25. Kekang dan Keributan

4625 Words
Aku dibawa dengan mobil terpisah dari Damastra. Mobil yang membawa Damastra berangkat lebih dulu. Berukuran lebih besar dengan lebih banyak orang yang mengawal. Sementara yang ada bersamaku adalah Btari dan dua dari lima roang Politie yang tadi hendak meringkusku. Mereka masih menatapku dengan tajam dan penuh kecurigaan. Tapi tidak berkata apa-apa. Aku pun tidak berkata apa-apa. “Damastra dan para Dyaksa tidak akan melepaskan siapa pun yang terlibat dengan mereka.” Kata-kata Sapta kembali bergema dalam kepalaku. “Jangan sampai terlibat dengan mereka.” Jangan sampai terlihat, artinya mereka berbahaya, kan? “Jangan sampai dia melihatmu.” Kata-kata Markandra ikut bergema. Lebih keras dari yang lain. “Jika dia atau orang-orangnya melihat Siluman bebas di jalan, kamu bisa ditangkap.” Aku menatap kedua tangan sendiri. Tangan yang tadi dengan senang hati menyambut uluran tangan Damastra. Daripada tertangkap, lebih tepat jika aku menyerahkan diri. Aku ikut dengan sukarela dan Damastra tidak memaksa. Benarkah begitu? Bukankah tadi keadaan benar-benar memaksa? Bukankah tadi aku terjebak dalam pilihan meraih tangannya atau berurusan dengan Politie? Padahal Markandra dan Sapta sudah menasihatiku untuk jangan mendekat, tapi aku malah diam-diam melanggar nasihat mereka. Entah apa yang akan terjadi nanti. Jadi kali ini mungkin aku akan benar-benar sendirian. Tidak akan ada yang menyelamatkanku.   Kedua tanganku mengepal. Jawaban tidak pernah muncul dalam kepalaku. Ah, tidak. Mungkin lebih tepat jika  dibilang … aku tidak ingin mengetahuinya.   Sepanjang jalan, mata orang-orang tidak henti menatapku. Mereka yang berada di barisan depan penyambutan menatapku dengan sorot mata yang sebagian besar berisi kebencian, sementara yang lain diisi kebingungan. Mereka semua berbisik dan tidak henti melirik penuh curiga kepadaku. “Siapa itu? Dia dibawa bersama Tuan Damastra.” “Tahanan? Tapi dia tidak diborgol.” “Dia Siluman. Tuan Damastra benar-benar terlalu baik….” Aku menghindari semua tatapan itu sampai masuk ke dalam kendaraan yang disebut Anjani sebagai mobil, sementara semua pujian itu masuk ke dalam telingaku tanpa pernah keluar. Meninggalkan rasa sakit yang sedikit banyak mengganggu. Saat itu, untuk pertama kalinya, aku merasa ingin sekali mereka diam. Untuk sebentar saja. Setelah pergi dari kerumunan itu, aku memandangi bagian dalam kendaraan itu sementara ia berjalan, menderu membelah jalanan dalam cara yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Berbeda dari trem yang mengikuti jalur, mobil kurang lebih seperti pejalan kaki yang berjalan dalam area yang lebih luas dan lebih bebas. Hanya saja dengan ukuran yang lebih besar dan empat roda alih-alih kaki yang bergerak merepotkan. Roda berbentuk bundar dan mereka sepertinya tersangkut di bawah beban kendaraan ini, sama seperti kereta yang ditarik hewan-hewan itu. Mereka tidak sebebas langkah kaki. Dan berada di dalamnya tidak seenak yang aku bayangkan. Atap dan dinding-dindingnya gelap. Kursi tempatku duduk empuk, entah karena apa. Dua orang mengimpitku sementara dua orang lagi ada di hadapanku. Sayangnya, meski kursi di belakangku empuk dan tidak ada rantai di atas kepalaku maupun di tangan dan kakiku, segalanya terasa mengimpit. Udara semakin lama terasa semakin panas dan menyesakkan, meski anehnya yang merasa demikian hanya aku seorang. Empat orang lain yang berada di kendaraan yang sama denganku, bahkan seorang pria yang duduk mengemudikan benda ini, mereka berwajah biasa saja. Bersikap biasa saja. Sama sekali tidak terganggu dengan udara yang kian menipis ini. Ah, tidak, apa mungkin aku saja yang semakin lama semakin tidak bisa bernapas? Bukan udara yang menipis sama sekali. Kedua kakiku yang duduk tidak bisa berhenti bergetar dan semakin lama semakin cepat. Tanganku sedari tadi menepuk paha, semakin lama semakin cepat. Semakin lama semakin gelisah. Hingga moncong dingin pistol Btari menyentuh punggung tanganku yang tidak tenang. Mendiamkannya dalam sekejap mata. “Bergerak satu kali lagi dan telapak tanganmu akan berlubang.” Suaranya yang dingin mengancam terdengar sangat serius. Aku bahkan bisa merasakan panas pelurunya meski benda itu belum menembak apa pun sampai detik ini. “Maaf.” Meski aku sudah minta maaf, Btari tidak mengangkat pistolnya. Dia masih tidak percaya. Aku melirik orang-orang di dalam ruangan yang sama denganku, tapi mereka semua memalingkan pandang atau terlalu lurus menatap ke depan. Jelas-jelas mengabaikanku. Terpaksa, aku menatap Btari lagi sambil menunjuk pistol di tangan. Gadis itu sedang memandang keluar jendela. “Permisi … aku….” Kedua kakiku sudah berhenti bergetar, walau rasanya menjadi semakin menyesakkan di dalam sini. Napasku semakin cepat. Suaraku semakin rendah, karena aku mencoba meredakan kepanikan yang mencekik. “Aku … janji tidak akan membuat suara lagi, jadi….” “Kalau begitu diamlah,” Btari memotong dengan tegas. Aku terpaksa menelan semua kata-kata yang tadi hendak keluar. Sepenuhnya diam kali ini. Menahan semua rasa sesak yang semakin parah walaupun itu artinya menjadi semakin tersiksa. Dengung kembali muncul di kepalaku. Rasa pening kembali menyerang. Aku memejamkan mata. Tanpa bersandar ke kursi yang empuk, aku menundukkan kepala. Berharap dengan bersikap tenang dan memejamkan mata, rasa sakit itu akan berkurang. Ah, belum apa-apa, aku sudah diancam dan dicurigai. Wajah Damastra muncul dalam kepalaku. Wajah dan senyumnya. Kemudian wajah dan senyuman itu tumpang tindih dengan wajah lain yang pernah muncul. Wajah Damastra yang lain, wajah seorang pria yang mengulurkan tangan kepadaku di tengah padang yang penuh dengan mayat dan api. Apa itu sebenarnya? Mimpi? Halusinasi? Kenapa … ada Damastra di sana? Ah ya, itulah alasanku ikut dengannya. Mengabaikan semau peringatan dan bahaya. Memutuskan untuk melewati semua hinaan dan mata penuh kecurigaan itu. Aku ingin tahu, apa maksud dari kemunculan Damastra yang lain itu. Apa yang aku lihat itu. Semuanya. Tapi bagaimana caraku menanyakannya? Apa yang harus aku katakan? Bahwa aku melihat dirinya yang lain? Apa aku tidak akan kedengaran gila jika mengatakannya? Ah … apa aku berhak menanyakannya? Orang yang tidak bisa mengingat masa lalunya seperti aku ini…. Kemudian segalanya tertelan kegelapan. *** “Kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.” Belasan cahaya dalam berbagai warna memenuhi pandangan mataku. Mereka semua tercurah dari langit, menghunjam daratan bagai tombak raksasa. Tanah terbelah dan langit membara. Getarannya mengguncang hingga tidak ada satu pun makhluk di daratan yang sanggup berdiri, tidak ada kecuali kami. Puluhan Asura yang ada di bawah sana meraung-raung marah. Mata merah mereka mendongak menatap musuh masing-masing di area yang berbeda. Api dalam berbagai warna berkobar, membakar segala pohon dan hewan yang berani mendekat. Beberapa Manusia yang tidak beruntung tersambar petir yang muncul dari langit merah di atas kami. Tanah yang lain melunak hingga menjadi lumpur, sarang bagi makhluk-makhluk yang menunggu mangsa jatuh dengan mulut terbuka. Beberapa yang lain berteriak dan gunung-gunung pun bergetar, kepala-kepala Manusia meledak. Tanah banjir oleh darah. Langit penuh oleh api. Angkasa terbelah oleh petir. Baik daratan maupun langit, dipenuhi oleh pertempuran tiada henti dari para Manusia dan Asura yang membantu mereka. Klan yang berbeda. Membela kerajaan yang berbeda. Semua demi sebuah kekuasaan kecil yang tidak berhasil diraih ketika dunia ini terbentuk. Kekuasaan atas Marcapada. “Seperti Kali-Yuga saja, bukan begitu….?” Aku menoleh. Di sebelahku, tiba-tiba saja sudah ada seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang amat familier. Ya. Aku menjawab tanpa ragu. Seolah dunia ini sudah jatuh ke dalam cengkaman Kali dan menuju Kali-Yuga yang paling buruk yang pernah ada. “Belum terlambat.” Tanganku digenggam. Aku menoleh ke arah kanan. Seorang wanita berdiri di sisiku. Wanita yang wajahnya tidak bisa aku lihat. Wanita yang rambut hitamnya bertiup seiring angin yang berembus. Wanita yang tubuhnya tampak begitu kurus, tapi berdiri tanpa pernah goyah di dekatku. Dadaku diisi perasaan sesak yang menggebu. Seolah menanti untuk ditumpahkan. Hampir tidak bisa ditahan. Namanya terucap dari mulutku. Gadis itu menoleh. Ia tersenyum. Matanya yang gelap memancarkan sinar harapan. Bukan sinar api kerusakan di bawah kami. Benar-benar sinar harapan. “Segalanya akan segera selesai. Rencana Anda tidak akan gagal,” Wanita itu kembali menatap ke depan. Ia tidak tersenyum, tapi matanya penuh tekad. Dia menarik pisau dari pinggang. Pisau yang bilahnya berwarna kelabu mengilap dengan ujung melengkung. Mirip taring hewan buas, aku mengingat. “Kita akan satukan semua kerajaan dalam satu panji. Satu negara.” Wanita itu menghunuskan belatinya ke udara. Langit tiba-tiba bergemuruh di atas kami. “Seperti cita-cita kita saat rantai masih mengekang leher kita semua.” Kemudian ia melempar pisau itu. Dan benda itu melesat dalam balutan cahaya keputihan. Gelegar petir bergema di angkasa saat benda itu meluncur secepat sambaran kilat. Seperti sebuah petir. *** “Hei, bangun!” Sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Keras dan kuat. Rasa tidak nyamannya membuatku membuka mata yang entah sejak kapan terpejam. Cahaya masuk ke dalam mataku. Tidak terlalu silau, tapi aku tetap mengernyit saat membiasakan diri. Langit-langit hitam dan sempit, kursi yang empuk, dan dinding-dinding dekat yang masih aku ingat. Di dalam … mobil? Aku masih ada di dalam mobil? Pandanganku berkunang-kunang. Aku memegangi kepala yang sedikit pening. Kenangan-kenangan yang tadi terlihat bergema dalam kepalaku. Apa itu tadi? Itu … mimpi? Aku baru saja tertidur di dalam mobil dan bermimpi? Kilasan-kilasan adegan berputar di kepalaku, seperti sebuah permainan gambar. Jelas dan jernih. Aku bahkan masih bisa mendengar semua suara gelegar dan bunyi pertikaian. Aku masih bisa mengingat aroma pertempuran yang penuh dengan aroma debu dan darah. Kemudian … wajah-wajah orang yang berdiri di sisiku. Sekali lagi aku melihat Damastra. Dan ada seorang wanita yang berdiri di sisiku. Siapa dia? Lain dengan Damastra, aku tidak bisa mengingat wajahnya. Tapi untuk satu alasan yang tidak aku ketahui, rasanya … aku pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Tapi di mana? Aku tidak ingat … tapi aku juga merasa pernah melihatnya. Perasaan macam apa ini? “Aku bilang bangun!” Sesuatu menyodok pipiku sekali lagi dan aku pun terlonjak. Pundakku membentur sesuatu di belakang dan aku berbalik. Langsung bertatapan dengan pria yang menjagaku. Dia masih ada di sana, di tempatnya semula. Dengan posisi dan sikap yang sama. Hanya saja dengan wajah yang lebih jengkel. Aku buru-buru duduk tegap lagi. Sadar sudah menyentuh pundaknya tanpa sengaja. Mengira mungkin itulah penyebab wajahnya mengerut seperti itu. Namun ketika aku duduk dan menjauh pun, wajahnya masih berkerut jengkel. Jijik. “Maaf….” ucapku pelan. “Saya akan lebih berhati-hati.” Pria itu mendengkus. Hanya sejauh itu respons yang bisa ia berikan. Tapi melihatnya duduk saja sudah cukup untuk membuatku sadar keadaan dan bertanya-tanya. Sudah berapa lama ia duduk tegap seperti itu? Berapa lama aku sudah tertidur? Pandanganku beralih ke situasi di dalam mobil dan aku langsung menyadari, dua penjaga lain masih ada di depanku. Hanya ada satu orang yang tidak ada dan dia ada di depan pintu dengan pistol teracung. Moncong senjata itu mengarah tepat ke wajahku. Pipiku langsung terasa dingin. Sepertinya dia membangunkanku dengan moncong benda itu. Dia benar-benar tidak suka padaku. “Ki-kita ada di mana?” “Keluar.” Btari menyahut tanpa benar-benar menjawabku. Masih seperti sebelumnya, suaranya dingin dan sarat kebencian. “Sekarang.” Aku menoleh ke tiga penjaga yang ada di sisiku dan depan. “Mereka….?” “Akan keluar setelah kamu keluar lebih dulu.” Apa maksudnya itu….? Aku melirik tiga orang yang mengelilingiku. Mereka semua balas menatapku dengan sengit. Wajah penuh kecurigaan yang familier terlihat jelas di wajah mereka tanpa ada usaha untuk menutup-nutupinya. Apa mereka tidak dibiarkan keluar lebih dulu sebelum aku karena … mereka curiga padaku? “Jangan sampai terlibat dengan mereka.” Kata-kata Sapta terngiang dalam kepalaku sekai lagi. Aku sudah melanggar kata-kata dan nasihat baik Sapta dan Markandra. Semua hanya karena pendapat sejenak bahwa Damastra terlihat baik dan karena dia muncul di … mimpi dan entah apa lagi yang aku alami kemarin. Tapi aku baru benar-benar memikirkannya sekarang. Perlahan, aku keluar dari mobil seperti arahan Btari. Segera, tiga orang itu keluar juga dan mengelilingiku seperti tembok. Rasa sempit yang aku alami di dalam mobil sama sekali tidak berkurang karena mereka. Selepas mobil pergi, aku menatap apa yang tersaji di depan mata. Sekelilingku tampak lebih familier dari yang aku duga. Bangunan-bangunan tinggi berdiri saling menghadap satu sama lain. Masing-masing bangunan rapat tanpa celah namun tiap bangunan dicat dalam warna yang berbeda. Pintu-pintu dan jendela dibuka lebar. Orang-orang berkendara dalam berbagai kendaraan melaju ke bangunan-bangunan itu. Disambut ramah oleh mereka yang ada di dalamnya. Ini pusat kota, aku teringat. Satu trem melintas di belakang mobil. Selepas ia lewat, aku melihat bayang-bayang lapangan luas di balik salah satu bangunan besar. Lapangan yang kini sepi dan hanya ada beberapa orang di sana. Ini pusat kota Jayagiri. “Bukan waktunya untuk mengagumi sekeliling.” Pria di belakangku mendorong, menghadapkanku kembali ke depan. “Ayo jalan!” Meski didorong, aku mengikuti pria itu dengan patuh, berjalan tepat ke sebuah bangunan yang baru kali ini aku masuki. Leherku menengadah ke langit, menentang silaunya matahari selama sesaat sebelum akhirnya menyesal. Sambil berusaha mengenyahkan berkas sinar itu dari mata, aku mengintip lagi, memandangi bangunan tinggi itu baik-baik. Temboknya putih bersih. Tidak diragukan lagi, ini bangunan paling besar yang pernah aku datangi. Sejauh yang bisa aku ingat. Bangunan itu membentang lebar ke kanan dan kiri. Setidaknya ada puluhan jendela yang terlihat dengan sebuah pintu besar yang aku rasa muat dimasuki sekalipun badanku ditumpuk dua. Pintu kayu itu terbuka lebar, dengan setidaknya selusin orang hilir-mudik dari dan ke luar bangunan itu. Ada sebuah papan dengan tulisan tertera besar-besar di atas pintu masuk. Tulisannya aneh, dalam bahasa yang tidak aku mengerti. Staadhuisplein. Apa artinya itu? “Masuk!” Pria yang ada di belakang mendorongku, nyaris membuatku terjatuh di depan pintu masuk. Sesuatu lantas berbunyi nyaring. Bunyinya membuat telingaku sakit luar biasa: tinggi, memekik, dan tidak kunjung berhenti. Mata orang-orang langsung tertuju pada kami dan aku melihat sekeliling dengan panik.  Apa aku yang menyebabkan bunyi itu? “Tenang.” Btari yang berdiri di depan, maju saat sekelompok pria berseragam abu-abu datang dengan pistol teracung kepada kami. “Jangan bergerak!” Salah satu pria berseru. Jari mereka semua sudah ada di depan pelatuk. Wajah-wajah mereka tidak berbeda dari orang-orang yang menggiringku: marah dan penuh kecurigaan. “Angkat tangan kalian!” Kemudian mata salah satu pria itu tampak mengintip ke bawah. Ketika pandangan matanya naik, pandangan mata kami bertemu dan wajahnya pun berubah semakin jijik. Semakin marah. “Kalian semua!” Ia mengulangi perintah itu. Kali ini dengan suara yang jauh lebih marah. Aku menuruti kata-katanya tanpa banyak bicara. Kemarahannya sudah cukup membungkamku sampai tidak berkutik dalam sekali pertemuan. “Letnan Btari!” Pria itu menghardik ke arah Btari dan aku tertegun. Mereka saling kenal? “Ada apa ini? Kenapa Anda membawa Siluman ini tanpa dirantai?” Mendengar kata dirantai, sesuatu bergolak dalam perutku. Belum apa-apa, bunyi gemericing rantai dari penjara yang dulu kembali bergemericing di telingaku. Rasa beratnya, panasnya, dan caranya mengetat dan membuat sekujur tubuhku terluka jika berani bergerak sedikit saja…. Aku menatap pria itu dengan jantung mencelus. Tidak tampak keraguan atau belas kasih di matanya saat mengatakan itu. Seolah baginya, merantai seorang Siluman adalah perkara paling wajar di dunia ini. Begitukah? Apakah begitu seharusnya? Aku dirantai? Aku menatap empat pria yang mengelilingiku, Bahkan penjagaan ini saja tidak cukup? Aku masih harus dirantai agar mereka semua tidak melemparkan muut pistol ke wajahku? Sementara aku bertanya-tanya, bisik-bisik mulai terdengar. Mata-mata yang tidak suka mulai terlihat jelas. Aku melirik, melihat orang-orang berseragam mulai meraih pistol di pinggang mereka masing-masing. Mata mereka tidak berkedip saat berjengit ke arahku. Benci dan jijik. Sementara orang-orang berseragam waspada, orang-orang sipil menyingkir. Mereka entah berlari ketakutan atau ikut menggenggam kuat-kuat apa pun yang sedang ada dalam tangan mereka. Seolah benda-benda itu adalah senjata dan mereka hendak melemparkannya kepadaku kapan pun aku bergerak. Kepalaku menunduk lesu. Sama saja. Di mana pun ternyata sama saja. Btari mengangkat tangan. Di antara jari jemarinya, terdapat selembar kertas putih. “Kami membawa Siluman ini atas perintah tuan Damastra.” Begitu nama itu disebut, reaksi orang-orang berubah. Aku bisa mendengar bisik-bisik heran alih-alih benci seperti sebelumnya. Ketika aku memberanikan diri untuk mengintip, mata mereka semua sekarang berubah curiga. Tapi suara-suara mereka semakin jelas. “Mau apa dia dengan Tuan Damastra?” “Tuan Damastra terlalu baik, mengundang Siluman yang mungkin akan mencelakainya….” “Kita harus bersiap-siap jika ada bahaya.” Btari berdeham keras-keras. Aku tersentak dan kembali berdiri tegap. Sementara bisik-bisik di sekeliling kami berubah senyap. Mata-mata semua orang teralihkan kembali ke urusan masing-masing. Yang tersisa hanya lima orang petugas yang ada di hadapanku yang masih memasang wajah marah. “Serahkan kertas di tanganmu.” Pria di depan sana kembali memerintah. Btari menurut dengan patuh dan menyerahkan kertas di tangannya kepada pria itu. Salah seorang dari lima pria itu maju dan mengambil kertas di tangan Btari sementara yang lain berjaga dengan senjata siaga. Pria itu membuka kertas itu dan membacanya. Sementara empat orang lain mengawasi kami. Pria yang membaca kertas itu kemudian mengernyitkan muka. Ia lantas melirik kami semua satu per satu. Matanya berhenti agak lama padaku. Ia menyipit penuh kecurigaan sebelum memasukkan kertas itu ke saku celananya. “Ini resmi,” Pria itu berkata, lalu menoleh ke arah pria yang berdiri di sebelahnya. “Konfirmasi ini ke bagian informasi. Tanyakan ke mana mereka harus pergi.” “Kamu segitu tidak percayanya pada kami.” Btari berkomentar saat pria yang disuruh itu pergi, berlari ke belakang secepat yang ia bisa. “Segalanya harus berjalan sesuai aturan,” Pria itu menyahut. Tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari kami. “Aku tidak bisa percaya intuisi perempuan.” “Hati-hati.” Btari menyahut dengan suara yang sama dengan yang biasa ia tujukan kepadaku. “Perempuan ini tidak pernah kalah darimu dalam adu tanding.” Pria itu mendecih. “Kesombonganmu suatu saat nanti akan mengalahkanmu.” “Siapa pun yang cukup dipercaya oleh Tuan Damastra menjadi muridnya berhak untuk sombong, bukan begitu?” Btari terkekeh. “Tidak sepertimu yang harus terjebak di Kantor Pemerintahan ini dan menjadi Marsose tingkat dua begini.” Sesuatu dalam kata-kata itu menarik perhatianku. Kantor Pemerintahan? Aku langsung menatap sekeliling bangunan, dari tiang hingga atap. Ini kantor pemerintahan? Kata-kata peringatan dari Markandra kembali berulang dalam kepalaku. Maksudnya … Damastra benar-benar orang pemerintahan? Orang yang membawahi pasukan bernama … Anupramala? Lima Divisi yang kata Markandra harus aku jauhi karena aku Siluman? Astaga. “Wanita lancang…!” Seruan marah dari pria di hadapanku berhasil mengalihkan perhatianku dari semua perubahan situasi dadakan dan kemungkinan buruk yang sekarang menimpaku ini. Di depan mata puluhan orang, pria itu mendadak mengarahkan pistolnya ke wajah Btari. Jarinya siap di depan pelatuk. Wajahnya memerah karena marah dan suaranya berubah lantang. “Jangan banyak tingkah kau….!” “Kapten!” Pria yang tadi masuk sudah kembali. Ia berlari-lari melintasi lorong dengan cepat dan kembali ke tengah-tengah kami tanpa kehilangan sikap. Ia menghormat kepada kaptennya dari balik barisan. Tidak repot berdiri di tengah-tengah kami. “Kapten, Tuan Damastra sudah menunggu!” ujarnya. “Di ruang nomor tiga puluh dua!” Baru setelah informasi itu keluar, sang pria menarik pistolnya. Ekspres marahnya mereda, walau bukan berarti hilang sepenuhnya. Lebih tepat jika seperti membeku dan mereda untuk sementara. “Baiklah,” ujarnya dengan suara tenang yang berbeda dari dirinya yang tadi baru saja diliputi kemarahan. “Biarkan mereka lewat.” Lima orang polisi itu pun menyingkir ke kanan dan kiri, memberi kami jalan yang terlampau besar untuk dilewati. Orang-orang yang mengelilingiku menggiringku melewati lima orang itu, melintasi ruangan yang—jika saja tidak dalam keadaan setegang ini—adalah ruangan paling luas yang pernah aku datangi. Atapnya jauh di atas jangkauan tanganku. Di beberapa sisi ruangan, terdapat … tiang yang digunakan untuk menyangga atap. Dinding-dinding terasa jauh di sini. Tidak seperti di dalam mobil. Seharusnya aku bisa merasa nyaman di sini. Tapi seolah tidak punya kesempatan, dinding-dinding manusia yang membatasiku tidak membiarkanku menikmati pemandangan itu lebih lama. Mereka menggiringku langsung melewati lorong, melewati pandangan orang-orang yang mengawasi tanpa henti. *** Aku duduk terdiam. Tanganku meraba tempat yang aku gunakan untuk duduk. Ah, benar, mereka menyebutnya bangku. Tempat duduk itu dari kayu, tapi saat tanganku menyentuh permukaannya, hanya rasa dingin yang aku dapatkan. Bukan kehangatan. Permukaan kursi itu halus dan beraroma tajam yang aneh. Aku mengernyit saat aroma itu menempel di tangan. Tapi tidak peduli berapa kali pun aku membersihkannya ke celana dan baju, aroma itu tidak mau hilang. Aku sudah berulang kali mengedarkan pandang ke ruangan kosong itu, hendak mencari air, tapi tidak ada sedikit pun. Tidak ada air yang bisa aku gunakan. Pun tidak ada makanan. Dan jelas tidak ada teman bicara. Aku menadak meja kosong yang menjadi satu-satunya temanku selain bangku ini. Meja itu dibuat dari kayu juga. Saat tanganku menyentuh permukaannya, rasa dingin yang sama juga menusuk tanganku. Seperti tidak pernah digunakan dan baru digunakan saat aku datang ke mari. Tapi aku meragukannya. Mereka yang menatapku penuh kebencian seperti itu tidak mungkin menyediakan sesuatu seperti ini. Apalagi setelah sesuatu yang mereka sebut alarm itu kembali berbunyi saat aku memasuki ruangan ini. Alarm. Untuk Siluman. Aku mendebas. Entah sudah berapa lama waktu yang berlalu di ruangan ini. Aku menghabiskannya benar-benar seorang diri hanya dengan bangku, kursi, dan mungkin bayanganku sendiri. “Tuan Damastra sudah menunggu!” Aku yakin tadi salah satu dari mereka blang begitu, tapi kenapa kenyataannya sekarang aku yang menunggu? Mereka berbohong? Mendadak saja, suara degup jantungku bisa aku dengar. Suara yang pelan dan dalam. Apa aku sekali lagi…. Aku langsung mengerjap kaget. Tidak, tunggu. Kenapa aku merasa pernah dibohongi? Ini pertama kalinya bagiku, bukan? Aku sebelumnya tidak pernah dibohongi siapa pun. Yang ada, aku ditolong oleh semua orang. Tapi kenapa … dadaku berdenyut sakit saat sadar sudah dibohongi? Aku memejamkan mata, mencoba menyelami perasaan sendiri. Kenapa rasanya … aku pernah mengalami ini dulu? Di suatu masa yang lalu….? Apa itu satu lagi kenangan yang hilang dariku? Aku mendebas. Tidak ada gunanya. Tidak peduli berapa kali pun aku mencoba, ingatanku tidak ada yang kembali. Aku memejamkan mata. Suasana yang sunyi dan ruangan yang kosong membuatku lelah dalam cara yang benar-benar berbeda dari biasanya. Ingatan akan kejadian dan mimpi tadi masih jelas dalam ingatanku. Pemuda misterius dan Damastra. Seorang wanita yang tidak aku ingat namanya yang melemparkan pisau yang dapat berubah menjadi petir. Aku tidak ingat pernah bertemu mereka. Sama sekali. Tapi jika semua itu tidak pernah terjadi … semua itu apa? Mimpi? Halusinasi? Sebenarnya … seberapa banyak yang hilang dariku? Aku hanya tidak ingat masa laluku saja … ya, kan? Tidak lebih, kan? Sayangnya, semua masih sia-sia. Sama seperti sebelumnya, aku tidak bisa memikirkan apa pun. Tidak peduli berapa kali pun aku mencoba, hasilnya tetap sama saja. Tiba-tiba kepalaku pening. Kepalaku terasa berat. Aku melirik ke kanan dan kiri, ke arah dinding-dinding bercat putih yang mengelilingiku dari segala sisi. Tidak ada jendela. Hanya ada satu pintu. Tapi pintu itu tadi sudah dikunci. Aku sendiri mendengar bunyinya. Aku berjengit ketika sekali lagi sulur-sulur atma merah menari-nari dalam pandangan mataku. Menoleh, aku mengikuti arah sulur atma itu yang mengarah ke satu sudut ruangan. Ada di atas kepalaku. Jauh dari jangkauan tanganku. Tepat di atas kepalaku. Aku menyipitkan mata karena silau. Tepat di atas lampu yang menyala terang itulah, atma merah ini berasal. Cahaya lampu yang putih itu dikelilingi sulur-sulur atma merah. Atma khas Sekala. Pening itu sekali lagi menyerangku. Kali ini lebih kuat. Aku mendelik ke arah atma yang bergerak di dalam pandanganku. Sulur-sulur cahaya itu berdenyut hidup di mataku. Denyutnya seirama dengan denyut pening di kepalaku. Ah, ya, benar. Aku pernah merasakan pening seperti ini sebelumnya. Pening yang membuat kepalaku semakin lama semakin berat dan melumpuhkan tubuh ini … pernah aku rasakan sebelumnya. Rass. Benar, di rumah lelaki itu aku merasakan perasaan seperti ini. Sekarang kejadian itu terulang, sama persis seperti malam itu. Malam ketika aku bertemu Dayuh. “Kamu alergi dengan Rakta.” Alergi … alergi itu apa? Apakah itu nama penyakit? Sebuah penyakit yang buruk? Untuk kesekian kali, tidak ada jawaban yang bisa aku dapatkan. Aku tidak tahu apa-apa. Ketidak tahuan tidak pernah terasa lebih buruk lagi. Pandanganku berkunang-kunang. Kepalaku mulai terasa berat. Ah, terulang lagi. Semakin lama semakin parah. Aku memegangi kepala, berusaha menahannya agar tidak ambruk ke atas meja yang pastinya akan sakit. Aku tidak mau terbangun dalam keadaan sakit, tapi aku tidak punya siapa-siapa sekarang. Tidak akan ada yang membawaku keluar ruangan ini ataupun menawarkan bantuan. Tidak ada Rass. Tidak ada Anjani. Satu pikiran itu berhasil membuat beban di kepalaku semakin berat hingga tidak tertahankan. Dahiku membentur meja kayu di bawah. Keras-keras. Tapi rasa sakitnya bahkan tidak terasa. Hanya ada berat kepalaku yang semakin lama semakin tidak bisa ditanggung. Kedua mataku terpejam kuat-kuat dan tanganku memegangi rambut, berharap dengan menariknya sedikit, bisa menghilangkan rasa sakit ini walau hanya sejenak. Namun percuma. Rasa sakitnua terus bertambah, merenggut udara dariku untuk bernapas. Semakin lama, aku semakin tercekik. Seolah dinding-dinding ini mengimpitku. Seolah atap turun menimpaku. Seolah ada kekang besi yang mengurung seluruh wajahku dengan ketat dan semakin ketat. Seperti di penjara. Hanya sesaat sebelum aku dibawa ke hadapan Khalikamaya. Kepalaku semakin sakit memikirkannya Saat itulah, aku mendengar pintu terbanting membuka. Sama kerasnya seperti saat aku membanting kepala ke meja. Suaranya bergema, tapi dengan ceapt reda dan lenyap. “Kamu tidak apa-apa….?” Ada suara yang bertanya. Suara seorang pria yang terdengar sangat … cemas. Aku mencoba mendengar lagi. Pria itu sepertinya mengatakan sesuatu setelahnya, tapi aku tidak bisa mendengar. Kemudian seseorang menyentuh pundakku, mengguncangkan tubuhku. Aku mencoba membuka mata. Pelan sekali. Hanya berharap bisa mendengar sedikit atau setidaknya tahu apa yang pria itu bicarakan. Tapi yang aku lihat hanyalah sekumpulan atma merah. Kemudian gelap. Seolah cahaya redup di sekelilingku. Sempat aku mengira sekali lagi aku tertidur, tapi kemudian ada cahaya yang terlihat di ujung kegelapan. Cahaya yang temaran dan kecil. Cahaya itu bergoyang, seperti akan lenyap begitu saja dalam sekali tiupan angin. Aku mengedipkan mata beberapa kali dan masih saja gelap. Aku tidak sedang bermimpi … kan? Sekali lagi aku mengedipkan mata. Keadaan masih sama gelapnya. Tidak ada yang berubah. Namun aku sadari, kepalaku tidak lagi terasa berat. Rasa pening yang berdenyut sakit itu perlahan sirna. Menyisakan rasa aneh seperti … kebas yang tidak biasa. Sentuhan di pundakku kembali terasa. Lebih kuat. Kali ini tubuhku ikut diguncang sampai punggungku duduk tegap lagi di kursi dan kepalaku tidak lagi bersandar di atas meja, menyisakan sakit yang kini berpindah ke dahi. “Hei, kamu tidak apa-apa?” Semakin kuat goncangan itu, semakin aku tidak bisa menjawab. Aku menggelengkan kepala untuk mengusir sisa pening. Kemudian aku menyentuh pelipis, mencoba meredakan denyut yang masih ada di sana. “Ya….” Jawabku dan aku ragu pada suaraku sendiri. “Saya tidak … apa-apa. Lebih baik … sekarang….” Jawaban yang putus-putus itu memang tidak membantu. Tapi karena ia melepaskan pundakku, sepertinya bagi pria itu jawaban tadi terdengar meyakinkan. Atau mungkin ia hanya tidak peduli. “Kamu yakin? Kamu kelihatan tidak sehat.” Rupanya dugaanku salah. Ia peduli dan ia ragu. Lalu aku sadari, suara itu familier. Suara itu bukannya asing. Aku pun membuka mata, melihat ruangan yang temaram hanya diterangi oleh cahaya lilin. Dengan Damastra berdiri di hadapanku. Bangku tempatku duduk entah sejak kapan sudah berputar, jadi menghadap ke arah pintu ruangan yang kini membuka lebar. Btari berdiri di depan pntu, matanya masih sama tidak sukanya kepadaku. Lain halnya dengan Damastra yang berdiri di hadapanku, menjulang di atas kepalaku dengan wajah cemas. Ingat ada pertanyaannya yang belum terjawab, aku pun menganggukkan kepala. Pelan sekali. “Ya … aku rasa….” “Aku rasa kamu masih tidak sehat. Alergi Rakta tidak bisa diremehkan.” Damastra berbalik ke arah Btari. “Apa kamu bisa bawakan dia selimut?” “Tuan, tapi….” Btari mengajukan protes. “Dia bukan tamu, kan? Dia orang yang patut dicurigai.” “Orang mencurigakan patut sekalipun patut mendapat perlakuan yang manusiawi.” Damastra bersikeras, membuatku terpekur. “Apa pria ini tidak berhak dapat selimut setelah berjam-jam dibiarkan tanpa makan dan minum? Setidaknya tolong mintakan tempat agar dia bisa tidur dengan layak.” “Tapi Tuan, dia bukan pria.” Btari menudingku. “Dia Siluman. Dia mati pun tidak akan ada yang berhak menuntut pada Anda— “Btari.” Damastra memotong. Suaranya terdengar tegas, meski ia tidak menghardik. “Tolong tanyakan pada mereka.” Btari menggerutu pelan, tapi tidak protes lagi. Ia menunduk hormat lalu berlari pergi meninggalkan kami. Meninggalkan pintu terbuka. Damastra menghampiri pintu itu. Aku hendak menghentikannya, bilang kalau pintu itu tidak apa dibiarkan terbuka—malah lebih baik jika dibiarkan terbuka—tapi suaraku seolah tidak sanggup keluar. Aku tidak bisa menghentikannya. “Maafkan tingkah laku muridku satu itu,” ujarnya seraya berbalik setelah pintu tertutup. “Dia masih muda. Mungkin lebih muda darimu.” Aku mengerjap. “Murid?” Tapi Btari bilang dia adalah orang kepercayaan Damastra. Apa … murid dan orang kepercayaan itu punya makna yang sama? “Ya, dia muridku sejak beberapa tahun lalu.” Beberapa waktu … pembicaraan itu langsung membuatku teringat satu jawaban Damastra tadi. Jawaban yang membuatku tertegun. Mendadak aku sadar aku sudah sangat lapar dan haus. “Maaf,” ujarku saat Damastra lantas menarik kursi di seberang meja. Kursi yang tidak aku sadari ada di sana. “Anda bilang saya … sudah berjam-jam di sini….” Walaupun aku tidak merasa lama sama sekali. Apa benar waktu sudah berlalu beberapa lama? Seberapa cepat? Apa aku lupa waktu atau hanya … tidak sadar waktu sudah berlalu? “Berapa lama saya … ada di sini?” “Berapa lama….?” Damastra mengingat-ingat. Matanya terarah ke langit-langit yang gelap. Aku ikut memandangi lampu itu. Menyadari tidak ada atma yang datang darinya sekarang. Tunggu, atma tadi berasal dari lampu? Apa maksudnya? Tanpa sadar kedua mataku membelalak. Lampu itu bukan makhluk hidup, kan? Kenapa ada atma dari lampu ini? Apa maksudnya ini? Rakta, kata itu bergema sekali lagi dalam benakku. Apa kiranya benda itu? Kenapa aku alergi pada benda itu? Apa benda itu yang menyebabkan lampu ini menyala? “Sekitar enam jam.” Hah? Aku mengerjap saat kembali menatap Damastra. Apa yang baru saja dia bilang? “Enam jam?” Aku sudah ada di sini selama empat jam dan tidak sadar? “Benar,” Damastra menjawab, membalas kebingunganku dengan kebingungan yang sama. “Sekarang sudah jam tujuh malam.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD