Adzan subuh sudah berkumandang sejak beberapa menit lalu. Gegas kulakukan kewajiban untuk sujud padaNya, tak lupa membangunkan Zahra untuk ikut serta. Dia memang terbiasa bangun subuh seperti yang kulakukan, lebih tepatnya memaksakan dan membiasakan hingga dia menjadi terbiasa tanpa paksaan. Setelah selesai salat subuh, dia membaca buku-buku pelajaran di kamar, sedangkan aku mulai sibuk di dapur sembari memutar pakaian di mesin cuci. Ada banyak agenda yang harus kukerjakan hari ini, jadi sebisa mungkin urusan rumah selesai sebelum mengantar Zahra sekolah. Sudah kusiapkan beberapa berkas untuk gugatan ke pengadilan. Surat nikah asli dan kartu keluarga sudah kusimpan rapi. Aku nggak akan membiarkan Mbak Yuli mengambilnya dariku, apalagi menggagalkan rencanaku ini. Beruntung aku mend

