Hubungan Kematian

1504 Words
Pertukaran waktu antara magrib ke malam terasa sangat lama bagi Maya. Ia tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Hanya tatapan kebingungan yang tampak pada wajah indahnya saat ini. Tanpa memperhatikan sekeliling, Maya bergerak cepat ke arah pintu utama karena sudah mendengar dua kali ucapan salam dari Azam. Namun pada saat tangannya baru menyentuh gagang pintu, ia merasa lehernya tercekik dan tubuhnya tertarik ke belakang. "Aggh," desis Maya dengan mata yang melotot karena ia merasa nyawanya hampir terlepas dari raga. Saat itu, Maya melakukan perlawanan sebisanya. Di dalam hati, Maya menyebut nama Azam dalam jumlah banyak, lalu di tutup dengan ucapan istighfar berkali-kali. Perang kekuatan terjadi, namun yang aneh bagi Maya adalah sepertinya sosok yang tengah mencekik lehernya begitu tahan akan kalimat Allah atau mungkin karena Maya tidak mengucapkannya dengan sepenuh jiwa dan bersamaan antara lisan dan hati. "Assalamualaikum," ucap Azam sekali lagi dan Maya berusaha untuk mengumpulkan tenaga dan mendorong tubuhnya sekuat mungkin, hingga ia berhasil dan dahinya menabrak pintu kayu. Terdengar suara seperti dobrakan dari dalam rumah yang membuat Azam cukup terkejut dan bingung. Perasaannya pun menjadi tidak tenang. Kemudian Azam mengetuk pintu karena berpikir Maya tidak mendengarkan ucapan salam darinya. Kalung terlepas dari leher Maya, namun ia belum menyadarinya. Maya mengatur napas yang sudah di ujung hidung dan ia tampak sangat ketakutan. Lalu ia segera membukakan pintu untuk Azam dan berusaha mengatur napas agar kembali tenang. "Wa-waalaikumsalam, Azam," sahut Maya dengan suara yang serak, sambil membukakan pintu rumah. "Kamu kenapa, May?" tanya Azam, lalu ia memegang wajah Maya karena tampak basah dan pucat. Maya menggeleng lamban, "Tidak ada apa-apa, Azam." Maya langsung memeluk suaminya karena begitu ketakutan. Apa yang terjadi pada Maya? Jika di wajahnya air wudhu, mengapa sampai seluruh tubuhnya harus basah? tanya Azam tanpa suara, sambil menyambut pelukan Maya yang terasa dingin. Azam melepas dan mendorong tubuh Maya dengan lembut, lalu ia menghapus air keringat yang awalnya dikira sebagai air wudhu olehnya. Saat itu, Azam seakan tahu bahwa istrinya tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Jadi, Azam langsung memperhatikan sekitar, mulai dari langit-langit ruang tamu hingga lantai. Ditengah lantai tersebut, melihat kalung berliontin indah sudah tergeletak di sana. Kalung itu seperti dihempas dengan sengaja oleh seseorang atau sesuatu. Pikiran Azam pun langsung mengarah kepada hal-hal mistis yang berkaitan dengan kalung pemberian sang paman. Azam meninggalkan Maya dan berjalan perlahan, serta mengambil kalung dengan tangan kirinya. Lalu ia kembali menatap Maya dan Maya pun merasa tidak enak hati, seolah ia sudah melakukan tindakan yang salah. Namun, Azam tidak berpikiran yang sama dengan Maya. Azam kembali berjalan mendekati Maya, "Maya, kalung ini sama sekali tidak spesial dan ini hanya titipan paman kepada saya. Saya mohon, apapun yang terjadi, jangan pernah kamu menyentuh, apalagi mengenakan kalung ini! Sebab, ini hanya titipan. Bukan sesuatu yang spesial untukmu," pinta Azam yang langsung mengarahkan ucapan seolah ia tahu bahwa istrinya sudah mengenakan perhiasan tersebut tanpa seizinnya. "Azam, sa,-saya," sahut Maya terbata-bata. Azam memegang kepala Maya. "Insyaallah, suatu hari nanti, saya akan memberikan kamu sesuatu yang berharga dari jerih payah saya sendiri, Maya," kata Azam dengan suara yang lebih rendah, sehingga Maya mengerti bahwa suaminya tidaklah sedang marah, namun hanya sebatas mengingatkan. "Maaf, saya sudah lancang," kata Maya yang juga memahami kesalahannya. "Tidak apa, Sayang. Mari kita membersihkan diri!" ajak Azam sambil tersenyum dan Maya pun menyambut ajakan Azam tersebut dengan anggukan yang lembut. Ketika malam telah merajai waktu, Azam yang lelah tampak sudah tertidur pulas. Sementara Maya masih menatap langit-langit kamar sambil berpikir tentang apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Besok, saya akan ke kampus untuk mencari tahu apa yang terjadi kepada Joya dan juga Melisa. Jika mereka mengalami cedera yang berat, bahkan sama persis dengan apa yang saya lihat maghrib tadi, berarti ada sesuatu yang berhubungan dengan diri saya. "Tidurlah, Maya! Besok kita harus kembali beraktivitas," pinta Azam sambil memeluk Maya. "Iya, Azam. Baiklah." ***** Azam dan Maya tiba di kampus. Baru menapak anak tangga di pintu gerbang utama, keduanya sudah mendengar suara berisik dari teman-teman, dengan kotak kardus di tangan mereka. "Ada apa ini?" tanya Azam sambil memperhatikan sekeliling. "Tidak tahu, sebaiknya ditanyakan saja!" "Ayo, Maya!" Azam menarik tangan Maya dan memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Di sana, ternyata sudah berkumpul teman-teman sekelas dan mereka tampak dirundung duka, terutama Andini. "Ada apa ini? tanya Azam bingung. "Joya, Zam. Joya sudah nggak ada. Semalam, ada sesuatu yang buruk dan tidak dipahami terjadi. Kata mamanya, Joya seperti disantet," beber Andini manja, sambil terus mencuri perhatian Azam. "Santet?" gumam Azam heran. Sementara Maya hanya diam sambil mendengarkan setiap informasi dengan baik. "Kita semua mau ke rumahnya Joya. Kamu mau ikut, Zam?" "Iya, tentu saja. Ayo!" Azam kembali menggenggam tangan Maya dan itu membakar hati Andini. Selain itu, tampaknya ia belum mengetahui bagaimana kondisi Melisa saat ini. Maya yang semakin ingin tahu, terus mengikuti langkah Azam. Setelah melewati 20 menit perjalanan, Azam dan teman-teman satu angkatan, tiba di rumah duka. Azam memimpin bacaan yasin untuk almarhum Joya. Saat itu, Maya hanya fokus untuk memperhatikan Wajah Joya yang belum tampak olehnya karena posisi duduk Maya berada di ujung kaki Joya. "Maya, kamu ingin lihat wajah Joya untuk yang terakhir kalinya?" tawar Azam. "Iya, jika diizinkan. Azam, apa boleh?" "Iya, Sayang. Tentu saja," bisik Azam. Maya langsung jalan setengah berdiri untuk menghormati jasad Joya dan keluarganya. Ketika mata Maya mampu menangkap gambaran wajah Joya, hatinya pun tersentak. Luka goresan di pelipis mata dan bibir Joya yang tampak pecah (belah) dalam posisi yang sama persis dengan penglihatan magrib kemarin, membuat Maya terdiam. Tidak mungkin. Kata Maya tanpa suara. Namun ia belum puas hati dan ingin mengetahui tentang sesuatu lainnya, yaitu kamar dimana Joya berakhir. Maya menutup kedua matanya. Ia sangat hafal bentuk dan susunan kamar Joya, meskipun belum pernah melihat isi kamarnya selama ini. "Maya, kita pulang sekarang?" tanya Azam, namun Maya hanya menatap tanpa mengatakan apapun. "Azam, saya ingin melakukan sesuatu sebentar saja bisakah kamu menunggu? pinta Maya demi mengulur waktu. "Baiklah, Maya. Saya tunggu di sini saja bersama teman-teman yang lainnya." Saat itu, Azam mengira bahwa Maya mungkin ingin ke kamar mandi. Setelah mendapat izin dari Azam, Maya berdiri dan langsung menuju arah yang telah ditunjuk oleh hatinya. Kemudian, Maya mendekati salah seorang kerabat Joya yang berada di dapur. Lalu ia meminta izin untuk melihat kamar Joya. Mungkin dengan cara seperti ini, Maya bisa sedikit melupakan kesedihannya. Sebab, Maya dan Joya baru saja berteman dan kematian Joya sangat menyakitkan hatinya. Itulah alasan yang Maya berikan ketika meminta izin untuk melihat kamar Joya. Alasan Maya itu tampaknya dirasa tepat oleh keluarga Joya dan Adik Joya pun langsung mengajak Maya untuk naik lantai dua dan menemaninya melihat-lihat isi kamar Joya. "Di sini kamarnya Kak dan belum sempat kita rapikan sih. Soalnya ... gimana ya." "Nggak apa-apa kok, saya hanya ingin mengetahui tentang Joya sedikit saja. Karena saya sungguh-sungguh merasa kehilangan." Maya terus memberikan alasan hingga saudara Joya tersebut percaya kepadanya. "Silakan masuk, Kak," katanya sambil memegang dan membuka pintu kamar Joya yang tampak begitu berantakan. Pada saat itu, Maya sangat yakin bahwa apa yang terjadi kepada Joya, memang ada campur tangan. Menurut Maya, setiap detil kamar, susunan tempat tidur, meja belajar, dan lampu hias di dalam kamar Joya, sama persis dengan apa yang Maya lihat magrib kemarin. Maya semakin terpukul karena mengetahui bahwa dirinya memiliki hubungan dengan kematian Zoya. Meskipun Maya sendiri masih belum tahu bagaimana caranya dan apa yang sebenarnya terjadi. Maya yang hanya berdiri di depan pintu langsung mengatakan bahwa ini sudah cukup. Ia tidak perlu masuk ke dalam kamar karena perasaannya sudah sangat tidak enak dan sedih. "Saya permisi saja ya. Rasanya nggak kuat kalau harus masuk ke dalam kamar itu," ucap Maya dengan suara yang bergetar dan saat itu sebenarnya rasa takut di dalam hati Maya pada dirinya sendiri, jauh lebih kuat daripada apa yang ada di hadapannya. Maya menuruni anak tangga dengan langkah perlahan karena ia sambil berpikir keras. Lalu tiba-tiba saja ia kembali terbayang ke arah Melisa. Apakah dia juga mengalami hal buruk yang sama persis dengan apa yang Maya lihat kemarin? Maya terus bertanya tanpa suara sembari meniti anak tangga. Jika saya mencari tahu tentang Melisa, bisa saja semua orang akan curiga. Tapi jika saya diam saja, maka saya akan semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya. Maya terus berdiskusi pada dirinya sendiri dan dia sangat ingin mengetahui banyak hal tentang pribadinya. Kalung itu, pasti ada sesuatu di sana. Karena selama ini, saya tidak pernah melakukan kejahatan. Jangankan dengan manusia, hewan pun tidak pernah saya lukai secara sengaja. Sejak menikah, saya merasa hidup ini seperti dipermainkan. Saya seperti boneka bodoh dan akan terus merasa bersalah jika tidak mencari tahu tentang segalanya. "Sayang, sudah?" "Sudah, Azam. Kita pulang sekarang saja ya?!" "Baiklah," sahut Azam dalam senyum. Selama diperjalanan, Maya hanya diam saja. Azam yang heran dengan sikap istrinya itu pun langsung mengajak Maya bercerita. Namun Maya hanya merespon dengan gaya yang malas. "Kamu kenapa, May?" "Saya merasa sangat pusing, Azam. Bisakah lebih cepat lagi?" Maya menyandarkan kepala di punggung Azam. "Iya, Sayang. Baiklah." Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD