5. Amy, Kau Adalah Pemenang, Percayalah Pada Dirimu Sendiri!

1180 Words
5. Amy, Kau Adalah Pemenang: Percayalah Pada Dirimu Sendiri! Amelia Dua minggu yang panjang telah berlalu sejak hari terakhir Yohan datang ke rumah ini. Setiap kali aku berjalan melewati ruang cuci, aku melihat koper-kopernya yang sudah dibereskan. Aku tak bisa bilang aku sudah melupakan semuanya, karena itu adalah sebuah kebohongan. Rasanya masih sangat sakit, dan aku tidak menafikannya. Malam-malam aku masih sering menangis karena jujur saja, kepergiannya sangat berat bagiku. Tapi aku berusaha menahannya karena suatu hari, Lily pernah menemukan aku sedang menangis tengah malam. Sakit yang akan anakku rasakan melihat kesedihanku sedikit membuatku sadar. Aku bukan satu-satunya yang menderita dalam situasi ini, meskipun anak-anak berusaha untuk membuat suasana di rumah tampak hampir normal. Jika mereka berduka, mereka melakukannya dalam diam, agar tidak ada dari kami yang terlalu tenggelam dalam rasa sakit melihat orang yang kita cintai menderita. Saat kami bersama, kami berusaha untuk menjaga semuanya tetap berjalan seperti biasanya, seakan suamiku hanya sedang melakukan perjalanan dinas. Anehnya, dua hari yang lalu aku mulai tidur dengan nyenyak. Untungnya, aku tidak memerlukan pil tidur. Hari ini, aku akan pergi ke rumah ibuku untuk makan siang, sementara anak-anak di sekolah. Ibu mengundangku begitu aku bangun dan aku tidak bisa menolaknya, meskipun rasanya sangat aneh. Ibu pasti merencanakan sesuatu, tapi aku akan segera mengetahuinya. Aku mengenakan pakaian yang sedikit formal, jins, blus berkolar berwarna putih tulang, dan rambut yang diikat tinggi. Berkat genetik bagus yang kumiliki, mereka bilang aku terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Inilah "diriku" yang akan keluar untuk menghadapi dunia. Setelah pergi ke rumah ibu, aku akan menjalani wawancara yang sudah kutunggu-tunggu dengan Bu Ajeng, penjahit Dian. Aku tidak punya banyak yang bisa dipamerkan, jadi aku membuat portofolio kecil berisi kostum dan pakaian yang sudah kubuat untuk Lily dalam festival dan perayaan-perayaan. Aku tahu itu terlihat seperti pekerjaan anak TK, tapi aku tidak punya apa-apa selain itu. Aku tidak pernah ikut kelas desain, jadi aku tidak tahu banyak tentang teknik. Semua karyaku adalah murni dan unik milikku. Walau begitu, aku punya keyakinan bahwa Bu Ajeng akan menyukai desain-desainku. Aku cepat-cepat memeriksa riasanku, mengambil kunci, dan keluar dari rumah. Tak lama kemudian, aku sampai di rumah orang tuaku. Namun ada mobil yang tidak kukenal terparkir di depan rumah mereka. Mobil mewah itu jelas menarik perhatian. Aku lantas mencari tempat parkir di depan rumah tetangga, yang segera keluar untuk mengecek. Setelah memastikan bahwa itu aku, si tetangga mengangkat tangan sebagai salam. Dia tahu aku tidak akan menutupi jalan masuknya terlalu lama. Aku mengeluarkan kunci untuk membuka pintu, tetapi tepat saat itu, pintu rumah terbuka seolah-olah mereka telah menungguku. Ibuku mengenakan pakaian bagus, dan itu membuatku penasaran. "Amel! Akhirnya kamu datang. Tapi masuk dulu, masuk, kita nggak punya banyak waktu." Ibu menggenggam tanganku dan hampir menyeretku masuk. Di dalam, duduk di meja makan, aku melihat seorang pria yang tidak kukenal. Pakaian dan sikapnya sangat elegan, aku bisa menilai itu. Dia pria yang kira-kira berusia tiga puluh lima tahun, bisa dibilang tampan, yang menatapku dengan aneh saat melihatku masuk. "Lihat, Roy, ini anak perempuanku yang aku ceritakan. Sayang, ini Roy Sudiro. Dia anak temen Mama, dia pengacara. Pengacara yang sangat hebat. Dia yang bakal menangani perceraian kamu." Mulutku menganga lebar. Aku bahkan belum berbicara dengan Yohan, tapi ibuku sudah menyiapkan pengacaraku. Baiklah, baiklah. "Senang ketemu kamu, Amel ... boleh aku panggil Amel, kan?" pria itu memberiku tatapan yang tidak bisa kutafsirkan. Itu membuatku merasa tidak nyaman, jadi aku tersenyum dengan terpaksa. "Senang ketemu kamu juga. Terima kasih sudah datang atas permintaan Mama." Ibuku menunjuk kursi untukku duduk. Tepat di depan pria asing itu. "Seneng bisa ketemu kamu. Kamu bisa mengandalkan aku, tenang aja. Aku punya referensi terbaik dalam kasus perceraian sukses. Kalau kamu mau, kita sikat suami kamu, kayak kata orang, hahahaha." Aku tersenyum tipis, agar tidak mempermalukan pengacara dan ibuku, yang sepertinya sangat senang dengannya. "Ya, kita lihat aja. Pertama, aku pengin tahu apa yang dia tawarkan. Tapi kayaknya itu adalah hal yang bakal kalian bahas antar pengacara, ya. Aku juga pengin tahu berapa biaya jasa pengacara, karena sesuai bayanganmu, aku nggak terlalu punya banyak uang. Aku masih harus cari kerja, dan ya, sampai aku punya kerjaan yang stabil, aku belum bisa bayar." Pria itu memberikan senyum sedikit licik. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Seperti kata pepatah, seorang wanita yang bercerai itu mudah dijadikan sasaran pria lain, tapi aku berharap pria ini tidak berpikir begitu. "Tenang aja, Mel, kita bakal urus perceraianmu dulu, sisanya nanti." Oh, oh. Aku tidak suka sama sekali suara itu. Lebih baik aku cepat mencari cara untuk membayar dia agar tidak merasa berhutang budi. Makan siang berlalu dengan tenang, ibuku bercerita tentang temannya, yang adalah ibu dari si "Roy" ini. Aku tertawa melihat bagaimana dia berusaha menjilat ibuku, yang tahu benar apa tujuannya. Kalau dia berniat untuk mencoba mendekatiku, dia bisa bermimpi saja! "Aku harus pamit. Aku ada wawancara kerja setengah jam lagi. Makasih banyak, Roy, ketemu lagi next time." Aku menjabat tangannya untuk berpamitan, tapi dia menahannya sebentar. Aku rasa aku harus menyemprotkan satu liter hand sanitizer setelah keluar dari sini. "Mau kuantar? Mobilku di luar," katanya menggoda. Ia berusaha terlalu keras. Konyol. "Enggak, makasih, aku bawa mobil sendiri. Maaf, aku kudu buru-buru, nih." Aku mengecup pipi ibuku dan keluar dari sana. Jelas, tubuh bagian belakangku menjadi objek pengamatan pria yang sangat tidak menyenangkan itu. Berusaha menghilangkan rasa tidak nyaman itu dari kepalaku, aku menyalakan stasiun radio yang tidak sering kudengarkan, karena Yohan tidak pernah suka mendengarnya. Sekarang, aku bebas mendengarkan apa pun yang aku suka. Betapa luar biasanya bagaimana kebanyakan dari kita wanita hidup sesuai dengan selera pasangan kita. Tapi itu sudah selesai. Mulai hari ini, aku akan menjadi diriku sendiri. Aku berhenti di depan rumah mode besar tempat aku akan wawancara. Jujur saja, aku gugup. Aku mengucap mantra "semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja," tiga kali, berharap agar semuanya berhasil. Aku keluar dari mobil, membawa portofolioku, dan bak wanita karier, aku berjalan dengan sepatu hak tinggi menuju kesuksesan. Namun, kenyataannya sangat berbeda. Saat resepsionis menuntunku masuk, aku harus menunggu hampir satu jam untuk diperiksa. Aku tidak bisa mengeluh, karena aku datang dengan rekomendasi yang sangat baik. Di setiap menit yang berlalu, rasa cemas mulai menyerangku. Ketakutan memberikan jalan pada ketidakpercayaan. Bagaimana jika mereka tidak mempekerjakanku? Bagaimana jika karya-karyaku hanya sampah? Keinginan untuk menangis, yang beberapa hari terakhir terpendam, kembali menyerang dengan kekuatan luar biasa. Aku mulai merasa kalah. Aku dikhianati dan suamiku meninggalkanku untuk perempuan yang lebih muda dan lebih cantik. Apa yang bisa aku berikan untuk orang lain agar mereka memberiku kesempatan ketika aku sendiri adalah seorang perempuan yang ditolak? Pada akhirnya, aku tak bisa menghentikan mereka. Air mata itu mengalir keluar tanpa terkendali. Aku menggenggam portofolioku dan berdiri untuk menuju pintu keluar. Tapi tepat pada saat itu, seseorang berhenti di depanku. Dia adalah seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat elegan. Aku menatapnya, dan dia tersenyum padaku. "Mau kemana, sayang? Aku belum lihat karya kamu, loh." Senyumannya membawa kepercayaan diriku kembali. "Saya Amelia Putri, senang bertemu dengan Ibu Ajeng," jawabku sambil cepat-cepat menyeka air mata. Ayo, Mel. Kau adalah pemenang. Percayalah pada dirimu sendiri!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD