Siapa?

1105 Words
Tatapan Maya tertuju pada sosok asing yang menakutkan, namun terasa hangat baginya. Sepertinya ia seorang wanita yang begitu lembut ketika hidup. Semua itu terlihat dari caranya menangis. Sepanjang Maya menatap makhluk tersebut, Maya merasakan kedamaian. Selain itu, tiba-tiba saja pemandangan tentang Melisa dan makhluk menyeramkan sebelumnya, menghilang. "Si-siapa kamu? Kenapa banyak hal aneh yang tidak saya mengerti, datang dan menghampiri hidup saya? Kenapa Allah selalu memberikan saya cobaan yang berat? Apa semua ini belum cukup?" Suara tangisan itu semakin pecah dan menjadi-jadi. Ada ratapan di balik air mata yang tumpah di hadapan Maya. Air matanya itu, persis seperti darah. Ini seperti penyesalan dari sebuah hati yang selalu menjaga dari balik cahaya. "Aaak!" teriakan Melisa kembali terdengar, hanya saja tidak menampilkannya secara visual. Maya menatap sekeliling, mulai dari setiap tembok dan juga langit-langit rumah yang tampak abu-abu serta kelam. Maya semakin bingung hingga air matanya menetes dengan hati yang selalu bertanya. "Tolooong!" pinta Melisa yang terdengar semakin jelas di setiap menitnya. "Hentikan! Istighfar, Maya!" pinta sosok yang berlindung di dalam gelap, tepat pada bagian belakang pintu luar. "Apa? Saya bahkan tidak melakukan apapun. Saya tidak tahu tentang semuanya." "Hentikan, Sayang! Sebelum dia benar-benar menguasai dirimu!" pinta makhluk misterius tersebut, sekali lagi sambil menangis terisak-isak. "Apa yang harus saya lakukan? ya Allah ... tolong," kata Maya seraya meratapi penglihatannya yang aneh sejak tadi. "Istighfar, Sayang!" pintanya, tapi sepertinya Maya luka cara mengucapkan kalimat Islam. Lalu makhluk asing yang berada di hadapan Maya mengucapkan, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ "Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir." "Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu," ujar mahluk astral tersebut terdengar fasih di telinga Maya. Siapa dia sebenarnya? Tidak mungkin dia makhluk jahat yang berasal dari api neraka. Ia sangat fasih membacakan kalimat Allah dan semua ucapannya itu terasa seperti sebuah doa bagi saya. Kata Maya tanpa suara. Setelah mendengarkan banyak suara dari makhluk tersebut, Maya yakin bahwa ia adalah seorang perempuan, sama seperti Maya. "Astagfirullah ... astagfirullah hal azim." Makhluk itu terus menuntun Maya bersama air matanya. "Astagfirullah ... astagfirullah hal azim," timpal Maya dengan kondisi tubuh yang sudah gemetaran di dalam pikirannya yang banyak. "Eeegrr ... eeegggr," terdengar suara lain dari kejauhan. Tapi Maya dapat mendengarkannya dengan jelas. Dari hal itu, Maya kembali pulih dan sadar akan dirinya sendiri. Kemudian ia menyalin kalimat dalam doa penjagaan yang baru saja wanita misterius itu ucapkan untuk menjaga Maya. "Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir." Maya terus mengulang ucapannya hingga suara erangan dari kejauhan itu hilang, bersama dengan suara Marisa yang tidak terdengar kembali. Wanita misterius tersebut terus menuntun Maya yang tidak bisa bergerak sama sekali, seolah seluruh tubuhnya dibelenggu oleh rantai besar yang tidak terlihat. أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِى لاَ يُجَاوزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِى الأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقاً يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak akan dilewati oleh orang baik dan orang durhaka, dari kejahatan apa yang diciptakan dan dijadikan-Nya, dari kejahatan apa yang turun dari langit dan yang naik ke dalamnya, dari kejahatan yang tumbuh di bumi dan yang keluar darinya, dari kejahatan fitnah-fitnah malam dan siang, serta dari kejahatan-kejahatan yang datang (di waktu malam) kecuali dengan tujuan baik, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.” "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar," ujar Maya yang merasa sudah sangat lemah. Entah bagaimana, tiba-tiba seluruh energi Maya rasanya terkuras habis setelah membaca doa perlindungan dari godaan syetan yang terkutuk. Suara teriakan makhluk misterius dan Marisa menghilang. Ratapan dalam tetesan air mata pun tidak lagi Maya lihat. Entah kemana perginya mereka semua. Pada saat yang bersamaan, tubuh Maya kembali dapat digerakkan dengan baik. Namun, tatapan Maya semakin kabur dan berkunang-kunang. "A-ada apa ini?" tanya Maya pada dirinya sendiri sambil menatap sekitar dengan tatapan bingung. Maya menyatukan kedua tangannya yang masih gemetaran. Ketika ia menyentuh pakaian yang ia kenakan, semua terasa basah dan lembab. Seakan Maya baru saja usai berlarian di bawah rintik hujan yang deras. 'Tak lama, Maya kembali mendengar suara tetesan air yang berat, seperti saat pertama kali wanita misterius tersebut menampakkan wujudnya di hadapan Maya. Dengan langkah lambat, Maya memberanikan diri untuk menuju ke arah sumber suara yang semula tampak kosong (tidak ada siapapun di sana). Namun, semakin Maya melangkah, ia semakin dapat melihat sosok tersebut sedang tersenyum sambil menunduk. "Si-siapa kamu?" tanya Maya sangat was-was. Tapi tidak ada jawaban. Sepertinya Memnag tidak akan pernah ada jawaban untuk Maya pada pertanyaan yang sama. Satu hal yang Maya perhatikan, dari wajahnya, ada sebuah t**i lalat ukuran seekor anak lalat, yang berada di bagian tengah dagunya. Maya terkesima melihat sosok yang tampak ayu dan sederhana tersebut. Tubuh Maya bereaksi padanya. Maya sangat ingin menyentuh seseorang yang tampak asing tersebut. Kalu Maya mengangkat tangan kanannya dan berniat untuk menegakkan kepala wanita misterius tersebut, agar bisa mengenali dan mengenang wajahnya. Tangan Maya hampir menyentuh dagu wanita tersebut. Namun pada saat yang bersamaan, terdengar suara Azam yang mengucapkan salam. Maya pun langsung menjawab kata salam dari suaminya sambil melihat ke arah pintu luar. "Waalaikum salam, Azam," ucap Maya yang merasa begitu lega ketika mendengar suara Azam. Pada saat yang sama, Maya kembali melihat ke arah wanita misterius tersebut dan ia sudah menghilang. Bingung, tapi Maya lebih memilih untuk membukakan pintu untuk Azam. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD