15. Malam dan Menari

3064 Words
Apa? Jadi … penawaran dia itu serius? Dia … benar-benar memintaku menikah dengannya? Dan aku sudah menyanggupi permintaan itu?! “Kenc-an….?” Aku mengerjap. “Apa itu?” “Ah, kamu tahulah! Momen saat sepasang suami-istri yang baru saja menikah atau akan mau menikah saling bermesraan!” Anjani mendadak jadi sangat ceria dan memeluk diri sendiri. Dia lantas bangkit berdiri dan menghampiriku, terpisah hanya oleh sebaris baju. “Setelah kamu membeli baju ini, kita akan makan malam bersama. Menurut jadwal, ada acara Gambang kromong di alun-alun Jayagiri malam ini. Kita bisa menari-nari atau makan malam sekalian di sana juga bisa! Lalu, lalu….” Anjani sedikit bersemu merah saat memejamkan mata dan memeluk dirinya sendiri. “Nanti malam—kita bisa….” Ia tertawa-tawa sendiri dan harus aku akui, itu bukan pemandangan yang paling bagus yang pernah aku lihat. “Ka-kalau begitu…..” Mendadak aku teringat percakapan Anjani dan Shan tadi. “Katamu soal aku ini— “Ngomong-ngomong, kamu sudah memilih bajunya?” Anjani menukas. “Sebentar lagi waktu masuk hotel akan ditutup lho. Kamu tidak mau tidur di jalanan kan, malam ini?” “Ah!” Aku benar-benar lupa soal itu. Dengan segera, aku melirik barisan baju di hadapanku. “A-aku akan segera memilih….” Saat itu, tidur di jalanan terdengar sangat buruk sampai-sampai aku melupakan hal yang sangat ingin aku tanya. Hal yang paling menggangguku dari pembicaraan Anjani. “Katakan saja dia beban yang terpaksa harus aku tanggung…..” *** Aku dan Anjani baru selesai berbelanja ketika langit sudah berwarna jingga. Dia berpesan agar baju-baju kami diantar ke sebuah alama. “Tempat biasa,” sebut Anjani begitu. Entah apa maksudnya. Mungkin aku akan tahu nanti. Setelah keluar dari tempat yang ternyata bernama “toko baju Li Shan” itu, aku sempat terpaku sebentar menatap langit, takut langit itu mendadak akan berubah merah. Tapi alih-alih langit, aku justru melihat beberapa makhluk raksasa terbang di langit. Aku sempat merinding dibuatnya. Bentangan sayap makhluk itu menutupi langit dari kanan ke kiri. Beberapa orang juga aku dapati sama terkejutnya sepertiku dan sedikit menghindari jalan raya. Tapi Anjani tidak demikian. Ia justru mendongak dan tersenyum menatap pemandangan itu. “Ah, kamu juga tidak ingat apa itu?” Anjani menunjuk langit, tempat makhluk raksasa itu melintas. Aku menggeleng. “Itu namanya Asura. Dari klan Garuda.” “Asura?” “Anti-Dewa, disebut juga begitu. Tapi aku lebih suka menyebutnya Asura seperti nama aslinya,” jelas Anjani sembari berjalan menjauhi toko. “Mereka makhluk yang berasal dari alam Niskala. Kamu sudah menemui beberapa di antaranya kan?” Aku mengerjap. Aku tidak ingat bertemu banyak orang di alam Niskala, tapi aku ingat pernah bertemu beberapa hal. “Yang mana….?” Anjan tertawa. “Kamu tidak ingat? Lalu bagaimana kamu bisa tahu ini Sekala dan sebelah sana alam Niskala?” “Aku hanya … tahu saja.” Jawaban itu keluar tanpa ragu dari mulutku. Seperti yang sebenarnya terjadi. “Aku tidak begitu paham. Seperti katamu tadi … ada beberapa hal yang aku ingat dan itu di antaranya. Termasuk … Manusia.” “Aneh. Kamu ingat Manusia tapi tidak ingat Siluman maupun Asura,” komentar Anjani ringan. “Yah, itu masih lebih bagus daripada tidak ada sama sekali.” “Tadi kamu bilang Niskala….” Aku memutuskan untuk tidak mengindahkan kata-kata Anjani tadi. Bersamaan dengan itu, satu makhluk lagi lewat di atas langit. Kali ini lebih kecil dan sayapnya merah. Tapi dia berkaok ke arah penduduk. Sekali lagi aku bergidik dan minggir, sementara Anjani terdiam. “Bagaimana … mereka bisa ada di sini … di alam Sekala?” “Pertanyaan itu seharusnya….” Suara Anjani berubah. “Bisa kamu ajukan kepada para penjemputmu kan?” Untuk kesekian kali, aku tidak bisa menjawab. Anjani melihat reaksiku dan menghela napas, tampak berat hati. Tapi kemudian ia memejamkan mata dan mendongak ke angkasa. “Ada Retakan yang terbuka, semakin lama semakin terbuka. Karena itulah jumlah mereka selalu sama. Tapi tidak selalu seperti ini pada awalnya.” Anjani mengucapkan kata-kata itu sembari bersandar ke tembok di pinggir jalan. “Di awal Mandala tercipta, hanya ada satu dunia. Kemudian Mandala terpecah tiga. Tanpa pelindung yang memisahkan mereka. Sampai Pergolakan kedua, ketika Sandhikala tercipta.” Satu kata dari cerita itu mengingatkanku pada perjanjian Anjani. “Sandhikala….” ulangku. “I-itu sebenarnya apa? Kamu menggunakan kata yang sama saat membuat perjanjian dengan Khalikamaya! Sebenarnya … sebenarnya Sandhikala itu apa?” Anjani hanya tersenyum merespons pertanyaan itu. Kemudian ia mencolek pipiku. “Tidak seru kalau kita berkencan di museum semalaman kan?” Museum? Apa lagi itu? “Aku lapar.” Anjani berujar, tersenyum ke arahku. “Kita lanjutkan kencan kita ke restoran terdekat, ya?” *** Yang disebut Anjani restoran ternyata hanyalah seorang pedagang keliling yang menjajakan makanan beraroma amis yang disebut kerak telor. “Ini … restoran….?” Tanganku menunjuk pria tua yang duduk di dekat kami, sang penjaja kerak telor. Anjani menyemburkan tawa. “Tentu saja bukan.” Ia menepuk bahuku. “Aku hanya tiba-tiba tidak mau ingin mengajakmu ke restoran.” Awalnya aku kira ini hanya perasaan tidak percaya akibat dilempar ke tempat asing dan kondisi ingatanku yang tidak benar, tapi sepertinya memang gadis ini … benar-benar … tidak bisa ditebak. “Mencari restoran yang mau menerima Siluman itu agak sulit,” Anjani berkata. “Shan bisa berjualan dengan santai karena dia kenal beberapa centeng besar. Kalau restoran, jumlahnya jauh lebih sedikit.” Ucapannya membuatku menatap kaki sendiri. Sekali lagi, kaki ini menjadi penyebabnya. Selesai membeli empat porsi makanan itu, Anjani dan aku berjalan hingga tiba di alun-alun Jayagiri. Kami mengambil tempat duduk di bawah pohon rindang, tempat banyak orang lain duduk berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Mereka duduk di tanah atau bersandar pada akar-akar beringin. Anjani termasuk yang duka duduk di atas akar. Aku ingin ikut, tapi saat melihat ke atas pohon yang gelap, aku mengurungkan niat dan duduk di bawah saja. Angin berembus di sekeliling kami, menemani suasana riuh yang teredam jarak. Aku mengetuk-ngetuk kuping, mencoba menghilangkan dengung yang mengganggu di sana akibat sempat berada berdekatan dengan suara bising kemeriahan apa yang disebut Anjani sebagai grup Gambang kromong. Sementara aku sedikit kesusahan, Anjani duduk di sampingku dengan santai. Tanpa melepas sarung tangan, ia menggigit kerak telornya dengan lahap. Dua sisa kerak telor masih ada di tengah kami, tergeletak di tanah. Aku memerhatikan caranya makan, lalu membuka bungkus kerak telor itu dan memakannya. Aromanya memang amis, tapi rasanya … tanpa sadar sudah membuatku menggigit untuk kedua dan ketiga kalinya. Anjani terkikik geli di sisiku. “Senang melihat ada yang suka kerak telor juga.” Bahkan dalam kegelapan, tawa Anjani tampak berpendar. Seperti nyala cahaya temaram yang jelas di dalam kegelapan. Bahkan dengan semua sulur atma merah yang menghalangi pandangan, senyumnya tidak kehilangan pesona. Membuatku terus terdiam memandanginya. “Ada apa?” Anjani tersenyum miring, memergokiku yang tanpa sadr menganga. “Apa aku melihat binar-binar asmara di matamu itu, hm, Tuan?” A-asmara? Apapun itu, aku langsugn memalingan muka dan kembali melahap kerak telor di tangan. Di depan sana, lampu-lampu bercahaya jingga menyala semakin terang. Kelompok bernama Gambang kromong itu mengundang beberapa orang di kerumunan yang menonton mereka untuk ikut menari. Tarian … aku bisa mengingat kata itu dengan mudah. Sebuah gerakan. Sebuah harmoni. Tapi aku tidak yakin bisa melakukan gerakan yang sama. Putaran dan gerakan-gerakan tangan itu tampak sulit. Terlalu … Aku kehilangan kata. Kalimat itu putus dalam kepalaku. “Kamu lihat orang-orang yang menari itu?” Anjani tiba-tiba berkata. “Mereka adalah alam penyusun Mandala.” Aku menatap para penari yang berputar itu. “Mereka….?” “Dan kamu lihat celah yang ada di antara setiap orang?” Aku mengangguk. “Itulah Sandhikala.” Aku membelalak. Sekarang aku menatap kerumunan penari itu dalam pandangan yang berbeda. Lebih seksama dari sebelumnya. Masing-masing penari, berpasangan dan tidak, memang memberi celah bagi sekelilingnya. “Celah itu … hal yang buruk?” Jika tidak ada celah itu, mungkin tangan mereka yang berputar-putar itu bisa mengenai orang lain. “Buruk dan baik dunia ini tergantung dari sudut pandang mana kamu melihatnya.” Apa? Apa maksudnya itu? “Sang Hyang Wisnu sengaja membuat celah pada pemisah dunia. Menjadikannya tidak sempurna. Mereka tidak sepenuhnya salah. Jika tidak ada celah, para Dewa tidak akan berguna untuk melindungi Manusia. Dan para Asura akan dirugikan.” Aku berusaha menangkap semua informasi yang dijelaskan Anjani, tapi gagal. Sehingga yang bisa aku lakukan hanya mendengarkan dan mencoba mengingat. “Dendan adanya celah, para Dewa bisa sedikit berguna dan melindungi Manusia dari para Asura yang terus menerus menyeberang melanggar batas.” Aku bisa melihat sudut bibir Anjani tertarik saat menjelaskan bagian ini. “Tapi pemanggilan Dewa ke dunia bukannya tidak memakan risiko. Banyak Rsi yang mati. Keseimbangan tiga dunia terancam. Dari sanalah tercetus untuk membuat Sandhikala. Gerbang Senja.” “Delapan?” Senyum Anjani semakin lebar. Mata birunya berpendar semakin terang. “Pintu yang awalnya bebas dimasuki akhirnya dikunci. Dengan pusaka-pusaka Dewa yang disebut Nawadewata,” jelasnya. “Dari sanalah, lahir delapan Dyaksa.” Seperti Sandhikala, kata satu itu berdengung dalam kepalaku. “Dyaksa….” Anjani melirik ke arahku. Tanpa alasan, ia tersenyum tipis. Tangannya terulur, menyentuh pipiku. Keriuhan serta merta senyap di sekeliling kami. Sinar-sinar menyialaukan berubah temaram saat Anjani mencondongkan tubuh mendekat. Degup jantungku berubah kencang, tapi tubuhku membeku. Seluruh tubuhku lemah dan menurut saja saat ia menarik tubuh kami perlahan mendekat. Bibirnya yang ranum tampak merah merona dari jarak yang begini dekat. Bibirku terbuka. Anjani mengecup sudut bibirku. Keriuhan kembali di sekeliling kami saat ia menjauh dan tersenyum jahil. “Ada serundeng di pipimu tadi.” Ia menunju pipinya sendiri. Kemudian ia memainkan alis. “Tapi kamu tadi sampai terpejam begitu … apa jangan-jangan … kamu mengira aku akan melakukan sesuatu, hm?” Melihat Anjani menyeringai jahil, aku langsung dihujani rasa malu yang luar biasa. “Ti-tidak sama sekali!” Aku buru-buru mengalihkan pandang. “Akhirnya kita bisa bersama….” Telingaku berjingkat. Aku melirik ke samping, ke arah sepasang muda-mudi yang berdiri tidak jauh dari pohon. Sang laki-laki menggenggam tangan sang perempuan. Wajah mereka berdua merona merah. Mata mereka terkunci kepada satu sama lain. “Setelah lama menunggu, aku sudah mendapat pekerjaan yang bisa menghidupimu secara layak! Aku akan memberimu mahar paling mahal dan acara paling meriah!” Aku mengalihkan pandang saat sepasang manusia itu berpelukan. Atma merah mengelilingi tubuh mereka, terang dan berpendar. Tidak menyakiti mataku, tapi jauh lebih terang daripada cahaya acara malam yang membentang di depan mata. Tapi diam-diam aku masih melirik dua pasang Manusia itu, bahkan ketika mereka sudah pergi dan tidak lagi terlihat. “Menikahlah denganku!” Pipiku menghnagat. Ah, gara-gara perkataan pria asing itu, aku jadi teringat kata-kata Anjani! “Setelah lama menunggu….” Tapi … ada sesuatu yang berbeda. Tiba-tiba tanganku ditarik. Anjani telah berdiri di hadapanku dan mengulurkan tangan. Ia menunjuk dengan semangat ke acara malam, tempat banyak orang menari-nari. Semakin banyak dari sebelumnya. Bunyi music semakin meriah. “Ayo kita ikutan!” Melihat music dan cahaya sebegitu terang, aku merasa enggan. Dan kelihatannya Anjani menyadari keberatanku ini. “Tenan, tidak akan terlalu dekat ke arah cahaya.” Anjani tetap memaksa. “Di pinggir saja. Pinggir!” Merasa tidak ada pilihan lain, aku pun mengikutinya ke arah terangnya cahaya dan meriahnya malam. *** “Setelah sekian lama menunggu….” Kata-kata pria tadi terngiang di dalam kepalaku. “Aku sudah mendapat pekerjaan … Aku akan memberimu mahar paling mahal!” Aku menatap gadis yang tengah menari-nari di hadapanku. Menari bersamaku. Dia menepati kata-katanya dengan hanya menari di pinggir cahaya, jauh dari orang-orang. Jauh dari mata-mata yang menatap mereka sinis ke arah kakiku. Anjani menjelaskans atu per satu instrumen yang menyusun lagu pendamping tari kami malam ini. Mulai dari gamelan yang dipukul, rebab yang dipetik, seruling yang ditiup, hingga para penari yang menjadi pelengkap pertunjukan, menghidupkan jiwa dari musik. Aku tidak begitu mengerti pada awalnya, jiwa seperti apa yang kiranya ada pada suara-suara mengganggu ini. Namun di bawah lindungan cahaya, ketika senyum dan tawa berpadu menjadi satu dalam leburan tari dan pertunjukan suara, semua keramaian ini tidak terasa begitu buruk. Inikah jiwa musik? Aku bertanya-tanya sembari kami terus menari dan berputar. “Kamu bukan penari yang buruk.” Anjani memuji, melirik kedua kakiku sejenak. “Sedikit melewati tempo, tapi setidaknya cakarmu tidak melukai kakiku sedari tadi.” Telingaku rasanya panas. Dan sekali lagi, aku menunduk menatap kakiku sendiri, melihat betapa mengerikannya kaki itu dibandingkan kaki mungil Anjani yang ditutupi sepatu. Semoga tidak pernah terjadi. “Tolong jangan ragu kalau aku melukaimu.” “Tentu saja,” Anjani terkikik. “Aku masih butuh kakiku besok pagi, Damien.” Sesuatu dalam dadaku bergerak saat nama itu keluar dari bibirnya. Tidak seperti saat ia menyebutku “Sayang”, nama itu terasa lebih istimewa. Lebih berarti, karena keluar dari bibirnya. “Tubuhmu jadi kaku lagi!” Anjani menggembungkan pipinya. “Cobalah lebih rileks.” “Ba-baik.” Aku pun mencoba mengikuti ritme sesuai arahan Anjani. Menemaninya dalam kekacauan nada, ke dalam dunia kecil yang kami ciptakan. Anjani tidak mengikuti ritme lagu. Dia menari sesuai ritme yang ada dalam kepalanya. Ia bernyanyi dalam tembang yang ia buat sendiri yang tenggelam dalam keriuhan acara. Tembang tanpa lirik yang tidak aku kenali. Bersamaan dengan nada itu, kami menari dan berputar, tidak seperti para penari yang belrenggak-lenggok bergerak, kami seperti kekacauan yang menyusup ke dalam harmoni. Dan aku merasa terganggu oleh fakta itu. Atau mungkin aku hanya terganggu beberapa pertanyaan yang masih mengganjal. Ah, ya, pasti karena pertanyaan-pertanyaan itu. “Anjani?” Gadis di hadapanku menggenggam tanganku dengan setia, tidak melepaskannya sama sekali. “Hm?” “Saat kamu memintaku….” Aku mejeda sejenak, menekan semua rasa malu. “Menikahiku … apa yang kamu … pikirkan?” “Hm?” Anjani mengerjap bingung. “Tidak ada. Aku hanya ingin menikahimu.” “Ke-napa?” Aku melirik banyak laki-laki di sekeliling kami. Pikiranku berkejaran ke percakapan kami sebelum ini. “Kenapa kamu ingin menikahiku?” “Aku tidak menyalahkanmu kalau tidak percaya padaku.” Kata-kata Anjani kembali terngiang di kepalaku, lengkap dengan senyum sinsisnya waktu itu, senyum yang sama ketika ia memintaku menikahinya. “Karena aku juga tidak percaya padamu, Damien.” Tanah di bawah kakiku berguncang. Semakin lama semakin aku tidak yakin. Wanita di hadapanku adalah wanita yang bilang bahwa aku ini beban, tapi sekaligus yang memelukku dengan hangat. Ia yang bisa berkata-kata dingin, tapi ia juga membelaku. Ia mengusirku dengan mudah, tapi ia juga yang membuat perjanjian untuk memebbaskanku. “Kamu bilang tidak bisa percaya padaku, tapi kamu menolongku berkali-kali. Kamu bilang kamu menolongku karena misi, tapi … kamu membuat perjanjian yang berbahaya dengan makhluk yang berbahaya,” Aku mengernyit. “Aku … sama sekali tidak bisa mengerti apa-apa.” Anjani menyemburkan tawa. “Kamu mencoba mengerti diriku? Sejak kapan?” Aku juga menanyakan hal yang sama. “Apa itu artinya….” Kaki Anjani berdentam di lantai satu kali, lalu lengannya melingkari pinggangku, menarik kami mendekat. Gadis itu mendongak, tampak tidak keberatan sama sekali meski harus mendongak sangat tinggi. “Kamu tertarik padaku, Sayang?” Sayang. Seharusnya ada dentam aneh di dadaku saat ia mengatakannya. Tapi aku tidak merasakannya. Tidak seperti saat ia bergerak menyentuhku dalam cara yang lain. “Apa kamu … memanggil semua orang dengan sebutan ‘Sayang’?” “Tentu, itu panggilan sayang. Panggilan yang tidak memiliki arti apa pun.” Anjani menyeringai. “Apa itu cemburu yang aku lihat di matamu?” Cemburu, aku tidak mengerti apa arti kata itu. Tapi sepertinya tu ada hubungannya dengan tidak adanya rasa di dalam dadaku. Mungkin. “Aku tidak mengerti apa-apa. Dan kamu….” Aku menatap Anjani lekat-lekat. “Rasanya kamu lebih membingungkan dari semua ini. Kamu menolong, tapi juga mengusirku. Menikahiku, tapi bilang kalau aku ini beban….” Senyum Anjani sirna. “Aku tidak bermaksud mengerti. Tapi … hanya ada kamu dan Sapta sampai sejauh ini. Dan kamu….” Aku menggenggam tangan Anjani. “Selalu ada di sisiku. Selalu membimbingku, membelikanku berbagai hal, menemaniku, dan … mengajariku banyak hal. Aku … minta maaf jika ini mengganggumu. Mungkin aku bisa tertarik dengan orang lain jika—maksudku, kalau kamu terganggu aku akan berhenti….” “Ini gawat….” Anjani menurungkan pandang.  Senyumnya yang lenyap menimbulkan bayangan lain di matanya. Bayang-bayang kelam. “Kalau begitu, gawat….” Aku mengerjap. “Kenapa?” “Aku sama sekali tidak tertarik….” Ujarnya, lalu menatapku lagi. “Pada orang yang mungkin akan jatuh cinta kepadaku.” *** Dansa kami berakhir segera setelahnya. Anjani pergi meninggalkanku, kali ini ia bahkan tidak menuntun tanganku. Kali ini, murni aku hanya mengikutinya. “Lihat itu!” Suara orang-orang masih senantiasa mengikuti, terutama saat aku ada di bawah naungan cahaya, tempat kaki kiriku terlihat jelas bagi mata-mata yang sinis dan tawa-tawa yang merendahkan. “Dia mengikuti perempuan itu seperti anak anjing! Benar-benar perempuan yang berutnung. Aku mau satu yang setampan dia. Tapi tanpa kaki menjijikkan seperti itu….” Bersamaan dengan itu, seekor binatang lewat di kakiku. Seekor binatang yang dikenali oleh benakku sebagai anjing. Anak anjing. Dia menatapku dengan sepasang mata yang membelalak, sebelum akhirnya menyalak dan menggonggong marah. Aku tidak emrasa mirip dengan binatang itu. “Ah, rupanya mereka belum datang.” Aku mendadak berhenti. Anjani berdiri di hadapanku, berkacak pinggang di depan sebuah gang kecil. Aku mengintip ke dalam gang itu, melihat beberapa lampu temaram menyala di dalamnya, sementara orang-orang berlalu-lalang. Aku menyadari mereka berbeda tidak lama setelahnya. Mata-kata mereka menyala dalam gelap. Ketika mereka menyeringai, muncul taring dari bibir mereka. Tubuh sebagian dari mereka berbulu. “Tempat apa … ini?” “Tempatmu menginap.” Anjani menjawab tanpa menoleh kepadaku. “Yah, aku tidak mau menginap, tapi para penjemputmu belum juga datang, jadi….” Tidak, tidak bisa seperti ini. Sesuatu dalam diriku perlahan meletupkan api perlawanan. Anjani selalu mengalihkan pertanyaan. Selalu menyembunyikan sesuatu. Dan aku selalu tertinggal, karena aku tidak mengetahui apa-apa. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk satu topik ini saja, aku tidak ingin mundur. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,” ujarku cepat. “Kamu menanyakan banyak hal.” Sekarang aku yang malu. “Soal kenapa kamu … me-menikah….” “Apa itu penting?” Anjani memotong dengan cepat, lalu menoleh ke arahku. “Apa itu tidak penting bagimu?” tanyaku balik, mengenang bagaimana senangnya wajah perempuan di bawah pohon itu bersama dengan lelakinya. Tidak sama sekali seperti Anjani. Gadis di hadapanku sama sekali tidak terketuk. Ekspresinya masih tenang. Senyumnya dingin. “Aku hanya iseng karena kamu kelihatan sedang putus asa. Wajahmu terlihat paling tampan jika putus asa seperti itu. Apa boleh buat kan? Aku perempuan berselera tinggi.” Seringai aneh itu kembali muncul di wajah Anjani. Aku terlonjak mundur. Tapi kemudian seringai itu lenyap. “Tapi setelah kamu tidak menunjukkan wajah itu, aku semakin dan semakin tidak tertarik. Puncaknya ketika kamu menunjukkan ketertarikan.” Terang-terangan, di depan mataku, Anjani memutar bola mata. Ia mencebik. Sesuatu dalam diriku terasa terpuntir saat ia melakukannya. Tanpa rasa malu sama sekali. Sementar aaku harus berulang kali berpikir untuk bicara di hadapannya. “Lalu … perjanjianmu dengan Khalikamyaa?” tanyaku. “Kamu mau membatalkannya?” Kali ini, mata biru Anjani benar-benar tidak memiliki emosi. Wajahnya berubah dingin. Kegelapan memayungi binar matanya, menelan mata itu ke dalam jurang hitam. “Kamu tahu kalau kamu sama sekali tidak ada urusannya dengan itu, kan?” Anjanimaju satu langkah dan aku terlonjak mundur. Tapi Anjani bergerak lebih cepat dariku. Dengan tangan kanan, ia meraih kerah bajuku. Menarikku mendekat. Mata birunya menyala terang penuh kemarahan. Kemarahan yang hanya pernah aku lihat darinya saat ia berhadapan dengan Khalikamaya. Saat ia membahas soal Sandhikala. Mendadak saja, kenangan saat kami berdansa, saat menari berdansa berputar kembali dalam benakku. Semua senyuman, kata-kata, gerakan, dan kebersamaan, terasa sia-sia sekarang. Aku sama sekali tidak ada di mata itu. Tidak seperti Anjani yang bisa memberikan dampak kecil kepada detak di d**a ini, aku sama sekali tidak pernah ada di pikirannya yang entah sedalam apa. Detik itu juga aku sadari, aku tidak mengejar apa pun selain bayangan. Anjani tidak pernah sekali pun memandangku. “Seperti anak anjing….” Benar, seperti anak anjing, aku mengikutinya dengan kesetiaan tidak masuk akal, tanpa alasan, dan emmbabi buta. Anjani sudah mengatakand engan jelas bahwa ia tidak percaya padaku. Ia mengatakan dengan jelas bahwa ada beberapa hal yang memang bukan urusanku. Tadi ia memperjelas bahwa ia tidak lagi tertarik padaku dan lamaran yang ia ajukan tidaklebih dari impuls semata. Lalu kenapa aku masih ada di sini? Kenapa aku masih mengikutinya? Bukankah Anjani bilang perjanjiannya dengan Khalikamaya bukan urusanku? Seharusnya aku bisa pergi sekarang kan? “Damien?” Suara asing itu membuatku menoleh ke belakang. Aku membelalak, terdiam di tempat saat kenanga-kenangan lama kembali masuk ke dalam kepalaku. Aku mengenali dua orang ini. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD