Gila!

1123 Words
"Apakah anda tahu seorang pengusaha besar dari Australia bernama Aaron Pak?" Aldrich memasukkan tangannya pada saku celana berwarna abu-abu tua yang ia kenakan. Mata Aldrich tampak berapi-api dan penuh dengan intimidasi.     Damar merasa terkejut, kedua alisnya terangkat penuh tanda tanya. Sedetik kemudian Ia berusaha menetralkan emosinya, mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah dan penuh senyuman.     "Hmm, saya tidak yakin, saya seperti pernah mendengarnya. Apakah Pak Aaron ini juga seorang investor, Pak Aldrich?" Damar menatap mata Aldrich dalam-dalam. Bagaimana seorang CEO muda berumur 25 tahun mengetahui nama Aaron yang sudah lama tidak Ia dengar setelah kejadian itu?     Sejenak pikiran Damar kembali mengingat masa lalunya, masa dimana Ia mengenal pria muda penuh ambisi dan semangat bernama Aaron. Aaron yang merupakan seorang investor besar yang berniat menginvestasikan sejumlah dana pada perusahaan Damar dalam jumlah yang cukup besar.     Saat itu Damar baru pertama kali menjabat sebagai CEO di perusahaan Ayahnya yaitu Sasongko Propertindo Tbk. Setelah Damar mengetahui bahwa Aaron akan menginvestasikan dana dalam jumlah besar, Damar segera menghubungi Aaron dan menyiapkan segala hal untuk Aaron. Tinggal satu langkah lagi Damar mendapat dana dari investor besar seperti Aaron, namun hal itu malah menjadi malapetaka baginya.     Aaron ternyata tidak berniat berinvestasi pada perusahaannya, melainkan Ia hanya mencuri ide dari proyek Damar yang telah Ia bicarakan pada saat rapat investor. Aaron juga melaporkan Damar dengan tuduhan penggelapan dana dan penyelewengan pajak yang dilakukan Damar.     Butuh waktu yang lama untuk melewati situasi seperti ini, saat itu perusahaannya sudah diambang kehancuran. Namun pada akhirnya Damar dapat bangkit dan kembali merintis perusahaan dari mendiang Ayahnya itu.     Damar masih mengingat dengan jelas keputusan besar yang Ia buat saat itu untuk membalas dendam Aaron. Damar merasa Aaron adalah ancaman besar baginya jika Ia masih tetap hidup. Damar merencanakan pembunuhan yang tidak akan menyebabkan kecurigaan dari polisi.     Damar mengira Ia telah membunuh semua keluarga Aaron, Ia tidak mengetahui fakta bahwa Aldrich, pria di depannya ini merupakan anak dari korban yang telah Ia bunuh 12 tahun lalu.     "Pak Damar? Apakah anda melamun?" Aldrich menepuk lengan Damar dengan lembut.     "Ah, Iya. Saya tidak begitu mengenal seseorang bernama Aaron, Pak Aldrich. Saya hanya pernah mendengar bahwa Ia adalah seorang investor. Kalau boleh tahu, dari mana Pak Aldrich tau mengenai seseorang bernama Aaron?" Damar mencoba menyembunyikan keterkejutannya. Ia tidak ingin ada orang lain yang mencurigainya tentang hubungan antara Aaron dengannya.     "Aa begitu. Sejujurnya saya mengetahui tentang Pak Aaron dari seseorang sahabat bisnis Ibu saya, beliau bercerita bahwa Pak Aaron adalah investor besar yang handal." Aldrich mengeluarkan tangannya dari saku dan melipatnya di dadanya.     Damar hanya tersenyum dan mengangguk.     "Oh ya Pak Damar, mengenai putri anda Misha, saya sepertinya tertarik dengannya," Aldrich melemparkan senyum yang terlihat indah namun menyimpan sejuta rahasia dibaliknya. ………………………       Misha baru saja keluar dari toilet di ujung kebun rumahnya. Meskipun terletak di ujung kebun, sekeliling jalan menuju arah toilet sudah diberi penerangan lampu-lampu kecil berwarna warm white dengan beberapa dekorasi kayu yang menerangi seluruh sudut kebun rumahnya.     Misha melangkahkan kaki untuk kembali menuju kursi di bawah pohon tempat dimana Ia duduk semula. Belum sampai Misha duduk di kursi, Ia mendengar suara Mamanya.     "Mohon perhatiannya sebentar hadirin semua, " Mamanya yang mengenakan gaun merah maroon nampak berada di seberang kolam dari keberadaan Misha. Dengan tangan kanan memegang mic dan sembari mengandeng tangan Razilee. Disamping Razilee nampak Papanya sedang berdiri     "Terimakasih saya dan suami saya ucapkan kepada hadirin semua yang sudah menyempatkan hadir pada pesta sederhana kami. Kami berharap hadirin semua dapat diberikan kebagiaan dan kesehatan, tak lupa saya juga berdoa agar keluarga kecil kami selalu diberi kebahagiaan dan jauh dari keterpurukan. Melihat anak kami satu-satunya, Razilee Sasongko sudah begitu dewasa, saya merasa masa-masa penuh perjuangan akan berujung dengan kebahagiaan. Dengan bertemunya kita semua disini, semoga tali persaudaraan kita semua kian menguat, hadirin semuanya."     Mata Mariah terlihat mulai berkaca-kaca, sedetik kemudian senyum lebar merekah nampak dari bibirnya. Mariah memandang Razilee dan memeluknya.     Damar terpaksa harus mengikuti kemauan istrinya yaitu untuk menyatakan kepada khalayak umum bahwa Razilee adalah anak kandung mereka satu-satunya. Hal ini dilakukan Damar agar Mariah istrinya mengizinkan Misha tetap tinggal di rumahnya sehingga Damar dapat terus bertemu dan merawat Misha, putri kandungnya dengan seseorang dari masa lalunya.     Aku akan bicara dengan Misha setelah ini, jadi Ia tidak akan salah faham. Batin Damar sembari mengambil mic yang disodorkan oleh Mariah.     Damar mulai mendekatkan mic pada bibirna dan mulai mengatakan beberapa patah kata. "Saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua hadirin yang…….."     Misha menutup telinganya dengan kedua tangan, tidak menyangka Mamanya akan mengatakan dan mengakui status Misha sebagai anak angkat di depan semua orang. Misha mulai terduduk di kursi dan menangis dalam diam. Hatinya begitu terluka. Papanya yang selalu membelanya, kini tidak lagi berada di sisinya.     Apa keberadaanku merupakan kesalahan? Batin misha. Ia takut akan perkataan orang yang menyudutkannya, mengatainya sebagai wanita yang tidak tahu malu, wanita yang hanya mengambil keuntungan keluarganya saja, wanita yang hanya hidup sebagai parasit di keluarga orang lain tanpa membantu apa-apa. Pertahanan dirinya sudah runtuh berkeping-keping dalam sekejap.     Dirasakannya seseorang menarik bahunya dengan cepat, menuntunnya menjauh dari hiruk-piruk pesta tersebut. Misha hanya menurut, berharap seseorang yang menarik bahunya dan menenangkannya adalah Papanya. Jikalau bukan Papanya, Ia hanya berharap Mbok Wati atau siapapun membawanya pergi menjauh.     Misha masih menutup matanya dalam-dalam, air matanya sudah tidak lagi dapat Ia bendung. Sedetik, dua detik, tiga detik kemudian Ia menyadari Ia berada di kamar Mbok Wati, kamar yang berada di lantai satu yang dekat dengan dapur dan kebun belakang rumah. Misha masih menundukan kepala, matanya sudah penuh dengan linangan air mata. Dipandangnya kasur single bed dengan selimut merah terilpat rapi di atasnya.     Ceklek.  Pintu kamar dikuci.                             Misha merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Misha menyadari bahwa seseorang yang memeluknya adalah pria. dilihatnya pergelangan tangan pria berjas itu melingkar di perunya. Tubuh Misha seharusnya refleks bereaksi untuk menepis tangan yang melingkar di perutnya itu, namun entah mengapa Misha malah merasakan ketulusan dan kehangatan dari pelukan itu.     Misha! Sadar! Batin Misha merutuki dirinya sendiri, mengapa tubuhnya malah terbuai dengan pelukan itu.     Misha hendak menjerit, namun pelukan pria itu bertambah dalam dan kuat, membuat nafasnya sedikit tersenggal. Pria ini berperawakan tinggi, legannya yang begitu lebar membuat tenaganya untuk melepaskan diri sia-sia. Harum parfum musk dari pria itu membuat pertahanan Misha sedikit melemah. Bau tubuh pria itu menenangkan, pikirnya. Tangan Misha tidak lagi memberontak, kini Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menepis tangan pria yang melingkar di perutnya ini.     Perlahan pelukan pria ini sedikit mengendur, memberikan ruang untuk Misha menarik nafas dalam-dalam. Bau musk tipis yang dikenakan pria itu menyeruak ke dalam paru-parunya, meninggalkan kesan nyaman dan tenang.     "Shhh, Misha. Aku harap kamu tidak mendengar semua perkataan Papamu."     Misha mengenali suara pria ini, Aldrich.     "Jika kamu ingin pergi dari sini, pergilah denganku, aku akan berikan semua kebahagiaan untukmu, Misha."   To be continued....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD