Malam? Ini sudah malam?
Dalam waktu yang lama, aku menatap mata Damastra, berharap pria itu hanya sedang bergurau, tapi nyatanya tidak. Di tengah cahaya lilin yang mdiletakkan Damastra di antara kami, pria itu tidak tampak bergurau. Malahan, ia tampak serius sekali.
“Sudah … selama itu?” ulangku, masih tidak percaya. Aku lantas memandang ke sekeliling ruangan, mencoba mencari-cari bukti kebohongan Markandra di tengah temaramnya ruangan, tapi nihil. Tidak ada yang aku temukan. “Tidak mungkin … kan?”
“Kenapa tidak mungkin? Melalui waktu yang lama tapi terasa singkat itu sudah berkali-kali terjadi di kehidupan sehari-hari. Kamu juga pernah mengalaminya, kan?”
Jika yang ia maksud adalah tidak sadarkan diri dan tiba-tiba sudah ada di tempat dan waktu yang berbeda, artinya ya. Aku pernah mengalaminya.
“Apa kamu masih ingat alasanmu dibawa ke mari?” Damastra bertanya.
Aku mencoba mengingat-ingat kejadian di stasiun tadi. Pertama-tama, aku mengantar Markandra dan Ira. Mereka berdua selamat, tapi aku terlambat lari dan beberapa orang mengepung jalan keluarku. Mereka mengacungkan senapan dan mulai menembakiku. Mendengar semua pertanyaan, tuduhan, dan tembakan mereka membuatku … kesal. Sangat kesal.
Kemudian … ada api.
Kedua tanganku seketika mengepal dan jatuh di atas lutut. Tersembunyi dari pandangan Damastra.
Benar. Aku ingat. Aku terbakar. Kedua tanganku terbakar. Pertama-tama, kulitku kemerahan, lalu muncul api dari ujung jari jemariku. Dan ledakan … ada ledakan terjadi. Aku meledak. Semua kotak itu meledak. Serpihan-serpihan kayu bergamburan.
Kemudian atma … itu muncul. Atma aneh berwarna kuning keemasan. Atma merah dan biru dari diriku melebur membentuk atma itu.
Dikuasai ketakutan, aku melirik atma yang keluar dari tubuhku sendiir. Warnanya masih merah. Benar-benar merah tanpa ada sapuan warna biru di antaranya.
Bagus. Pelan sekali, aku mengembuskan napas lega.
Karena gugup, kedua tanganku saling mengepal entah sejak kapan. Lalu entah perasaanku atau memang demikian adanya, telapak tanganku mulai terasa menghangat. Aku pun melepaskan kedua tanganku yang terkepal dan memutuskan untuk membukanya saja, menggenggam pakaianku sebagai gantinya agar aku bisa sadar lebih cepat jika ada yang terbakar.
Setelah kotak-kotak kayu itu terbakar dan terlempar, setelah tanganku terbakar dan atma emas itu muncul, seseorang yang lain muncul di ujung gang. Di tepi keramaian.
Aku melirik diam-diam ke arah pria yang sedang aku pikirkan, pria yang saat ini duduk di hadapanku. Damastra. Dia muncul tepat setelah lima pria itu terlontar karena ledakanku.
“Nah, karena inilah, aku meminta kalian untuk mundur saja….”
Aku ingat kata-kata Damastra sebelum berjalan mendekatiku. Apa maksud kata-kata itu? Apakah dia tahu … aku akan mampu melemparkan lima orang itu?
Tidak, tidak mungkin. Mustahil ia bisa tahu … kan?
“Ya….” Aku menjawab pertanyaan yang menggantung itu karena Damastra mulai menatapku dengan sorot mata aneh yang membuatku tidak nyaman. Terlebih karena ia dari tadi tidak berkedip. “Saya … dibawa ke mari karena saya … dicurigai sebagai … Dayuh.”
Menyebutkan nama itu saja sekarang rasanya benar-benar aneh. Jantungku seperti terus-terusa mencelus setiap kali nama itu diucapkan, membawa kembali kenangan-kenangan yang tidak aku sukai yang entah bagaimana bisa terjadi di hadapanku malam itu. Dengan aku menyaksikannya langsung padahal tidak tahu bagaimana bisa ada di tempat itu.
“Kurang tepat, sebenarnya.” Damastra menyahut. “Kami belum menuduhmu. Kami hanya mengamankanmu. Karena kecurigaan kepada Siluman yang berkeliaran tanpa kalung leher sangat mengundang kecurigaan belakangan ini.”
Kalung leher. Kalau tidak salah, Anjani pernah menyebutkannya. Kalung pengenal yang membuat seorang Siluman dikenali. Dinomori agar bisa diatur dan tidak menyakiti Manusia.
Anjani yang….
Bayangan wanita itu kembali hadir di benakku. Menghantuiku dan memberi perasaan yang jauh lebih parah ketimbang kenangan tentang Dayuh. Pertemuan dengannya dan kali terakhir bertemu dengannya, terasa sudah sangat lama berlalu.
Anjani … aku tidak pernah bertemu dengannya lagi selepas perpisahan kami yang dingin dan tidak menyenangkan di gang sempit itu.
Bagaimana kabar gadis itu sekarang?
“Tanda pengenal itu….” ujarku. “Anda akan mengenakannya kepada … saya?”
“Tidak juga,” jawab Damastra tenang dan aku pun mendongak kaget kepadanya.
“Apa … maksud Anda?”
Damastra gantian mengerjap kaget. “Kamu … tidak tahu siapa aku, Nak?”
Selain namanya dan peringatan dari orang-orang di sekelilingku untuk menjauhinya, tidak. Jadi aku pun menggeleng. Damastra menatapku sejenak, meneliti setiap bagian wajahku dengan seksama, seolah mencari apa pun tanda kebohongan di sana.
Dia sepertinya tidak mengenaliku. Jadi aku rasa itu pertanda bagus.
Tiba-tiba Damastra tertawa. Nyaris terpingkal-pingkal. Selama beberapa lama, aku hanya bisa memerhatikannya tertawa sendiri. Tidak ikut tertawa karena tidak tahu apa yang sebegitu lucu sampai ia terpingkal-pongkal seperti itu. Untungnya, Damastra segera bisa mengendalikan diri dan kembali tenang.
“Maaf, ini pertama kalinya ada yang bilang begitu.” Damastra masih sedikit terkekeh. “Sepertinya aku terlalu besar kepala belakangan ini.”
Dia masih tidak menjawab pertanyaannya sendiri, tepat sesaat setelah aku berpikir demikian, Damastra menaruh tangannya di d**a.
“Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkan diri. Damastra. Wakil Dewan Kendali Negara: Dyaksa.”
Nama itu membuatku terperangah. Dyaksa? Apa dia baru saja menyebut soal Dyaksa?
“Dewan-Kendali-Negara?” Apa itu? Aku baru pertama kali mendengarnya. Itukah Dyaksa?
“Pintu yang awalnya bebas dimasuki akhirnya dikunci. Dengan pusaka-pusaka Dewa yang disebut Nawadewata,” Suara Anjani kembali terngiang dalam kepalaku. “Dari sanalah, lahir delapan Dyaksa.”
Lalu kenapa … kenapa Anjani bilang Dyaksa lahir dari Nawadewata? Lalu apa itu Sandhikala? Apa itu gerbang senja jika Damastra adalah Dewan kendali negara?
“Kamu belum pernah mendengarnya?” Aku menggeleng. Damastra lantas memegang dagunya sendiri, tampak tidak habis pikir. “Wah, wah, ini pertama kalinya aku sebegini tidak terkenalnya.” Ia lalu menatapku lagi. “Lalu, kamu sendiri? Siapa namamu?”
Selama sesaat, aku ragu. Haruskah aku memberitahu namaku kepada pria ini? Kemudian aku melihat pintu yang tertutup.
Ah, ya. Aku tidak punya banyak pilihan.
“Damien.”
“Nama yang cukup bagus,” pujinya dengan wajah tenang yang mau tidak mau, membuatku berpikir, itu bukan wajah yang pas untuk memuji seseorang. “Nah, Damien, aku percaya kamu tidak terlibat dengan semua kasus soal Dayuh ini, betul?.
Aku buru-buru mengangguk. “Sa-saya sendiri tidak tahu apa itu Dayuh.” Aku menelan ludah karena gugup. “Da-dayuh itu …. Apa—jika saya boleh tahu? Apa itu … nama seseorang?”
Tiba-tiba wajah Damastra berubah serius. Semua senyum dan keramahannya lenyap. Seketika aku duduk tegap. Tubuhku terasa kaku. Cahaya lilin yang ada di dekatku bergetar. Udara terasa semakin pekat dan sulit digunakan untuk bernapas. Sementara atma emas mulai keluar dari tubuh Damastra sekali lagi. Sulur-sulur cahaya setipis benang itu menari-nari, menerangi ruangan yang temaram dengan cahaya hangat, berlawanan dengan tekanan yang dipancarkan oleh pemiliknya.
“Sebaiknya jangan kamu sebut nama itu dengan sembarangan, mulai sekarang, Damien.” Damastra menekankan suaranya saat menyebut namaku. “Siluman yang menyebuat nama itu sesuka hati akan langsung dicurigai dan ditangkap. Tapi kamu di sini, aman dalam penjagaanku alih-alih membusuk di penjara, meski sudah mengatakan kata tabu itu di depanku. Bukankah kamu harus bersyukur sedikit dengan—setidaknya—tidak mengucapkan kata itu?”
Aku mencoba mengangguk, tapi tubuhku sudah terlanjur kaku. Tidak punya pilihan lain, aku pun menggunakan mulut. “Sa-saya paham.”
“Bagus.” Ketika Damastra tersenyum, tekanan yang mencekikku pun pudar. Udara kembali terasa ringan dan aku langsung menghirup udara banyak-banyak. “Karena kamu tidak tahu soal aku, aku anggap kamu juga tidak tahu menahu soal Dayuh. Apa aku salah?”
Aku hampir mengernyit saat nama itu diucapkan dengan mudah dari mulut Damastra.
Perlahan, kebingungan dan pertanyaan yang tadinya hanya sebatas dugaan, menguat di dalam dadaku. Memberatkan napasku untuk alasan yang baru.
Aku mungkin … sudah benar-benar membuat kesalahn dengan ikut bersama pria ini.
Ia terlihat berbeda dari apa yang ditampilkannya ke depan mataku di stasiun. Damastra kini tampak seperti seseorang yang serius dan tidak mudah ditebak. Dia dengan mudah mengucapkan kata yang menurutnya tabu, padahal tadi mengancamku untuk tidak mengucapkannya.
Namun karena ingat, ruangan ini dan semua kejadian yang menimpaku ini adalah karena dirinya, aku pun menggeleng.
Damastra masih menanti. Aku buru-buru berdeham. “Tidak.”
“Kamu beruntung.” Damastra lalu mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Sebuah kertas yang dilipat. Ia membuka kertas itu di hadapanku, “Aku membawa sedikit artikel soal dirinya. Aku gunting dari koran hari ini. Kabar terbaru yang aku dapat dari Marsose sendiri.”
Sebuah potongan koran diletakkan di bawah naungan cahaya lilin. Potongan itu berisi tulisan hitam yang dicetak besar-besar sampai aku tidak perlu mencondongkan badan untuk sekadar membacanya.
IDENTITAS KORBAN SOEDA TEROENGKAP!
Dari Public Londo! Seorang Pengusaha Tebu Mendjadi Korban!
Aku termenung membaca artikel itu. Tidak mengerti satu pun isinya, tapi dalam hati, merasa ikut tertekan dan ngeri karenanya. Aku rasa tidak perlu paham untuk bisa takut pada sesuatu yang mengerikan.
“Ini korban terbarunya.” Damastra menunjuk potongan koran itu. “Seorang lelaki dari kalangan Londo, pengusaha tebu di daerah Lembang. Pemilik dari sebuah perusahaan keluarga yang cukup makmur di Paris Van Java.”
Paris van Java? Lembang? Apa itu?
“Sama seperti enam korban sebelumnya, dia ditemukan dalam keadaan termutilasi,” ujar Damastra dengan tenang sementara aku terdiam. Tidak bisa berkata-kata. Suaraku tertelan dan terperangkap dalam d**a. “Lengkap dengan sebuah simbol dan nama yang dilukis dengan darah di lantai di bekas tempat perkara.”
Aku menatap Damastra, mencoba memastikan apa yang dia katakan itu bohong. Tapi bahkan dalam kegelapan sekalipun, wajah Damasta masih lebih gelap. Menandakan betapa seriusnya dia mengenai perkara ini.
“Enam … korban?” ulangku. “Dia sudah … separah ini?”
Damastra sedikit mendengkus. “Andaikan kamu tahu betapa brutalnya dia.” Damastra menunjuk salah satu foto yang aku rasa tempat kejadian perkara. Foto penuh darah, tapi ada tulisan yang tercetak di sana.
Tulisan yang membuat jantungku mencelus.
Tulisan itu jelas bukan kali ini saja aku lihat.
DAYUH.
Dalam tinta hitam di atas batu abu-abu, tulisan itu diukir. Beberapa garisnya tampak pudar dan luntur. Beberapa terlihat terlalu besar. Sangat berantakan, tapi aku yakin pernah melihat tulisan ini.
Ini tulisan yang sama seperti yang dituliskan pria bercakar besar itu. Pria yang menurut Rass adalah Dayuh.
Jadi benar yang aku temui malam itu adalah … Dayuh? Itu bukan lagi asumsi?
“Kamu lihat ada bekas goresan di sini?” Damastra menunjuk sudut foto, sudut yang sebelumnya terlewat olehku. Dan persis seperti apa yang ia katakan. Ada bekas goresan di sana. Empat buah goresan memanjang, jika aku lihat. “Ini bukan dibuat oleh manusia.”
Aku membelalak. “A-apa?”
“Kami berasumsi goresn ini adalah cakaran. Karena bentuk dan beberapa hal lain di tempat yang memang cocok dengan ciri-ciri cakar,” ujar Damastra, lalu menunjuk goresan besar itu lagi. “Lihat celah di antara dua garis ini?”
Aku mengangguk.
“Celah itu terlalu besar untuk dimiliki tangan Manusia ataupun hewan.” Ia menunjuk bekas cakaran itu. “Dan ukurannya sama sekali bukan ukuran cakar Manusia ataupun cakar beruang.” Damastra lantas mundur, kembali duduk tegap di kursinya. “Karena inilah, pendapat bahwa Dayuh adalah Siluman berkembang luas di masyarakat tanpa bisa dihentikan.”
Damastra memijat pelipisnya. Tampak benar-benar gusar.
“Sekarang setelah ada bukti ini, tidak ada lagi alasan untuk membantah bahwa Dayuh adalah Siluman. Tidak seperti orang lain dengan nama Dayuh yang dulu aku kenal.” Ia mendebas.
Tunggu, apa dia bilang? Orang lain dengan nama Dayuh? Orang lain yang ia kenal?
Sayang, sebelum sempat aku mempertanyakan hal itu, Damastra kembali melanjutkan untuk bicara.
“Tapi jika benar, aku tidak ingin semua Siluman dituduh seperti ini.” Ia melirik kepadaku. “Siluman tidak bersalah sepertimu harus menanggung akibat karena satu orang. Itu tidak adil sama sekali.”
Aku menatap Damastra. Tertegun. Aku mencoba mencari kebencian macam apa pun yang terpancar di mata dan wajahnya, tapi gagal. Ia tampak sepenuhnya tulus saat berkata tidak ingin Siluman diperlakukan aneh.
Ia tampak betul-betul peduli.
“Anda … benar-benar peduli … pada Siluman?” Di bawah meja, aku menggerak-gerakkan kaki cakarku dengan gelisah. Rasanya kaki itu sedikit gatal oleh perbincangan ini. Entah kenapa. Padahal ini bukan perbincangan yang buruk. “Menurut Anda … semua tuduhan itu tidak diperlukan?”
“Tentu saja.” Damastra menjawab dengan tegas. “Sama saja dengan Manusia. Hanya karena berperang dengan satu kerajaan, tidak berarti semua kerajaan harus dipukul sama, kan?”
Kerajaan?
Kata itu bergema dalam kepalaku, membawaku kembali ke peristiwa aneh ketika semua hal di sekelilingku lenyap dan berganti. Sebuah padang rumput dengan banyak sekali api, rerumputan yang hangus, dan mayat yang bergelimpangan.
“Kita akan satukan semua kerajaan dalam satu panji. Satu negara.”
Peperangan … apakah yang diperlihatkan kepadaku itu adalah … sebuah peperangan? Tapi di mana? Jika itu peperangan, seharusnya ada Markandra dan Ira di sisiku, kan? Mereka seharusnya bertarung bersamaku karena mereka Pejuang.
Namun di sana, aku tidak melihat Markandra maupun Ira. Hanya ada orang-orang yang tidak aku kenali, padang rumput yang tidak aku kenali, dan kenangan yang tidak aku miliki.
“Jadi … Anda membawa saya ke sini karena tidak ingin saya dicurgai?”
“Itu benar.”
“Jadi….” Mendengar Damastra menjawab pertanyaan itu tanpa ragu, aku semakin gelisah. “Saya akan … di sini selamanya?”
Kali ini Damastra mengerjap. “Apa? Oh, tidak tentu saja tidak.” Pria itu menggeleng kuat-kuat. “Astaga, apa yang membuatmu berpikir—
Ia menoleh ke arah pintu. “Ah, apakah pembicaraanku tadi dengan Btari yang membuatmu berpikir begitu?”
Tidak punya alasna lain untuk dikatakan, aku pun mengangguk. Damastra menghela napas kasar.
“Astaga, tidak,” ujarnya. “Aku tidak meminta Btrai mengambilkanmu selimut karena kamu harus tinggal di sini. Itu hanya untuk membuatmu nyaman. Kamu tadi tampak pucat. Dan sekarang masih tampak pucat.”
“Tapi saya sudah merasa lebih baik,” ujarku jujur. “Jauh … lebih baik.”
“Oh.” Damastra menatapku tak percaya. “Sungguh?”
Aku mengangguk. Lalu menatap kembali kertas di atas meja.
Nama Dayuh yang tercetak tebal di sana terus membayangiku. Sosoknya, seringainya yang tampak begitu bahagia padahal ia baru saja membunuh, pria yang tergeletak tak berdaya dalam cengkamannya: berdarah dan tidak bergerak….
“Korban … kapan pembunuhan ini terjadi?”
“Sekitar satu malam yang lalu,” Kini aku membelalak. Malam yang sama persis. Seperti saat aku bertemu dengan sosok mengerikan itu. “Mayatnya ditemukan di atap sebuah bangunan. Seperti biasa. Di tempat yang agak sulit dijangkau. Tapi pembunuhan kali ini sedikit aneh menurut para petugas.”
“Aneh?”
Damastra mengangguk. “Ceceran darahnya mengarah ke bangunan sebelah. Di sana terdapat tanda-tanda perlawanan. Dan ceceran darah dari tempat ditemukannya mayat, mengarah ke bangunan sebelah. Seolah pelaku sengaja bergerak ke sana dan bergulat entah dengan siapa.”
Kini aku bahkan tidak berani menatap Damastra.
“Semua orang beranggapan ada korban lain yang mungkin saja terlibat, tapi aku rasa tidak. Jika ya, mereka tidak akan repot-repot memanggilku ke mari.”
“Eh?” Tanpa sadar, aku kembali mendongak. “Alasan Anda dipanggil kemari?”
Damastra tersenyum. Ia menggaruk rambutnya yang pendek. “Sebenarnya aku bukan dipanggil ke Jayagiri untuk menangani kasus ini. Panggilan untuk kasus ini baru datang setelah panggilan yang pertama. Karena aku pikir yang pertama dan yang kedua berhubungan, jadi sekalian aku ambil saja.”
“Pertama? Memangnya apa misi pertama Anda ke mari?”
“Penyusupan,” jawab Damastra enteng. “Seseorang menerobos tembok pembatas Batavia. Biasanya mayatnya akan ditemukan esok paginya, tapi pagi berikutnya, mayat penyusup itu tidak ditemukan.”
Mendengar nama Batavia, tubuhku bergidik. Tapi saat mendengar seseorang menembus tembok pembatas … aku jadi heran. “Yang memasukinya … warga sipil?”
“Ya,” jawab Damastra. “Perempuan.”
Aku terperangah. Markandra tidak terkejut melihat reaksiku.
“Aku tahu,” sahutnya. “Aneh, bukan?”
“Ada suara tidak enak datang dari sana. Seperti suara monster.”
Markandra dan Ira bilang, wilayah Batavia dilarang dimasuki oleh warga sipil. Ada suara monster dari sana. Ada bahaya yang disembunyikan di balik temboknya. Tapi aku baru saja dengar ada yang menyusup ke dalamnya dan mayatnya tidak ditemukan.
Apa itu artinya dia sudah tidak bersisa? Atau justru dia selamat? Lagipula … yang datang ini perempuan. Tidak mungkin ia selamat dari sana, kan?
“Kamu tahu yang lebih aneh lagi?” Damastra menambahkan. “Petugas jaga yang ada di sana mengatakan penyusup yang masuk itu Siluman perempuan. Dengan tangan seperti cakar dan mata sebiru malam.”
Mata biru. Mendadak saja wajah Anjani muncul dalam kepalaku.
Tunggu, tidak. Itu tidak mungkin, kan? Tidak mungkin Anjani menyusup … pasti ada orang lain yang juga Siluman, perempuan, bercakar, dan memiliki mata biru di Jayagiri ini. Pasti masih ada.
“Lalu….” Aku menyingkirkan semua pemikiran terlalu dini itu dari kepala dengan segera. “Kenapa Anda berpikir penyusupan itu berhubungan dengan Dayuh?”
“Penyusupan itu terjadi sekitar dua malam yang lalu. Hanya berbeda beberapa lama dengan p*********n Dayuh yang terbaru,” ungkap Damastra. “Aku berpikir … mungkin saja, Siluman perempuan ini adalah Dayuh yang dicari. Dia mungkin berasal dari balik tembok, mengingat ada rumor gerbang menuju alam Niskala terbuka setiap malam di tanah bekas Batavia.”
Gerbang menuju Alam Niskala?
“Anda berpikir dia … makhluk Niskala?” simpulku.
“Kurang lebih. Aku pernah dengar Asura tingkat tinggi, beberapa ada yang bisa menyusup ke alam Sekala lagi, melanggar hukum batas dunia.” Hukum Batas Dunia? “Dia mungkin keluar satu malam sebelum kejadian perkara, mencari target, dan membunuh, lalu mengatas namakan Dayuh.”
Mengatas namakan Dayuh?
Kenapa dia dari tadi … selalu berkata seolah Dayuh itu ada dua orang? Dia juga bilang “Dayuh sebelum ini” … apa artinya itu?
“Anda bilang … mengatas namakan Dayuh?” ulangku dan Damastra pun mengerjap. Seolah ia mengucapkan itu dengan tidak sengaja. “Apa maksudnya?”
Kedua Damastra membelalak. Ia terdiam, setengah menganga di depan mataku. Entah karena apa.
Apakah ada yang salah dengan ucapanku barusan?
“Damien, kamu … benar-benar tidak tahu?”
Oh. Sekarang aku terdiam. Rupanya aku baru saja membocorkan satu petunjuk penting bahwa aku tidak ingat banyak hal. Aku memberitahu kelemahanku kepada musuh yang diperingatkan oleh Markandra dan Sapta untuk dijauhi.
Aku menunduk, tidak berani menatap reaksi Damastra. Bolak-balik, aku melirik antara meja ini dan pintu, mulai berpikir keras untuk mencari cara menerobos pintu itu dengan bangku dan meja kayu, sementara ada seorang pria yang harus dilumpuhkan di sini.
“Kamu tidak pernah dengar….” Damastra mengetuk kertas artikel di atas meja. “Kisah tentang sang Dayuh dari Girah?”
***
Aku telah berulang kali mendengar nama Dayuh sejauh ini. Mendengarnya dalam teror dan kengerian dan prasangka penuh kebencian. Tapi aku baru kali ini, aku tidak merasakan semua itu ketika mendengar nama Dayuh.
Damastra di hadapanku tidak mengatakan nama itu seperti halnya orang lain mengatakannya. Tidak ada kebencian yang terasa dalam suaranya. Tidak ada kecurigaan di matanya. Hanya ada sorot pandang menerawang dan sendu. Persis seperti Anjani.
Saat gadis itu menceritakan kisah-kisah tentang Sandhikala.
“Girah….” Aku mengulangi kata asing itu. Lalu menggeleng. “Saya … belum pernah mendengarnya.”
Damastra memandangiku lama-lama. Ekspresinya tampak tenang. Aku berusaha membaca wajahnya, tapi tidak bisa. Ia terlalu tenang. Terlalu tidak terbaca.
Apa yang sedang dipikirkannya?
Kenapa ia terdiam sambil memandanngiku begitu? Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah?
“Girah adalah nama sebuah desa. Tempat semua cerita soal Dayuh bermula. Desa itu … mungkin sekarang sudah tidak ada.” Damastra menunduk, menatap kertas artikel di atas meja. Wajahnya semakin sendu. “Aku dengar kisahnya dari leluhurku. Kisah ini terjadi di era Pergolakan Kedua.”
Pergolakan … kedua?
“Sampai Pergolakan kedua, ketika Sandhikala tercipta.”
Kata-kata Anjani yang diucapkan wanita itu ketika malam kami menari bersama di bawah temaram lampu, di tepi keramaian, kembali menghantuiku. Aku ingat dia menyebut soal Pergolakan Kedua. Saat ketika Sandhikala tercipta. Gerbang Senja yang dijaga oleh Dyaksa dan dikunci oleh Nawadewata.
“Saat dunia ini masih begitu dekat dengan alam Niskala … saat Sandhikala sudah dijaga oleh para Dyaksa….” Damastra menjelaskan. “Di desa Girah, hidup seorang janda. Dia terkenal sering membuat ulah. Konon, namanya terkenal di antara makhluk-makhluk Niskala hingga ia bisa memerintahkan beberapa dari mereka sesuka hati. Dia menyebabkan wabah dan makhluk-makhluk Niskala yang ia kendalikan menebar teror di sepenjuru Girah, membuat siapa pun tidak bisa melawannya.”
Aku terdiam sementara sebagian dari diriku tenggelam dalam perasaan yang aneh. Tubuhku terasa mengambang, seperti meninggalkan dunia ini. Meninggalkan Damastra sendirian di ruangan ini dan tenggelam ke dalam sebuah perasaan yang meniru kata-kata Damastra dan menduganya dengan tepat dalam setiap bagian.
Seolah aku pernah mendengar kisah yang sama.
Sang janda dari Girah … dia ditipu pada akhirnya … kan?
“Girah seperti sebuah kerajaan sendiri yang memisahkan diri dari kerajaan Kediri yang pada waktu itu masih menguasai wilayah Girah. Mendengar hal ini, raja pada saat itu mengirimkan seorang utusan yang digunakan untuk memperdaya sang Dayuh.”
“Memperdaya….” Dengan cara memperistri, sebutku dalam hati, tidak berani menyuarakannya terang-terangan.
Tidak, ini terlalu aneh.
Ada apa denganku?
Kenapa aku bisa menduga arah cerita yang … tidak pernah aku dengar ini?
Di mana aku pernah mendengar kisah ini sebelumnya? Kenapa sekali lagi … aku tidak bisa mengingatnya dan hanya bisa merasakannya?
Aku mencoba mengingat lagi, tapi yang muncul di kepalaku hanya kegelapan. Hanya telingaku yang tetap bersuara, memperdengarkan lantunan lanjutan kisah yang dituturkan Damastra. Seolah telingaku pernah mendengar kisah ini walaupun pada kenyataannya aku tidak ingat sama sekali.
“Bagaimana cara memperdaaya … Dayuh?” tanyaku, menahan diri dan hampir menggigit bibir sendiri.
“Dayuh memiliki seorang anak perempuan.” Entah apa yang salah dari ucapan itu, tapi dadaku mendadak sesak. Sangat sesak.
Tanganku terkepal kuat di lutut, mencoba untuk tidak menggerakkannya dan mencengkam d**a, mencoba menghentikan denyut yang sakit di dalam sini. Perutku seperti ditonjok oleh seseorang meski pada kenyataannya tidak ada yang bergerak di ruangan ini.
Perasaan apa ini? Beberapa kali aku merasakan perasaan sakit ini. Rasa sakit yang sangat mencekik ini … apa ini bagian dari … alergi Rakta?
“Anak perempuan satu-satunya dari Dayuh. Karena ibunya yang sering menggunakan Niskala dan membuat kekacauan, anak perempuannya juga menanggung akibat. Dia dianggap jahat dan tidak pernah didekati siapa pun. Sampai usianya mencapai usia matang untuk menikah,” Damastra menghela napas. “Saat itu, rumor kalau sang putri jahat sampai di telinga Dayuh.”
“Lalu … apa reaksi Dayuh?”
Dia murka. Dia pasti marah.
“Dia murka.” Sekali lagi, tebakanku benar. “Dia menggunakan kekuatannya lagi, kali ini membuat semua laki-laki di Girah terserang penyakit misterius. Ia bersumpah tidak akan mengangkat penyakit itu sampai semua lelaki di sana mati karena sudah membuat putrinya menderita.”
“Putrinya?” tanyaku. “Bagaimana dengan putrinya?”
Damastra menggeleng. “Aku tidak mendengar banyak kisah soal putrinya tapi aku dengar putrinya tidak buruk seperti ibunya jadi mungkin….” Damastra menarik potongan kertas itu. “Mungkin dia tidak setuju, tapi tidak bisa melawan karena Dayuh terlalu kuat.”
“Sekuat … itu?” ujarku. “Padahal dia sendirian?”
“Dayuh tidak sendirian. Dia punya enam murid yang selalu setia membelanya. Karena itulah ia tetap selamat walau sudah membuat banyak masalah. Murid-muridnya melindungi Dayuh dan berani mati untuknya,” jelas Damastra. “Berita kekacuan dan keperkasaan Dayuh ini sampai ke telinga kerajaan Kediri dan mereka pun mengirimkan utusan.”
“Mereka ingin … menangkap Dayuh?”
Tidak. Rasa sakit di tubuhku semakkn meningkat. Bukan itu yang terjadi. Tidak semudah itu.
Ekspresi Damastra berubah muram. “Mereka ingin menyingkirkan Dayuh,” ujarnya. “Dengan cara mengirimkan mata-mata untuk memperistri putrinya.”
Tanganku mengepal semakin kuat sampai aku sendiri mati rasa. “Dayuh … ditipu?”
Damastra mengangguk. “Awalnya itu berhasil, sampai ketika sang utusan ingin merebut kekuatan Dayuh, sang janda mengetahuinya dan berusaha membunuh sang utusan.”
Nyala api di tengah-tengah kami bergetar sedikit.
“Pertempuran besar pun terjadi antara Girah dan Kediri. Dayuh dan kerajaan Kediri,” Damastra memalignkan pandang ke arah lain. “Kemudian kisah yang beredar mengatakan Dayuh dan enam muridnya terbunuh. Kerajaan Kediri menang karena bala tentara yang lebih banyak. Selain karena warga desa Girah juga tidak ada yang mendukung Dayuh.”
Tunggu, ada sesuatu yang salah dari kisah ini. Ada yang terlewat. Dan perasaan itu begitu besar hingga aku sedikit berdiri dari bangku. “Kalau begitu … apa yang terjadi dengan sang putri Dayuh?”
Damastra kini menatapku. “Tidak ada yang sumber yang cukup mengatakan ke mana perginya perempuan itu. Sebagian bilang ia ikut tewas bersama ibunya, sebagian bilang ia terus hidup bersama suaminya dan meninggal dalam damai.”
Aku kembali duduk. Pikiranku menelan semua penjelasan itu perlahan-lahan. Entah lama waktu yang aku perlukan untuk mencerna semua itu hingga aku bersuara kembali, setelah berhasil merangkai semua bukti yang ada.
“Anda … jangan-jangan Anda mau bilang jika….” Aku menatap kedua mata hitam Damastra lekat-lekat. “Kalau Dayuh yang sekarang ini adalah….”
“Entah Dayuh sungguhan yang bertahan hidup ataukah putrinya yang entah bagaimana masih hidup sampai era sekarang,” Damastra berpangku tangan. “Itu tetap masih hanya asumsi.” Damastra lantas tersenyum. “Karena aku belum pernah dengar ada Manusia bertahan hidup sampai ribuan tahun lamanya seperti itu!”
Ribuan tahun….? Hidup?
Seorang diri?
TIba-tiba saja mataku disengat rasa perih yang aneh. Pandanganku kemudian memburam. Aku mengerjap bingung, lalu hal berikutnya yang aku tahu, mataku basah.
Apa ini? Aku mengusap mata, merasakan tetesan dinginnya di telapak tanganku yang hangat. Apa ada air masuk ke mataku?
Aku mendongak, mencari tetesan air itu, tapi tidak ketemu. Aku lantas menyentuh rambutku, mencoba mencari air di sana, tapi tidak ada. Lilin di tengah-tengah kami pun tidak terganggu sinarnya.
Kalau begitu, air ini dari mana asalnya?
“Eh? Kamu menangis?”
Hah?
Aku mendongak kaget. Saat menatap Damastra, pandanganku masih sedikit buram.
Menangis? Aku?
“Itu!” Pria itu menunjuk mataku. “Ada air mata di matamu dan kamu berkaca-kaca.”
Sekali lagi, aku mengusap sudut mataku. Merasakan dinginnnya air itu masih tersisa di sana sedikit.
Ini … yang namanya air mata? Benda ini keluar saat aku menangis? Tapi … kenapa aku menangis?
Sedih.
Ah, benar, aku merasakan kesedihan.
Tapi kesedihan karena apa? Aku tidak ingat. Tapi rasa sakit … ada sesuatu yang sakit di dalam dadaku. Rasa sakit yang sama seperti sebelumnya, tapi lebih kuat. Jauh lebih kuat.
Apa sebenarnya rasa sakit ini?
Damastra tertawa pelan. “Yah, kamu bukan yang pertama menangis saat aku menceritakan kisah Dayuh. Ada banyak pria dan wanita yang menangis tersedu-sedu pada kisah ini.”
Aku terlonjak kaget. “Ada banyak?”
Jadi aku bukan yang pertama?
“Tentu saja.” Mendengar jawaban itu, napas lega keluar dari mulutku. “Sekarang—
Tiba-tiba seluruh ruangan bergetar. Lalu ledakan terdengar kencang, menggetarkan atap, dinding, dan lantai di sekeliling kami.
***