"Kamu nelepon siapa, Wit? Ibu? Ngomong apa kamu sama ibu?" tanya Mas Aris tiba-tiba dari ambang pintu. Dia menatapku begitu tajam dengan tatapan tak bersahabat. Aku hanya menghembuskan napas panjang lalu menggelengkan kepala. Tak mungkin aku jujur pada Mas Aris tentang obrolanku dengan ibu. Biar saja menjadi kejutan buat dia nanti jika tiba-tiba ada panggilan sidang atas namanya. "Wita! Ngobrol apa kamu sama ibu?" tanya Mas Aris lagi. Sepertinya dia begitu ingin tahu atau justru hanya ingin mengorek kejujuranku? Aku tak tahu sejak kapan dia berada di ambang pintu. Sejak aku menelepon ibu atau baru saja dia ke luar saat aku sudah mengakhiri obrolan dengan ibu. Ah entah lah. "Ngobrol seperti biasanya, Mas. Memangnya kenapa? Kamu juga nggak pernah mau ngobrol dengan ibu, kan?" tanyaku a

