007. Heboh

1139 Words
Dea dan dua sahabatnya sedang menikmati acara makannya di kantin, biasalah hanya mereka bertiga di dua kursi panjang itu. "De, Lo sudah tahu mau kuliah di mana entar kalau sudah lulus?" tanya Sinta dengan memasukkan satu buah bakso ke dalam mulutnya. Wanita itu menatap Dea yang juga menatapnya. Dea sedikit berpikir. "Gue belum tahu tapi Gue mau ke Fakultas ke Dokteran.". "Wuihh Lo mau jadi Dokter?" heboh Rara, Dea mengangguk. Sebenarnya cetusan mau jadi Dokter itu Ia dapatkan saat melihat Fandy, mertuanya yang terlihat keren dengan seragam Dokternya tiap pria itu akan berangkat ke rumah sakit. Terlihat berwibawa apalagi dengan niat menolong sesama. Rasanya Dea akan sangat bangga pada dirinya jika Ia bisa seperti Papa mertuanya itu. Sungguh pekerjaan yang sangat dan begitu mulia untuk di raih dan di perjuangkan bukan?. "Kalian?" tanya Dea pada dua sahabatnya dengan menatap Rara dan Sinta bergantian. "Gue sih belum mikir, tapi boleh juga tuh kalau Gue juga mulai belajar soal ke Dokteran." tambah Rara dengan mengangguk, wanita itu akan benar-benar memikirkan soal itu. Karena sebentar lagi mereka akan melaksanakan ujian. Tidak mungkin kecerdasan yang mereka miliki hanya di anggurkan untuk sesuatu yang sepenting ini. Toh pendidikan apapun selain ilmu ke Dokteran juga perlu mereka pikirkan, tidak gegabah an perlu juga persiapan. "Lo bagaimana Ta?" tanya Rara pada Sinta. "Gue juga deh biar bisa kuliah bareng kalian lagi."  Sinta mengangguk tanda setuju. Otak mereka yang hampir sama dengan kecerdasan tidak mungkin tidak bisa masuk ke jurusan ke Dokteran. Lagian Dokter juga pekerjaan yang sangat mulia jika di bandingkan harus menghitung angka berderet dengan skala-skalanya. "Oh Gue pasti bahagia tiap hari ke temu sahabat-sahabat Gue." mereka bertiga berpelukan layaknya orang lama tidak bertemu hingga suara deheman seseorang membuat mereka terpaksa melepaskan pelukan. Ke tiganya mendongak, menatap beberapa orang yang mengganggu ke senangan mereka. Mata Sinta dan Rara melotot melihat siapa yang ada di hadapan mereka, sedangkan Dea menaikkan satu alisnya. "Dav-Dava." ucap Sinta gugup, Sinta sama sekali tidak menyangka jika Davalah orang yang telah mengganggu mereka. Remaja pria yang sangat di gandrungi oleh semua siswa, bukan hanya ketampanannya tapi juga otaknya yang tidak kalah dari ke tiga remaja wanita itu. Dea melanjutkan makannya tidak hiraukan Dava yang duduk dengan tangan kanannya yang menyangga dagu menatap intens Dea, padahal belum di persilahkan sama yang punya tempat duduk. Maksudnya Dea dan ke dua sahabatnya. Jangan tanya hebohnya kantin seperti apa? Jelas bahwa banyak cewek-cewek sudah pada histeris karena adanya Dava dan ke dua sahabatnya itu di tempat duduk Dea Sinta dan Rara. Entah akan menjadi berita heboh seperti apa setelah ke jadian ini? Yang jelas Dea berusaha mengacuhkan ke beradaan Dava, suaminya. "Maaf yah Kita ganggu acara pelukan kalian." ucap Zacky pada ke tiganya, tapi hanya di balas tatapan cengo Sinta dan Rara. Ke duanya masih shock hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Makan yang banyak." suara lembut Dava pada Dea mengalihkan pandangan Sinta dan Rara, juga pada seisi kantin yang diam sejak ke datangan Dava tadi. Otomatis suara Dava yang sangat jelas terdengar, semua mata kini menatap mereka yang lebih menarik dari pada makanan mereka yang hampir habis ataupun baru mereka pesan. Apalagi perkataan lembut Dava di iringi dengan senyum pria tampan dengan tinggi semampai itu. Alis tebalnya ikut menari naik saat senyumnya terpatri indah di ke dua sisi wajahnya. Pria yang tidak pernah merapikan rambutnya itu malah terlihat gantle dan juga suamiable. Membuat banyak siswa menggigit  bibir serta kuku mereka, menahan segala luapan yang akan meledak namun mereka tahan. "Ck diem!" dumel Dea tidak suka, Dava terkekeh karena dengan cepat Dava membuat mood Dea turun. Bukan maksud Dava membuat Dea marah ataupun kesal. Tapi melihat Dea yang kemarin di dekati Dewa membuat Dava harus extra antisipasi jika tidak ingin ke colongan seperti kemarin. Sinta dan Rara mengerutkan kening mereka karena bingung dengan nada tidak suka yang di lontarkan Dea pada Dava, banyak siswa yang berbisik-bisik mengenai Dava yang tiba-tiba jadi berubah ekspresi lalu juga mengenai Dea yang malah seolah menolak adanya Dava. Padahal jarang sekali Dava seperti itu pada seorang wanita, termasuk mantannya sendiri Fani. "De." panggil Rara, mulai curiga dengan keadaan. Dea tidak pernah cerita akan ke dekatan wanita itu dengan Dava. Lalu pemandangan di depan mereka ini sudah banyak menimbulkan banyak sekali pertanyaan di kepala Rara. "Hm." hanya deheman sebagai respon dari Dea, Dea tidak menatap Rara. "Lo kok enggak seneng?" Dea menaikkan alisnya begitu juga dengan Dava yang menatap ke dua sahabat dari Dea. Dengan ragu Rara berbisik pada Dea. "Lo ke napa enggak suka gitu ada Dava, bukannya Lo cinta sama Dia?" Dea menatap tajam Sinta karena bisikan sahabatnya itu. Bagaimana kalau Dava dengar? Bagaimana kalau semua yang terpikirkan Dea bisa jadi kenyataan? Lagian ke napa juga sih suaminya itu nekat mendekati Dea pada saat di sekolah. "Ck diem bisa enggak?" Sinta menutup rapat mulutnya mendapat tatapan membunuh dan nada mengancam dari Dea, Dava menaikkan satu alisnya penasaran dengan apa yang di katakan Sinta hingga Dea berubah seperti itu. Perubahan sikap Dea begitu kentara hingga timbul banyak pertanyaan pula di kepala Dava. Dava mengode dua sahabatnya, dan dengan baik di tangkap oleh Zacky dan Bintang yang sejak tadi hanya diam menatap percakapan mereka. "Guys! Please ya pada bayar makanannya ke Ibu kantin sekarang, kantinnya mau di pakai Dava bentar ya?". Seolah tidak ada bantahan, semua berdiri dan meninggalkan kantin dengan tenang. Bukan benar-benar meninggalkan kantin sih sebenarnya, mereka pada nyempil di balik tembok untuk melihat apa yang terjadi di kantin. Kepo maksimal akan ada adegan apa selanjutnya. Dea menghela nafas kasar menatap Dava dengan berani setelah semua siswa benar-benar meninggalkan kantin. "Apa yang Kamu mau?" tanya Dea lembut meski tatapannya tidak bisa di katakan santai, ya jelas bos mana mungkin Dia berani sama suami. Mau di bilang istri durhaka apa?. Dava mengusap puncak kepala Dea sayang, semua siswa sudah pada heboh karena Dava tersenyum untuk pertama kalinya pada seorang cewek. Padahal dulu sama Fani saja juga enggak segitunya, perlakuan manis Dava juga begitu sangat membingungkan. Mereka sama sekali tidak terlihat dekat namun interaksi ke duanya menunjukkan kedekatan. Dea mendengus, lalu menepis tangan Dava yang ada di puncak kepala Dea. "De." panggil Dava pada Dea agar tidak membantah. Benar, Dea hanya diam. Zacky dan Bintang hanya tertawa karena tingkah Dea yang mereka tahu akan status mereka. "Bener apa kata Lo Dav?" Dea menatap Dava tidak percaya. "Kita sudah tahu De." ucap Bintang, Rara dan Sinta yang tidak tahu arah pembicaraanpun bertanya. "Maksudnya ini apaan sih?". "Gue sa-sama Dav-." Dea rasanya enggak sanggup dan bingung secara bersamaan saat akan menjelaskan sama ke dua sahabatnya. "De!" Dea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Dava tersenyum dalam hati karena ke bingungan Dea. "Kalian datang ke apartement Dea saja." ucap Dava. Ke dua bergerak cepat menatap Dea. "De, sejak kapan Lo tinggal di apartement?" Dea menatap Dava garang. "De, jelasin ini ada apa?" tanya Sinta yang sudah tidak sabar sama semua ini. "Ok." Dava berdiri di ikuti dua sahabatnya. "Bye Sayang." pamitnya berbisik tepat di telinga Dea, Dea menggeram. "Davaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriakan melengking Dea membuat tawa Dava Bintang dan Zacky pecah. Semua orang bahkan tidak percaya dengan suara tawa Dava yang seolah ringan karena teriakan Dea untuk pertama kalinya. Madiun,22 Agustus 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD