Aku tidak salah dengar kan? Apa ia baru saja memanggilku?
Kaget dan ingin memastikan, sekali lagi, aku pun mendongak, tapi sosok itu sudah lenyap.
Menyisakan hanya kehancuran di hadapanku.
Dan keriuhan di sekeliling. Aku segera menyadarkan diri. Tanah di bawah kakiku berguncang. Di tepi atap, tangan besi menanjak naik. Suara-suara keramaian bergema di bawah.
Saat itulah aku sadari, aku benar-benar sudah dikepung. Kondisiku terjepit antara kematian, lebih banyak misteri tidak terjawab, dan tentara yang murka. Sadar kondisiku yang tidak memungkinkan, aku pun merangkak berdiri. Namun sakit di kaki menghalangiku.
Aku mendelik kakiku yang menghitam, lalu memaki dalam hati. Tangan-tangan besi itu semakin naik, menunjukkan kepala automaton. Hanya tinggal tunggu waktu sampai lensa automaton itu menangkap sosokku.
Tidak ada jalan lari lagi.
“Astaga….”
***