016. Bayaran (?)

1059 Words
Sudah hampir empat jam Dea menghabiskan waktunya hanya dengan membaca novel favoritenya serta bersantai di depan TV, menghabiskan waktu tidak jelasnya dengan sesekali membalas chat dari group yang entah sejak kapan dengan anggota Sinta Rara Bintang Zacky dirinya dan juga Dava. Dea menghembuskan nafas mulai ke bosanan menunggu Dava yang tidak kunjung pulang, apalagi apartement yang sepi menambah saja ke bosanan Dea. Meski tidak sedikit Ia juga terhibur dengan ocehan sahabat-sahabatnya yang berada di group. Jam satu tepat di mana Dava menjanjikan pulang nyatanya belum juga tiba di rumahnya, hingga mata Dea sudah lelah dan berat untuk dapat terbuka menunggu ke datangan suami tampannya. Suami yang mampu membuat Dea selalu merasa nyaman dan juga merasakan akan rasa sayang yang berlebih. Mata Dea perlahan menutup dengan posisi duduk di sofa, snack kaleng minuman juga berserakan di meja ruang santai itu. Tiga puluh menit berselang Dava datang dengan menenteng sebuah papper bag berlogo toko perhiasaan ternamaan di kota Jakarta. Dava terus tersenyum di sepanjang Ia pulang, Ia tidak sabar untuk melihat wajah cantik isterinya yang akan selalu menanti ke pulangannya. Entah sejak kapan Dava lebih suka menghabiskan waktu di rumah dan juga akan segera pulang jika ke giatannya di luar telah selesai. Atau lebih tepatnya Dava sengaja mempercepat segala urusan yang menghambatnya untuk segera bertemu dengan Dea. Dava membuka pintunya dengan perlahan, ingin memberikan surprise pada isteri tercintanya. Takut kalau Dea marah padanya juga karena terlambat 30 menit dari janjinya. Namun bukan kacak pinggang yang Dava dapatkan, justru wajah damai Dea yang membuat ke dua sudut bibirnya terangkat. Di pangkuan gadis itu masih ada novel yang belum selesai Dea baca, Dava yakin Dea menungguinya lama. Dava berdecak heran dengan posisi tidur Dea yang pasti akan membuat leher Dea sakit saat bangun. Dava membaringkan Dea dengan sangat hati-hati, Ia tahu bahwa Dea hampir mati ke bosanan untuk menungguinya. Terbukti dari makanan dan minuman yang berserakan di meja juga banyaknya novel yang menumpuk di karpet bulunya tepat di bawah kaki Dea. Dava menyelipkan anak rambut yang menutupi kening Dea ke belakang telinga. Sudut bibirnya tidak hentinya tertarik ke atas melihat pemandangan isterinya yang sangat cantik itu. Rambut pirang juga mata indahnya saat terbuka. Bulu mata lentik hidung mancung, menambah ke sempurnaan Dea. Plus dari nilai 100 nya adalah Dea dengan segala sifat lembut nya. Bukan hanya Dava yang memuji ke cantikan Dea, banyak siswa-siswa yang memuji Dea. Bukan hanya fisik tapi juga perilaku gadis itu yang memang Dava akui terlalu baik. Kalau untuk ke pandaian Dea, Dava akui juga itu ke lebihan dari isterinya. Dava mengusap pipi Dea hingga Dea sedikit terusik. Dava tidak tinggal diam, Ia menggigit hidung mancung Dea pelan karena gemas. "Yang." suara serak mengalun indah pada indra pendengaran Dava membuatnya tersenyum. "Sudah bangun?" bukan jawaban yang Dava dapat, justru tangan Dea menarik leher Dava hingga wajah Dea menyusup ke ceruk leher Dava. "Yang." geram Dava yang merasa ke punyaannya berkedut karena nafas Dea menggelitik leher hingga sekujur tubuhnya. Dea bergeming dan mencari ke nyamanan di ceruk leher Dava, tidak tahu apa yang sedang di tahan suaminya iti. Dava menghembuskan nafas kasar, sejak kapan isterinya itu begitu manja? Tapi Dava nyaman dengan ke manjaan Dea padanya, hatinya seolah bergetar hebat. Meski nyatanya posisi Dava saat ini tidak nyaman. Ia bersimpuh di bawah dan Dea di sofa lalu memeluk lehernya. Dava menggunakan tubuhnya sebagai tumpuan tubuh Dea. Dava menyeringai, Ia meniup-niup telinga Dea hingga Dea mengusap telinganya. Dava tidak berhenti, Ia terus saja meniup telinga Dea berkali-kali hingga Dea mengerang dalam tidurnya, Dava terkekeh. Entah sejak kapan Dava begitu hobby menjahili Dea, seperti saat ini. Merasa kasihan Dava berhenti, Ia mengusap punggung Dea dan mencium pipi Dea yang mengeratkan pelukannya pada Dava. "Kapan Kamu pulang Yang?" tanya Dea dengan suara seraknya tanpa merubah posisinya. Dava tersenyum dengan terus mencium pipi Dea agar isterinya itu bisa merubah posisi tidurnya yang sedikit banyak menyiksanya. "Mungkin 15 menit yang lalu." Dea mengangguk kecil, Dava tahu itu. "Sudah makan?" tanya Dea, Dava menahan geramannya lalu mengangguk sebagai jawaban. "Yang, enggak mau ubah posisi dulu apa?" tanya Dava dengan suara serak menahan sesuatu, Dea terkekeh. "Nyaman seperti ini." Dava menghembuskan nafas kasar membiarkan Dea melakukannya meski Ia masih mencoba membujuk Dea agar mau merubah posisi tidurnya. "Kamu nyaman Yang tapi Aku tersiksa." keluh Dava, Dea mendongak menatap Dava dengan sedikit memberi jarak meski tetap memeluk leher Dava. Dea menaikkan satu alisnya. "Kamu enggak suka Aku peluk begini?" Dava gelapan karena nada pertanyaan Dea yang terasa sangat kecewa. "Enggak begitu Yang.". "Terus?" Dava tersenyum lalu mengecup pipi Dea berulang kali hingga Dea ke gelian. "Yang berhenti." protes Dea akan ke jahilan Dava. "Enggak!". "Idih ngeselin.". "Memang." Dava terkekeh, terheran dengan tingkahnya sendiri yang ke lewat jahil dari Dava biasanya. "Yang, bangun dulu yuk?" Dava meminta pada Dea setelah beberapa menit mereka hanya saling tatap. Dea menaikkan satu alisnya akan permintaan Dava yang ngotot untuk merubah posisi tidurnya. "Mau ke mana?" Dava tidak memberi jawaban dan membantu Dea duduk dengan ogah-ogahan "Tutup mata Kamu?" Dea tidak banyak protes meski Ia sempat memutar matanya malas. Dea menunggu dengan bibir yang mengerucut. Dava hanya tersenyum geli melihat tingkah Dea yang baru pertama kali merajuk padanya, sangat lucu batinnya. Dava membuka papper bag berlogonya lalu mengeluarkan isinya berupa kotak beludru berwarna navy. Tangan Dava meraih isinya lalu memeluk leher Dea untuk memasangkannya, nafas Dea tercekat karena Dea merasakan nafas Dava yang mengenai daun telinganya hingga menggelitik seluruh badannya. Dadanya rasanya ingin pecah karena detak jantungnya yang meronta ingin ke luar. "Buka mata sekarang!" pinta Dava, Dea yang ragu-ragu membuka perlahan matanya. Hal pertama yang Ia lihat adalah wajah tampan Dava yang tersenyum padanya. Dava mengarahkan matanya pada leher Dea, Dea mengikuti arahan Dava. Matanya terbelalak dengan apa yang menggantung di lehernya. "In-ini?" Dea tidak bisa berkata-kata, tangannya menyentuh bandul liontin dengan bahan ringan yang Dava berikan. "D£D?" tanya Dea mengeja bandulnya lalu memandang Dava, Dava tersenyum. Dava mengecup pipi Dea lalu berbisik "Dea For Dava." pipi Dea terasa memanas dengan apa yang baru di ungkapkan oleh Dava. "Lalu D£D di sticky tadi?" tanya Dea ingat tentang surprise pagi tadi yang di berikan suaminya. "Dea From Dava." Dava menaik turunkan alisnya menggoda Dea, Dea tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan segera Ia menerjang Dava dengan pelukan yang sangat erat. Dava sendiri yang tidak siap terjungkal ke belakang, untung itu karpet bulu yang tebal. Kalau tidak bisa ribet urusannya. Tapi Dava sangat bahagia, Ia mendekap Dea yang sekarang sedang berada di atas tubuhnya dengan tidak kalah erat. Dea menatap Dava yang juga sedang menatapnya. "ILY Hubby." Dava tersenyum "ILY more Wifey." Dava mengecup bibir Dea berkali-kali membuat Dea terkekeh. **** Madiun,7 September 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD