13. Bertemu dan Bertamu

3903 Words
Sejujurnya, ada begitu banyak pertanyaan di dalam kepalaku. Aku mengerjap, mencoba mengingat warna-warna yang tadi seperinya melintas lagi, tapi terlupa dengan cepat. Semua hal yang memenuhi kepalaku rasanya berdesakan ingin masuk dan tercurahkan. Mereka memenuhi kepalaku hingga aku sendiri tidak bisa bergerak, bicara, ataupun merespons apa pun selama beberapa saat. Setidaknya sampai Anjani bergerak ke hadapan wajahku dan mulai berbicara. “Tempat ini memang kecil, tapi setidaknya kepalamu tidak akan terbentur atap seperti di tempat sempit itu. Bleh!” Anjani menjulurkan lidah dengan jijik, seperti memuntahkan sesuatu. “Aku tidak bisa memikirkan tempat itu berubah lebih baik. Malahan mungkin lebih buruk. Ya, kan?” Di akhir kalimatnya, Anjani menoleh kepadaku. Dengan senyum berseri dan mata penuh rasa penasaran. Aku terlonjak dan sedikit mundur, tidak tahu harus berkata atau bicara apa. Dia tahu begitu banyak, sementara aku tahu begitu sedikit. Setelah apa yang ia lakukan tadi, pikiran itu masuk ke dalam kepalaku begitu saja. Terlebih setelah kami ada di sini, prasangka-prasangka aneh mulai bermunculan di dalam kepalaku. “Ada apa?” Anjani kembali melangkah mendekat. Ia mencondongkan tubuh dan seperti sebelumnya, berusaha melihat wajahku dari bawah. Namun kali ini, aku benar-benar merasa tidak nyaman saat ia mendekat. Aku buru-buru mundur, menutupi sisa-sisa kehormataku dengan rasa malu parah. Aku benar-benar ingin lenyap saja. Bibirku bergetar, hendak mengatakan satu hal saja—satu hal baik, meminta atau membuat Anjani yang sepertinya tidak sadar pada kondisi ini, untuk sadar segera. Tapi segalanya rasanya jadi salah untuk dikatakan sekarang. “Hm … aku kira kamu kebingungan, tapi sepertinya bukan ya….” Kemudian ia sadar ke mana tanganku berada. Aku terkesiap, serta merta mundur satu langkah penuh sambil memekik kaget. Gadis itu serta merta meledakkan tawa. “Astaga, ternyata itu! Maaf, maaf, aku benar-benar lupa!” Anjani lantas melepaskan jasnya. Sambil berjingjit, ia memakaikan jas itu ke bahuku, memakaikannya erat ke bahuku. “Aku tahu ini tidak muat, tapi untuk sementara tutupi saja dulu pakai ini ya.” Wanita itu lantas pergi menuju … pintu. Ah, aku sampai lupa nama pintu karena di alam Niskala tidak ada pintu. “Aku akan kembali sebentar lagi.” Saat sudah membuka pintu sedikit, Anjani kembali menoleh kepadaku. “Diamlah di sini sampai aku kembali dengan baju dan kabar baik, oke?” “T-tunggu— Aku tidak sempat bicara. Anjani sudah keburu menutup pintu, meninggalkanku sendiri, dengan jasnya masih ada di bahuku. Tanganku menggenggam jas itu, merasakan lembut tekstur pakaian itu di tangan. Aroma harum aneh masih tertinggal di jas itu. Harum menenangkan yang beberapa kemudian aku tahu, berasal dari bebungaan yang telah lama hilang dari alam Sekala. Bunga yang konon hanya tumbuh di daratan paling tinggi tempat sinar matahari hanya bisa menyambanginya seminggu dalam setahun. Aroma itu kelak selamanya akan mengingatkanku kepada Anjani. Aku melirik jas itu, melepaskannya sejenak. Aku sedikit terperanjat saat melihat ada … jendela di dinding. Perlahan, aku mendekatinya, lalu lega karena jendela itu tertutup tirai. Tidak ada orang yang mengintip. Tidak mungkin ada. Aku melirik ke bawah. Tempat ini rupanya ada di tanah yang cukup tinggi. Tidak mungkin ada orang yang bisa melompat dari sana sampai ke jendela kan? Lega karena tidak ada ancaman, aku menoleh ke depan. Pintu di depan sana juga ditutup oleh Anjani. Aku benar-benar sendirian. Kuamati jas di tangan. Aroma harum perlahan mulai hilang dari jas itu. Dan tidak perlu waktu lama bagiku untuk melihat apa penyebabnya. Noda-noda hitam mengotori bagian dalam jas itu. Meski bagian dalam jas itu sendiri juga gelap. Aku mengelap punggung, melihat kotoran hitam yang sama menempel di tangan. Ada bau busuk menguar dari sana. “Aku merusaknya….” gumamku tenggelam dalam rasa malu yang seolah tanpa ujung … sampai kemudian aku tersentak dan ingat. Aku menengok ke pintu yang tertutup dan jas di tanganku. Satu informasi kembali melintas di benakku. “Anjani … apa dia … bawa uang?” Hal itu membuatku kepikiran sejenak. Tapi karena tidak kunjung menemukan jawaban, aku menyerah. Mungkin Anjani membawa uang. Gadis itu pergi dengan bebasnya lewat pintu depan, bahkan tanpa beban, aku hanya bisa mengartikan jika ia tidak merasa akan ada masalah apa pun. Dia pasti membawa uang. Ya, kan? Sadar sudah sekali lagi memikirkannya, aku menggelengkan kepala. Mencoba mengenyahkan pikiran itu. Kemudian, aku kembali menatap jas di tangan. Sebersit pikiran melintas di benakku. Diam-diam, aku mencoba memasukkan tangan ke dalam jas itu. Hanya satu tangan. Separuh lenganku tersangkut di jas itu. “Tidak muat.” *** Seorang gadis menangis sendirian. Dia duduk di atas dipan, merenung dengan kepala tertunduk. Bahunya bergetar. Di hadapan jendela yang tertutup, suara tangisannya tersamarkan di tengah-tengah simfoni malam yang bernyanyi di luar sana. Tapi aku mendengarnya. Tidak peduli sekeras apa pun ia mencoba menyembunyikan isak tangis itu, aku selalu bisa mendengarnya. Sejauh apa pun aku darinya, tidak peduli seberisik apa pun suara di luar, aku selalu bisa mendengarnya menangis. Suara itu menggangguku siang dan malam. Tidur maupun terjaga. Kenyang maupun lapar. Membuatku sakit lebih dari tikaman keris dan kujang ke tubuh ini. Jadi kali ini aku tidak bisa mendiamkannya. Ini kali terakhir. Aku mengetuk pintu. Kemudian semua kejadian seakan kembali diulang di depan mataku. Kejadian yang selalu terjadi tatkala aku memergokinya menangis seorang diri di kamar: ia akan berhenti menangis, menghapus air mata, lalu berbalik kepadaku dengan mata berair sambil tersenyum hangat. Ketika aku membuka pintu, suara lemah lembutnya menyapaku. Menghidupkan malam-malamku. “Selamat malam, Kakanda,” sapanya seperti biasa. Aku tidak pernah sadar betapa hampa siang dan malamku tanpa senyumannya. Aku selalu berpikir semua berjalan sesuai takdir, tidak perlu ada yang ditangisi. Tapi mendengar suaranya, melihat senyum bahagianya, dan berada bersamanya, membuat semua hari-hariku di masa lalu tampak menyedihkan. Aku duduk di dipan, tepat di sisinya. Maaf. “Eh? A-ada apa? Tidak biasanya Kakanda— Kamu selalu menangis. Setiap malam. Tanganku terkepal saat kata demi kata yang telah lama terpendam dalam hati akhirnya keluar. Kenapa kamu seolah tidak ingin aku tahu kamu menangis? “Sa-saya tidak ingin membebani Kakanda lebih dari ini.” Sambil bersimpuh menghadapku, ia menundukkan kepala. “Kanda sudah memiliki banyak sekali masalah di luar sa. Ti-tidak pantas rasanya jika saya ikut membebani pikiran Kakanda dengan masalah remeh temeh … lainnya … seperti ini.” Kesedihanmu bukan masalah remeh temeh. Aku duduk menghadapnya. Terbuka pada setiap masalah. Saling percaya dan saling membantu. Saling menyayangi dalam kasih dan cinta. Bukankah itu tiga janji kita saat menikah? Gadis itu terdiam. Aku pantas ditampar jika sampai membiarkan istriku berlarut-larut dalam kesedihan terlalu lama. Tanganku menyentuh pipinya. Kehangatan menjalar lewat tanganku. Kehangatan yang aku rindukan setiap kali kami berpisah. Apa gerangan yang sudah membuatmu bersedih, Dinda? Boleh aku mendengarnya? Ia masih bergeming. Mulutnya terkunci. Gadis ini selalu terbuka pada semua masalah. Jika ia sampai tidak bisa menjawab, artinya masalah ini tidak bisa dikatakan langsung di hadapanku. Dan hanya ada satu masalah seperti itu di antara kami, sampai detik ini. Apa alasanmu menangis … adalah mendiang ibumu? *** “Damien? Aku terlonjak kaget. Mataku mengerjap, menutup dan membuka dengan cepat saat cahaya masuk. Eh? Aku … mataku tertutup? Aku tertidur? Dengan linglung, aku membuka mata. Anjani sudah duduk di hadapanku. Bersimpuh. Ia mencondongkan badan, berusaha mengintipku dari bawah, seperti sebelumnya. Aku berjengit menghindar, tapi langsung terkesiap akibat rasa pening yang tiba-tiba menyerang. “Kepalamu sakit?” tanyanya, dan aku mengangguk. “Yah, wajar. Siapa pun akan langsung sakit kepala jika tidur sambil duduk tegak sepertimu.” Eh? Apa? Aku yang sudah separuh tersadar segera mengedarkan pandang. Ruangan yang ada di sekelilingku masih sama seperti yang terakhir kali aku ingat. Ruangan dengan dinding luas dan langit-langit yang tinggi. Dan aku … duduk di atas dipan. Aku memejamkan mata tadi … benarkah aku tertidur? Kepalaku menunduk dan melihat selembar kain yang digunakan Anjani. Kain itu sudah kotor luar biasa berkat keberadaanku. Aku benar-benar tidur di tempat ini? Benakku mencoba menggali-gali ingatan. Kenapa aku bisa tidur sambil duduk di tempat ini? Sayang, seperti banyak hasil, usahaku nihil. Tidak membuahkan banyak hasil. Aku tidak ingat banyak hal. Aku hanya ingat sedang mencoba jas milik Anjani dan tidak muat. Oh ya, jas itu!  Aku memandangi tangan dengan panik, melihat kekosongan di sana seperti melihat kembali wujud Khalikamaya di depan mata. Aku mengedarkan pandang sekali lagi, lebih panik, tapi rupanya tidak perlu jauh melihat. Jas itu ada di dekat Anjani. Di samping kakinya, berubah bentuk menjadi bola kain kusut. “Kamu mencari jas itu?” Anjani menunjuk kain itu dengan wajah jijik yang tidak disembunyikan, membuatku malu luar biasa. “Benda itu harus dicuci. Kamu juga tidak bisa memakai benda itu kalau mau keluar, untuk apa mencarinya?” Dia benar, tentu saja. Tapi jas itu jadi kotor karena kesalahanku juga. Mana mungkin aku mengalihkan pandang dari hal ini begitu saja? “A-anu….” Anjani menatapku lagi. Serta merta aku gugup. Mata birunya … tampak semakin indah di kondisi terang seperti ini. “Jas itu, milikmu … untuk jasnya….” “Ah, tidak perlu ganti rugi!” Anjani mengibaskan tangan. Topik yang dibahasnya jauh berbeda dari topik yang ingin aku bahas. “Aku tahu kamu pasti tidak membawa uang sama sekali, jadi aku akan minta ganti rugi ke mereka saja nanti.” Telingaku berjingkat. “Mereka?” Pertanyaan itu membuatku ingat sesuatu, sebuah hal penting yang sampai tadi tidak aku pikirkan. “A-Anjani….” Gadis itu menoleh ke arahku. Sekali lagi aku gugup. “A-anu … namaku … kamu kenal aku….?” “Oh, soal itu.” Anjani kelihatannya tidak begitu terkejut. “Aku mendapat misi untuk menyelamatkanmu. Ada beberapa orang yang ingin kamu selamat dari sana, jadi aku mengenalimu dari berkas-berkas yang mereka berikan.” Itu menjawab satu pertanyaan, aku sadar. Namun menyisakan lebih banyak lagi pertanyana yang tidak terjawab. “Menikahlah denganku!” Mendadak saja aku teringat kata-kata itu dan terkejut sendiri. Rasa malu dan bingung menelanku bulat-bulat. Degup jantungku bertalu-talu sangat kencang. Dan di tengah ruangan ini, aku hanya bis berharap ia tidak mendengar degup jantungku. Menyelamatkanku … apa maksud pernyataan dan perjanjian di sana itu … untuk menyelamatkanku? “Dalam waktu tujuh purnama, saya akan membawakan Anda jiwa-jiwa pendosa yang membuat kekacauan di Sekala.” Sungguh? Anjani menyelamatkanku sampai membuat perjanjian dengan … Khalikamaya? Itu bukan perjanjian yang mudah kan? “Setara dengan dosa yang ditanggung pria ini.” Jiwa-jiwa. Apa maksudnya Anjani bermaksud membawa jiwa-jiwa itu ke sana? Bagaimana caranya? “Yak, ini dia!” Kebingunganku diganggu oleh satu setel pakaianyang dilimpahkan ke dalam pelukanku. Di hadapanku, Anjani tersenyum. “Pakaian baru untukmu.” Aku mengernyit saat mencium aroma debu dari pakaian itu. Dan meringis saat melihat pakaian itu berubah jadi sama kotornya saat menyentuh tubuhku. “Pakai itu untuk sementara. Tidak masalah kalau kotor, yang penting masih layak dipakai.” Anjani menyuruh. “Cepat pakai dan mandi keluar. Aku sudah membeli sabun. Dan Sapta sudah menunggu.” “Sapta….?” Siapa lagi itu? “Dia jongos milikku.” Anjani menepuk-nepuk pakaian itu. “Ayo cepat, pakai!” Anjani lantas bangkit berdiri, menghampiri satu kotak yang tergeletak di salah satu sudut ruangan. “Ah, aku sudah tidak sabar berbelanja!” Melihat Anjani kelihatannya tidak ingin membahas lebih lanjut dan merasa mungkin … siapa pun Sapta yang akan aku temui ini, akan aku temui nanti, aku pun memakai pakaian itu. Kemeja dan celana. Sambil berkali-kali meminta maaf pada siapa saja yang mau mendengarkan, aku pun memakai jas itu dalam diam. Angin dengan lembut berembus di dalam kamar. Aku menoleh, tepat ke arah angin itu berembus. Tirai jendela berayun lembut, memeprlihatkan cahaya terang yang lembut menembus ke dalam kamar. Cahaya seperti itu sebelumnya tidak pernah ada. Melihatnya sekarang terasa bagai keajaiban. Lembut dan temaran. Aku mengerjap, mendadak kebingungan sendiri. Apa … selama tertidur  tadi aku bermimpi? *** Seseorang yang bernama Sapta rupanya adalah seorang pemuda. Dia menunggu di depan pintu kamar dan diam di sana pada saat Anjani membuka pintu. Di sekelilingnya, anak-anak berlarian membuat kegaduhan kecil, tapi ia seolah tidak terpengaruh. Ia tetap berdiri diam dan kaku di depan pintu. “Se-selamat … sore….” Sesaat, aku ragu pada ucapan yang seharusnya aku berikan. Aku sampai melihat sekeliling dan menguping beberapa pembicaraan sebelum menyimpulkan kata-kata itu dan menyampaikannya kepada Sapta. “A-Anda yang bernama Tuan … Sapta?’ “Ya.” Dia mengangguk sopan. Tanpa senyum, tapi juga tidak terlihat galak. “Tapi tidak perlu pakai Tuan. Saya bukan priyayi.” Apa itu priyayi? Aku ingin sekali menanyakannya, tapi kemudian terfokus pada beberapa hal lain. Tinggi Sapta lebih dari Anjani, tapi tetap lebih pendek dariku. Dan ia juga kelihatan lebih muda dari Anjani. Di kulit lehernya yang gelap, aku melihat beberapa bekas luka. Aku hendak bertanya, tapi mata Sapta yang melotot mendadak membuatku mengurungkan niat. “Maaf.” “Tidak apa-apa.” Sapta mendebas. “Saya hanya merasa kurang nyaman ditatap seperti itu.” “O-oh … sekali lagi ma— “Hai!” Anjani tiba-tiba menyeruak di belakangku. Membuatku kaget dan terlonjak, nyaris membenturtubuh Sapta yang berdiri tidak sampai satu langkah di hadapanku. Wanita itu kelihatannya tidak sadar dampak perbuatannya karena dia dengan ringan dan senyum cerah kemudian memandang ke arah kami berdua. “Kalian sudah mandi?” “Belum,” Sapta seketika tampak gugup. “Kami baru saja … akan mandi. Benar kan?” Pemuda itu mengirimiku tatapan aneh. Sedikit tampak ketakutan. Aku menangkap kode itu dan mengangguk cepat-cepat. “Oh, baiklah, aku anggap kalian hanya berkenalan di depan pintu masuk dan menghalangi orang-orang,” ucap Anjani, mengindikasikan bahwa ia tahu kami sedang berbohong. Gadis itu segera memandang Sapta. “Sekarang, bisa kamu temani dia sebentar, Sapta? Sekadar memberi saran untuk membersihkan diri agar aku tidak malu membawanya nanti?” Sapta mengembuskan napas berat. “Ya, aku paham.” “Bagus!” Pintu pun kembali membanting menutup. Apa ini hanya sekadar perasaanku atau … Apa … apa dia Anjani marah? Aku menoleh pada Sapta, hendak menanyakan ini, tapi pemud aitu sudah emngisyaratkan kepadaku untuk mengikutinya. Sekali lagi, pertanyaan yang tertunda. “Kenapa kamu diam saja di sana?” Sapta berhenti di tengah lorong dan menatapku heran. “Ayo, kamar mandinya ada di sebelah sana!” Ia menunjuk satu arah jauh di sana. “Di sana?” “Kenapa? Apa kamu baru kali ini … ah, tidak, maafkan aku.” Sapta mengoreksi. Lalu kembali menunjuk arah yang sama. “Kamar mandi di tempat ini terpisah. Kamu ingat caranya mandi kan?” Untuk pertanyaan itu, aku sendiri tidak yakin. Sapta tampak memijat pelipis, lalu berbalik memunggungiku. “Aku akan ajari caranya. Ayo!” *** “S-Sapta … apa ini diperlukan?” “Apa?” Aku menengok ke belakang dengan canggung, ke hadapan laki-laki yang berdiri menjaga pintu kamar mandi. Ia bersikap tenang, berwajah tenang, dan tidak memandang ke mana pun selain wajahku, tapi keberadaannya seorang sudah membuatku risih setengah mati, terutama dalam keadaan seperti ini. Rasanya air yang menghujani tubuhku jadi lebih dingin dari biasanya. “Ka-kamu ada di sini…..” ucapku. “Apa kamu … tidak nyaman?” Sapta malah menyipitkan mata. “Kenapa?” “Err….” Bagaimana caranya menyampaikan hal ini tanpa terdengar memalukan? “Kalau maksud Anda saya akan malu karena menatap Anda di sini dan berada bersama Anda di dalam kamar mandi yang sama….” Dengan ringan, Sapta menjabarkan semua kenyataan yang aku rasa terlalu memalukan untuk dikatakan. “Tidak juga.” Eh? “Sungguh?” “Saya sudah biasa melihat badan laki-laki. Kita sama-sama laki-laki kan?” Dia tidak salah juga, memang. Tapi…. “Lagipula milik Anda tidak seberapa.” “Hah?” Apa dia baru saja bilang sesuatu? “Milik saya….?” Sapta menundukkan pandang. Aku melihat ke arah mana matanya menunjuk dan langsung malu sendiri. Buru-buru aku berbalik dan menutupi sisa-sisa kehormatanku. Kali ini sambil memberi jarak yang sedikit lebih jauh dari sebelumnya. Sapta berdeham di belakangku. Sebelum berpaling, aku melihatnya memalingkan muka juga. Pipinya sedikit memerah. Buru-buru aku mengambil satu gayung air lagi dan membilas seluruh badan dengan air itu. “Sabunnya yang sebelah kiri ya.” Sapta berkata di belakang. “Yang lebih besar. Tolong jangan sampai salah. Yang lain dipakai beramai-ramai.” Aku membuka mata dan melihat sabun yang ditunjuk Sapta dengan mudah. Warnanya benar-benar putih dan wangi. Sapta sudah menjelaskan cara pakainya dengan menggosok-gosokkannya ke badan dan sejauh ini aku sudah paham. Tapi melihat sabun yang kecil di sebelahnya membuatku sedikit penasaran. “Err … kenapa tidak pakai sabun yang kecil? Bukankah lebih bagus jika … berbagi?” “Kamu mau berbagi sabun dengan entah berapa orang yang kena panu dan kurap di sini?” Aku mengerjap. Rasanya kata-kata itu bernada buruk, tapi aku … tidak begitu ingat apa itu panu dan kurap. “Aku rasa … tidak.” “Yah, sebaiknya jangan ambil risiko,” Sapta menyetujui. “Walaupun aku tidak tahu apakah Siluman juga bisa kena kurap….” Apa … aku harus berpura-pura tidak mendengar kata-katanya yang terakhir? *** “Kamu yakin baju ini tidak akan kenapa-kenapa?” Aku menciumi baju yang sekarang melekat kebesaran di tubuhku. Nyaris saja celanaku melorot. Ujungnya harus dilipat agar tidak kotor diinjak-injak. Aroma busuk sisa tubuhku yang belum mandi bercampur dengan aroma wangi tubuhku setelah mandi. Bukan perpaduan yang paling bagus. “Tidak masalah. Baju itu akan dibuang juga pada akhirnya.” “Eh?” Bagaimana bisa dia mengatakan sesuatu setenang itu? Apa dia sudah biasa membuang pakaian? Di tengah lorong yang ramai, Sapta berhenti. Seorang anak terpaksa harus berbelok dan mengomel saat ia berhenti. Aku mengambil posisi agak di dekat tembok agar tidak menabrak siapa pun. Sapta menelengkan kepala. “Kenapa? Anda terlihat heran.” Rupanya ekspresiku tidak lolos dari pengamatan Sapta. “Soalnya … baju ini … punya Anjani … kan?” “Tidak juga.” Sapta mengibaskan tangan. “Paling-paling baju itu didapatkan Anjani dari tempat sampah paling dekat yang bia ia raih.” Dia tidak serius kan? Baju ini mungkin berbau apak saat aku dapatkan, tapi tidak berbau seperti sampah. “Anda butuh baju yang layak jika ingin pergi ke toko baju.” Sapta menambahkan. “Membeli baju baru memang tujuan Anjani hari ini, jadi untuk apa baju yang bagus untuk jalan ke toko? Itu hanya membuang-buang anggaran.” Tadi dia bicara dengan mudah soal membuang baju, tapi sekarang ia bicara banyak soal uang. Aku tidak begitu paham, tapi rasanya ucapan itu sedikit bertolak belakang. Seperti tidak konsisten. Pintu salah satu kamar terbuka. Kamar Sapta. Dari dalamnya, Anjani keluar dengan satu setel baju baru. “Hai, wah kalian sudah selesai rupanya!” Secara keseluruhan, tampilannya masih sama: kemeja, jas biru, dan celana hitam. Tapi aroma wangi yang harum darinya memberiku kesan yang berbeda. Anjani juga sepertinya sudah sedikit berdandan. Bibirnya tampak lebih merah dari biasanya, memberi sentuhan yang unik pada penampilannya, membuatnya menjadi perpaduan antara cantik dan … tampan. “Aku sudah siap dan sudah mengambil dompet, jadi ayo kita berangkat!” Anjani menatapku, lalu menoleh ke arah Sapta. “Kamu tidak perlu ikut, tidak apa-apa kan?” “Tidak masalah.” Sapta mengangguk, lalu masuk ke kamar, tepat setelah Anjani melangkah keluar. Ia menatap kami berdua bergantian dan mengangguk sekilas. “Hati-hati di jalan.” Kemudian pintu pun menutup di depan kami. Detak jantungku menjadi lebih kuat. Meksi kami ditinggalkan di lorong yang ramai tempat berjalan saja rasanya sudah mustahil tanpa membentur seseorang, ditinggalkan berdua dengan Anjani tetap terasa … entahlah. Aku tidak bisa mengartikan perasaan ini. “Siap berangkat?” Anjani menengok ke arahku. Dan yang bisa aku lakukan hanya mengangguk. “Kalau begitu, ayo!” *** Aku mendongak menatap langit biru yang cerah di atas kepala. Bukan warna merah. Awan … awan yang berarak di langit berwarna … putih. Bukan hitam. Benar-benar berbeda. Segala hal di sini berbeda. Terasa sangat asing tapi juga … ada sesuatu yang mengatakan di dalam diriku kalau semua ini bukan hal aneh. Semua ini … seolah pernah singgah dalam hidupku. Aku memandangi sekitar kami yang ramai. Jumlah manusia paling banyak yang pernah aku saksikan. Manusia dalam berbagai bentuk, usia, dan ukuran, memenuhi jalan. Berambut hitam maupun pirang. Berkulit putih maupun coklat. Bermata gelap maupun terang. Tua dan muda, laki-laki … dan perempuan. Semua berbaur dalam ruang lingkup luas yang belum pernah aku lihat. Dan mendapati diriku mengetahui semua ini adalah yang paling aneh. Dari mana aku tahu mereka Manusia? Dari mana aku bisa mengenali begitu bayak warna, hal, dan penampilan mereka … padahal aku sebelumnya hampir tidak mengenal apa-apa? Bagaimana bisa aku tidak merasa aneh sedikit pun pada hal ini seolah … semua ini sudah menjadi bagian dari hidupku? Bagian dari ingatanku….. “Memikirkan sesuatu?” Anjani berhenti berjalan dan menoleh kepadaku. Aku buru-buru menggeleng. Senyum membayang di wajah Anjani. “Tidak perlu malu.” Ia berputar menghadapku dan memilih bersandar ke tembok. “Aku mungkin akan jadi satu-satunya kesempatanmu untuk mengetahui beberapa hal, lho.” Kata-kata itu mengingatkanku pada kondisiku sendiri. Perjanjian, alam Niskala, Khalikamaya, ingatan-ingatan, ingatanku yang tidak pulih, dan … satu hal yang tetap tidak kembali ke dalam diriku walau segalanya sedikit bertambah jelas sekarang. Alasanku ditahan di sana. Benar juga. Sejak datang ke alam ini, aku sama sekali tidak bertanya. Aku terlalu enggan, tanpa memikirkan kemungkinan bahwa ini bisa jadi adalah kesempatan pertama sekaligus terakhir bagiku. Aku tidak bisa berdiam diri. TIdak jika aku ingin dapat jawaban yang lengkap. Jawaban dari semua pertanyaanku. “Ada banyak … hal yang membuatku bingung.” Aku mengakui. Terdiam di pinggir jalan, tidak seberapa jauh dari tempat yang ditinggali Sapta yang ternyata adalah sekumpulan tempat tinggal yang terlalu kecil untuk begitu banyak manusia, kami akhirnya berbicara. Ini kesempatanku. Satu-satunya, mungkin. “Aku … tidak mengerti diriku sendiri….” “Misalnya?” Aku menunduk memandangi kaki sendiri. Sebelah kakiku tidak memakai sepatu karena bentuknya aneh. Bentuknya seperti cakar di tangan Anjani. Sementara dua kaki Anjani memakai sepatu. Itu salah. Sesuatu dalam diriku bilang, itu salah. Lalu aku mulai bertanya-tanya dari mana kiranya aku mendapat pemikiran seperti itu. Dari mana juga aku tahu soal sepatu. Tapi percuma. Aku tidak bisa menemukan jawaban apa pun di ujung pertanyaan itu. “Ah, maksudmu kakimu? Jangan-jangan … kamu tidak tahu—ah, maksudku kamu lupa—kalau kamu ini apa?” Jawaban atas pertanyaan itu … aku sendiri tidak yakin. “Kamu Siluman.” Kata itu menyentakku, membuatku mendongak menatap Anjani yang kini memandangiku dengan sorot … aneh. Dia tidak tersenyum. Matanya menatapku dengan sorot yang … tidak bisa aku artikan selain dari menghina. Merendahkan. “Silu-man?” ulangku, merasakan tusukan asing dari kata itu ke tubuhku. “Apa itu….?” Anjani mendongak, menatap langit biru di atas kepala. “Entahlah … kamu menanyakan pertanyaan yang tidak bisa dipecahkan oleh ahli mana pun.” Suara Anjani berubah seperti menggumam. Ia bersedekap, sementara pandangan matanya … seperti memandang sesuatu yang lain. Aku mendongak menatap ke langit yang sama. Mataku menyipit karena silau matahari. “Siluman lahir dari sebuah fenomena yang tidak bisa dijelaskan,” jelas Anjani. “Orang tua Manusia, tapi yang lahir justru bukan sepenuhnya Manusia. Tepatnya, Manusia dengan organ Asura di tubuh mereka. Juga memiliki kekuatan mereka. Bahkan … memiliki sebagian atma mereka.” “A-atma?” “Pancaran jiwa.” Anjani menatapku lagi. Ia tersenyum. Kemudian aku melihat sulur-sulur merah keluar dari tubuhnya. Mengelilinginya. Hal yang sama juga terjadi kepadaku. Sulru-sulur merah dan biru keluar dari tubuhku. “Kamu bisa melihatnya juga kan? Cahaya yang keluar dari tubuh semua makhluk?” “Makhluk….?” gumamku. Kemudian aku terkesiap. “Darimana kamu tahu kalau aku bisa….” “Kalau kamu kehilangan fokus begitu sering, tidak sulit bagiku untuk mengetahuinya,” jawab Anjani dengan mudah. Kedua tanganku mengepal. “A-aku tidak mengerti … bagaimana bisa aku mengetahui soal atma, tapi tidak soal alasanku ditahan!” ujarku sedikit meninggi. “Kenapa aku ada di sana, sejak kapan aku ada di sana, kenapa aku seperti ini, semua hal-hal yang penting … tidak ada yang aku ingat. Tapi … tapi di sini … beberapa hal yang tidak aku mengerti … justru— “Kamu mengetahui beberapa hal, bukan? Sesuatu yang sepertinya detail-detail kecil?” “Ah … ya….” Dari mana ia tahu? “Itu bukan hal aneh. Malahan, itu pertanda bagus.” Anjani menyeringai. “Benarkah?” Aku sedikit segan. Seringai Anjani … tidak menyentuh matanya. “Ya. Penjara Batu Hitam memang memiliki kemampuan untuk menyerap semua ingatan para tahanannya. Dengan cara itu, para penjaga seperti Dhaksa dan Angkara bisa menyiksa para tahanannya,” jelas Anjani. “Tapi ingatan tidak bekerja dengan cara seperti itu. Sekeras apa pun mencoba, hal yang sudah tertanam jauh di dalam kepala tidak akan begitu mudah hilang.” “Seperti … hal-hal kecil?” “Benar. Seperti sepatu, warna, penampilan, beberapa hal yang terlalu melekat pada ingatan, tidak akan hilang sekalipun semua hal lain hilang. Bisa dibilang, itu sudah menjadi bagian dari sukma. Jiwa.” Sukma? “Ada kemungkinan ingatanmu tidak akan begitu lama pulih.” “A-apa ada cara memanggil ingatanku lagi?” “Ingatan itu bukan anjing peliharaan yang bisa dipanggil.” Anjani mendekat, menyentil dahiku. “Selama ada sesuatu dalam dirimu yang tidak mengizinkanmu mengingatnya, kamu tidak akan ingat.” “Sesuatu dalam diriku … tapi aku mau mengingat semuanya!” “Jangan begitu yakin.” Anjani menunjuk dadaku. “Biar bagaimanapun, dalamnya hati tidak bisa terukur. Hal yang sama juga berlaku pada jiwa.” Setelah Anjani menarik diri, aku menyentuh d**a sendiri. Merasakan degup membara di sana, baik untuk Anjani maupun … ah, benar. Seperti kata Anjani. Ada sesuatu dalam diriku sendiri yang aku saja masih tidak bisa mengerti. Sesuatu yang berdiam di dalam tempat tergelap yang tidak aku kenali. Seolah tidak tersentuh sampai detik ini. “Damien! Jangan bengong saja!” Saat sadar, Anjani rupanya sudah dua langkah di depanku. Dia sudah berjalan lebih dulu tanpa bilang-bilang! “Ayo cepat! Aku sudah buat janji yang tidak bisa dilanggar di toko baju!” Terlepas dari siapa yang membuat janji dengannya atau toko mana yang akan aku datangi nanti, aku tidak punya keraguan sedikit pun Anjani sedang berusaha menolongku. Ia bukan orang jahat. Tapi aku juga bukan orang yang pintar. Bahkan aku melupakan satu hal penting. Satu hal yang membuatku bisa bebas dari alam Niskala. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD