006. Salah Paham

1081 Words
Mau Double Up? Ok Author akan double Up hari ini, karena kemarin enggak Up.. Jam sudah menunjukkan pukul 17:00 dan Dava sama sekali tidak mendapat kabar apapun Dari Dea, wanita itu sudah mampu membuat hati Dava beralih padanya dalam waktu setahun. Padahal yang paling menentang pernikahan ini adalah dirinya dulu. Dea memang tipe wanita yang cuek dan pendiam, tapi di balik itu Ia adalah gadis penurut perhatian dan juga sangat manis. Dava tidak tahu apa jadi dirinya jika tanpa Dea di sisi juga hidupnya. Dava tidak bisa memungkiri jika Ia sangat bergantung pada Dea selama setahun ini. Semua yang di lakukan Dea begitu istimewa dan membekas di hati Dava. Sudah Dava katakan bahwa dulu Fani yang masih status pacarnya harus dengan terpaksa menikah dengan Dea karena perjodohan orang tuanya. Orang tua Dava dan Dea memang bersahabat sejak dulu dan saling membuat janji menikahkan anak mereka jika berbeda jenis, janji yang Dava anggap sebagai sebuah ke konyolan dengan mengesampingkan perasaan anak-anak mereka. Tapi kini Ia sadar dan mulai mengerti jika pilihan orang tua tidak selamanya buruk, bahkan menjadi hal terbaik sekarang. Dava dulu uring-uringan tiap hari setelah Ia tahu perjodohannya dengan Dea, ikut balapan liar lalu bolos sekolah. Tapi pernikahan itu malah di percepat oleh ke dua orang tuanya. Dava tidak habis pikir dengan ke dua orang tuanya karena menikahkan mereka di saat mereka masih sekolah dan baru menginjak 17 tahun. Parahnya saat pertemuan ke dua orang tuanya, Dea sama sekali tidak menunjukkan penolakan dan terlihat pasrah dengan semuanya. Gadis itu diam saja tanpa mau mengucapkan sepatah katapun saat Dava ingin meminta gadis itu mengatakan ke beratan atas perjodohan itu. Nyatanya Dea memang gadis pendiam hingga sekarang, Dea dulu sama sekali tidak meliriknya ataupun menatapnya. Entah gadis itu memang tidak mengaguminya atau malah Dea tidak berani hanya untuk sekedar meliriknya. Dava sebenarnya ingin memaki gadis yang hanya terus menundukkan kepalanya itu saat ke dua orang tuanya mengetuk palu mutlak atas pernikahan mereka. Padahal Dea, bahkan seantero sekolah tahu bahwa Dava mempunyai ke kasih bernama Fani yang merupakan cinta pertama Dava. Cinta yang akhirnya berkhianat juga, wanita yang sebisa mungkin Dava jaga perasaannya dulu. "Ke mana sih Kamu Dea?" monolog Dava mondar mandir seperti setrika di depan pintu apartement mereka. Dava mengusap wajahnya gusar hingga rambutnya kian berantakan. Dava mencoba menghubungi Dea tapi wanita itu sama sekali tidak mengangkat dan membalas pesannya. Akhirnya Dava masuk ke dalam apartemennya dan menyambar kunci motor serta jaket kulitnya. Mencari Dea adalah solusinya, dari pada Ia harus berpikir yang tidak-tidak mengenai istrinya itu. **** Dava berlari kecil memasuki rumah yang sudah Ia anggap sebagai rumahnya sendiri "Ma." panggil Dava pada Mama mertuanya. "Eh Dava, Kamu nyariin Dea?" tanya Tamara, mertua dan Mama Dea. Dava menganggukkan kepalanya. "Ya Ma, Dea ada?" tanya Dava dengan raut khawatirnya, Tamara memicingkan matanya. Tidak biasanya raut wajah seperti itu. "Kalian berantem?" tanya Tamara, Dava menaikkan satu alisnya. Biasanya jika Dea sudah bercerita Tamara tidak mungkin bertanya. Dava menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan mertuanya itu. "Ma, bisa Aku ke temu Dea?" Tamara mengangguk mengiyakan, tidak izin pada Tamarapun Dea sudah menjadi tanggung jawab Dava. Jika ada masalah biar mereka menyelesaikannya, atau orang tua aman ikut campur ketika ke duanya tidak dapat menyelesaikannya. "Kamu jangan berisik ya, Dia baru tidur soalnya." pesan Tamara, Dava mengangguk lalu dengan berlari kecil tapi tidak menimbulkan suara Dava menuju lantai atas di mana kamar Dea dan dirinya berada. Dava berhati-hati membuka pintu kamar mereka, ruangan masih gelap karena Dea belum menyalakan lampu kamarnya. Dava melihat tubuh Dea yang terbaring di ranjang. Dava melepas jaketnya tanpa melepas sepatunya memeluk tubuh ramping Dea dari belakang. Mendekap erat wanita itu, Ia khawatir dan juga takut saat Dea tidak ada di samping dan dapat di lihat oleh matanya. "De, maafin Aku." ucapnya mempererat pelukannya pada Dea, menghirup dalam aroma khas tubuh Dea. Wangi shampo bercampur parfum gadis itu. Dea yang merasa tubuhnya tidak bebas saat tidur melenguh, Dea mencoba menggerakkan badannya tapi tidak bisa lalu kakinya serasa tertindih juga. Seperti terlilit meski terasa hangat dan nyaman. "Ck Ya-.". "Dea, please maafin Aku." ucap Dava di ceruk leher Dea, Dea menaikkan satu alisnya tidak paham akan permintaan maaf Dava padanya. "Dav-". "De, bilang Kamu maafin Aku dulu!" Dea berdecak akan permintaan maaf yang lagi-lagi Dava ungkapkan. "Kamu ngomong a-.". "Dea, please!" oh habis sudah ke sabaran Dea, dengan semangat 45 melepas lilitan Dava pada tubuhnya. "Awww." Ringis Dava mengusap pantatnya yang mencium lantai marmer karena ulah Dea yang kini malah menatap garang Dava, wanita itu menilai Dava dengan mata yang tidak biasa. Adakah yang salah dari suaminya ini? Ke napa begitu aneh sekali. "Dea pantatku sakit tahu." protes Dava, Dea bersidekap d**a. "Apa maksud Kamu meluk Aku? Pakai acara minta maaf segala? Aku enggak bisa nafas tahu!" omel Dea pada Dava, Dava berdiri lalu memeluk Dea dengan erat. Dea mendengus lagi akan perbuatan sang suami padanya. "Astaga Dava, Kamu ini ke napa sih?" berontak Dea dalam dekapan Dava, setelah Dava begitu erat memeluknya dan tidak berniat melepaskan Dea. "Aku mau minta maaf Kamu enggak jawab dari tadi." Dea menghembuskan nafas kasar. Dea melepas pelukan Dava dengan lembut, Dava menurut apapun perintah Dea termasuk berbaring dengan kepala Dea berada di lengannya. Aneh? Tentu Dava merasa aneh. Kalau Dea marah padanya pasti Dia akan mendiamkan Dava sampai puas. "Ke napa Aku harus marah? Kasih Aku alasan?" tanya Dea lembut dengan mengusap rahang Dava. Dava memejamkan matanya, usapan Dea pada rahangnya membuat pria iti begitu nyaman. "Kamu marah karena tadi pagi Aku sama Fani itukan?" tanya Dava memastikan. "Oh hanya itu?" Dava menaikkan satu alisnya, tidak paham dengan balasan dari Dea yang ke lewat santai. "Kamu gak cemburu gitu?" tanya Dava lagi, Dea terkekeh menepuk-nepuk d**a bidang Dava yang memang pelukable bagi Dea. "Menurut Kamu kalau Aku cemburu harus nangis-nangis bombai dan enggak mau ke temu Kamu gitu?" bukan menjawab, Dea malah balik bertanya yang membuat Dava gemas akan tingkah Dea. Dava memeluk erat Dea, Dea meronta karena Ia susah nafas beneran guys gak pakai bohong. Dea menyentil dahi Dava karena kesal. "Awww." ringis Dava mengusap dahinya. "Uhh KDRT nih." keluhnya. "Kamu ini ya? Aku enggak bisa nafas tahu!" omel Dea untuk ke sekian kalinya karena ke habisan nafas, bukannya takut Dava malah mendekat ke arah wajah Dea lalu menggigit puncak hidung Dea gemas. "Davaaaaaaaa!" teriak Dea menggelegar karena apa yang Dava lakukan. Mereka tidak tahu bahwa ada sepasang paruh baya yang sedang menguping pembicaraan mereka sedari tadi. Mereka hanya terkikik geli hanya mendengar suara anak dan menantunya. "Mama bersyukur deh Pa, Mama pikir mereka tidak bisa akur. Mama gak bisa bayangin kalau Dava sampai sekarang belum bisa terima ke hadiran Dea." Ferdy menguntas senyumnya memeluk tubuh istrinya. "Papa yakin, Dava pria baik di balik sifat dinginnya." Tamara mengangguk dan terus berdoa untuk ke baikan Dava dan Dea. Madiun, 22 Agustus 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD