Bagaimana dia bisa tau namaku?
Misha membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa ada pria tampan ber jas berdiri di depannya dan hanya menyisakan jarak tak lebih dari satu meter darinya. Refleks Misha melepaskan genggamannya dari buku Dream Light yang masih tersusun rapi di raknya.
"Kok kamu bisa tau namaku?" Misha menatap mata pria tampan di daepannya dalam-dalam. Jika dilihat-lihat, pria ini seperti pria muda berumur 25 tahun yang dapat menghasilkan uang miliaran disetiap tarikan nafasnya.
Aldrich menatap d**a Misha yang masih berbalutkan seragam sekolah. Bisa dibilang Misha memiliki d**a yang terlihat besar dan indah untuk anak perempuan seusianya. Senyum sinis terukir dari bibir indah Aldrich.
Seketika Misha mengikuti arah atapan Aldrich, refleks tangannya mengambil sembarang buku di dekatnya dan menutupi dadanya dengan buku tersebut. Ganteng sih, tapi ternyata m***m, kampr*t.
Misha merutuki dirinya sendiri, mengapa dia dapat terpesona dengan pria bertampang dingin dan m***m seperti ini.
"Dari name tag mu"
Suara Aldrich yang terdengar berat dan manly menyeruak gendang telinga Misha, membuatnya menyadari bahwa pria itu bukan memandang payudaranya, melainkan name tag nya.
HAHH DASAR PIKIRANKU.
Misha mengembalikan buku yang diambilnya tadi pada rak semula. Bergegas membalikkan tubuh dan berjalan cepat menuju bagian rak buku pengetahuan umum dimana Ezra berada.
Aldrich memandang pungung Misha yang mulai menjauh darinya.
"Misha Sasongko," gumamnya.
Aku akan membuatmu mencintaiku. Tidak. Aku akan membuatmu membutuhkanku, Misha. Senyum smirk terukir di bibirnya, pupil matanya sedikit membesar. Akhirnya wanita yang Ia cari selama ini telah bertemu dengannya.
…………….
Misha melangkahkan kaki dengan cepat menuju keberadaan Ezra. Dilihatnya Ezra sedang berdiri dengan tiga buah buku di tangannya, matanya masih sibuk melihat buku-buku di rak.
"Ezra,"
Ezra mengenali suara wanita yang pernah membuat hatinya berdebar itu, Ezra menoleh dan sedikit tersenyum.
"Udah dapet bukunya? "
Misha hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun ponsel di sakunya bergetar-getar, menandakan seseorang menelfonnya.
"Belum nih, bentar Zra", Misha meraih ponselnya di saku. Menampilkan nama Mbok Wati di layarnya.
Mbok Wati adalah pembantu rumah tangga di rumahnya, Ia adalah istri dari Pak Ratno supir pribadi kelurganya. Seperti halnya Misha dekat dengan Pak Ratno, Misha juga dekat dan akrab dengan Mbok Wati. Begitu dekatnya hingga Mbok Wati pernah menemani Misha ke Mall hanya untuk membantu memilihkan bra pertamanya. Saat itu Misha tidak tahu cara memilihnya dan Ia merasa tidak enak jika meminta bantuan dari Mariah, mamanya.
Dengan cepat Misha menekan tombol hijau pada ponselnya.
"Halo Non Misha,"
"Iya Mbok, ada apa?"
"Anu Non, Bapak nyuruh Non Misha cepet pulang ya, nanti malem kan ada acara jauman dengan investor Bapak, Non Misha disuruh siap-siap"
Aduh, acara ginian lagi, Batin Misha. Misha menghela nafas sejenak.
"Oke Mbok, ini aku mau pulang kok. Makasih ya Mbok"
"Mbok tutup dulu ya, hati-hati di jalan Non, kalau sore biasanya rame"
"Oke Mbok, makasih."
Misha memasukkan ponselnya di saku roknya.
"Um, Zra, lo udah selese milih buku belum? Gue disuruh pulang cepet nih, mo ada acara di rumah"
"Oh, Gue udah selesai kok, bentar Gue cari Adit Sha".
Ezra melangkahkan kakinya untuk mencari Adit. Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari rak di belakang Ezra dan Misha.
"Loh kok kalian mau pulang sih? Katanya mau traktir gue pizza. Gue udah rela jadi obat nyamuk nih." Suara seseorang mengintp dari balik rak mengejutkan Ezra dan Misha.
"Anj*r Adit, besok deh Gue traktir. Misha disuruh pulang cepet nih." Dengan cepat Ezra meraih lengan baju Adit dan menariknya untuk mengikuti langkahnya.
"Ih apaan sih, o-ke, oke, Gue nurutt. Lepasin dong sayangg," Tangan adit meraih lengan Ezra dan memeluknya. Seketika orang-orang di sekitar mereka melihat gelagat Adit dan menatap mereka dengan tatapan heran.
"Anj*r jijik Gue. " Ezra melepaskan cengkramannya pada lengan baju Adit.
Misha hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kelakuan aneh dua orang teman dekatnya ini.
……………………
Jam dinding menunjukkan pukul 7 malam. Misha berdiri di depan cermin yang berdiri kokoh di sudut kamarnya, mengenakan gaun warna pink peach dengan sedikit aksen hiasan bunga kecil di pingang kanannya. Gaun itu menampakkan leher jenjang Misha yang putih bersih, dihiasi kalung dengan liontin berbentuk hati kecil yang manis.
Gaun selutut yang dikenakannya memiliki belahan d**a sedikit rendah, membuat gundukan gunung kembar Misha sedikit terekspos dan juga menampakkan bahu putih mulus Misha. Rambut berwarna coklat gelap Misha disanggul rendah dengan headpiece mutiara membuat dirinya semakin anggun.
Lelaki manapun yang memandangnya akan tersihir dan takjub dengan kecantikan Misha. Namun tidak dengan perasaan Misha yang gelisah semenjak Ia mengenakan gaun yang dipilihkan Mariah, Mamanya tersebut. Misha merasa Mamanya sengaja memilihkan gaun yang mengumbar bagian-bagian tubuhnya, membuat Misha merasa malu akan dirinya.
"Mbok Wati, Mama ngga ngasih pilihan lagi ya selain gaun ini?" Misha masih memandangi dirinya di cermin sambil menutupi bahunya dengan kedua tangan.
"Non Misha cantik banget, tapi kenapa Non? Malu ya? Apa Mbok carikan syal di lemari ya Non?" Mbok Wati berhenti sejenak dari kegiatan merapikan meja rias yang berantakan milik Misha.
"Boleh Mbok, bantu aku cari yaa Mbok. " Misha mulai membuka lemarinya, diikuti Mbok Wati yang mulai mencarikan syal yang cocok untuk dipadukan dengan gaun Misha.
Setelah 15 menit berlalu, Misha akhirnya menampakkan dirinya di keramaian pesta dengan mengenakan syal yang senada dengan warna gaunnya, pink peach namun sedikit lebih gelap dari warna gaunnya. Misha berjalan dari ruang tengah rumahnya menuju kebun belakang rumahnya. Ya, pesta itu diadakan di kebun belakang rumahnya, tepat di tepi kolam renang besar yang sekarang sudah dipenuhi hiasan lilin warna-warni ditepinya.
Dilihatnya Razilee sedang mengobrol hangat dengan Mamanya dan teman-temannya. Mereka terlihat begitu menikmati alunan lagu jazz dengan minuman ditangan mereka. Yah seperti inilah nasib Misha ketika keluarganya mengadakan pesta, pada akhirnya Ia hanya akan duduk sendirian di kursi dibawah pohon yang berhiaskan lampu berwarna warm white dengan beberapa dekorasi disekitarnya.
Saat asik duduk dan menikmati segelas soda di tangannya, Misha mendengar Ayahnya memanggilnya sembari melambaikan tangan ke arahnya. Papanya terlihat sedang mengobrol dengan dua orang laki-laki berjas yang Misha yakini mereka adalah para investor di perusahaan Ayahnya.
Misha mengangkat bokongnya dari kursi, mulai melangkahkan kakinya yang berbalutkan heels berwarna silver setinggi 5 cm. Misha menarik sudut bibirnya, berusaha membuat senyum yang terlihat tulus dan sopan kepada kedua tamu Papanya.
HAH? COWOK m***m YANG TADI DI TOKO BUKU?
Misha membelalakkan matanya tidak percaya. Ya, pria di depannya adalah pria yang merebut buku Dream Light di toko buku sore tadi. Misha menarik syalnya, mencoba lebih menutupi dadanya dengan syalnya.
"Misha, kenalkan, ini teman kerja Papah, Pak Aldrich dan sekretarisnya, Pak Rengga" ujar Papanya.
Aldrich tersenyum lebar kepada Misha, senyum yang begitu manis namun penuh dengan rahasia di dalamnya.
"Saya Aldrich, senang bertemu dengan Anda, Nona Misha." Aldrich mengulurkan tangannya, masih dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Misha ragu untuk membalas jabatan tangan Aldrich, tubuhnya seperti tersihir dan kaku. Misha masih dengan pandngan terkejut melihat keberadaan Aldrich di depannya, pria yang dianggapnya memiliki aura aneh dan penuh kerahasiaan.
"Misha, " Papanya memandangnya dengan penuh tanya.
"Oh, sa-saya Misha." Refleks Misha dengan cepat membalas jabatan tangan Aldrich.
Tangan Aldrich terasa begitu dingin, namun panas secara bersamaan. Tangannya begitu kokoh, namun lembut. UH! Sadar Misha! Batin Misha memperingakan dirinya untuk tetap fokus.
"Sepertinya kita sudah pernah bertemu, Nona Misha?"
Kenapa cowok m***m ini malah bilang gituu! Batin Misha.
"Tidak, ini pertama kalinya saya bertemu Anda Pak, mungkin anda salah orang. " Dengan cepat Misha menyangkal Aldrich, melemparkan tatapan tajam pada mata Aldrich untuk segera menghentikan ini semua.
"Oh ya? Maaf sepertinya saya salah orang. Tolong jangan panggil saya Pak, panggil saja Aldrich, saya yakin umur kita tidak jauh berbeda. " Ucap Aldrich sambil tersenyum manis pada Misha.
Misha tersenyum sinis, kemudian dengan cepat Ia berusaha melemparkan senyum manis dan mengangguk.
"Baiklah, Aldrich. Karena Anda menganggap umur kita sama, Saya tidak perlu berusaha keras untuk sopan kepada Anda." Ucap Misha.
"Misha! Kamu ada apa?" Papanya meraih pergelangan tangan Misha, dan membisikinya.
"Mohon maaf Pak Aldrich. Memang anak SMA sekarang seperti itu, terkadang suka bercanda" Ujar Papanya diakhiri dengan sedikit tertawa.
"Tidak apa-apa Pak Damar. Toh juga saya masih muda, santai saja Pak" Aldrich menepuk bahu Damar dengan diiringi sedikit nada tertawa.
"Papa, Misha mau ke toilet bentar ya Pa." Misha sangat ingin pergi menjauh dari pria m***m bernama Aldrich ini. Wajahnya membuatnya muak dan tatapannya begitu tajam, mengintimidasi.
Papanya tersenyum dan mengangguk. "Hati-hati ya, Misha, " ujar Papanya.
Misha hanya mengangguk dan melangkahkan kaki menuju ke toilet. Aldrich tampak memandangi pungung Misha yang mulai menjauh darinya.
"Pak Damar, ada sesuatu hal penting yang ingin saya utarakan pada Anda. " Wajah Aldrich tiba-tiba menjadi serius, aura dingin dan mengintimidasi nampak nyata terdengar dari setiap kata yang keluar dari mulut indahnya.
To Be Continued....