12. Perjanjian dan Pergi

3864 Words
Cahaya terang memenuhi pandanganku. Bukan merah ataupun biru. Cahaya yang benar-benar lain, bebas dari segala warna, berkilau lebih terang dari apa pun yang aku kenal. Tidak seperti warna merah yang sebelumnya, ketika warna ini memenuhi sekelilingku, rasanya sama sekali tidak panas. Tidak dingin, tidak menyesakkan. Aku hanya merasa … kedamaian. Atma, aku menyadari. Cahaya di sekelilingku adalah sekumpulan atma dalam jumlah besar. Namun atma itu tidak berwarna merah ataupun biru. Atma di sekeliling kami berwarna emas. Rasanya hangat. Eh, tunggu. Tidak, ini bukan kehangatan karena atma! “Mohon jangan begitu terburu-buru begitu, Khalikamaya.” Wajahku kembali memanas dan degup jantungku kembali menderu dentam ketika sadar sedang apa aku sekarang. Pundak gadis itu ada di depan wajahku. Pundaknya yang kecil dan ramping, tepat ada di depan bibirku, sementara bibirnya yang berbicara tanpa ragu itu ada di dekat telingaku. Lengannya melingkari tubuhku erat sementara tanganku sendiri, entah sejak kapan balas melingkari pinggangnya. Memeluknya. Ini memalukan. Aku yang lebih besar darinya. Seharusnya bukan dia yang menarik dan memelukku begini. Kenyataan semakin terasa memalukan saat aku sadar, tubuhku tidak seperti dirinya. Gadis itu berpakaian lengkap dengan … kemeja … jas … dan celana. Sementara aku … tubuhku tidak memakai apa pun … karena itulah aku terbakar. Karena itulah rasanya panas sekali di sini. Tapi kenapa aku bisa begitu mudahnya memeluk gadis ini seolah ini bukan apa-apa? Ke mana rasa malu dalam diriku?! “Tenang saja.” Gadis itu berbisik lagi, membuat degup jantungku semakin cepat. “Semua ini akan selesai sebelum kamu membuka mata.” Bisikannya … sekujur tubuhku merinding dibuatnya. Oh, tidak, apa aku baru saja meringis? Di hadapan seorang gadis, aku meringis seperti anak kecil? Sekarang … aku merasa lebih baik mati saja di sini. “Maaf, Khalikamaya.” Gadis itu berkata lagi, bukan kepadaku. “Tapi saya butuh pemuda ini hidup-hidup.” Suaranya berubah tenang. Penasaran, aku pun mendongak, menatap gadis itu. Senyumnya berubah. Aku tidak bisa mengartikan senyum itu. Senyumnya tampak bahagia, tapi entah kenapa kedua mata birunya—mata biru yang berpendar itu, kini tampak sedih. Dari atas kepala kami, terdengar bunyi berderak yang aneh. Aku mendongak, baru menyadari jika palu raksasa milik makhluk bernama Khalikamaya itu masih ada di atas kepala kami. Aku menelan ludah dengan takut. Ancaman rupanya belum usai. Namun saat menoleh ke sekeliling, rupanya makhluk-makhluk merah yang sebelumnya mengelilingi kami telah tiada. Sepenuhnya kosong, meski tanah di bawah kaki kami masih sama merah dan panas membara. “Tidak bisakah kita bicarakan ini baik-baik?” Gadis itu berujar lagi. Tangannya mengelus rambutku. “Tahananmu tampak tidak tahu menahu dengan dakwaan dia di sini.” Sementara rasa hangat kembali menjalar ke wajah, aku menyaksikan palu itu bergetar. Atma emas yang tadi menutupi pandanganku, kini kembali muncul. Mereka mengelilingiku, menyelubungi palu itu. Mataku mengikuti arah cahaya itu, terus mengikuti sulur-sulurnya yang menari-nari hingga akhirnya sadar, gadis yang tengah mendekapku inilah sumbernya. Cahaya emas nan hangat ini berasal dari dirinya. Aku terperangah. Aku tidak salah ingat … aku juga tidak merasa salah lihat. Aku ingat betul tadi warna cahaya dari gadis ini merah. Bukan putih. Kenapa sekarang cahaya dari tubuhnya berwarna putih? Apa ingatanku sekali lagi menipuku? Aku menatap diri sendiri untuk memastikan. Atma yang keluar dari tubuhku masih berwarna biru. Tapi jika dibandingkan dirinya, atma dari tubuhku benar-benar kecil.  “Atma ini … milikmu?” tanyaku, ragu-ragu. “Atma emas ini….” Gadis itu melirik sedikit kepadaku. Ia tersenyum, lalu kembali mendongak ke arah Khalikamaya. “Astaga, sudah berapa lama Anda mengurungnya di sini?” tanyanya. “Lihat ini? Penjara batu hitam pasti sudah memeras otaknya sampai tidak bersisa.” “Itu hukuman yang pantas bagi para pendosa.” Khalikamaya bersuara. Gema dalam nada bicaranya masih menakutkan. Menggetarkan tanah. Jika dibandingkan penderitaan yang mereka sebar, semua ini tidak ada apa-apanya. Tapi kamu dengan lancang memulihkannya.” Apa? Terpancing oleh kata-kata itu, aku pun menggerakkan tangan dan kaki perlahan. Keduanya masih terbelenggu, tapi aku menyadari ada yang terasa berbeda sekarang. Mereka tidak lagi terasa sakit. Tidak ada lagi anggota tubuhku yang terasa sakit. Aku menatap bercak-bercak darah di jari dan tanganku, lalu menyentuhnya. Tidak ada lagi luka di balik bercak darah itu. Luka-luka yang tadi masih ada … lenyap seketika. Bagaimana bisa? “Ah, maaf, sudah lama tidak beraksi membuatku belum bisa mengendalikan diri.” Gadis itu berkata dengan mudahnya. “Tapi setidaknya saya tidak merusak apa pun di sini termasuk Anda.” Sulur-sulur atma membelaiku. Dengan sapuan hangat, mereka menyentuh kulitku. Tanganku meraih, mencoba menggapainya. Cahaya itu tidak bisa aku genggam. Tidak bisa aku raih lebih dari sebatas menyentuh kehangatannya, tapi mereka benar ada di sana. Mereka nyata. Atma emas ini nyata. Takjub, aku pun menengok gadis yang tengah mendekapku. Cahaya putih yang berasal darinya ini … apa? Kenapa cahaya ini bisa menyembuhkanku? Siapa gadis ini? “Dan itu membuatku bertanya-tanya, Khalikamaya.” Gadis itu berujar lagi. “Kenapa kamu menahan Siluman ini begitu lama di sini?” Dia menyeringai. “Apa kamu … jangan-jangan tidak bisa menyiksanya dengan karma karena dia tidak bersalah, hm?” Sesuatu tiba-tiba menyambar lengan gadis itu. Tubuhku bergerak mundur karena terkejut pada embusan angin mendadak yang muncul di sekeliling kami. Kakiku limbung, tapi lengan gadis itu menangkapku dengan cepat, mencegahku jatuh dan membuat luka baru. Aku berdiri tegap kembali dan mendongak. Dan mendapati diriku membeku karena kaget. Tangan kanan gadis itu teracung di udara. Terikat oleh cambuk hitam yang pernah kulihat sebelumnya. Aku bisa melihat tangannya berubah bentuk dan terpuntir perlahan. Darah memercik dari sana. Tangan gadis itu bergetar. Aku memekik, tapi di lain pihak, alih-alih meringis kesakitan, ia justru menyeringai semakin lebar. “Oh, kamu baik sekali sampai mau menyambutku di sini, Bajrandhaksa.” Tangan kanan perempuan itu terangkat, digenggam kuat oleh pria yang tidak asing bagiku. Dia pria yang menarikku ke tempat ini. Pria yang kerap menanyaiku berbagai pertanyaan. Aku mengikuti arah cambuk hitam itu, mendapatinya berasal dari pakaian yang ia kenakan sementara pria itu berdiri anggun di tengah tanah merah. Berbeda dari saat ia menanyaiku waktu itu, sekarang ini ia sama sekali tidak tersenyum. “Di mana Bajrangkara?” Gadis di dekatku itu kembali bertanya. “Biasanya kalian— “Berhentilah mengacau di tempat suci ini, Anjani,” geram Bajrandhaksa kesal. “Kamu mau hukumanmu bertambah, hah?” “Hm… Entahlah Dhaksa sayang.” Di sampingku, Anjani justru tertawa. “Itu kedengaran seperti tantangan yang bagus.” Bajrandhaksa mengangat tangan kanannya. Tangan kanan itu berubah menjadi cakar raksasa hitam berjari empat. Mata pria itu berubah merah. Mulutnya membelah ketika ia berbicara dengan nada yang terlampau keji dan dingin: “Maka matilah.” Hempasan kencang tiba-tiba bertiup. Debu panas dan batu yang membara terlempar ke segala sisi. Kedua kakiku sempat kehilangan pijakan dam limbung, tapi lengan Anjani melindungiku. Dia mendekapku lebih erat. Wajahnya ada dekat sekali dengan wajahku sementara pipiku di lehernya, mendengar denyutnya yang stabil dan tenang. Tangan kanan Anjani berubah menjadi cakar raksasa. Aku membelalak kaget, tapi Anjani tidak melihat reaksiku. Ia terfokus pada pertarungan. Aku segera menyimpan semua pertanyaan untuk nanti dan kembali melihat Bajrandhaksa. Ukuran cakar Anjani jika dibandingkan pria itu memang masih kalah jauh. Namun Bajrandhaksa anehnya, tampak membeku dan membelalak di tempat. Kedua mata merahnya terpaku pada tangan kanan Anjani. “Apa … Apa yang sudah kamu lakukan?!” Suara Bajrandhaksa berubah berat. Taring-taringnya yang mencuat bergetar saat ia menggeram dan meledak sedetik kemudian. “Apa yang sudah kamu perbuat pada dirimu sendiri, Penjaga Rudra?!” Ekspresi Bajrandhaksa bukan lagi tentang kemarahan. Dia benar-benar murka. Matanya terpaku kepada Anjani, tampak gusar. Mulutnya yang biasanya bisa berkata-kata tajam, kini justru diam membisu. Dirinya yang biasanya tenang, kini terengah-engah. Atma biru keluar dari tubuhnya dalam gejolak yang tidak tenang dan jumlah yang banyak. “Hancurkan….” Mendadak saja sekujur tubuhku merinding. Tanganku gemetaran. Kakiku kembali terasa lemah. Aku menoleh ke berbagai arah dengan cepat. Suara siapa itu? Dan … dari mana asalnya? “Bunuh semuanya….” Aku tersentak dan langsung menatap cakar hitam milik Anjani. Cakar hitam Anjani berdenyut hidup. Dan seiring dengan denyut itu, atma emas di sekeliling kami perlahan lenyap dan lenyap, berganti atma merah yang tadi aku lihat dari Anjani. Mereka bergerak naik perlahan, terkumpul di cakar Anjani. “Aku akan habisi semuanya.” Kemudian, atma merah itu pun tertelan asap hitam yang datang dari dalam cakar Anjani. Hitam pekat. Mataku terpaku pada cakar itu. Tubuhku membatu, tak bisa bergerak ketika asap hitam itu berkumpul dan mengelilingi cakar Anjani. Warna hitam cakar itu berdenyut. Seperti berpendar hidup. “Kutukan ini akan selalu ada padamu.” Mendadak saja kepalaku diserang rasa sakit. Aku meringis sambil memegangi pelipis kuat-kuat, merasakan denyut lemha dari sana selama beberapa saat. “Ada apa, Dhaksa? Tangan ini mengganggumu?” Anjani bersuara seperti menantang. Bajrandhaksa menggeram marah. “Kamu tidak akan keluar dari tempat ini!” “Aku terima tantanganmu!” Sesuatu memelecut di udara. Aku bahkan tidak sempat berkedip ketika satu cakar Anjani yang terhunus mendadak berhenti. Membeku di udara. Sulur-sulur atma biru msekali lagi uncul di dekat mataku. Dalma jumlah banyak, mereka mengaliri cakar hitam Anjani. “Ah, aku kira siapa yang seenaknya datang dan langsung membuat ribut di sini….” Suara lain. Suara seorang pria. “Ternyata ada Anjani.” Dengan wajah jengkel, Anjani menoleh ke belakang dan aku mengikuti arah pandangnya. Kejengkelan Anjani berubah, mewujud ke dalam sebuah senyum sinis. “Aku sudah bertanya-tanya kapan kamu akan datang, Bajrangkara,” uajr Anjani. “Apa kamu tidak merindukanku, hm?” Seorang pria berdiri dengan anggun di sisi lain Anjani. Aku juga mengenal pria itu. Ia yang membawaku ke tempat ini. Dia yang bisa membuat belenggu ini muncul begitu saja di tangan dan kakiku. Ternyata dia yang bernama Bajrangkara. Pria itu lantas menyeringai kepada kami berdua secara bergantian. Seringainya yang lebar memperlihatkan deretan taring yang memanjang di dalam bibirnya.   “Kalian kelihatan romantis sekali.” Bajrangkara berkata. “Aku hampir menyesal menghancurkan kemesraan kalian.” “Baguslah, kamu sadar sudah mengganggu.” Anjani berujar lembut, setengah terdengar menantang. “Karena kamu dan saudara kembarmu itu sudah merusak momenku.” “Sungguh?” Kendati Bajrangkara menjawab santai, aku bisa melihat Anjani gemetar. Setetes peluh mengalir di pelipisnya dan ketika aku mendongak, aku melihat tangan Anjani mulai berpuntir ke arah yang ganjil. Secara perlahan. “Momen apa yang aku hancurkan?” “Bukankah sudah jelas?” Dengan tangan yang bebas dan tanpa malu sedikit pun, Anjani meraih kepalaku, mendekapku lebih erat lagi. “Kalian mengganggu momen pernikahan kami!” Ada kesunyian yang sangat panjang setelahnya. Seolah dunia ikut sunyi bersama dengan kami semua. Astaga. Astaga. Astaga. AKU LUPA! Aku lupa kalau tadi aku mengiyakan pernikahan dengan gadis ini! Aku lupa tadi ia menawariku pernikahan dan aku malah mengiyakannya! Aku baru saja setuju menikahi gadis yang baru aku temui! Di tempat ketika kami berdua akan sama-sama mati! Di mana otakku tadi pergi?! “PENJAGA RUDRA!” Kami berdua menoleh secara bersamaan. Di sisi lain kami, Bajrandhaksa tampak berapi-api oleh cahaya biru yang semakin terang. Dua mata lain muncul di bawah kedua matanya. Mata yang sama-sama merah dan melotot murka ke arahku dan Anjani. Puluhan cambuk hitam keluar dari baju dan tubuhnya. Kakinya mengentak tanah, mengguncangkan tempat kami berpijak. Tanah retak semakin lebar akibat dirinya. Tempat ini terasa semakin panas. “Sudah cukup kamu mempermalukan tempat suci ini dengan omong kosongmu!” Barjandhaksa mengangkat tinjunya sambil menggeram marah. “Sekalipun Yang Mulia Khalikamaya mengampunimu, aku tidak akan terhapus sekadar siksaan seribu warsa.” “Entahlah … apa benar akan begitu?” sahut Anjani santai. Bajrandhaksa terpekur oleh pertanyaan balik yang tiba-tiba itu. Ia kelihatan hendak berkata sesuatu, tapi Anjani di sisiku, justru mendongak, menatap sosok raksasa yang sedari tadi diam menyaksikan kami semua. Sosok yang nyaris terlupa karena ada dua ancaman tambahan di kanan dan belakang kami. Anjani melirik sosok itu. “Bagaimana menurut Anda, Khalikamaya?” Tiga mata sosok raksasa itu masih memelototi kami. Memelototiku. Dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan selain penuh kemarahan. Palu miliknya masih bergeming dari atas kepala kami. Cahaya biru sekali lagi keluar mengelilingi kami. “Apa Anda mau mendengar saya sebentar?” Anjani sedikit melepaskanku dan lewat jarak yang tercipta di antara kami, aku sedikit merasakan hawa  dingin yang tidak mengenakkan. Sesuatu yang terasa sangat salah. Tapi kemudian, Anjani menyentuh pundakku. “Laki-laki ini mungkin tidak benar-benar bersalah kan?” “Dia bersalah.” Jawaban itu keluar tidak sampai satu kedipan mata. Dari mulut sang raksasa yang tidak tergoyahkan. “Eh, Anda yakin?” Anjani berkacak pinggang. “Anda sudah bicara dengan Suratma soal pencatatan amalnya? Anda tidak bertindak main hakim sendiri di sini kan?” Aku bisa mendengar geraman marah dari dua pria di kanan dan kiri kami. “Penjaga Rudra…..” Atma biru di sekeliling kami semakin terang. Suara Khalikamaya berubah tenang. Tapi getaran di tanah dan awan gelap di atas kepala kami masih belum juga sirna. “Kamu tahu apa yang sedang kamu pertaruhkan di sini, kan?” “Aku tahu.” Anjani melirik dua pria yang sedari tadi berdiri menahan amarah di kedua sisinya. Senyum aneh membayang di wajah wanita itu. “Tapi aku dan kamu sekalipun, tidak bisa berbuat banyak soal itu, kan? Semuanya sudah berjalan. Sekali lagi, sudah berjalan ke arah yang tidak semestinya.” Makhluk bernama Khalikamaya itu terdiam sejenak, sebelum kembali bicara. “Apa maumu, Penjaga Rudra?” Untuk pertanyaan itu, Anjani menyeringai senang. “Sebuah perjanjian. Bagaimana?” Satu cambuk hitam tiba-tiba memelecut. Anjani berhasil berkelit dari lecutan cambuk hitam itu, tapi beberapa helai rambutnya tidak cukup beruntung. “Mulutmu masih saja manis seperti biasa, Anjani.” Bajrandhaksa berujar. “Boleh aku menghancurkannya?” “Aku tidak yakin kamu sanggup, Dhaksa Sayang. Tapi kalau kamu memaksa, kapan pun akan aku terima kamu mencoba.” Anjani menoleh ke arah Bajrangkara yang terdiam dengan empat tangan mengepal kuat. “Terima kasih karena tidak ikut-ikut saudaramu itu.” “Khalikamaya adalah kehendak tempat ini.” Bajrangkara mendelik ke arahku. Kemarahannya masih berlaku untukku, tapi kemudian dia memejamkan mata. “Jika ia berkehendak mendengarkanmu, aku akan menurut.” Tubuh Anjani berhenti bergetar. Senyum bahagia gadis itu tidak lagi tertahankan. “Wah, terima kasih! Aku tersanjung sekali!” Anjani menepuk kedua tangannya dengan bahagia sebelum kembali menengok Khalikamaya. “Begini kesepakatannya.” Saat itu, tidak ada yang bicara. Semua mendengarkan. Pada sabda yang akan terucap dari bibir sang makhluk alam Sekala yang dengan nekatnya mencari mati ikut campur ke dalam urusan alam Niskala. Sesuatu yang jelas-jelas berada di luar kendalinya. “Dalam waktu tujuh purnama, saya akan membawakan Anda jiwa-jiwa pendosa yang membuat kekacauan di Sekala. Setara dengan dosa yang ditanggung pria ini.” Ketika jari Anjani menudingku, tidak ada yang aku rasakan selain kebingungan. Bahkan ia pun menduga aku bersalah, pada akhirnya? “Jika saya berhasil, saya boleh ambil pemuda ini seterusnya, tapi jika saya gagal, Anda bisa mengambil jiwa saya saat itu juga.” Anjani emnunjuk dirinya sendiri dan aku pun membelalak kaget. “T-tunggu i-itu kan— Anjani mengangkat satu tangannya tepat ke depan wajahku. “Lalu sisanya, kita biarkan saja takdir yang menuntun selanjutnya, bagaimana?” Khalikamaya menyipitkan mata. Aku bisa melihat kemurkaan menyerpih di matanya yang membara. Mata ketiganya melirik sendiri ke arahku, sementara kedua matanya terfokus ke Anjani. Entah perasaanku saja atau mata itu menyala semakin merah ketika menatapku. “Kamu tidak menjanjikan kekakalahn dalam kesepakatan itu,” Ia berucap. “Hanya ada kehancuran. Kami sama sekali tidak dirugikan.” Anjani mencebik terang-terangan, tidak takut pada kemarahan Khalikamaya yang rasanya sedang menanjak naik setiap saat. “Bukannya sekarang ini saat yang paling tidak tepat jika mau bicara soal untung-untungan?” Tangan Khalikamaya yang memegang pedang menuding ke arahku. “Dosanya tidak akan sebanding dengan siapa pun yang akan kamu serahkan nanti, Anjani.” Jantungku serasa ditikam. Aku menunduk, menghindari pandangan mata Khalikamaya saat pertanyaan-pertanyaan yang sama berdengung di telingaku. Seberat itukah kesalahanku? Sebenarnya apa dosa yang sudah aku perbuat? Saya, tidak peduli sekeras apa mencoba, ingatan itu tidak menemukan titi ujungnya. Aku menutup mata kuat-kuat, separuh berharap meledak atau mati saja di sana. Tidak bisa mengingat kesalahan sendiri dan harus bergantung kepada orang lain benar-benar cara yang memalukan untuk ditolong. Apalagi … Aku melirik Anjani. Aku sudah melibatkan seorang perempuan ke dalam semua ini. “Sudah aku bilang, kan, dia mungkin tidak tahu apa-apa?” Jari Anjani ikut menudingku. “Kamu tidak lihat wajah tololnya ini?” Hah? Aku mendongak kaget, mempertanyakan maksud kata-katanya itu, tapi aku sadar, tatapan mata Bajrandhaksa terkunci kepadaku. Ia menyeringai, memamerkan cakar-cakar hitamnya ke arahku. Tiba-tiba terdengar suara aneh di sekeliling kami. Aku menengok, dengan cerobohnya baru menyadari bahwa makhluk-makhluk merah yang tadi sudah menyingkir, perlahan muncul kembali dari dalam tanah. Dengan wujud menakutkan yang sama, dengan kemarahan yang sama. “Tidak tahu apa-apa, bukan berarti tidak bersalah.” Khalikamaya menyatakan. “Dosa pria ini sudah tercetak dalam catatan Suratma. Keberadaannya yang tidak bisa lepas dari sini sudah menjawab semuanya.” “Meski demikian, Anda tidak bisa mengurangi karma laki-laki ini sekalipun sudah berusaha, kan?” Anjani membalas ucapan dewi itu. “Dewi … tidakkah Anda ingin menghentikan Kali?” Senyum aneh sekali lagi muncul di wajah Anjani. Sorot matanya sendu. Tidak ada binar keceriaan atau kehidupan yang tadi diperlihatkannya. Sesuatu bergerak dalam diriku. Tidak, aku tidak bisa melihat mata Anjani seperti itu. Aku tidak bisa melihat senyumnya seperti itu. “Dulu memang kelihatannya mustahil, tapi sekarang Anda lihat sendiri, kan?” ujar Anjani. “Hei, Khalikamaya, bagaimana rasanya jiwa-jiwa para pendosa seperti mereka, hm?” Nada bicara yang digunakan Anjani berubah. Nada bicaranya menjadi sama persis seperti Bajrandhaksa dan Bajrangkara. Ketakutan menyergapku sekali lagi, persis seperti saat awan-awan gelap itu berkumpul di atas kami. Takut akan kematian. Senyum lebar membelah wajah Anjani menjadi dua. Lalu matanya, saat aku melihat matanya, hanya kegelapan yang bisa aku lihat. Mata itu masih biru seperti sebelumnya, tapi warna biru itu tidak cerah seperti saat kami bertatapan pertama kali. Kali ini warna biru itu berisi kegelapan tanpa dasar. “Jiwa para pendosa yang m*****i Sandhikala, mereka yang seenaknya m*****i dunia dengan ambisi mereka yang terkutuk….” Anjani menghunuskan cakar. Senyum tidak pernah hilang dari bibir gadis itu. “Bukankah mereka yang paling pantas berada di sini?!” Teriakan Anjani menggema. Dampaknya menghentikan para makhluk merah yang mendekat, bahkan membuat Khalikamaya membelalakkan mata. “Mereka terus menerus merusak dunia! Menjadikan jiwa tidak bersalah sebagai tumbal, memfitnahnya, dan seenaknya berdiri di atas tanah yang makmur karena darahnya!” Anjani berteriak menggebu-gebu dengam ambisi dan semangat yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Semangatnya saat mengajakku menikah sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan yang ini. “Dan di atas semua itu, mereka seenaknya mengaku sebagai pahlawan! Mereka seenaknya mengambil hak orang lain! Darah orang lain! Mereka semua tidak pantas hidup!” Suasana hening selama Anjani berteriak. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak. Hingga saat pedang raksasa Khalikamaya disingkirkan dari atas kepalaku, tidak ada yang berkata-kata. “Karena itu aku akan membawa mereka ke sini! Semuanya, satu demi satu!” Anjani melangkah maju ke hadapan Khalikamaya. “Aku akan melepaskan gelar pahlawan itu dari mereka! Tidak peduli apa pun yang terjadi, aku bersumpah….” Anajni berputar dengan anggun, menghadapku—kami semua. “Akan aku hancurkan seluruh gerbang Sandhikala sampai tidak bersisa sedikit pun!” Saat itu aku hanya bisa menyaksikan dalam diam. Duri-duri yang bermekaran dari gadis di hadapanku begitu hitam, pekat, dan tajam sehingga mendekat saja rasanya mustahil. Ia menebarkan racun dalam setiap langkah dan kata-kata. Dendamnya membara dalam setiap tarikan napas. Amarahnya membakar jauh lebih panas dibanding seluruh api di tempat ini. Dengan senyum lebar, ia merentangkan kedua tangan, bukan seperti hendak memeluk, tapi seperti hendak merenggut. Menggenggam segalanya dalam kekuasaannnya. Dan saat itu, aku benar-benar yakin ia bisa melakukannya. Sekali lagi seluruh dunia terasa sunyi. Semua orang tenggelam ke dalam kata-kata beracun Anjani yang bahkan mengalahkan gelapnya tempat ini, gelapnya penjaraku. Sampai suara kekeh tawa itu terdengar, menjadi suara pertama yang terdengar setelah kesunyian yang lama. Aku mendongak. Khalikamaya tersenyum dan harus aku akui, senyumannya jauh lebih buruk dari saat ia marah. Bibirnya yang hitam melengkung lebar antara pipi ke pipi, sementara taringnya keluar tanpa ditutup-tutupi. Ketiga matanya menyipit menjadi bentuk aneh saking lebar senyuman di wajahnya. Kemudian tawanya menular ke seluruh makhluk di sana. Mulai dari makhluk-makhluk merah di sekeliling kami, sampai Bajrandhaksa dan Bajrangkara. Semuanya tertawa dalam wajah yang hanya bisa aku artikan sebagai penghinaan. “Menghancurkan Sandhikala ya….?” Khalikamaya berujar. “Omong kosong yang sangat lucu, Anjani.” “Bocah tidak tahu diri.” Bajrandhaksa terkikik geli. “Dia pikir dia siapa, menghancurkan Sandhikala….” Bajrangkara tersenyum. “Kamu sekalipun tidak akan bisa melakukannya walau sudah mati seribu kali.” Anjani hanya tersenyum merespons semua hinaan itu. Ia berkacak pinggang dengan percaya diri. “Bukankah para akhirnya pembuktian bisa bicara jauh lebih banyak dari kata-kata, Yang Mulia sekalian?” Pertanyaan itu menghentikan tawa semua orang. Aku menanti dengan cemas ketika semua orang menjatuhkan pandangan kepada kami berdua. Kemudian tombak Khalikamaya menancap ke tanah. Menimbulkan bunyi berdebum yang kencang di sekeliling kami. “Bawakan mereka kepadaku seperti janjimu.” Suara Khalikamaya bergema. Tenang, tidak penuh kemarahan seperti sebelumnya. “Dan bawakan kepadaku pendosa yang menumpahkan darah di atas nama Dayuh.” Senyum lebar Anjani berubah menjadi seringai licik. Gadis itu terkekeh sejenak, lalu mengacungkan tangan. Ia melirik Bajrandhaksa. Pria itu tidak punya pilihan lain selain melepas pecut yang mengikat Anjani. Setelah cambuk itu memelecut terlepas, aku melihat garis-garis merah di tangan Anjani menyala semakin terang selama beberapa lama. Gadis itu mengepalkan tangannya dengan senyum lebar membayang di wajah, lantas membungkuk di hadapan Khalikamaya. “Sesuai permintaanmu.” Saat aku terdiam tak mengerti, tangan Anjani menyentuh pundakku dan mendorong pundakku lembut. Aku menurut. Ikut membungkuk dalam-dalam. “Aku pegang kesepakatan ini.” Khalikamaya berkata. Seketika belenggu yang mengurung tangan dan kakiku musnah. Mereka luruh menjadi cairan merah berselimut sulur atma biru yang dengan cepat terserap kembali ke tanah di bawah kaki kami. Aku menyentuh kaki sendiri, lalu melihat kedua tangan yang bebas. Mereka tidak pernah terasa seringan ini. “A-aku … ini….” Aku mendongak ke arah Anjani dengan suara gagap, bermaksud memperlihatkan keajaiban ini, tapi gadis itu bahkan tidak menoleh ke arahku. Ssebelum aku sempat menyelesaikan kata-kata, sulur-sulur atma berwarna biru kembali datang. Aku segera berdiri tegak, takut dan gugup menjadi satu. Mereka berkumpul dan menggunung membungkus kami dalam waktu cepat. Jumlah mereka jauh lebih melimpah dari sebelumnya. Tanpa suara, mereka membanjiri kami bagaikan air bah. “TIdak perlu melawan.” Anjani yang bangun di sisiku berkata. “Masalah ini sudah selesai satu langkah.” Meski Anjani bilang demikian, tubuhku tetap diserang panas yang membakar seluruh kulit saat semua atma itu menyerbu kami. Pandanganku tertutup cahaya biru terang. Kemudian, sesaat sebelum semua cahaya biru itu menyelimuti kami. aku melihat Bajrandhaksa menyeringai dari balik tirai cahaya. Bibirnya menggumamkan kata-kata yang masih bisa aku tangkap dengan jelas: “Sampai bertemu lagi….” Aku membelalak. Mataku menangkap kata-kata terakhir pria itu di tengah lautan cahaya yang semakin terang. Dan sesuatu dalam diriku menjawab kepadanya. Jantungku berdentam-dentam, tak bisa jika tidak menyambut panggilan itu. Anjani menyambar tanganku. Rasa panas menyentak kulitku ketika tangan kanan gadis itu menyentuh tanganku. Panasnya membakar kulit, menyentak sampai ke ubun-ubun. Pada awalnya, aku hampir tidak tahan untuk melepas tangannya, tapi Anjani kukuh dan tidak begitu saja melepaskanku. Ia justru menggenggam tanganku lebih erat. Dengan lirikan yang sambil lalu, Anjani berpesan kepadaku dalam keadaan ia tetap memegangi tanganku. “Jangan sampai kamu melepaskan tanganku,” pesannya, sekali lagi tanpa melepaskan tanganku. “Itu kalau kamu tidak mau mati sebelum menemui orang-orang yang merindukanmu.” Kata-katanya membuatku mengerutkan kening. “Orang-orang … merindukanku?” Tidak … bukankah itu mustahil? Bukannya aku … jahat? Aku masuk ke penjara karena aku jahat kan? Tidak mungkin … tidak mungkin ada orang yang merindukanku kan? “Apa kamu … jangan-jangan tidak bisa menyiksanya dengan karma karena dia tidak bersalah, hm?” Ah, ya, Anjani sempat berkata seperti itu. Tapi apa artinya? Apa maksudnya, aku tidak benar-benar bersalah? Belum sempat pertanyaan itu terjawab, udara sudah berputar cepat di sekeliling kami. Cahaya biru membungkus kami dan mengurung kami dalam sangkar yang semakin lama semakin sempit. Kilasan-kilasan warna kembali menari dalam pandanganku. Suara dan wajah-wajah mereka terekam dalam ingatanku tanpa pernah hilang. Bahkan ketika aku telah tiba di satu ruangan lain. Ruangan yang tidak panas, penuh makhluk-makhluk merah membara, ataupun berlangit merah dengan awan yang bergemuruh di atas kepala. Aku menatap sekeliling, atas ke bawah, kiri dan ke kanan. Ruangan ini tidak seberapa gelap. Jika dibandingkan dengan tempat tadi … alam Niskala … tempat ini seperti sebuah ruangan hangat yang memberikan cahaya. Langit-langit tempat ini kecoklatan dan tinggi. Dinding-dindingnya dicat cerah. Ah, ya, kuning. Benar, itu warna dindingnya. Selain dinding dan langit-langit, ada beberapa perabotan di sana. Perabotan yang tidak aku kenali, tapi anehnya bisa aku sebutkan namanya satu per satu. Selapis kain tergeletak di bawah kakiku. Terasa empuk. Lantai di luar selapis kasur itu terbuat dari kayu dan senantiasa berderit. Aku menginjak kayu itu, merasakan dingin yang aneh menjalar di telapak kakiku. Tidak dingin menusuk seperti di penjara, tapi tetap saja … terasa aneh. Mungkinkah karena aku … oh, astaga, sudah berapa lama aku ada di alam Niskala? Saat terlarut dalam pikiran, Anjani tiba-tiba muncul di hadapanku. Ia mencondongkan badan kepadaku yang tengah menunduk, menyusup ke bawah daguku dan tersenyum tipis. Tidak seperti senyum-senyumnya yang lain sebelum ini, sekarang Anjani benar-benar tersenyum. “Selamat datang di alam Sekala,” Kami bertatapan sekali lagi. Dalma sunyi. Dalam kedamaian. “Damien.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD