16. Temu dan Teman

2774 Words
Letupan senjata terdengar di luar pondok. Bunyi kendaraan-kendaraan besi beserta automaton-automaton tempur bergema di sepenjuru desa. Kaki-kaki besi mereka mengentakkan tanah, menghancurkan bebatuan, rumput, dan tanah aktif yang digunakan untuk bertani dan berladang, merusak bibit-bibit padi siap tanam. Sepanjang pasukan itu berjalan, para penduduk menangis dan meratap. Tidak ada dari mereka yang berani menjerit atau balas meneriaki sepasukan tentara semena-mena itu. Popor-popor senjata menghantam pelipis dan rahang siapa pun yang berani bicara. Para wanita dan anak-anak hanya bisa menangis melindungi suami dan saudara mereka yang sempat melawan dan kini terluka. Sementara tidak ada sedikit pun penyesalan tampak di wajah para tentara itu. Mereka tertelan amarah dan frustrasi. Aku bertaruh salah satu pejuang sudah menipu mereka mentah-mentah dan dengan lihainya lari dari tangkapan mereka. Hanya satu penyebab itu yang memungkinkan para tentara HIndia-Belanda itu menyambangi desa terpencil ini dengan persenjataan lengkap dan wajah-wajah marah tak kenal ampun. Bunyi senapan mereka yang membabi buta mengubah darah siapa pun menjadi sedingin es. Bunyi automaton mereka yang berjalan dengan lambat, namun menggetarkan tanah membuat jantung semua orang bersembunyi dalam pelukan d**a masing-masing. Lewat celah kecil di jendela yang membuka, aku mengintip orang-orang kulit putih yang hendak merusak satu lagi desa di tanah ini. Desa tempatku berada sekarang. “Di mana lelaki bernama Markandra?” Salah satu pria berkulit putih berseragam hitam itu berseru ke udara kosong. Di sisinya, dua automaton raksasa berdiri bagai patung Bhutakala yang menjaga candi. Di sekeliling dua automaton raksasa itu, setidaknya selusin pasukan mengikuti, semuanya bersenjat alaras panjang lengkap. Seolah kenyataan bahwa mereka berseragam hitam Marsose saja belum cukup buruk. “Kami mencari buronan negara bernama Markandra! Dia pria berbahaya bersenjata lengkap!” Di tubuh makhluk-makhluk pucat yang bagai dari dunia lain itu muncul sulur-sulur atma. Tidak seperti Sekala yang merah, atma mereka hitam kelam. Bicara jauh lebih banyak daripada laras-laras senjata mereka. “Kami harap kalian bersikap kesatria dan menyerahkannya! Kami tahu dia masih bersembunyi di desa ini!” Pria itu berseru lagi. “Kerja sama kalian akan dihadiahi! Tapi pengkhianat akan dihukum mati! Serahkan sebelum kami terpaksa menggeledah rumah kalian satu per satu!” Aku menyipitkan mata. Di pundak pria itu, menempel tanda pangkat dua bintang. Aku membelalak. Itu bukan tanda pangkat yang main-main. Apa yang dilakukannya di desa terpencil di Rengasdengklok ini, ketika saudara-saudara sebangsanya menghindari tempat tak berharga ini? Kenapa orang dengan pangkat setinggi dia mau repot-repot ke pelosok untuk mencari seorang pemuda tanggung? Astaga, sejak kapan juga aku peduli pada akal sehat? Semua orang ini sudah kehilangan akal sehat saat menjajah tanah berharga ini dan menginjak-injak para penghuninya.  “Waktu berdamai sudah selesai!” Pria itu mengumumkan secara sepihak. “Geledah semua rumah! Jangan sisakan satu pun!” Aku segera menutup jendela sebelum ada mata yang menoleh dengan beruntung ke mari. Di dalam dapur, aku berhenti di bawah tempayan air dan menyingkirkan gerabah raksasa itu. Di bawah tempayan itu, ada sebuah tingkap rahasia. Airnya sengaja aku isi hanya separuh agar orang yang ada di dalam sana bisa keluar menggesernya sewaktu-waktu jika aku tidak kembali. Aku mengetuk tingkap kayu itu tiga kali sesuai dengan ritme yang telah kami sepakati. Ada jawaban tiga kali ketukan dari dalam sana. Sesuai yang kami sepakati. “Tetaplah sembunyi di dalam.” Aku berbisik. “Mereka sampai. Sesuai perkiraanmu. Seorang Letnan.” Tidak ada jawaban dari sana selama beberapa detik. “Kamu juga sembunyilah, Damien!” Ketika akhirnya ada sahutan, suara Markandra-lah yang menyahut dari dalam ruang bawah tanah itu. Kedengaran semangat, meski marah juga, jadi pasti ia baik-baik saja. “Mereka bisa menangkapmu juga kalau kamu ada di sana!” Aku tidak langsung menjawab. “Jika aku tidak ada di sini, mereka akan curiga.” Aku mengatakan logika yang paling masuk akla di situasi seperti ini. “Kalian berdua akan dalam bahaya.” “Damien, mereka bukan akan berbaik hati pada Siluman!” Suara Ira ikut menimpali. Suaranya agak sedikit lemah. Sial, ini harus cepat membaik. “Lebih baik mereka menangkap satu daripada kita bertiga sekaligus!” ujarku, memotong segala perdebatan sia-sia ini. “Aku akan segera kembali!” Aku segera meninggalkan mereka dan memasang kembali tempayan itu di tempatnya. Sebagai pelengkap, aku menutupi tingkap itu dengan selapis pasir dan selembar kain. Suara Ira sempat terdengar, memanggil-manggil namaku, Tapi suara yang menggedor-gedor pintu pondok membuat teriakan Ira serta merta berhenti. Aku berlari dengan cepat ke ruang depan dan membukakan pintu. Para perwira itu rupanya tidak repot-repot, karena popor senapan langsung menendang pintu pondokku sampai lepas dari engselnya. Dari balik debu yang bertebaran dan pintu yang hancur lebur, dua orang perwira berbaju hitam Marsose segera menyerbu masuk ke dalam pondok. Senapan mereka terarah ke wajahku. “Di mana kamu sembunyikan buronan kami?” *** Sisa-sisa kenangan itu merasuk lembut ke dalam kepalaku, hampir bersamaan dengan munculnya dua nama yang membuat dadaku membuncah oleh kebahagiaan. Dua wajah terakhir yang aku ingat, menjadi hal terakhir yang aku lihat sebelum … semuanya terjadi. Dua Manusia di hadapanku menatapku dengan dua pasang mata yang berkaca-kaca. Tidak ada yang bisa aku lihat dari mata mereka selain kebahagiaan. Mata mereka memantulkan dengan baik apa yang aku rasakan sekarang. “Ira … Markandra….” Aku menatap sepasang Manusia itu—suami-istri itu—dengan secercah senyum yang rasanya tidak pernah hadir sejak lama. Aku ingat mereka! Aku ingat semua tentang mereka! Suami istri itu memelukku erat-erat. Keduanya terisak dan menangis. Aku membalas pelukan mereka, merasakan kebahagiaan di luar dan di dalam tubuhku. Untuk pertama kalinya, aku bisa mengingat sesuatu. Untuk pertama kalinya ingatan itu tidak datang sepotong-sepotong dalam kepalaku, tidak dalam warna, suara, atau kenangan yang berjalan terlalu cepat. Aku ingat mereka, siapa mereka, selama apa aku sudah bersama mereka. Segala hal tentang mereka. Dan aku sangat berbahagia untuk hal ini. Meskipun pelukan kami telah usai, Markandra masih tidak berhenti tersenyum. “Senang melihatmu baik-baik saja!” ujarnya sembari menepuk-nepuk bahuku. Ia mengamatiku dari atas ke bawah. “Dan kamu kembali dalam keadaan utuh kepada kami!” “Utuh apa?” Ira menyahuti suaminya dengan nada sedikit tinggi. “Tidak kamu lihat kalau dia sekurus tusuk gigi?” “Bukankah dari dulu aku sudah kurus, Ira?” Wanita itu kembali berkaca-kaca saat aku memanggil namanya. Markandra menenangkan istrinya dengan memeluknya. “Kami benar-benar senang meilhatmu selamat, Damien.” Aku mengangguk semangat. Untuk pertama kalinya, merasa senang bisa kembali. Mereka tampak lelah, tubuh mereka bau mesiu dan tanah—aroma yang biasa mengingatkanku kepada mereka—dan tubuh mereka basah oleh peluh. Mereka jauh dari bersih. Kami semua jauh dari bersih, tapi keberadaan mereka di sini mengubah banyak hal. Sulur-sulur atma merah yang menyelimuti kami kini tidak lagi terlihat begitu buruk. Dunia yang meski masih penuh tanda tanya dan seolah menenggelamkanku, perlahan mulai jelas. Kegelapan yang sebelumnya menutupi mataku, perlahan terangkat. Hanya karena kedatangan dua orang ini. Aku punya keluarga. Mereka keluargaku. Temanku. Saudaraku. Aku tidak sendirian, pikiran itu saja membuatku merasa begitu kuat. Aku tidak sadar betapa lemah tubuhku sebelum ini, tapi berkat mereka, meski masih merasa tidak bisa melakukan banyak hal, aku merasa segalanya tidak akan lebih buruk lagi. Aku akan baik-baik saja. “Menjijikkan.” Senyum kami lenyap. Terkejut, kami serempak menoleh ke belakang tubuhku, ke arah perempuan yang berkacak pinggang dengan wajah yang tidak begitu ramah di belakang. Anjani melotot. Bibirnya mencibir. “Bisa kalian berpelukan di tempat lain saja? Kalian menghalangi pelanggan yang ingin mampir ke tempat ini.” “Ah, ma-maaf.”  Pelanggan? Meski bertanya-tanya, aku segera menyingkir dari jalan yang memang pada kenyataannya, kami telah halangi tanpa sadari. Namun Markandra dan Ira tidak begitu mengikuti saran Anjani. “Jangan lupakan bayaran kalian.” Anjani berpesan, sepenuhnya telah terfokus kepada Markandra dan Ira. “Jika sampai besok pagi aku tidak mendapat bayaran, aku akan terus meneror kalian sampai kalian membayarnya lho.” Markandra mengangguk tegas. Ia tersenyum tipis, tapi sesuatu dalam diriku melihat ia melakukannya dengan terpaksa. “Tentu saja.” Anjani tersenyum puas. “Baguslah.” Aku menatap Ira dan Markandra, lalu Anjani secara bergantian. Mendadak teringat sesuatu. Benar juga. Anjani bilang ia mendapatkan misi untuk menyelamatkanku. Aku menatap Ira dan Markandra dengan bingung. “Kalian yang … memberi Anjani misi untuk menyelamatkanku?” Markandra mengalihkan pandang dari Anjani dan tersenyum tipis kepadaku. “Kami tidak bisa membiarkanmu begitu saja di sana, bukan?” Markandra tersenyum dan mengatakannya tanpa beban. Menunjukkan kepadaku betapa tulusnya dia. Kalau begitu kenapa … aku tidak senang mendengarnya? “Kamu difitnah, dibawa ke tempat aneh oleh makhluk aneh, jelas saja kamu harus kembali kan?” Ira menyahut dengan semangat berapi-apinya yang kini baru aku sadari, sangat aku rindukan. “Lagipula tuduhan tidak masuk akal apa itu? Kamu dituduh menghancurkan— Markandra buru-buru menutup mulut Ira. “Ira, jangan sembarangan bicara di tengah keramaian….” bisiknya, sementara Ira masih memberontak dalam dekapannya. Aku tertawa canggung melihat interaksi mereka. Kerinduan dalamd adaku menggelitik. Tapi di sudut hatiku, ada ketidak nyamanan yang merayap naik. Di uang gelap tempatku dikurung sekarang rasanya hanya menjadi mimpi buruk yang sudah sangat jauh, ada sesuatu yang mengintai, dan aku merasa dia semakin dekat. Hatiku tidak ikut tertawa. Difitnah … benarkah begitu? Bayangan saat Anjani membuat perjanjian dengan Khalikamaya kembali menghantuiku. Ingatan-ingatan yang terasa kosong di dalam kepalaku seakan tertawa. “Dia bersalah.” Aku tidak akan lupa bagaimana yakinnya Khalikamaya saat mengatakan hal itu. Sekalipun dikatakan Anjani mustahil, sekalipun Ira bilang itu tidak masuk akal, pada akhirnya pendapat mereka bahwa aku tidak bersalah tetap tidak terbukti. Anjani harus menyerahkan jiwa-jiwa kepada Khalikamyaa, entah jiwa siapa, selama tujuh purnama, dan entah bagaimana caranya. Sementara di sini aku bisa bertemu lagi dengan dua orang yang membuatku tidak lagi merasa ketakutan sendirian. Apakah ini … adil? Aku melirik Anjani yang tampak tidak tertarik pada kami bertiga. Ia sibuk mengamati gang tempat kami berada. Ia tampak mencari-cari seseorang. Apakah ini adil bagi Anjani? Perjanjian Anjani masih berlaku karena diriku. Karena aku belum bisa membuktikan bahwa diriku tidak bersalah. Jauh dari semua itu, aku tidak bisa membantunya lebih dari ini. Bukankah dia menjadi yang paling dirugikan di sini? Aku menoleh ke arah Ira dan Markandra yang masih saling berdebat antara satu sama lain. Mereka berurusan dengan hal segawat ini juga karena mengkhawatirkanku, sementara aku di sini tidak bisa membuktikan dengan benar bahwa aku tidak bersalah. Bukankah aku sudah merepotkan mereka? Meski dengan semua ini … aku masih tidak bisa melakukan apa-apa. Meski sudah merepotkan banyak orang, aku masih tidak bisa mengingat apa-apa. Padahal hukumanku belum sepenuhnya lepas dariku.   Apa ada yang bisa aku lakukan? “Apa kalian pikun atau kalian sudah lupa soal aku bilang menghalangi jalan?” Ucapan ketus Anjani kembali menyadarkan kami. Markandra mengerjap kaget, tapi Ira bersikap lebih aktif dengan mendelik ke arah Anjani. Tapi Anjani tidak mengacuhkan mereka dan justru merogoh jam sakunya. “Lihat ini, waktunya sudah habis.” Ia mengegrutu. “Gara-gara sekumpulan orang bodoh yang tidak tahu situasi, aku jadi tidak bisa dapat uang malam ini.” Keningku berkerut. “Apa maksudmu … habis?” “Ah, dia benar!” Markandra menengok jam sakunya sendiri. “Patroli malam akan keluar sepuluh menit lagi!” “Patroli malam?” ulangku bingung. Markandra dan Ira tampak kaku. Entah apa yang salah dari ucapanku ini, tapi Markandra dan Ira memucat saat aku mengulangi dua kata itu. “Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah?’ Tidak perlu waktu lama, aku mengerti. Ingatanku yang hilang sekali lagi telah menjadi penyebabnya. Baik Ira maupun Markandra menyadari hal ini. Aku melirik Anjani, melihat gadis itu sudah menggerutu sebal di ujung sana. Seharusnya tidak bertanya. “He-hei, apa yang terjadi?” Ira maju dan berseru ke arah Anjani. “Ada apa dengan teman kami?” Anjadi berkacak pinggang. “Aku mengembalikan dia dengan selamat tanpa cacat, bukankah itu sudah cukup?” sahutnya dengan nada sengit. “Kalian tidak tahu semengerikan apa tempat teman kalian ditahan ini ditahan. Minta dia cerita seberapa seramnya tempat itu agar kalian tahu betapa beruntungnya dia bisa selamat dan hanya lupa beberapa hal!” “Apa maksudmu dia lupa beberapa hal?” Markandra bertanya, wajahnya ketakutan. “Seberapa banyak hal yang ia lupakan? Anjani tersenyum sinis. “Apa itu penting? Kenapa kalian tidak cari tahu sendiri? Kalian berpelukan mesra sekali tadi.” Baik aku maupun Ira dan Markandra, tidak tersenyum sama sekali saat Anjani mengungkitnya. Cara Anjani mengatakan pelukan kami dengan nada tajam seperti itu tidak akan membuat tersanjung siapa pun. “Setidaknya dia tidak melupakan kalian kan?” sahutnya balik seraya mengedikkan bahu dengan tidak acuh. Tapi kemudian ia menyeringai. “Atau jangan-jangan ada yang kalian inginkan dari ingatan yang hilang itu? Makanya kalian jadi ketakutan seperti ini?” “Jangan asal bicara!” Ira menyahut galak, meledak tiba-tiba. “Kami tidak akan meminta tolong padamu kalau tahu akan begini— Bunyi sirine memotong kata-kata Ira. Kami bertiga menoleh ke arah jalan raya, tepat saat sebuah mobil membelah kerumunan yang menyingkir masuk ke rumah masing-masing dengan cepat. Seorang perwira berseragam abu-abu berdiri di atas mobil besar itu, ditemani beberapa orang bersenjata lengkap di belakangnya. Sembari memamerkan senapan di badan, mereka berdiri tegap menyisir jalanan. Sebuah pengeras suara berdiri tegak di depan mulutnya yang mulai berbicara. “Jam malam diberlakukan! Jam malam!” serunya. “Kepada para warga yang tidak berkepentingan, harap masuk ke rumah masing-masing! Situasi kota berada dalam bahaya tingkat dua! Saya ulangi!” “Norak sekali.” Anjani mencebik. “Yah, tapi mereka bukannya t***l juga.” Sementara Anjani tampak tenang, Markandra dan Ira langsung panik. Wajah mereka semakin pucat di bawah nyala lampu. “Cepatlah lari, para pemberontak kecil….” Anjani bergumam di belakang. “Walaupun norak setengah mati, orang-orang itu tahu caranya menangkap para pelanggar jam malam.” Ia melirikku. “Dan kamu tidak mau masuk ke penjara untuk kali kedua, kan, Damien Sayang?” “Pe-penjara?” Mendengar kata itu saja sekarang sudah terasa sangat mengerikan. Sekujur tubuhku membeku ketakutan karenanya. Aku menoleh ke arah mobil yang semakin mendekat itu, sadar tidak hanya ada satu orang di dalamnya. “Kenapa bisa dipenjara? Patrol malam itu apa?” Tanganku menuding orang-orang di atas mobil itu. “Siapa mereka?’ “Ceritanya nanti saja!” Markandra dan Ira menarikku secara bersamaan. Dengan cepat, menembus gang tempat Anjani berada. Mereka bahkan tidak permisi saat berlari melewati dan hampir menabrak Anjani. Beruntung, gadis itu bergerak lincah dengan menyingkir dan sudah lebih dulu minggir sebelum ada kecelakaan yang berujung perdebatan lain tanpa akhir. “Tu-tunggu!” Sesaat kemudian, aku sadar ada yang janggal. “Kenapa aku ditarik juga? Apa aku juga akan kena masalah kalau di luar?” “Ya!” Ira menyahut, sembari susul menyusul dengan Markandra di depan. “Masalah yang sangat besar! Sekalipun kamu tidak melakukan apa-apa!” Kemudian aku mendengar Ira menyumpah serapah. “Aku benar-benar mulai curiga kasus Dayuh ini hanya dibuat-buat!” Ira menggerutu kesal. Dunia terasa menghilang di sekelilingku. Menyisakanku berlari di ruang kosong dengan langkah yang terasa ringan. Dayuh, nama itu berdengung dalam kepalaku, seperti beberapa kejadian sebelumnya. Rasanya aku pernah mendengar nama itu. Namun sekali lagi, aku tidak bisa mengingatnya. “Masa mereka tidak bisa menangkap penjahat yang sudah sebegitu meresahkannya? Jelas sekali mereka menggunakan kasus ini untuk mencurigai siapa pun yang berkeliaran malam hari!” “Siapa itu Dayuh?” Aku bertanya di tengah jalan, nyaris terlalu keras berbicara. “Apa dia penyebab semua ini?” “Kita bisa menjelaskannya nanti.” Markandra berkata dari depan. “Pokoknya kita harus sembunyi dulu sebelum para politie itu mencari-cari alasan dan mencurigai kita sebagai Dayuh!” “Kalau mereka curiga dan mulai menyelidiki dari mana asal kita, lambat laun mereka akan menyadari kita sekubu dengan para pemberontak!” Ira menimpali. “Itu akan jadi masalah besar!” Perkataan Ira ada benarnya, tapi itu tidak menjawab apa pun. Siapa itu Dayuh? Masalah apa yang ia buat? Sebesar apa masalahnya sampai Patroli Malam diberlakukan? Semua pertanyaan itu tidak terjawab Dengan enggan, aku mengikuti Ira. Kami berlari menembus pemukiman yang baru aku sadari ada di bagian dalam gang sempit itu. Jalanan hanya cukup bagi kami masing-masing untuk berlari satu demi satu. Kanan dan kiri penuh dengan orang-orang yang berteriak dan memaki sementara kami berlari menembus mereka. Aku memerhatikan badan orang-orang itu, menyadari jika mereka sama sepertiku. Mereka memiliki sesuatu yang tidak sepatutnya ada di tubuh mereka. Telinga runcing, telinga hewan, cakar raksasa, kaki yang berkuku tajam, kulit bersisik, semua yang tidak aku dapati pada manusia biasa, ada pada tubuh mereka masing-masing. “Siluman….” Jumlah mereka banyak. Lebih dari dua, sepuluh, dua puluh. Lebih banyak lagi. Ini jumlah Siluman paling banyak dari yang pernah aku lihat sejauh ini. Apa yang dilakukan semua siluman ini di gang sempit ini? Sementara benakku bertanya-tanya, mataku menangkap sesuatu dalam kegelapan. Tertempel di dinding di sebelah kami dan hampir terlewat sementara kami berlari hendak menembus batas angin. Mataku menangkap selembar kertas ditempelkan di dinding batu dan di tembok kayu bangunan-bangunan reyot di kanan dan kiri tempat para siluman tinggal berjejalan dalam satu kotak sempit yang mengingatkanku pada tempat tinggal Sapta. Kertas itu berada dalam berbagai kondisi, sebagian yang berada di tempat ramai sudah sobek dan tidak terbaca, tapi pada dinding-dinding yang lebih sepi dan tinggi, mereka masih utuh. Dan meski dalam kecepatan setinggi ini, aku masih bisa membaca apa yang ada di kertas utuh itu. Di dalam kegelapan. TEROR DAYUH MASIH BERLANJUT! JAM MALAM DIBERLAKUKAN! Mataku membelalak ketika kata yang tercetak tebal dala huruf-huruf raksasa itu merasuk ke dalam penglihatanku, ke dalam benakku, dan tertanam di sana dalam waktu lama. Dayuh. Teror. Jam malam. Nama itu bergema, lagi dan lagi di dalam benakku tanpa hasil. Sama seperti semua nama sebelumnya. Tapi kali ini gemanya lebih keras, lebih mengganggu. Seakan tidak mau membiarkanku tenang sampai segalanya terjawab. Siapa Dayuh sebenarnya? Teror macam apa yang ia ciptakan sampai diberlakukan jam malam? Sementara sekali lagi aku bertanya-tanya, aku tersentak, teringat bahwa Anjani masih ada di luar. Jika kata-kata Ira benar, bukankah Anjani juga akan dicurigai karena berada di luar? Bukankah siluman-siluman ini juga akan dicurigai karena tidak juga masuk ke dalam rumah mereka? Kalau begitu Anjani harus diperingatkan. Aku menatap Markanda yang masih memegangi tanganku. Ia tidak sedetik pun membiarkanku terlepas. Kami berbelok, selangkah lagi dari sepenuhnya meninggalkan Anjani. Aku menoleh ke belakang, ke arah gang sempit nan sesak itu untuk sekadar menengok Anjani, memperingatkannya untuk masuk.   Namun sosok Anjani sudah lenyap. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD