014. Abigael's Family

1040 Words
Sekarang mereka sudah berada di ruang makan keluarga Abigael,  rumah mertua dari Deandra Navela. Rumah yang akan ramai jika Dea datang dan juga terlihat sangat sepi ketika dulu hanya ada Dava yang menemani Sabrina. "Ma, Papa pulang jam berapa?" tanya Dea memecah keheningan di antara orang-orang yang entah ke napa memang terlahir begitu cuek. Bukan-bukan, lebih tepaynya hanya Dava yang terlihat cuek sedangkan Sabrina orang yang begitu easy dan Sean yang begitu pengertian. Entah ke napa hanya Dava yang berstatus suaminya itu yang mempunyai sifat dingin, jika menurun dari Papa mertuanya juga tidak mungkin karena Papa mertua Dea begitu sangat perhatian. Sabrina menatap Dea dengan senyumnya. "Sebentar lagi Sayang, Kamu kangen Papa ya?" tanya Sabrina tahu bagaimana mantunya itu mengagumi sosok suaminya, suami yang juga begitu di kagumi oleh Sabrina dan juga ke dua puteranya. Dea ber-oh ria, Dava menatap Dea penuh minat. Dea sebenarnya sadar di tatap begitu intens oleh suaminya, namun Ia tidak hiraukan Dava. Entah ke napa Dava akhir-akhir selalu ingin dekat dengannya, meski Dia juga ingin selalu dekat dengan Dava. "Kamu cantik Yang." Dea memutar kepalanya ke samping, menaikkan satu alisnya ke arah suaminya mendengar celetukkan yang memuji Dea tanpa malu di dengar oleh Kakak dan Ibunya. "Lo benar-benar ke pentok parah Dav, tunggu Papa sampai rumah!" Dava menaikkan satu alisnya karena ucapan sang Kakak yang tidak Ia pahami, lagian apa yang salah dengan ucapannya barusan? Bukannya Dea memang cantik? Oh iya, di sinikan Dava yang benar-benar cinta Dea jadi mungkin pandangan Sean atas Dea tidak sama dengan pandangan Dava. Cinta benar-benar buta ya ternyata?. "Buat apa nunggu Papa?" tanya Dea mewakili suaminya yang terlihat mengerutkan dahinya, Dea juga sama bingungnya. "Buat periksa suami Kamu De, siapa tahu lukanya parah di kepalanya." Dava memutar matanya malas, Dea dan Sabrina terkekeh. Sabrina memang sedikit terkejut dengan perubahan anak bungsunya itu, tapi sungguh Sabrina patut berterima kasih pada menantunya itu hingga membuat Dava menjadi lembut dan ya manis. Sabrina tidak akan pernah berpikir jika Dava bisa berubah secepat ini. Hanya dalam waktu setahun dan anak lelakinya itu benar-benar menjadi pria yang begitu dewasa. Suara derum mobil dari halaman rumah membuat semua mengalihkan pembicaraan. "Itu Papa." ucap Sabrina menghampiri suaminya yang selalu terlihat tampan meski sudah malam. Wajah lelah sudah biasa bagi Sabrina. Pekerjaannya yang memang Dokter selalu sibuk menambah ke gagahan pria itu dalam menjalankan tugas dan pekerjaan mulia. "Papa ada operasi dadakan tadi." ucap Fandy pada Sabrina yang beralih mengambil tas kerja suaminya. Sabrina tersenyum atas penjelasan suaminya tanpa Ia minta agar Sabrina tidak khawatir dengan ke terlambatan ke pulangan Fandy. "Enggak apa-apa, oh ya Pa ada mantu Papa tuh di meja makan." mata Fandy berbinar mendengar hal itu dari Sabrina. "Yang benar Ma?" tanyanya memastikan, Sabrina mengangguk. Tanpa babibu lagi Fandy berjalan ke arah meja makan, di lihatnya di sana ada Dava Sean dan tentu saja menantunya. Namun langkah Fandy berhenti tatkala melihat pemandangan yang membuat dahinya mengerut-ngerut, terheran sekaligus bingung tercetak jelas di wajah Fandy. "Papa lihatin apa?" Sabrina melongokkan kepala karena suaminya itu berada di ambang pintu ruang makan keluarga Abigael. "Papa enggak salah lihat Ma?" tanyanya, Sabrina menaikkan satu alisnya lalu menatap ke arah suaminya tatap. Sabrina terkekeh, Fandy melihat isterinya yang masih tertawa geli dengan satu alis terangkat. Dia butuh penjelasan mengenai apa yang di lihatnya malam ini. "Ayo makan, mantu Papa enggak mau makan kalau enggak nunggu Papa pulang." Sabrina berjalan dulu melewati suaminya, dan Fandy hanya mampu mendesah mengekor isterinya. "Papa!" teriak Dea mendapati Papa mertuanya sudah berdiri di sampingnya, Fandy terkekeh lalu merentangkan tangannya agar di sambut oleh Dea. "Peluk Papa dong." pintanya, Dea tersenyum lalu memeluk Papa mertuanya dengan erat setelah berdiri dari kursi makannya. Dea begitu merindukan dan menyayangi Fandy dan seluruh keluarga Abigael. "Yang!" panggil Dava mengalihkan ke senangan Fandy bertemu menantunya, karena hampir 8 bulan Ia tidak dapat melihat menantunya itu. Karena sejak awal Dava bersikeras menolak pernikahannya dengan Dea hingga membuat Dea hanya sesekali main ke rumah dan tentu itu tanpa adanya Dava yang menemani. Dea sangat pintar membuat alasan hingga keluarga Abigael terpaksa pura-pura percaya Dea menatap suaminya. "Apa?" tanya Dea tidak paham karena raut muka Dava yang datar seperti sebelum keadaan mereka membaik, Dea memang 3 bulan sekali mengunjungi ke diaman keluarga Abigael selama ini tanpa di ketahui oleh Dava, tapi sayangnya Dea jarang bertemu dengan Papa mertuanya. "Jangan peluk terlalu lama!". "Astaga Dava!" pekik Sabrina karena ke lakuan puteranya itu hingga tangannya memukul pelan bahu sang putera, sedangkan Sean tersedak dengan makanan yang Ia makan karena ucapan datar Dava, bahwa Ia tidak suka kalau Dea berpelukan dengan Fandy yang notabenya adalah Ayahnya sendiri. "Uhukkk uhukk." Sean mencoba menetralkan batuknya yang terasa sakit di tenggorokannya. "Lo gila ya? Cemburu sama Papa?" Sean berucap tidak percaya dengan menatap Dava datar setelah meminum habis minumannya untuk menghilangkan perih di tenggorokannya karena tersedak. "Astaga Dava, ini Papa lho!" heboh Sabrina tidak habis pikir sama jalan pikiran Dava, Fandy hanya menatap tajam puteranya yang menatapnya datar seolah Dia adalah laki-laki yang merebut kekasihnya. Dea menunduk tidak enak tapi tangan Dea masih melingkar di pinggang Fandy, Dava terus menatap Dea. "Yang!". Panggil Dava lagi karena Dea tidak melepas lingkaran tangannya pada pinggang Fandy, bahkan Dava tidak hiraukan tiga pasang mata yang menatapnya garang 'dari mana sifat protektifnya itu?' batin mereka. Fandy menatap Dava, ada rasa bahagia atas perubahan sikap Dava meski itu sangat berlebihan. Dea memanyunkan bibirnya kesal. "Pa, maaf." ucapnya penuh penyesalan, Fandy mengacak rambut Dea dengan gemas lalu memberikan senyum terbaiknya. "Papa paham, suami Kamu sudah mulai jinak." bisik Fandy tepat di telinga Dea, Dea merasa pipinya memanas atas ucapan mertuanya. Dea malu bukan kepalang, apalagi itu Papa mertuanya yang bicara. Dava melebarkan matanya saat Fandy malah seolah mencium pipi Dea. "Pa!" peringatnya, Fandy terkekeh lalu mengangkat ke dua tangannya tanda menyerah. Menyerah akan sifat over Dava pada Dea, ini baik untuk hubungan ke duanya. Sean dan Sabrina geleng-geleng kepala. Dava menarik tangan Dea kembali duduk, awalnya Dea ingin menepis tangan suaminya itu karena membuatnya malu di depan keluarga Abigael karena ke posesifan Dava. Tapi Ia urungkan karena suasana yang baru mencair setelah beberapa hari yang lalu, mengenai perasaannya yang terbalaskan pada pria yang menempati hatinya jauh hari sebelum mereka kenal. Dea tidak akan ragu lagi untuk menyatakan rasa cintanya pada Dava, dan bersyukurlah karena Dava juga akan menyatakan perasaannya pada Dea tanpa Ia tutup-tutupi lagi. Hari-hari mereka juga indah saat ke duanya melakukan segalanya bersama. Entah itu saling mengingatkan akan tugas sekolah atau hanya untuk mengingatkan makan dan lainnya. Madiun, 29 Agustus 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD