27. Rass dan Renjana

3225 Words
Tawa Rass bergema di dalam mobil ketika Anjani selesai bercerita. “Kamu mengusirnya setelah menghabiskan waktu dengannya dan menari bersamanya di alun-alun? Hanya karena ia sudah bertemu lagi dengan teman-temannya?” Ia terpingkal-pingkal di balik kursi pengemudi. “Urusannya sudah selesai denganku ketika ia bertemu dengan teman-temannya alias penyewa jasaku,” Anjani menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi. “Artinya tugasku sudah selesai. Paket sudah aku antarkan dengan selamat ke pengirim. Aku tidak lagi punya hutang kepadanya.” “Malah ia yang berhutang kepadamu, bukan begitu?” “Ya….” Anjani berdecak ketika kenangan dalam kepalanya mengembara ke masa lampau yang terlalu jauh dari masa sekarang. “Hutang yang terlampau banyak.” Rass manggut-manggut. “Aku dengar dari Shan, kamu mampir ke tokonya untuk beberapa setel pakaian laki-laki.” Dalam hati, Anjani berjanji akan mencukur rambut Shan sampai botak setelah ini. “Dan karena itu kamu langsung mencampakkannya?” Anjani menjawab semua itu dengan suara yang mirip geraman hewan yang sedang jengkel. Rass sekali lagi terpingkal-pingkal di belakang kursi pengemudi. Ia bahkan menempelkan dahinya ke roda kemudi untuk mengerem suara tawanya yang kian menggelegar. “Membuangnya setelah memberinya begitu banyak kebaikan,” ujar Rass setelah tawanya mereda. “Demi Tuhan, Anjani, aku mengenalmu dalam banyak julukan, tapi bukan ‘wanita keji’.” Anjani mendengkus. Tangannya terlipat di d**a. “Kalau begitu kamu harus mulai menambahkannya sekarang.” “Mungkin, tapi tidak terima kasih.” Rass menyahut santai, melemparkan sebutir apel kepada Anjani. “Kamu mau bersusah payah datang membantuku untuk kasus yang sebenarnya bukan wewenangmu. Kalau sudah sejauh ini dan aku masih mengataimu, aku benar-benar tidak punya malu.” “Apa memang masih ada urat malu di dalam tubuhmu itu?” Anjani terang-terangan melirik ke paha Rass. Wanita itu tersenyum miring, lalu kembali menatap sang pria tampan di sampingnya. “Aku tidak yakin.” “Hei, itu tidak termasuk ya.” Rass mencoba membela diri. Ia menunjuk peta di tengah-tengah mereka yang diganjal empat batu besar. “Ayolah,  biarkan aku fokus. Aku tidak mau harus menghentikan semua ini dan membawamu ke kamar lebih dulu.” Anjani terkikik geli di kursinya. “Dan aku tidak mau dimarahi Kaptenmu karena kamu kelelahan besok pagi.” Jalanan di Jayagiri semakin ramai di kala siang. Sinar matahari yang meninggi tidak menghalangi berbagai pedagang tetap menjajakan barang dagangan mereka. Anjani mengendus udara, mencoba mencium aroma lain yang mungkin tercampur di antara bau rempah, kain batik yang dikeringkan, buah-buahan, kosmetik, tembakau, kopi yang baru matang, dan masakan-masakan makan siang yang sudah siap disajikan bagi para pekerja yang hendak beristirahat sejenak. Hasilnya nihil. Anjani tidak mencium aroma darah sama sekali. Tidak ada aroma aneh yang tercium kendati kaca mobil mereka dibiarkan terbuka dan udara masuk. Lampu merah di depan mereka kembali berubah hijau. Saatnya jalan. Rass melajukan mobilnya membelah keramaian kota Jayagiri yang semakin lama akan semakin ramai jika mendekati pusat kota. “Tidak ada aroma mencurigakan?” Rass bertanya dan Anjani menggeleng. “Yah, mau bagaimana lagi? Ini masih siang. Dayuh beraksi saat malam.” Namun Anjani malah menyentil kotak yang memancarkan angin dingin di atas dasbor mobil Rass. Uap putih mengepul dari setiap celah alat itu. Hasil dari uap batu es yang dikipasi oleh sepasang baling-baling kecil di dalam kotak. “Mungkin juga penyebabnya mesin yang kamu sebut sebagai pendingin udara ini.” Anjani menunjuk benda itu, merasakan jarinya ditiup udara dingin yang keluar dari sana. Anjani merinding. Sensasinya menyenangkan. “Aromanya terlalu segar.” “Bukankah itu hal yang bagus?” Rass ikut menaruh jari jemarinya di depan alat pendingin. “Aku mengimpornya langsung dari Semarang. Mereka punya banyak alat bagus di sana. Karena itulah Vorstenlanden makmur bahkan tanpa Batavia.” Anjani bukannya benar-benar mengeluh. Malah menurutnya, jika Rass tidak kebetulan membangun kotak pendingin udara ini di dalam mobilnya, mereka sudah akan mandi keringat di dalam mobil yang terparkir di bawah langit terik kota Jayagiri ini. Semua orang tahu betapa langit kota ini sangat tidak ramah di siang hari. “Tapi aku sadar kamu sedang mengalihkan topik tadi.” Anjani langsung menarik diri dan kembali duduk tegap di kursi. Tidak menjawab, tapi tidak pula menyanggah. Rass tersenyum penuh arti. “Kenapa kamu tidak ramah sekali kepadanya, hm?” Rass bertanya lagi, menatap bolak-balik antara catatan di tangannya dan peta di lantai. “Tidak sepertiku, dia orang yang baik. Mungkin sedikit miskin, punya otak yang kacau, dan tidak bisa diandalkan, tapi dia pria yang lurus.” Anjani terkekeh dengan wajah mengejek. “Kamu yakin mau bilang begitu? Padahal sudah melihat betapa merepotkannya dia kemarin malam?” “Aku harus berlagak keren sesekali, kan?” sahut Rass santai. “Walaupun aku harap, itu terakhir kalinya aku membopong seorang lelaki ke dalam rumah. Bukan tipeku sama sekali.” Anjani mendengkus. Tidak mau membayangkannya lebih jauh, tapi tidak tertawa dalam situasi begini rasanya sulit sekali, terlebih setelah puas membebankan tugas yang sangat dibenci oleh Rass. “Jika saja bukan kamu yang menyuruh atau ada banyak hal menarik soal pria bernama Damien itu, aku tidak akan menerimanya.” Rass menyeringai sembari mobilnya berbelok memasuki jalan raya yang lain. Lampu merah yang lain. “Penghancur Jayakarta. Aku tidak menduga orang yang menghancurkannya tampak sebaik itu.” *** Anjani meninju pelan wajah Rass. Sengaja dengan tangan kanan. “Hati-hati dengan suaramu itu,” ujar Anjani jengkel. “Walaupun kita di tengah jalan, siapa tahu ada yang bisa mendengar.” “Untuk ukuran perempuan, kamu cukup paranoid.” Rass menyingkirkan tangan Anjani pelan-pelan. Bahkan sambil fokus pada jalanan, pria itu masih sempat mencium punggung tangan Anjani yang tertutup rapat. “Tapi itu tidak aneh. Aku duga kamu menukarkan sesuatu yang sangat mahal untuknya.” Anjani menarik tangannya dari Rass. Wanita itu terdiam. “Dan aku dengar penjara alam gaib bukan penjara yang mudah diajak bernegosiasi,” ujar Rass. “Aku penasaran, apa yang kamu tukarkan kepada para makhluk abadi di sana untuk sebuah jiwa yang jelas-jelas memulai ritual akhir dunia.” Suasana di antara mereka berubah. Anjani merasakannya betul-betul. Udara terasa lebih dingin dan berat. Dengan masing-masing dari mereka tidak memperlihatkan kelemahan sedikit pun. Seolah saling bersiap untuk menyerang. “Itu bukan urusanmu, Rass.” “Memang,” sahut Rass mudah. “Tapi jika sampai kesepakatan itu sampai mencelakaimu, aku sendiri yang akan mengirimnya ke hadapan Dewa Kematian.” Anjani mendengkus. “Kami memanggilnya Batara Yama.” “Ya, maaf, aku bukan orang yang religius.” Rass mendengkus. “Tapi kamu orang yang percaya pada akhir dunia….” Anjani bersandar ke kaca. “Akhir yang diaktifkan oleh laki-laki t***l itu. Yang tinggal hanya menunggu waktu sampai semuanya lengkap dan berjalan sesuai keinginan Iblis Kali yang separuhnya sudah bangkit.” Rass terdiam sejenak. Hingga lampu merah kembali tiba di depan mereka. Pria di sebelah Anjani melongok ke balik kaca mobil, menyaksikan langit yang dipenuhi percikan listik yang terus menyala siang dan malam secara simultan. Rass bersandar pada roda kemudi. “Di mataku, Pelindung hanya sekumpulan listrik yang tidak terlihat,” ujar Rass. “Bagaimana di matamu?” Anjani menoleh ke jendela di sampingnya. Langit tampak dari sana. Anjani mengamati setiap atma merah yang tercurah di langit bersamaan dengan aliran listrik yang mengalir tiada henti ke lapisan pelindung tak terlihat yang menutupi kota. Samar-samar Anjani melihat sulur atma hitam mengalir di antara warna merah pekat yang menutupi angkasa. Semakin lama semakin banyak. Beberapa Asura terbang melintas, kali ini tanpa menyerang. Hanya berkaok menggelegar. Di luar Pelindung, sebuah kapal udara terbang melintas. Suasana semakin tenang. Seolah hari esok akan baik-baik saja. TIdak akan terjadi apa pun. Tapi Anjani lebih tahu tipuan keji yang dipergunakan para makhluk Niskala. “Kamu tahu apa yang aku lihat. Haruskah aku menceritakannya lagi? Rasanya mulai membosankan.” Anjani mengepalkan tangan kuat-kuat. Tubuhnya sedikit bergidik. Getaran atma yang ia rasakan malam itu dari Batavia masih kerap menghantuinya bahkan di siang hari. “Aku ingin tahu dari sudut pandang seseorang yang lahir dengan kelebihan seperti dirimu.” Rass menoleh kepadaku. “Apa aku salah?” “Tidak,” Anjani tersenyum jahil. “Hanya sedikit menjengkelkan.” “Oh ya?” “Ya,” Anjani mencondongkan badan ke arah Rass. “Kamu janji membawaku berkeliling kota, tapi ternyata kamu membawaku untuk bekerja.” “Bekerja sambil bermain tidak pernah ada salahnya, kan?” Anjani mencebik. “Aku tidak akan memanggil ini sebagai sebuah permainan.” “Seserius itu?” Rass mengangkat sebelah alis. “Kamu seharusnya mendengar dari Divisi Lima, kan?” Anjani membalas dengan sengit. “Aktivitas Asura di luar Pelindung menurun sampai enam belas persen bulan ini saja. Korban kapal yang harus masuk hangar juga berkurang. Padahal jumlah Rakta yang ditambang semakin lama semakin sedikit.” “Sekilas, terdengar seperti krisis energi.” “Andaikan memang semudah itu.” Tiba-tiba, Rass mencolek pipi Anjani. “Jangan memikirkannya terlalu jauh,” ujarnya. “Semua ini baru dimulai, kan?” Anjani tidak menjawab penghiburan yang menurutnya kosong itu. Sekarang seharusnya ia mengurus Dyaksa dan bukannya Dayuh bersama dengan Rass. Ia sudah mempertaruhkan segalanya dengan melepas untuk sementara pion yang sangat ia butuhkan dalam permainan ini, hanya demi membersihkan sebuah nama. Namun di saat yang sama, Anjani tahu, ia tidak akan bisa mati dengan tenang jika nama itu terus menerus ternodai. “Kamu tahu? Biasanya gadis-gadis akan mengantri untuk pria seperti itu.” Rass lalu berdecak. “Mungkin yang sedikit lebih betul otaknya.” Anjani mendengkus. Rupanya Rass masih berkutat di topik yang sama. Entah sengaja atau memang dia tidak perasa. Menurut Anjani, kemungkinan pertama yang lebih pasti. “Ya, yang sedikit lebih betul otaknya,” Anjani menyahut sembari menggigit apel pemberian Rass. “Tapi aku bukan gadis. Dan jelas saja tidak termasuk kategori ‘biasa’.” “Kamu ingin aku memujimu?” Rass menggoda sembari melirik Anjani. “Padahal kamu bersedia menyambutku dengan kaki terbuka di kamarmu setiap hari?” “Aku tidak pernah berharap akan dipuji.” Anjani menggigit lagi apel miliknya. Kehilangan minat, ia pun meletakkan apel itu sembarangan di samping kursinya. “Karena bayaran selalu datang setelah puijan.” Senyum lenyap dari wajah Anjani, berubah menjadi bayangan keceriaan yang sempat hadir di dalam dirinya beberapa masa yang lalu. Pada akhirnya Anjani tidak menjawab pertanyaan itu. “Oh.” Rass berujar. “Apa aku baru saja mengungkit luka lama?” “Tidak juga.” Anjani mengeluarkan sebuah berkas dari balik laci bawah dasbor dan satu lembar kertas yang lebar. Ia membentangkannya di atas kaki ang diangkat di depan dasbor mobil, mengabaikan semua protokol keselamatan yang berlaku secara umum. “Daripada itu, mulailah sebutkan tanggal-tanggal kejadiannya secara berurutan.” Sementara mobil mereka terus berjalan memutari berbagai jalan di Jayagiri untuk tidak memancing kecurigaan mana pun, Anjani mulai mendata orang-orang yang menjadi korban dari Dayuh selama pembunuh itu beraksi. Mulai dari yang paling pertama, hingga yang paling terbaru. “Korban terbaru adalah seorang pengusaha tebu?” Anjani memastikan. Rass mengiyakan. “Kondisinya cukup mengerikan. Banyak petugas yang melihatnya jadi pucat. Tapi karena ini bukan mayat Dayuh pertama yang mereka hadapi, tidak ada reaksi berlebihan yang aku dapat seperti pada penyelidikan pertama.” Anjani menyeringai. “Jadi pemimpin sekawanan anjing pelacak memang tidak mudah ya?” Rass tertawa pelan menanggapi lelucon garing itu. Lalu ia kembali serius. “Seperti katamu, memang terlihat seperti pekerjaan pembunuh gila. Dan aku tidak akan menyalahkan teori itu. Rumah Sakit jiwa agak sedikit kewalahan beberapa hari belakangan karena kasus alergi Rakta meningkat,” ujarnya. “Tapi … untuk kasus ini, kekacauan pola korban menjadikan jangkauan korban lebih buram lagi. Tidak ada pekerjaan yang cocok. Yang cocok hanya tinggal ciri-ciri korban yang semuanya adalah Londo.” “Seperti sebuah pernyataan perang kecil-kecilan.” Anjani memegangi dagunya. “Jika dunia ini masih luas seperti dulu, wajar saja mereka melakukan serangan terhadap sekelompok golongan ini, tapi di saat dunia sudah sesempit ini, serangan kepada mereka agak sedikit konyol.” “Maksudmu sangat konyol?” sahut Rass enteng. “Rasanya pelaku seperti mengusir para Londo ke luar Pelindung, begitu maksudmu?” “Dan menjadi makanan para Asura di luar sana, ya,” sahut Anjani tidak kalah enteng. “Memperebutkan wilayah yang tidak bisa didapat selain dari p*********n dan perang. Karena itulah aku bilang para pejuang itu konyol sekali.” Rass tertawa. “Setidaknya Damien tidak muntah-muntah saat bertemu Dayuh secara langsung.” Anjani menyipitkan mata, tapi tidak berkata apa-apa. Dirinya terlalu sibuk menandai peta. “Menurut keterangan Damien, Dayuh itu laki-laki. Haruskah kita percaya?” Anjani memberi tanda silang terakhir. “Apa kamu bodoh?” sahut Anjani tanpa memandang Rass. “Kamu penyelidik. Tugasmu adalah menyelidiki semua ini dan membawa pelakunya ke meja hukum. Bukan percaya pad aocehan laki-laki yng kewarasannya saja masih perlu dipertanyakan.” Rass tersenyum. “Ya, kamu benar.” “Tapi kamu ingin aku ikut serta. Padahal kamu tahu aku tidak terlibat. Yang bisa aku pikirkan saat kamu menawari ini hanya satu.” Anjani melirik Rass lagi. “Kamu … ingin membunuh Dayuh juga, kan?” Dari sudut mata Anjani, wanita itu hanya bisa melihat seringai muncul di sudut bibir pria itu. Tampak puas sekali “Oh, ayolah, Anjani,” ujar Rass, menyeringai licik. “Kamu tahu aku mengajakmu hanya agar tidak ketinggalan tontonan seru.” Mereka berbelok ke arah kawasan penginapan di dalam Jayagiri. Anjani terdiam memandangi pemandangan yang berubah. “Biar bagaimanapun….” Rass melirik ke arahnya. “Tidak ada yang lebih ingin membunuh Dayuh dibandingkan dirimu, bukan, Tuan Putri?” Dalam diam, Anjani menyunggingkan senyum tipis yang misterius. *** Anjani selesai menandai tempat dan tanggal kematian para korban. Tujuh lingkaran yang ada di sekitar jayagiri dan Batavia lengkap dengan tanggal kejadian. Nama-nama korban dan jabatan disediakan di bawah keterangan tanggal. Butuh lima menit bagi Anjani untuk memahami pola yang tertera di peta. Dari semua korban, kesamaan yang dimiliki hanyalah pekerjaan mereka yang mengabdi kepada pemerintah. Ras sepenuhnya tidak terlihat memiliki keterkaitan satu sama lain. Ada dua korban Londo Ireng yang juga jatuh tiga hari lalu. Anjani meraih koran Soeara Melaijoe yang ditumpuk di dekat mereka dan memeriksa artikel yang telah ia lingkari beberapa malam lalu, mencocokkannya dengan nama-nama yang tertera di koran. “Cocok.” Anjani menunjukkan artikel-artikel itu kepada Rass, satu per satu dari koran yang telah ia selidiki. “Setiap korban sebelumnya muncul di koran dua hari sebelum jatuh menjadi korban.” Rass mengeluarkan daftar dari kertas putih miliknya. “Dan mereka semua terkait dengan Divisi Lima.” Anjani mengangguk. “Enam tentara yang sebelumnya menjadi korban pernah menjadi petugas keamanan sementara di Divisi Lima.” “Suami istri NIS itu adalah sponsor paling besar dari penelitian Divisi Lima.” Rass menimpali. “Dan pengusaha tebu itu punya pekerjaan sampingan sebagai penyalur b***k Siluman. Klien langganannya tidak lain adalah Divisi Lima.” Semua korban, bahkan lelaki pengusaha tebu yang bertempat tinggal di Lembang itu ikut terlibat dengan Divisi Lima. Entah pelaku kali ini punya data yang lengkap soal siapa-siapa saja yang berhubungan dengan Divisi Lima ataukah orang dalam Divisi Lima sendiri. “Tapi….” Anjani menarik kesimpulan kecil. “Tidak pernah ada staff langsung yang menjadi korban. “Artinya pelaku mungkin tidak mengetahui informasi sejauh itu,” ujar Rass. “Atau mungkin ia hanya menggunakan semua serangan ini sebagai umpan bagi Divisi Lima.” “Umpan yang ceroboh,” Anjani mencebik. “Jika aku ingin mengumpankan sesuatu, aku maksimal hanya akan tiga kali membuat kekacauan untuk memancing biangnya keluar. Dia ingin pamer atau terlalu t***l? Kenapa sampai menghabiskan enam serangan? Butuh berapa lagi pembunuhan sampai dia bisa mendapat hasil yang ia mau?” Rass tertawa. “Kamu sendiri yang bilang ia seperti orang gila.” “Gila, tidak tahu info, atau sekadar mencoba menebar teror.” Anjani menggertakkan gigi. “Yang mana pun tidak ada yang bagus.” “Karena itu kita akhiri dia sekarang kan?” Rass menunjukkan satu artikel dari koran dua hari lalu. Tepat seperti yang disuruh Anjani, melaporkan dirinya mengajukan pernyataan berkoar-koar bahwa ia akan menangkap sang Dayuh dari Girah. Rass mendebas. “Kamu membuatku melakukan janji yang sulit.” “Berjanji adalah keahlian laki-laki.” Rass menyentuh dadanya. “Kata-katamu selalu menyakitkan.” Anjani tidak mengindahkan kata-kata itu dan fokus beralih menyelidiki pola serangan. Kening wanita itu berkerut dalam. “Satu korban setiap tiga hari sekali.” “Terakhir adalah semalam.” Rass menimpali. “Kamu menduganya dengan benar. Dia muncul setiap tiga malam sekali, dengan jam operasi mendekati tengah malam.” Anjani tersenyum. Satu pola yang mungkin bisa menuntun mereka menyelidiki Dayuh. Tapi dari kesaksian terbatas yang dirinya peroleh dari Rass, korban terakhir Dayuh sudah tewas saat dia bertemu dengan Damien. Keluarga dan pekerja dari korban terakhir juga tidak melaporkan kehilangan. Artinya jam menghilangnya tidak begitu lama. Dan di sela kegiatan yang memang diketahui. Mungkinkah Dayuh juga bisa mengawasi dalam waktu lama? Dari hasil otopsi juga rentang waktu meninggal dari ditemukannya mayat tidak begitu jauh. Belum ada rigor mortis. Penemuan mayat adalah sekitar jam empat subuh, hanya beberapa lama setelah Rass selesai bicara dengan Damien. Mereka menemui satu masalah lagi. Waktu penangkapan. Ada dugaan jika Dayuh menangkap korban tidak langsung membunuhnya. Ada bukti-bukti kekerasan fisik yang dilakukan kepada korban ketika korban masih hidup. Artinya ada kemungkinan korban diculik lebih dulu sebelum disakiti dan dibunuh beberapa lama kemudian. “Yang aku tidak mengerti adalah….” Rass mengganggu pikiran Anjani dengan tiba-tiba. “Kenapa kamu menyelamatkan Damien malam itu?” Dalam keadaan mata yang membelalak, Anjani mengerjap ke arah Rass. Sementara pria itu menatapnya dengan wajah penasaran yang sedikit kekanak-kanakan. “Maaf, hanya penasaran saja.” Rass mengedikkan bahu. “Kamu bisa membiarkannya tertuduh sebagai kaki tangan Dayuh atau sekalian membiarkanku membunuhnya.” “Dia tidak akan mati,” sanggah Anjani. “Yang ada dia malah akan membuat masalah.” “Tapi itu juga belum tentu, kan?” Rass menanggapi. “Maksudku ada berapa persen kemungkinan dia akan meledak di sana?” “Aku tidak mau mengambil risiko Jayagiri lenyap dari peta.” Anjani menggenggam kertas di tangannya. “Tidak ketika kota ini masih bernilai sebagai umpan.” Rass mendebas. “Aku tidak bisa melihat hubungan antara membuat kota ini menjadi umpan dengan menghancurkannya.” “Menghancurkan, membuat umpan, sama saja buatku,” Anjani mengibaskan tangan. “Intinya aku harus membuat kota ini cukup menarik perhatian Pemerintah untuk membuat para Dyaksa itu bergerak.” “Ya, dan saat itu terjadi, aku sudah pasti akan dicopot dari jabatan ini.” Anjani terkekeh. “Belum terlambat untuk mundur.” “Dalam mimpimu,” sahut Rass. “Lagipula, sejak ada saingan, aku tidak bisa mundur, kan?” “Damien bukan sainganmu.” Anjani mencolek pipi Rass. “Ucapanmu membuatku cemburu,” Rass tampak sedikit sedih walau Anjani tahu, kesedihan pria itu hanya main-main. “Kamu terhubung dengannya begitu dalam sehingga bisa menebak ia akan keluar lagi malam itu da nada di tempat yang sama dengan Dayuh. Aku terenyuh saat melihat dugaanmu tepat.” Anjani mengenang malam yang dimaksud Damien. Tidak begitu ajaib, sebenarnya. Anjani menduga akan ada kejahatan. Karena ia sudah menduga ada campur tangan Kali di sini, ia tinggal menunggu Damien keluar sesuai dugaannya dan menyuruh Rass untuk mengecek kadar atma misterius di luar pusat tenaga Pelindung. “Kenapa kamu tidak menanganinya sendiri?” Anjani ingat Rass bertanya seperti itu kemarin malam saat ia datangi di tengah malam buta. Dimintai tolong tanpa sebab oleh gadis yang seenaknya masuk lewat jendela. Aku takut tidak bisa menahan diri jika bertemu mereka. Anjani menjawab saat itu. Moksala Rudra tidak boleh terlihat di alam Sekala sampai waktu yang tepat. Anjani melipas semua berkas dan peta yang ia periksa saat ia memelankan laju mobil, tepat ke arah sebuah penginapan yang masih buka. “Artinya kemungkinan teror itu akan datang malam ini.” Anjani menyimpulkan. “Menurutmu di lokasi yang ramai atau sepi?” tanya Rass. “Menurut kesaksian orang terakhir yang menjumpai si pengusaha, pria itu memutuskan keluar dari salah satu Societeit pukul sebelas malam. Jalanan masih ramai. Tapi dari mayat para tentara ditemukan rumput yang hanya ada di rawa-rawa.” “Baiklah, menurutku,” Anjani menurunkan kaki dari dasbor. “Kita coba saja peruntungan kita malam ini. Biasanya peruntunganku bagus kalau malam.” Rass tertawa. “Kalau begitu kita bisa sangat beruntung, terlebih karena mayat korban selalu dibuang di tempat yang ramai dan mudah ditemukan.” Anjani ikut tersenyum. “Meski anehnya, pelaku semua itu masih juga belum terungkap.” Mendengar tantangan itu, Anjani tersenyum senang. Seluruh dirinya merasa tertantang karena hal itu. Di lain pihak, Rass masih serius meneliti laporan di tangan. “Dari data tim autopsi, para korban meninggal antara pukul tengah malam dan satu dinihari.” “Waktu yang sempurna untuk seorang perwira Marsose begadang kan?” goda Anjani. “Biar bagaimanapun, kamu kan perwira teladan.” Rass tidak terlihat tersanjung. “Asalkan semua ini tidak gagal.” “Aku tidak akan biarkan ini gagal.” Anjani serius mengatakannya. “Dan aku dapat bayaran yang pantas.” Rass tersenyum penuh arti. Anjani menyentil pucuk hidung Rass sambil menyunggingkan senyum menggoda. “Asal kamu punya cukup stamina untuk itu, Dasar Hidung Belang.” Rass menyentuh hidungnya. “Hei, aku belum pernah dikenai sanksi seperti itu ya!” “Tidak lama lagi.” Anjani mengamati peta dan koran di lantai. Koran yang menampilkan foto para korban yang mengenaskan mati dalam lumuran darah mereka sendiri. Anjani bangkit berdiri. Di atas atap motel tempat mereka menginap malam ini, ia mengamati seluruh wilayah selatan jayagiri yang tidak seberapa ramai daripada pusat kota. Sejak kabar teror Dayuh menyebar, selatan Jayagiri menjadi lebih sepi dari sebelumnya. Tapi korban belum berjatuhan sama sekali dari wilayah ini. Anjani sekali lagi mengamati peta yang telah ditandai Rass. Tujuh korban di persis tujuh penjuru. Tinggal yang kedelapan, di Selatan, hingga pola menjadi satu lingkaran penuh. “Tolong kendalikan diri ya.” Rass tiba-tiba berpesan. Kekhawatiran tercetak di wajah pria itu. Dia jelas bukan pria bodoh dan tak acuh yang tidak bisa melihat apa yang akan menimpa mereka. Anjani tersenyum. “Tidak akan,” janji Anjani dengan amarah dingin yang membeku di wajah. Amarah yang sudah ada di sana selama bertahun-tahun. “Apa pun motif pelaku, aku tidak akan bisa memaafkan siapa pun yang memakai nama Dayuh dari Girah untuk seenaknya membunuhi orang lain.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD