"Kamu masih di sini, Wit?" tanya Mbak Yuli saat memarkirkan motornya di halaman. Aku masih sibuk mencabuti rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman pot di teras. "Maksudmu apa, Mbak?" tanyaku singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. "Kalau kamu gugat Aris, harusnya kamu tahu diri dong, Wit!" Bentak Mbak Yuli tiba-tiba. Astaghfirullah itu orang, pagi-pagi sudah cari gara-gara aja. Maunya apa coba? Aku berdiri tegak menghadapnya yang mulai melangkah ke teras sembari membawa sekantong kresek entah apa. "Maksudmu apalagi nih, Mbak? Pagi-pagi mau cari gara-gara, ya?" balasku cepat. Mbak Yuli tampak bersungut kesal sembari menjatuhkan bobotnya ke kursi kayu yang tertata di teras rumah. Dia letakkan kantong kresek di atas meja. "Kalau kamu sudah nggak cinta sama adikku, harusnya ta

