4. Sahabat Sejati
Amelia
Keesokan harinya, aku bangun dengan sakit kepala. Gejolak emosional ini membuatku merasa sangat buruk. Aku tidak ingin bangun, tetapi aku harus berusaha kuat. Aku harus menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Mulai hari ini, aku harus membuat rutinitas baru karena dulu Yohanlah yang selalu mengantar mereka ke sekolah, tapi sekarang aku yang harus melakukannya.
Aku cepat-cepat berpakaian dan keluar dari kamarku. Aku tidur sangat larut. Kehilangan keberadaannya di sampingku membuatku merasa tidak lengkap, jadi aku kesulitan tidur. Dan ketika akhirnya aku bisa tidur, sudah hampir waktunya untuk bangun.
Aku menuju kamar Anton terlebih dahulu, yang, secara mengejutkan, membutuhkan waktu paling lama untuk bersiap.
"Yuk, Ton! Waktunya bangun." Anak laki-lakiku membuka mata dan menatapku. Dia melompat dan melingkarkan tubuhnya ke pelukanku. "Mami, aku akan selalu sayang Mami selamanya. Aku nggak akan ninggalin Mami." Suaranya seperti anak kecil yang penuh kesedihan, tapi aku mengerti. Saat ini, perasaan ditinggalkan mulai mempengaruhi mereka, apalagi pada usia yang rumit seperti ini.
"Mami juga akan selalu mencintai kamu, sayangku." Aku mengecup dahinya sementara dia tetap memelukku. Saat itu, pintu terbuka dan adik perempuannya, Lily, masuk.
"Aku juga akan selalu mencintai kalian berdua. Kita akan selalu bersama seperti tiga muskeeter." Aku tidak bisa menepis ketakutanku jika Lily berpihak pada ayahnya dan menyalahkanku, tetapi dia mengerti ini bukan salahku. Keduanya tahu betapa kerasnya aku bekerja untuk membuat keluarga kami bahagia. Itu membuatku sedikit lega. Sekarang, aku tahu kami bertiga akan bisa melewati ini.
"Ayo, anak-anak, kayak yang orang-orang bilang, the show must go on." Aku mencoba memaksakan senyum, yang mereka coba balas. Perjalanan ke sekolah berlangsung dalam keheningan total. Aku tidak ingin memaksa mereka untuk bertindak seperti biasa karena aku tahu mereka belum bisa menerima situasi baru ini.
"Mami jemput kalian pulang sekolah. Baik-baik, ya, Mami nggak mau dengar keluhan." Mereka keluar dan berjalan masuk. Aku menyaksikan mereka pergi dan menghela napas. Meskipun begitu, kami sudah memiliki dua belas tahun bahagia, dan apa yang tersisa membuatku merasa puas.
Aku kembali ke rumah. Hal pertama yang kulakukan adalah membawa barang-barang Yohan ke bawah dan menaruhnya di ruang cuci. Ketika dia datang untuk mengambilnya, dia tidak perlu naik ke kamar tidur. Aku tidak ingin dia menginjakkan kaki di sana lagi. Aku belum memutuskan apakah kami akan tetap tinggal di sini. Rumah orangtuaku tidak jauh, jadi anak-anak tidak perlu pindah sekolah. Itu pilihan yang baik, karena aku akan segera mencari pekerjaan.
Kata ”pekerjaan” semakin memperburuk sakit kepalaku.
Setelah selesai membawa semuanya ke bawah, aku mendengar bel pintu. Aku terkejut, membayangkan kalau itu Yohan. Aku belum siap untuk menghadapinya. Bunyi bel terus berlanjut, jadi aku mengumpulkan keberanian dan pergi membuka pintu. Untungnya, itu bukan mantan suamiku.
"Sayang, maaf banget, ya." Dian langsung memelukku, menggenggamku begitu erat sampai napasku seaak. Aku mencoba mendorongnya, tapi tidak bisa.
"Lepas!" Aku berhasil berteriak, yang membuatnya akhirnya melepaskanku. Dia menatapku dengan mata besarnya yang dipasangi lensa kontak itu. Siapa yang menyangka ia menyembunyikan mata biru yang indah dan intens dengan lensa cokelat?
"Sayang, maafin gue. Gue cuma pengen peluk lo supaya lo bisa tenang dikit. Mama lo nelpon dan ngasih tau gue, jadi gue juga nelpon Angel dan ngasih tahu dia. Kita harus ada di sini buat lo."
Aku mengangguk dan membuka pintu untuk mereka masuk. Aku tahu jam-jam penuh obrolan menghibur yang tak ada habisnya akan datang. Tapi itulah gunanya teman-teman. Teman sejati. Mereka duduk di ruang tamu, membuka paket makanan yang mereka bawa. Ada cukup banyak makanan untuk memberi makan satu pasukan, tetapi sebagian besar pasti akan terbuang karena mereka selalu diet, dan aku tidak lapar.
Mereka mulai mengutuki Yohan, yang pasti saat ini telinganya sudah merah. Tapi aku tidak menghentikan mereka. Biarkan mereka bicara apa saja. Lagipula, kami sudah bukan pasangan lagi.
"Gue nggak bohong, gue selalu ngerasa ini bakal terjadi. Dulu pernah, gue lihat dia terlalu lama ngelihatin cewek-cewek. Dia pikir nggak ada yang nyadar, tapi gue ngawasin dia. Dia bodoh dan suatu saat pasti bakal nyesel. Tenang aja, lo bisa ngandelin kita." Dian berbicara tanpa henti, tidak memberi kesempatan Angel untuk bicara. Dia yang paling bijaksana di antara kami bertiga, jadi aku yakin apa yang dia bilang pasti sangat penting untuk dipertimbangkan. "Ayo, Ngel, ngomong sesuatu."
Angel, seorang wanita berambut cokelat yang manis, mungil dan anggun, hanya bangkit untuk duduk di sampingku. Dia meraih tanganku dan mengelusnya. Dia tahu apa yang harus dilakukan dalam setiap situasi. Dan sekarang, aku cuma ingin merasa nyaman.
"Nangis aja gak papa, Mel. Nangis sepuasnya. Karena kalau lo nggak ngeluapin rasa sakit lo, itu bisa ngendap di dalam dan malah bikin lo makin sakit. Gue nggak bisa bilang kalau rasa sakit ini bakal hilang sekarang juga, tapi gue yakin suatu hari nanti, sakitnya bakal memudar. Suatu hari nanti, lo bakal tidur dan bangun seolah semua ini cuma mimpi." Kata-katanya sangat mengharukan. Tanpa sadar, aku menangis lagi. Tapi mereka benar. Rasa sakit ini akan berlalu.
"Makasih udah dateng. Gue nggak mau kalian terlalu khawatirin gue. Gue bakal baik-baik aja. Gue bakal cepat terbiasa sama situasi baru ini. Meskipun yang sedikit mengkhawatirkan adalah gue nggak ngerti gue harus kerja apa. Gue nggak kuliah dan nggak tahu apa-apa. Gue harus mikirin pekerjaan apa yang bisa gue jalanin." Mereka terdiam, menganalisis apa yang aku katakan. Tiba-tiba, Dian membuka matanya yang besarnya itu.
"Sayang, kenapa nggak coba belajar desain mode? Baju yang lo bikin buat Lily dulu keren banget. Gue inget, waktu kita masih muda banget, lo bilang pengen belajar itu. Gue bisa bantuin lo dapet kerjaan, gue bakal bilang sama penjahit yang biasa bikinin gue gaun. Gue yakin begitu dia lihat bakat lo, dia bakal langsung hire elo! Lo bisa mulai dari nol di sana. Ayo, semangat, gue bakal atur wawancaranya."
Kedua temanku menatapku penuh harap. Mereka sangat mengenalku dan tahu bahwa belajar mode selalu jadi impianku. Sekarang itu muncul di hidupku sebagai kesempatan untuk memulai kembali. Siapa tahu, mungkin takdir akan membawaku ke sesuatu yang belum pernah aku pertimbangkan dalam hidupku.
Aku memberikan mereka senyum penuh harapan dan mengangguk.
"Oke, girls. Tolong aturin interviewnya, ya. Gue udah nothing to lose, gue harus nyoba hal baru. Lagipula, gue belum ngomongin perceraian sama Yohan, dan gue nggak ngerti kapan dia mau mulai nafkahin anak-anak."
Mereka memanyunkan bibir saat aku menyebut namanya. Aku tahu mereka memang tidak terlalu menyukai Yohan, tetapi mereka menoleransinya demi aku. Lagipula, Yohan memang akrab dengan suami-suami mereka.
"Gue udah larang Darius buat ngomong sama dia lagi. Ngel, lo harus bilang ke Oki jangan ngobrol sama Yohan lagi. Lo nggak usah nyuruh gue, pintu rumah gue udah tertutup rapat buat dia." Aku tidak berkata apa-apa karena jika Dian sudah memutuskan, suaminya pasti akan menurut bak seorang tentara kepada komandannya. Dia sangat memuja istrinya, sehingga kata-kata sahabatku adalah hukum di rumah itu.
Waktu berlalu dengan harmonis saat aku bersama mereka. Kehadiran mereka memberi kenyamanan bagiku. Segalanya mulai menemukan tempatnya, dan aku tahu hal-hal baik akan datang untukku.