Selamat membaca, jangan lupa Vote dan comment yang mendukung Author..
Jangan lupa juga baca cerita Author yang N.A.M (Not A Mistake)
Ini nih ya Dea serasa di sidang oleh ke dua sahabatnya yang sudah dari tadi menatap tajam Dea seolah memang ingin menelan Dea hidup-hidup saat mereka berenam sudah duduk manis di ruang tamu apartement Dava dan Dea.
Tatapan mengintimidasi mereka suguhkan pada Dea, Rara maupun Sinta benar-benar ingin penjelasan dari Dea sekarang juga. Tanpa mau menyentuh apapun yang sudah Dea sediakan di meja, mereka berdua malah menuntut Dea segera bicara melalui tatapan mata tajam syarat akan ke ingin tahuan yang tidak bisa tertunda lagi.
Dea menatap Dava yang bersidekap d**a dengan sinis, Dea mendengus. Suaminya ini buat perkara tapi semua resiko Dea yang tanggung. Benar-benar membuat kepala Dea rasanya mau pecah menjadi kepingan-kepingan halus yang siap di terpa angin, ingatkan Dea jika Ia memang berlebihan kadang-kadang dan hal itu membuatnya semakin terdesak dengan keadaan.
"Apa yang ingin kalian tanyakan?" tanya Dea, ini pilihan yang baikkan? Menanyakan apa yang mereka ingin tahu. Kalaupun menceritakan dari awal pasti akan memakan waktu yang cukup lama.
"Semuanya." jawab Sinta dan Rara kompak, Dea menghembuskan nafas entah yang sudah ke berapa kali. Ia tahu bagaimana sifat ingin tahu ke dua sahabatnya yang memang 11:12 dengan dirinya. Sifat ingin tahu akan segala hal, meski Dea hanya ingin tahu yang menurutnya penting untuk di ketahuinya saja.
Dava menggenggam tangan Dea, hal itu sudah menjadi pertanyaan besar bagi Sinta dan Rara kecuali Bintang dan Zacky yang malah asik makan camilan yang tadi sudah di siapkan Dea untuk mereka, istriable bangetkan Dea? Dan Zack serta Bintang malah semakin nyaman dengan drama yang mereka tonton di channel TV berlangganan Dea Dava. Sungguh sahabat yang pengertian bukan? Mereka juga seolah tidak peduli dengan keadaan yang mencekam di sekitarnya.
"Kalian enggak penasaran?" tanya Rara mengarah pada Bintang dan Zacky, ke duanya mendongak menatap Rara lalu menggeleng bersamaan. Seperti tidak tertarik sama sekali dengan pembahasan yang akan mereka bicarakan.
"Kalian sudah tahu?" tambah Rara, ke duanya mengangguk, menoleh pada Rara sebentar lalu kembali menikmati drama yang tersaji di layar 42" itu.
"Gila!" ucap Sinta tidak percaya dengan tertawa hambar. Sinta merasa seperti di khianati oleh Dea, mereka sahabatan namun mereka sama sekali tidak tahu akan rahasia Dea kali ini. Sinta dan Rara menggeleng, raut akan kecewa yang memang tiak mereka tutupi sama sekali. Keadaan menyentil ke duanya dengan menatap Dea sendu, jelas mereka kecewa dengan Dea kali ini.
"Ta!" panggil Dea, mencoba menenangkan Sinta yang terlihat sudah emosi mengetahui bahwa sahabat Dava sudah tahu dan Dia yang sahabat Dea sama sekali tidak tahu apa-apa. Sinta ingin bertepuk tangan karena Dea berhasil menyembunyikan semua ini dari ke duanya.
"Apa? Bahkan mereka sudah tahu dan Kita belum?" tanya Sinta geram. Geram menerima kenyatan bahwa Dea sahabatnya menyembunyikan sesuatu darinya yang terlihat sangat penting. Apa dirinya juga Rara segitu tidak di percayakah?.
"Bukan Dea yang cerita ke mereka tapi Gue, bahkan mereka tidak kenal Dea begitupun sebaliknya." ucap Dava tegas, tidak ingin Dea semakin di pojokkan oleh sahabat isterinya itu. Memang itu faktanya bukan? Jika bukan dari Dava apa Zack dan Bintang akan tahu rahasia mereka? Tentu saja tidak.
"Jadi apa yang kalian sembunyikan?" tanya Rara yang tidak terlalu emosi seperti Sinta. Rara memang selalu tenang di bandingkan Sinta yang sering sekali tersulut emosinya. Rara kini menatap Dea, menuntut jawaban.
"Kita pasangan." Rara dan Sinta terkejut bukan main atas pernyataan Dava. Mereka shock mendengar kalimat yang baru saja terlontar.
"Pasangan kekasih?" tanya Rara. Gelengan Dava membuat dahi Rara dan Sinta mengerut.
"Bukan, tapi kita pasangan suami isteri.".
"Whattt???" teriak Rara dan Sinta sedangkan Bintang dan Zacky menutup kuping mereka dengan ke dua telapak tangan masing-masing. Suara toa mereka membuat Zack dan Bintang juga berdecak tidak suka.
"Ish kalian berisik!" protes Bintang, mata Sinta menajam. Dea menunduk karena merahasiakan semuanya dari sahabatnya. Ia merasa bersalah namun juga tidak mungkin Ia menceritakan semuanya pada sahabatnya ketika Dia belum siap. Apalagi rumah tangga yang Ia bangun dengan Dava belum lama membaik, Ia malu karena sebelumnya Dava menolak untuk menerima kehadirannya.
"Ok Kita emang masih shock, tapi sejak kapan kalian menikah?" tanya Rara setelah hening hampir 10 menit. Rara ingin mendengar ke seluruhan cerita Dea.
"Setahun lebih ini, tepatnya saat umur Dea menginjak 17 tahun.".
"Apa??" teriak Rara dan Sinta lagi, kali ini mereka benar-benar shock. Sudah setahun dan Dea hanya diam tanpa mau bercerita pada mereka.
"Kalian bisa tidak kalau shock itu di bikin manis-manis saja?" omel Bintang, Sinta menoyor kepala Bintang hingga badan Bintang terjerembab ke belakang. Pria itu jatuh membentur lantai membuatnya meringis seketika.
"Awww." bukannya di tolongin, ringisan Bintang malah jadi bahan tertawaan mereka. Sedikit melupakan hal yang baru saja terlihat menegangkan.
"Ck kenapa kalian enggak nolongin Gue, dasar temen laknat Lo pada!" gerutu Bintang yang sudah berdiri dari jatuhnya.
"Yaelah sini Sayang." canda Zacky yang dapat jitakan dari Bintang.
"Jijik Gue sama Lo." tambah Bintang kesal lalu duduk kembali ke tempatnya tadi, Zack terkekeh.
"Jadi tepatnya kapan itu?" tanya Sinta lagi.
"Setelah kita naik kelas 11, 06 Juni 2016." jawab Dea, mata Sinta dan Rara melebar.
"Lo bercanda?" tanya Sinta, terdengar geraman tertahan dari Sinta.
"Tunggu, bukannya Lo putus sama Fani tepat bulan September? Jadi Lo sudah menikah sama sahabat Gue dan Lo masih pacaran sama Fani?" Sinta langsung berdiri dengan berkacak pinggang, Dava menghembuskan nafas kasar. Ya dalam hal ini Dia salah dan harusnya Ia sadar akan hal itu. Sadar bahwa Ia tanpa sengaja mengingkari janji pernikahannya yang begitu sakral. Dan ini yang menjadi alasan Dea memyembunyikan semuanya, sahabatnya terlalu tahu dan mengerti dirinya. Hingga siapapun yang menyakitinya merekalah yang akan menjadi barisan paling depan untuk membela dan melindunginya.
"Bukan September tapi bulan Agustus akhir Dava putusnya sama Fani." ralat Zacky, Rara juga ikut menatap tajam Zacky.
"Whatever Lo mau putus kapan! Yang jelas Lo sudah menikah dan Lo tega masih berhubungan sama Fani setelah status Lo. gila!" Sinta tidak habis pikir dengan jalan pikiran Dava dan Dea juga, bagaimana wanita itu merasakan sakit hati tiap hari? Rara dan Sinta menatap Dea dengab prihatin.
"Pantes Lo pas dulu sering nangis, apa ini yang Lo sembunyikan De?" tanya Rara juga ikutan marah, Dea hanya tertunduk dengan air mata yang berlinang. Dava menggenggam tangannya, menguatkan hatinya. Dava menyadari semuanya itu, Dia memang salah dulu. Dia tahu jika wanita yang kini Ia cintai itu sering menangis akibat ulahnya.
"De." panggil Sinta, Bintang dan Zacky yang tidak tahu apapun hanya diam mendengar dan melihat segala macam ekspresi mereka.
"Ta, Ra please!" ucap Dea.
"Gue enggak mau lihat Lo jadi bahan pelarian Dava." Dava menggeram atas tuduhan ke dua sahabat Dea.
"Apa maksud Lo ha? Iya Gue emang salah dulu tapi Gue sudah belajar untuk menerima Dea." ucap Dava tidak mau kalah, ya Dia salah dulu tapi bukan berati Dea Ia manfaatkan. Gila saja!.
"Ya harusnya Lo terima Dea kalau Lo laki-laki beneran!" sekarang Rara yang di buat emosi.
"Sudah Ta, Ra!" pinta Dea tidak di gubris oleh ke duanya, mereka masih saling menghunuskan tatapan tajam dengan Dava.
"Dea, Gue yakin Lo belum bilang sama Dava." Dea menggeleng tegas pada Sinta, menandakan mereka harus berhenti bicara.
"Bilang apa?" tanya Dava yang menurunkan nada suaranya lalu menggoyang bahu Dea.
"Dea!" Dea hanya menggeleng atas panggilan Dava, kini Dava beralih pada Sinta dan Rara.
"Apa yang Dea sembunyikan?" tanya Dava tegas.
"Maaf De!" ucap Sinta, Dea menggeleng. Ia takut kalau lagi hanya penolakan dari Dava yang Ia dapat, meski pria itu berlaku sangat manis sekarang.
"Lo mau tahu apa yang Dea sembunyikan?" tanya Rara dengan pandangan meremehkan pada Dava.
"Lo sadar tidak? Selama ini Dea sudah C-I-N-T-A sama Lo dalam diam dari pertama masuk sekolah.".
Madiun,23 Agustus 2020