Anjani bilang, tempat kami berada adalah sebuah kota bernama Jayagiri. Kota yang sedang berkembang menjadi kota maju mengalahkan Semarang, Vorstenlanden, dan Surabaya, setelah Jayakarta tidak lagi ada.
Aku tidak mengetahui kota-kota yang disebut tadi, tapi aku merinding mendengar nama yang terakhir.
Jayakarta.
Setiap rasa sakit seakan bergema kembali merajah tubuhku setiap kali nama “Jayakarta” didengungkan. Meski pada kenyataannya, tidak ada yang menyakitiku sama sekali.
Anjani mengajakku naik sebuah kendaraan lucu yang meluncur di jalan raya. Tidak memiliki roda yang berputar maupun sejenis binatang yang menarik mereka. Kendaraan itu pun bergerak di atas rel tipis yang lebih mirip garis daripada jalan.
“Ini namanya trem,” Anjani menjelaskan sembari mendorong kepalaku yang keluar jendela karena terlalu antusias. “Ini seperti kereta, tapi untuk rute yang lebih pendek. Membantu sekali untuk perjalanan dalam kota jika kamu tidak punya mobil.”
Aku mengerjap. Ada banyak kata asing yang terdengar dalam satu penjealsan itu. “Kereta?”
“Nanti kamu juga tahu,” Untuk kesekian kali, Anjani menjawab dengan gaya misterius.
Kami baru saja turun dari trem ketika suara bergemuruh tiba-tiba terdengar di langit. Terkejut, aku pun mendongak. Kedua mataku membelalak kaget, kedua kakiku melemah, dan tubuhku membeku ketika menyaksikan sesosok makhluk raksasa melintas. Percikan-percikan petir berwarna merah tampak di langit ketika makhluk itu lewat. Persis seperti sambaran petir yang bahkan di siang hari terik masih terlihat jelas.
Ketakutan segera menyelubungiku. “Ap-apa itu?”
“Ah, kamu baru pertama kali lihat ya?” Berlawanan denganku, Anjani tampak santai. Ah, tidak, bukan hanya dia. Semua orang di sekeliling kami juga tidak sepanik aku. Malahan, mata mereka semua berbinar dan bibir mereka menyunggingkan senyum cerah. Senyum … kagum. “Itu namanya kapal udara. Orang-orang di sini sering menyebutnya Mekara walaupun tidak begitu tepat.”
“Ka-kapal udara?”Aku mengerjap, lalu menatap Anjani sambil setengah terkesiap. “Maksudmu itu kendaraan? Bu-bukan makhluk … hidup?”
“Bukan.” Anjani kembali lanjut berjalan. “Hanya benda yang dihidupkan oleh Rakta.”
Nama itu mendengungkan sesuatu ke telingaku. “Rak-ta?” Aku memegangi kuping, mencoba mendengar dengung itu sekali lagi, tapi nihil.
Dengung itu sudah menghilang.
“Sebuah batu ajaib yang muncul dari tragedi.” Anjani melanjutkan penjelasannya sementara kami berjalan terus hingga sampai di jalan lebar tempat banyak mobil dan kereta kuda lalu lalang. “Nanti kamu juga akan lihat. Banyak toko di sini yang menggunakan Rakta sebagai bahan bakar utamanya.”
Di jalan itu, orang-orang mengambil jalan di kanan dan kiri, di atas jalanan yang lebih keras sementara semua kendaraan berjalan di tengah. Rumah-rumah dibuka dengan banyak tulisan yang meski bisa aku baca, tidak bisa aku mengerti apa maknanya. Berbagai aroma bercampur di udara, bersama dengan banyaknya sulur atma merah yang menyala. Terlalu penuhnya pandangan mataku hingga aku tersandung beberapa kali, tidak bisa membedakan antara jalan, manusia, dan sulur cahaya.
Seorang pria marah di dekatku saat kakiku tidak sengaja menginjak sepatunya, tapi Anjani dengan cepat berhasil meraih tanganku, membimbingku.
“Maaf, dia baru kali ini ke kota.” Ia berkata dengan cepat, meninggalkan pria itu pergi dalam keadaan menggerutu. Anjani lantas menoleh kepadaku. “Tolong jaga langkahmu di sini. Aku tahu agak berat karena kamu belum terbiasa, tapi aku minta bantuanmu sebentar. Setelah beli baju, kamu bisa istirahat sepuasmu di hotel nanti.”
“Hotel?”
“Nanti kamu akan tahu.” Anjani segera menarikku menembus keramaian. Tangannya yang berbalut sarung tangan biru menggenggam jari jemariku erat.
Aku tertegun, memandangi tangan kecil itu dalam diam. Memerhatikan betapa tangan itu bisa muat dalam satu genggaman tanganku. Jari jemari mungilnya menggenggam tanganku dalam kekuatan yang menyedihkan. Ia memegangku dengan tangan kiri, apa jika tangan kanan akan berbeda?
Kehangatan tangannya, bahkan dalam keadaan tertutup rapat pun, masih bisa sampai ke tanganku yang telanjang. Kehangatan itu menjalar hingga ke wajahku.
Sehingga meski ragu, aku pun membalas genggaman tangannya. Dan berjalan bersama.
“Ah ya, orang-orang yang akan menjemputmu bilang, mereka sedang ada keperluan.” Anjani berujar. “Mereka baru bisa menjemputmu besok pagi. Jadi untuk malam ini, kita memang butuh hotel.”
Apa itu artinya … kami tidak akan menginap di tempat Sapta? “Lalu … bagaimana dengan Sapta?”
“Bocah itu?” Anjani mencebik. “Dia bisa tidur sendiri di sana dan aku tidak peduli. Itu kamar miliknya. Aku tidak akan menumpangkan apa pun ke sana selain baju.”
Sementara aku masih butuh waktu untuk memproses semua informasi itu, Anjani sudah menarikku lebih jauh ke dalam jalan, menjelajahi berbagai deretan toko, sementara membiarkanku tenggelam dalam perasaan sendiri dan kebingungan yang menyertainya.
Apa ini? Rasanya seperti ada beban yang terangkat dalam diriku Perasaan apa yang membuatku … bisa bernapas lebih lama ini? Seringan ini?
“Lihat kakinya! Menjijikkan sekali!”
Eh? Siapa? Siapa yang baru saja bicara seperti itu?
“Kenapa makhluk seperti itu bisa ada di sini?”
Aku menoleh ke kanan dan kiri, depan dan belakang. Jantungku mencelus seketika saat menyadari tatapan orang-orang yang tajam nan sengit kepadaku. Sorot mata itu menusuk tajam tepat ke perutku, menikamku dengan perasaan familier yang tidak menyenangkan.
Kebencian.
Mereka semua membenciku. Jijik padaku. Semuanya tanpa kecuali. Bayang-bayang para penjaga penjara dan Khalikamaya. Mereka semua menatapku dengan sorot mata yang sama.
“Ayo cepat pergi dari sini! Aku tidak mau berbelanja satu tempat dengan Siluman!”
“Siapa saja, tolong panggilan Politie! Ada Siluman berjalan di tengah-tengah Manusia!”
Apa … salahku? Kenapa mereka … apa mereka tahu siapa aku? Perbuatan yang aku lakukan? Karena itulah mereka membenciku?
“Apa gadis itu pemiliknya? Ah, tidak mungkin kan?”
Kedua mataku membuka lebar saat mendengar kata-kata itu. Aku menatap punggung Anjani yang masih setia menuntun tanganku. Dia tidak sekalipun menoleh untuk melihat siapa yang menghina, todak sepertiku. Hampir seolah ia tidak peduli. Dan mungkin memang itulah kenyataannya. Ia tidak peduli. Atau mungkin ia hanya tidak mendengar.
Jika dia tidak mendengar … Menghinaku dan membenciku adalah satu hal, tapi menghina gadis yang sudah menyelamatkan hidupku adalah lain soal.
“Jangan hiraukan mereka.” Anjani tiba-tiba berkata dari depan. Genggaman tangannya kepadaku semakin erat. “Mereka hanya tidak suka ada siluman sepertimu berjalan di tengah kota seperti ini.”
“Kalau begitu kita kembali saja.” Usulan itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Sangat mendadak, sampai membuat Anjani berhenti dan menoleh ke arahku lagi.
Kami berdiri di tengah jalan, di tengah keramaiann orang yang hilir-mudik, tapi tidak satu pun dari kami menaruh perhatian pada khalayak. Kami berdua, tidak terganggu siapa pun, saling pandang. Anjani mengerjap memandangku, sementara aku serius. Untuk pertama kalinya, kami bertukar posisi.
“Kita kembali saja ke kamar Sapta. Tidak perlu belanja…..” Aku mengepalkan tangan. “A-aku bisa tidur di lantai … di luar juga … tidak masalah! Karena itu, ayo sebaiknya kita kembali saja!”
Selama beberapa saat, aku sempat mengira Anjani akan tertegun. Terkejut. Tapi aku tidak menyangka justru Anjani mencebik. “Pria lembek.”
“A-Apa?”
“Baru dihina seperti itu saja, kamu sudah mau menyerah?” Anjani melepaskan tanganku dan seketika itu juga, aku merasakan kehampaan yang sulit dijelaskan. “Di mana harga dirimu? Mereka sedang mengolok-olokmu lho!”
Harga diri? Aku bahkan tidak tahu apa itu. Tapi aku juga tidak yakin Anjani salah bicara.
“Apa….” Aku bertanya dengan ragu. “Apa keputusanku … buruk?”
“Tidak buruk, hanya tolol.” Anjani mengoreksi dengan jawaban yang menurutku sama sekali tidak lebih baik dari sebelumnya. “Sudahlah, kamu membuang waktu.”
Ia kembali meraih tanganku. Sekali lagi, aku menurut. Namun kali ini, kehangatan itu tidak ada. Tangan Anjani terasa lebih dingin.
“Tenang, kenalanku ini tidak akan mempermasalahkan latar belakangmu.” Anjani menoleh sejenak, lalu melirik penuh arti ke arah kakiku. “Dari dialah aku dapat sepatu istimewamu itu.”
Aku menunduk, tidak pernah mempertanyakan sepatu yang aku dapat dari Sapta beberapa waktu lalu. Sepatu itu tidak terasa salah di kakiku, tapi itu karena aku tidak memerhatikan sepatu Anjani.
Dibanding sepatu di kakinya, sepatu di kakiku punya ukuran yang lebih tinggi. Sedikit terlalu lebar, tapi tali membaut sepatu ini tidak lepas begitu saja. Jika sepatu ini lebih rendah, langkah kakiuk bisa pincang dan aku tidak akan bisa menyamai langkah Anjani seperti ini.
Siapa pembuat sepatu ini? Bagaimana Sapta mendapatkannya?
Pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak terjawab. Separuh karena ketololanku yang tidak begitu memerhatikan.
Sampai tadi, aku bahkan tidak mempermasalahkan kenapa kakiku yang lain tidak mendapat sepatu. Sekarang, semua terasa berbeda. Setelah melihat begitu banyak manusia.
Terasa asing.
Entah berapa lama yang aku habiskan di tempat itu. Sekarang semua keramaian ini terasa sangat asing dan menusuk. Rasanya hampir meledak saat pertama kali keluar dari tempat tinggal Sapta. Rasnaya sama buruknya dengan menghadapi Khalikamaya.
Aku segera berjengit saat seseorang berjalan mendekat. Aku merapatkan diri kepada Anjani dan menghindari keramaian. Semua orang masih menatapku dengan cara aneh itu.
Tidak nyaman. Aku ingin segera pergi dari sini.
Aku ingin pergi ke tempat sepi. Tempat tidak ada yang akan menatapku dengan cara aneh seperti ini. Aku menatap punggung Anjani. Tinggi kami yang berbeda membuatku bisa melihat puncak kepalanya dengan jelas, rambut hitamnya yang bergoyang seiring langkah kami.
Mungkinkah jika aku meminta kami kembali … sekali lagi, dengan cara yang lebih baik … dia akan menuruti?
Mungkin saja.
“A-Anjani….” Aku berusaha memanggilnya, tapi Anjani tidak mengindahkan. “Aku rasa memang….”
“Kita sampai!”
Langkah Anjani berhenti. Aku ikut berhenti dan seketika mengernyit. Cahaya terang bersinar di hadapanku. Terangnya yang luar biasa membuatku sampai menyipitkan mata.
“Ayo masuk!”
Tapi Anjani kelihatannya tidak masalah sama sekali dengan cahaya seterang ini. Dia bahkan tidak bertanya apa aku ingin ikut atau tidak. Dia benar-benar hanya menyeretku ke dalam apa pun tempat tujuan kami.
Aku menutup mata, tapi bahkan dalam keadaan mata terpejam saja cahaya itu masih masuk menjadi warna merah ke dalam penglihatanku. Warna merah yang mengingatkanku pada warna tempat Khalikamaya.
“Sampai bertemu lagi….”
Wajah Bajrandhaksa tiba-tiba muncul dalam pikiranku.
“Damien!”
Aku membuka mata, hampir seketika. Dan terlonjak mundur. Anjani yang sepertinya berdiri terlalu dekat juga terkejut dan mundur. Untuk pertama kalinya, aku meliaht mata biru gadis itu membuka lebar-lebar dan mengerjap bingung. Aku hendak berkata-kata, tapi mataku yang rupanya sudah terbiasa dengan cahaya menyaksikan dengan canggung, semua mata yang tertuju kepada kami.
Setidaknya ada seratus orang di dalam ruangan itu, ruangan paling luas yang pernah aku masuki. Langit-langitnya putih dan tidak tergapai. Dinding-dindingnya berkilau dalam warna terang yang mengingatkanku pada warna atma milik Anjani di penjara. Deretan pakaian dalam dipajang dalam toko, berjejer dan berbaris rapih, di atas maupun di bawah.
Aku cepat-cepat menunduk saat mata-mata itu berubah tajam, terlebih saat mereka mulai memerhatikan kakiku. Perlahan, aku menyembunyikan sebelah kaki ke belakang.
Aku benar-benar ingin menyusut saja.
“Ah, Anjani, aku kira kamu sudah melupakan teman lamamu di sini.”
“Selamat siang juga, Shan!”
Mendengar nada yang gembira dari Anjani, aku pun memberanikan diri untuk mendongak sedikit. Gadis itu sedang memeluk gadis lainnya. Tinggi gadis asing itu menyamai tinggi tubuhku. Ia seramping Anjani, seputih Anjani, tapi matanya hitam dengan bentuk tajam yang aneh. Rambut wanita itu digelung dengan sangat kuat sampai tidak ada satu pun rambut yang mencuat dari gelungannya.
Tadi Anjani memanggil gadis itu dengan sebutan Shan.
“Apa yang bisa aku bantu untukmu hari ini?”
Seolah sadar sedang diperhatikan, Shan langsung melirik ke arahku, memergokiku menatapnya diam-diam.
“Dan siapakah ini?” Pertanyaan Shan tidak diragukan lagi, ditujukan untukku. “Apa akhirnya kamu memutuskan untuk berkomitmen, Anjani Sayang?”
Komit-men…?
“Tidak, tentu saja tidak…” Anjani menyembur. “Ini … katakan saja dia beban yang terpaksa harus aku tanggung sampai para penebusnya membayar.”
Be-ban? Tadi … Anjani baru saja bilang aku ini beban? Aku tidak salah dengar?
“Menikahlah denganku!”
Anjani memang mengatakannya sebelum ini. Dia memintaku menikahinya. Apa … menikahi itu artinya aku menjadi bebannya? Su-suami yang ia maksud itu … tidak lebih dari beban?
Ini … agak sedikit membingungkan.
“Kejam sekali, seperti biasa.” Shan tertawa riang. “Jadi aku harus mencarikan baju untuknya malam ini?”
“Begitulah.” Anjani menuding ke bawah. “Carikan juga sepatu yang cocok untuknya.”
Sekarang Shan mengernyit. “Sepasang atau….?”
“Kamu dengarkan saja permintaannya.”
Shan tersenyum miring. “Apa itu artinya aku bisa menguras dompetmu sampai kering, Perempuan Malang?”
Anjani menyemburkan tawa. “Dalam mimpimu, Nenek Pelit!”
Mereka berdua berjalan lebih dulu. Sesaat, aku mengira akan ditinggalkan, tapi rupanya Anjani tidak melupakanku. Dia melirik ke belakang dan memberiku isyarat untuk mengikutiku.
Aku pun mengikutinya. Dan dalam perjalanan, melihat beberapa orang masih menyaksikanku, orang-orang dengan mata kuning keemasan atau cakar yang mencuat dari tangan-tangan mereka.
***
“Aku punya sekumpulan koleksi baru yang aku yakin akan disukai pria tampan ini!”
Anjani tertawa datar saat salah satu orang di dalam toko yang disebut Anjani sebagai pegawai Shan mendekatiku, menyodorkan satu setel pakaian aneh yang terlalu menyilaukan.
Anjani mengibaskan tangan kepada pegawai perempuan itu. “Yang biasa saja, tolong.”
Shan menyenggol bahu Anjani. “Aku memaksa.”
Anjani tidak terpengaruh. “Aku ini pelanggannya.”
“Tapi aku yang lebih tahu mode.” Shan tidak mau kalah.
Anjani masih dengan tawa datarnya. “Cobalah untuk memeras dompetku dengan cara yang lebih baik lain kali, Lintah Betina.”
“Macan buduk yang benar-benar tidak tahu adat.” Shan tertawa masam, lalu memberi isyarat pegawainya menyingkir. Satu pegawai lain mendekatiku, mendorong satu baris pakaian ke hadapanku. “Bagaimana kalau dia sendiri memilih dari sini? Ini yang paling murah, paling membosankan—ehem—paling sesuai untuk dompetmu dan pria tampan malang yang penampilannya harus tersia-siakan di tangan kejimu, Anjani.”
“Kedengaran sempurna.” Anjani mengangguk, lalu mengibaskan tangan, mengusir Shan pergi dalam diam. “Sekarang, berikan sedikit privasi pada pria malang ini, Shan. Dia hampir mengkerut ketakutan saat tiba di tokomu tadi.”
“Oh!” Shan langsung menyeringai ke arahku. Matanya yang tajam itu tampak seperti lengkungan tajam di wajahnya ketika ia tersenyum lebar. Bibirnya yang merah tampak seperti berlumuran darah. “Maaf kalau begitu. Akan aku beri kalian waktu untuk saling mengobrol.” Ia melirik Anjani. “Minimal tiga ya.”
“Itu urusanku, Nona.”
Shan mencebik sekilas, tapi wanita itu tidak begitu pandai menyembunyikan senyuman jahil di balik seringai itu. Ia melirik Anjani dengan sorot yang berbeda sebelum melenggang pergi. Sorot yang hanya aku lihat dari Sapta sejauh ini.
Apa mungkin….
“Apa yang kamu tunggu?” Anjani memecah lamunanku. Ia mengedikkan dagu ke arah deretan pakaian di hadapanku. “Cepat coba dan pilih. Paling banyak tiga.”
Senyum yang lenyap dan ekspresi yang serius dari gadis itu membuatku terperanjat dan langsung gugup. Dengan kikuk, aku menganggukan kepala lalu menunduk, memandangi deretan pakaian yang asing di hadapanku. Satu demi satu.
Namun tanganku berhenti di udara.
Kedamaian di sekelilingku berbisik, memberitahuku kenyataan yang sedari tadi terlewat. Segala pertanyaan yang sempat terkubur karena banyak dan cepatnya tuntutan Anjani, kini kembali menyeruak tanpa bisa dihentikan. Aku lantas menatap gadis yang duduk di dipan tidak jauh dariku.
Tidak peduli sejauh apa pun aku berusaha mengingat, yang ada di ingatanku hanyalah penjara itu. Sebuah dunia berlangit merah dan tanah hitam. Semuanya dimulai di sana. Kemudian terdengar berita eksekusi atas diriku untuk kesalahan yang tidak aku ingat. Ada ingatan-ingatan yang timbul-tenggelam, tapi terlalu cepat untuk aku lihat dengan jelas. Ada berbagai hal yang entah dari mana, tiba-tiba saja muncul di kepalaku dan aku pahami dengan mudah, tidak seperti ingatanku yang tidak kunjung kembali.
Lalu dia muncul. Seorang gadis aneh yang langsung memintaku … menikahinya. Gadis yang bisa bicara dengan makhluk seseram Khalikamaya. Gadis ini penolongku. Dia membebaskanku dari eksekusi mati.
Tapi apa benar begitu?
Sekarang aku mengamati sekelilingku. Sebuah dunia yang begitu asing dan luas. Penuh dengan Manusia, makhluk-makhluk yang untuk pertama kalinya tidak bisa mengeluarkan cambuk dari pakaian mereka. Aku seharusnya bisa merasa nyaman di sini, tapi ternyata ada orang-orang yang tidak suka padaku … untuk sebab yang tidak aku ketahui.
Sekali lagi, aku tidak tahu apa-apa.
“Aku mendapat misi untuk menyelamatkanmu.” Kata-kata Anjani kembali terulang di kepalaku. “Ada beberapa orang yang ingin kamu selamat dari sana….”
Orang lain dan bukan Anjani. Dia hanya menjalankan kewajiban.
Dia orang asing juga, tidak ada bedanya dengan orang-orang ini. Dia … memang menyelamatkanku dari Khalikamaya dan membahayakan dirinya, tapi … untuk apa? Aku sama sekali belum mendengar alasannya. Kalau begitu, tidak ada alasan juga bagiku untuk memercayainya kan?
Tapi di sinilah aku, sibuk menuruti segala kemauannya. Aku tidak diberi kesempatan berpikir. Sekarang, setelah punya waktu, segala yang aku lakukan rasanya jadi tidak masuk akal.
Aku seharusnya pergi selagi bisa. Anjani mungkin sudah membebaskanku dari sana, tapi dia bisa saja membawaku ke penjara yang lain, tempatku tidak akan bebas untuk kali kedua. Aku tidak bisa percaya padanya begitu saja.
Tapi aku juga tidak bisa menghentikan diri dari tetap diam di sini dan mendengar alasannya.
Biar bagaimana pun, dirinya dan Khalikamaya … dia mengorbankan hal yang tidak sedikit … untukku yang juga orang asing. Aku juga bukan siapa-siapa. Dia bukan siapa-siapa. Kami hanya sepasang orang asing. Tidak seharusnya Anjani sepeduli itu.
Tapi nyatanya … dia melakukan banyak hal bagi orang yang dikatakannya sebagai … beban. Bagi orang asing yang hanya akan terikat kepadanya lewat misi. Selepas ini, aku akan lepas darinya, tidak punya alasan untuk membantunya kecuali sekadar rasa tanggung jawab. Biar bagaimanapun, aku tidak memintanya untuk melakukan perjanjian itu dengan Khalikamaya sekalipun … mungkin itu diperlukan untuk membebaskanku.
Sandhikala. Jiwa pendosa. Kali. Tujuh purnama.
“Kenapa….” Ketika akhirnya mulutku bisa bicara, aku memutuskan satu pertanyaan yang paling mengganggu untuk diajukan lebih dulu. “Kenapa kamu membebaskanku … dari tempat itu?”
Anjani menaikkan sebelah alis. “Bukannya sudah jelas? Aku dalam misi penyelamatan. Ada orang yang ingin menyelamatkanmu.”
“A-aku tahu, tapi….” Perjanjian Anjani pada Khalikamaya terngiang-ngiang dalam kepalaku. “Kenapa sampai … perjanjian itu, apa kamu yakin sanggup melakukannya?”
“Itu bukan urusanmu.”
Jawaban itu membuatku terperanjat. “Jiwa-jiwa yang kamu sebut itu, bagaimana caramu memberikannya pada—
“Itu juga bukan urusanmu.”
“Tapi kamu melakukannya untuk menyelamatkanku,” sahutku. “Kenapa … sampai berbuat sejauh itu? A-apa tidak ada cara lain….?”
“Kalau aku bilang tidak ada, apa kamu akan berhenti bertanya?”
Aku membelalak. Ekspresi Anjani yang dingin dan tidak tersenyum, serta nada bicaranya yang sama sekali tidak ramah sekarang, sama sekali berbeda dengan ekspresi Anjani yang aku lihat dari awal. Sosok periang itu … ke mana?
“Aku … hanya ingin tahu….” Kedua tanganku terkepal. Aku ingin memalingkan muka. Tidak tahan pada wajahnya itu, tapi aku butuh mendengarnya langsung. Aku butuh tahu alasannya sebelum bisa menuruti apa pun keinginannya lagi. “Kita tidak saling kenal. Kamu hanay terikat misi. Apa harus … menyelamatkanku seperti itu?”
Senyum kembali muncul di bibir Anjani. Tapi bukan senyum yang aku lihat darinya seperti biasa.
Senyum kali ini, masam dan tidak enak dilihat. Dia seperti … sedang menghinaku.
“Kamu tidak setolol yang aku kira.” Anjani menyilangkan kedua kakinya dan bertopang dagu. “Baiklah, aku katakan saja: kebetulan kepentingan kita sama. Jadi aku manfaatkan kepentinganmu di sana. Semudah itu.”
“A-apa maksudnya?” Kepentingan apa?
“Kebetulan saja aku butuh bertemu Khalikamaya dan kebetulan saja kamu jadi tahanannya. Kebetulan kita bertemu. Kebetulan aku mendapatkan misi untuk menyelamatkanmu,” ungkap Anjani. “Tidak lebih dari sebuah kebetulan.”
Anjani mengedikkan bahu. “Jadi aku tidak menyalahkanmu kalau tidak percaya padaku. Karena….” Senyum Anjani semakin sinis. “Aku juga tidak percaya padamu, Damien.”
Kata-kata itu menggemakan rasa sakit ke dalam tubuhku, rasa sakit yang sama seperti rasa sakit yang diberikan oleh para penyiksa di penjara saat mereka menanyaiku. Anjani tidak salah. Biar bagaimana pun, aku tahanan yang hampir dieksekusi mati. Aku bersalah, meski entah apa salahku. Dia memang tidak sepatutnya percaya.
Tapi kenapa … kenapa mendengarnya membuatku sakit?
“Jadi….” Aku memejamkan mata, mengenyahkan semua rasa itu untuk fokus pada apa yang penting. “Aku memang … bersalah?”
“Kalau yang itu, aku juga tidak tahu.”
Hah?
Aku membuka mata lebar, melihat Anjani melirik ke sembarang arah. Ekspresinya tidak lagi menghina. “Semua itu masih dalam penyelidikan. Aku tidak mau berasumsi terlalu cepat.”
“Penyelidikan … maksudmu kamu tidak tahu siapa yang….” Aku menelan ludah. “Menghancurkan … Jayakarta?”
“Bahkan mereka yang menghakimimu tidak seberapa yakin, bukan?”
Entahlah. Saat aku mengingat Khalikamaya dan yang lain, sejujurnya aku merasa mereka begitu yakin. Tapi kalau memang tidak benar … seharusnya Anjani bisa membebaskanku … tanpa perjanjian kan?
“Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkannya terlalu jauh. Itu bukan urusanmu sama sekali.” Anjani mengibaskan tangan, tampak santai pada awalnya, tapi kemudian ia menyeringai. “Atau … kamu mulai cerdas dan sadar semua ini tidak gratis, hm?”
“Gratis … tidak, aku….” Sadar suaraku meninggi, aku kembali mengendalikan diri. “Aku tidak bermaksud … berpikiran lancang seperti itu. B-biar bagaimanapun, kamu menolongku dan….”
“Kamu….” Anjani menukas. “Seberapa banyak ingatanmu yang masih tersisa?”
Sekujur tubuhku kaku saat pertanyaan itu keluar. Seolah aku separuh menantikan dan separuh berharap tidak akan pernah mendengar pertanyaan itu.
Seberapa banyak yang aku ingat?
“Aku tidak yakin….” Jawabku jujur. Kepalaku tertunduk saking lemasnya. “Kadang aku mengetahui beberapa hal yang mengejutkan … aku sendiri tidak tahu kalau aku ingat hal-hal kecil itu. Tapi sebagian besar aku….”
“Kalau begitu biar aku tanya.” Anjani sekali lagi menukas. “Siapa namamu?”
“D-Damien….”
“Nama belakang?”
Nama belakang? Apa itu? Apa aku punya?
Aku menggeleng. “Tidak … tahu.”
“Kamu memang tidak punya.” Apa? “Kamu ingat orang bernama Ira dan Markandra?”
Dua nama itu berbunyi merdu dalam telingaku. Ira dan Markandra … rasanya aku pernah dengar. Dengan ragu, aku mengangguk. “Tapi … aku tidak yakin.”
“Ada hal lain yang kamu ingat dari masa lalumu?” Aku menggeleng. Sekeras apa pun, aku tidak ingat. “Yah, mungkin nanti kalau kamu bersama mereka, kamu akan tahu. Mereka mengaku sebagai temanmu. Mereka yang memaksaku membebaskanmu.”
Daripada semua kenyataan manis yang ia ungkap, ada sesuatu yang lebih menggangguku. “Mengaku….?”
“Kata mereka,” Anjani menjelaskan. “Aku tidak punya waktu untuk menyelidiki. Aku lumayan sibuk. Jadi aku sarankan, Tuan … Anda segera mencari sendiri penyebab kenapa Anda ditawan di Setra Gandamayu.”
Aku mengerjap kaget. “A-apa?”
Anjani mengernyit. “Kamu tidak mengharapkanku menolongmu juga untuk urusan satu itu kan?”
Sejujurnya … ya.
“Astaga!” Anjani menepuk dahinya, seolah tahu apa jawabanku, bahkan sebelum aku bicara. “Aku tidak punya waktu sebanyak itu! Aku ada perjanjian yang harus dibayar sebagai harga untuk membebaskanmu, ingat?”
“Soal perjanjian itu….” Sekarang mungkin waktu yang tepat untuk menanyakannya. “Ka-kalau aku memang tidak bersalah … bukankah kamu tidak seharusnya membuat … perjanjian itu? K-kita bisa serahkan bukti kalau aku tidak bersalah dan….”
Kata-kataku berhenti. Sekali lagi, Anjani memberiku wajah yang menyeramkan itu: wajah tanpa ekspresi. “Kamu benar-benar … tidak tahu apa-apa ya?”
Kata-katanya memukulku sekali lagi.
“Hanya karena kamu dicap bersalah oleh makhluk sekelas Khalikamaya, tidak berarti kamu benar-benar bersalah.” Anjani menjelaskan dengan serius. “Ada makhluk-makhluk yang berperan di balik ini. Aku sendiri tidak yakin kamu yang bertanggung jawab untuk kehancuran sebesar itu.”
Eh? Apa dia baru saja bilang … dia percaya bukan aku pelaku penghancuran Jayakarta?
Tapi … tapi di saat yang sama, dia juga bilang kalau dia belum punya bukti kan?
Aargh! Aku benar-benar bingung harus senang atau sedih!
“Ha-hanya karena itu … kamu berani membuat perjanjian dan membebaskanku?”
Anjani tersenyum miring. “Buat apa hidup tanpa sedikit risiko?”
Risiko … tunggu sebentar … dia tidak mau bilang kalau….
“Lalu … katamu yang memintaku menikah itu….?” Aku bertanya dengan takut. Rasanya aku tidak siap dengan jawaban yang mungkin akan diberikan Anjani.
Anjani memegangi dadanya. “Kamu membuatku sedih….” gumamnya dengan wajah sedih. “Apa kamu pikir sekarang ini kita tidak sedang berkencan?”
***