015. Surprise

1068 Words
Hari ini adalah hari minggu, tapi entah ke napa Dea merasa bahwa hari minggunya terasa hampa. Bagaimana tidak? Tadi saat bangun tidur jam 6 pagi, suaminya yang tampan itu sudah tidak berada dalam pandangannya. Sepertinya Dava berangkat sangat pagi hari ini tanpa berkata apapun pada Dea. Dea mendesah saat menuruni tangga setelah melewati rutinitasnya di kamar mandi. Dea berniat membuat sarapannya sendiri hari ini, apartement terlihat kosong dan sepi tanpa ke hadiran suaminya yang manja itu. Hingga matanya menangkap note kecil yang menempel pada pintu kulkasnya. Dea menarik note itu, sudut bibirnya terangkat membaca isi note tersebut. Ingin rasanya Dea menjerit kencang namun Ia urung melakukannya, tidak masalah juga jika Ia ingin tapi Ia malu untuk melakukan hal konyol itu. Mungkin Ia konyol untuk melakukannya, padahal jika Dea mau Ia bisa menjerit sekencang Ia bisa. 'Pagi wifey, maaf tidak membangunkanmu. Aku tidak ingin mengganggu tidur nyenyakmu dan maafkan Aku tidak bisa menyapamu terlebih dahulu. Aku nenyiapkan sarapanmu  Nikmatilah sarapanmu, Aku kembali jam satu siang. Aku merindukanmu ILY D£D' Dea mengernyitkan dahinya saat mencoba mengartikan 'D£D' di akhir note dari suaminya. Rasanya tidak pernah menggunakan inisial seperti itu kecuali saat berkata L dengan jari saat di sekolah waktu itu. Dengan cepat Dea membuka pintu kulkasnya, Dea mengernyit. Bukan makanan yang Ia lihat, melainkan sebuah note kecil lagi. Dea mengambil dan membaca kembali sticky note dari suaminya, Dava. 'Maaf Aku tidak akan langsung memberitahumu di mana sarapanmu, lihat meja makan!' Dea memutar tubuhnya ke arah meja makan, bahkan Dea tidak menyadari kalau di meja makan ada setangkai mawar merah segar juga segelas s**u coklat ke sukaannya. Jangan lupakan note yang berberwarna merah, sama dengan note yang sebelumnya. Dea tersenyum bahagia dengan menghirup dalam aroma mawar pemberian Dava untuk pertama kalinya dan di pagi hari. Dea akan senang melewati paginya kali ini. Tidak peduli jika Dava akan meninggalkannya pagi ini, bahkan perhatian Dava begitu membuatnya bahagia. 'Kau suka mawarnya? Aku harap begitu, Aku belum mengenalmu meski Kita menjalani ini sudah setahun. Pastikan Kamu menghabiskan susunya!' Kembalilah ke kamar Kita,di atas nakas samping ranjangku sarapanmu berada!' Dea tertawa kecil membaca kata pertama yang di pakai Dava. Ya Dea sangat menyukai mawar terutama mawar merah, pipi Dea terasa memanas ketika merasakan debaran juga perubahan sikap Dava padanya. Dea menghirup aroma mawar yang sangat wangi itu sekali lagi, tidak lupa juga menghabiskan segelas susunya seperti yang di minta Dava. Tidak ingin mengecewakan suami tampannya yang telah melakukan semuanya ini untuknya. Dea menaiki tangga dengan masih menggenggam setangkai bunga mawar, sudut bibirnya tidak henti tertarik ke atas. Jantungnya serasa berpacu, itulah yang Dea rasakan setiap dekat atau memikirkan Dava. Suaminya itu penuh misteri, susah di tebak dan di dekati saat dulu Dea baru mengagumi sosok tinggi semampai itu. Dea memutar knop pintu kamarnya dengan degup jantung yang luar biasa cepat, ini baru pertama kalinya mendapat perhatian misterius dari Dava. Dan Dava berhasil melambungkan Dea terbang bebas di langit cerah pagi ini. Dea melangkahkan kaki ke arah nakas ranjang suaminya, Dea duduk di tepi ranjang. Dea hampir menangis, bukan karena sarapannya tapi apa yang di lakukan Dava untuk nyalah yang membuat Dea sangat terharu. Dea mengambil secarik note merah yang tertempel di samping piring sarapan yang di sediakan Dava untuknya. 'Makan Aku please Queen Dea, ILY D£D' Dea memeluk note-note yang di tulis oleh Dava, Dea menatap sarapannya. Sarapan pertama yang suaminya buatkan, Dea hampir meloloskan air mata jika Ia tidak ingat akan perintah untuk memakan nasi goreng ala Dava dengan hiasan yang menunjukkan senyuman dan hiasan saus dengan gambar hati di piringnya, lagi-lagi 'D£D' tidak Dava lewatkan. Dea tidak tahu arti dari innisial yang di pakai Dava, Dea akan menanyakannya nanti saat Davanya kembali dari entah ke mana suaminya itu pergi sepagi ini di hari minggu mereka yang harusnya mereka lewati bersama sebagai waktu spesial mereka. Dea mengambil sendoknya, satu suapan masuk mulutnya, Dea mencecap rasa yang berhambur di lidahnya. Rasa manis asin dan pelengkap bumbu yang Dava pakai sangat pas di indera perasa Dea. Dea hampir meloloskan air mata jika Ia berjedip sekali saja, namun tetap bergerak tersenyum. "Sejak kapan Dia bisa masak?" tanya Dea setelah mencecap rasa masakan suaminya lagi dan lagi. Dea menghabiskan sarapannya dengan cepat karena Ia ingin segera menghubungi Dava. Dea mengambil ponselnya di atas nakasnya setelah tidak ada satu sisa nasipun yang tertinggal di piringnya. Dering pertama tidak di jawab, ke dua sama. Dea mulai ke hilangan rasa tidak khawatirnya. Dea tetap mencoba, hingga panggilan ke enamnya saat Dea akan menutup telfonnya. Suara di seberang menyapa indera pendengaranya. "Bagaimana sarapanmu Sayang?" pipi Dea memanas mendengar suara suaminya yang lembut dari seberang, apalagi panggilan yang biasa mereka pakai sekarang. Meski sering mendengarnya namun tetap saja hati Dea tidak berhenti bergetar saat panggilan sayang terlontar dari bibir tebal Dava yang memang sangat kissable. "Sayang Kau masih di sanakan?" tanya Dava karena tidak ada jawaban dari isterinya, Dea terperanjat saat suara Dava menginteruksi lamunannya atas panggilan sayang Dava padanya. "Ah iya, terima kasih sarapannya." jawab Dea gelagapan, terdengar suara kekehan di seberang. Sepertinya Dava mengetahui tingkah laku Dea yang selalu membuat Dava betah di rumah walau hanya menatap penuh wajah Dea saja. "Hanya terima kasih?" Dea menaikkan satu alisnya dengan pertanyaan Dava, lalu apalagi? batinnya bertanya. "Jadi Aku harus bayar?" duh kalau Dava ada di dekat Dea, Dava akan dengan senang hati mencium dan tidak akan melepaskan Dea seharian. Hari minggunya akan sangat menyenangkan bukan? Hanya berdua dengan Dea di dalam apartement mereka. "Ya tentu, tidak ada yang gratis Sayang. Kau tahu itu bukan?" Dea mendengus sebal, padahal Dea sudah terlanjur melambung tinggi karena perhatian Dava kali ini. Lalu apa-apaan ini? Dea tanpa sadar mendengus. "Jadi berapa yang harus Aku bayar?" tanya Dea dengan ketus, sebenarnya Dava ingin tertawa namun cepat Ia tahan mendengar nada ketus Dea padanya untuk pertama kalinya meski Dava pernah melakukan hal yang lebih buruk dari ini, Dea tetap saja gadisnya yang lemah lembut serta penuh cinta. Tidak pernah sekalipun Dea berteriak atau melawannya, yang wanita itu lakukan hanya menghindari apa saja yang Dava tidak suka. "Jam satu nanti Aku memintanya padamu sendiri, istirahatlah. bye wifey ILY." sambungan terputus begitu saja sebelum Dea membalasnya. Dea mendesah pasrah lalu membaringkan badannya di ranjang dengan memeluk bunga ponsel serta note dari Dava. "ILY hubby." ucapnya pada ruangan kamarnya yang sunyi, namun namanya juga Dea. Ia tetap saja tersenyum meski sedongkol apapun pada suami tampannya itu, tidak mau memusingkan juga bayaran apa yang akan Dava minta padanya. Bahkan rasa penasaran Dea akan ke mana suaminya itu berada lenyap seketika saat Dea bisa mendengar suara bariton suaminya, walau pria iru baru berusia belasan tahun sama seperti dirinya. Butuh dukungan buat lanjutin cerita ini Madiun, 04 September 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD