Suara tetesan air dalam kesunyian membangunkan Maya yang baru saja terlelap. Suaranya terdengar nyaring, seolah tidak ada lagi bunyi lain di dalam dunia Maya saat ini. Sayangnya, Maya tidak peka kali ini dan ia tidak menyadari bahwa dirinya, bukanlah Maya yang sebenarnya.
Gelap dan sunyi, hanya dua kata yang mampu Maya lihat dan rasakan, sesaat setelah ia membuka mata. Lalu tiba-tiba terdengar suara tawa berlebihan dari seorang gadis yang 'tak asing baginya.
"Berjalanlah bersamaku, tarik tanganku, lalu berikan ciuman terbaikmu untukku." Melisa berteriak dan bernyanyi sesuka hatinya di jalanan besar yang dipenuhi kendaraan bermotor. Ia tidak sendirian, namun Maya tidak mengetahui siapa teman Melisa tersebut.
"Mel, jangan terlalu ke tengah!"
"Tomi, saya hanya ingin berteriak dan tertawa demi meluapkan kekalahan saya. Gadis miskin itu berhasil mengambil lelaki idaman saya. Saya tidak relaaa!" teriaknya tampak emosional.
"Mel, kamu anggap saya ini apa sih?" tarik laki-laki bertubuh kurus tinggi tersebut. Wajah tampannya tampak jelas mengharapkan balasan cinta dari Melisa.
"Ayolah, Tom. Sejak awal, kita adalah teman untuk bersenang-senang. Tidak lebih, ingat itu!"
"Ternyata kamu nggak bisa berubah ya, Mel. Saya kecewa sama kamu. Sekarang gini aja, saya antar kamu pulang, sebelum saya tidak bisa mengendalikan amarah saya."
"Ha ha ha ha ha. Kamu pasti takut kan kalau papa saya bakalan mecat mama kamu? Kamu sama Maya itu, sama miskinnya. Produk gagal, ha ha ha ha ha," hina Melisa tanpa henti dan saat itu, mata laki-laki tersebut tampak berkaca-kaca.
Laki-laki yang tidak Maya kenali tersebut langsung menarik tangan Melisa dan menghentak punggungnya pada batang pohon cukup tinggi di area pejalan kaki. Tatapan matanya sangat tajam, seolah ia ingin menguliti Melisa yang sudah mengatakan hal buruk tentang dirinya dan juga mamanya.
"Saya menghargai kamu karena kamu seorang wanita. Kamu sedang mabuk, makanya saya diam sejak tadi. Tapi, kalau kamu menghina mama saya, saya bisa saja menghabisi kamu. Dasar perempuan manja." Laki-laki tersebut meninggalkan Melisa dengan perasaan marah, lalu Melisa kembali berjalan ke arah yang salah.
Tubuhnya yang sempoyongan melewati terowongan air, setelah melakukan perdebatan dengan teman kencannya tersebut, sekitar 30 menit. Pada saat yang bersamaan, Maya melihat dengan jelas ada sosok tinggi besar dengan perawakan yang menakutkan berjalan mengikuti langkah Melisa.
Maya yang sama sekali tidak mampu membaca arah dan niat makhluk tersebut hanya diam dalam tatapan kosong karena bingung dengan apa yang ia lihat karena Maya menyadari bahwa tubuhnya berada di dalam rumah miliknya sendiri, bukan di jalanan yang sama dengan Melisa.
"Tu tu tu tu tu." Melisa terus bersenandung sambil memutar-mutar tubuhnya. "Azaaam ... jika saya tidak bisa mendapatkan kamu, maka yang lain juga tidak," teriak Melisa hingga ia muntah bening sangat banyak.
"Saya akan menghancurkannya. Bagaimana kalau saya bekerjasama dengan preman pasar untuk melucuti pakaiannya? Lalu mereka akan menikmati tubuhnya seperti anjing menjilati tulang? Lalu m*****i gadis yang tampak suci tersebut? Azam pasti jijik kepadanya. Mana mungkin jadi suka? Mana mungkin." Melisa terus berbicara tidak menentu, namun perkataan itu berhasil menggores hati Maya.
Amarah Maya memuncak, ketika mengetahui niat busuk Melisa terhadap dirinya. Maya sama sekali tidak menyangka bahwa mereka tidak bisa diberikan kesempatan untuk berubah dan tidak mengganggunya lagi.
Mata Maya membesar, napasnya panas. Ia seperti berada di atas tungku panas yang siap meledak dan menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.
Maya menggenggam kedua tangan di atas meja sambil terus menatap ke arah dinding yang sama dengan ketika Zoya menghabiskan napas terakhirnya di dalam tatapan Maya. Lalu keinginannya untuk membunuh kembali muncul dan Melisa mulai terusik.
Angin kencang tiba-tiba tampak tidak terkendali. Dedaunan kering seolah menyerang tubuh molek Melisa yang saat itu sedang mengenakan celana jeans berwarna biru dongker dengan robekan dibeberapa bagian kakinya.
Melisa terjatuh dan tubuhnya berguling-guling di tanah merah yang becek. Bajunya yang putih, seketika kotor dan berubah warna. Melisa berteriak karena terkejut akan serangan angin yang dirasa kuat.
"Aaaa."
Mata Melisa mulai mencari tahu situasi yang baru saja ia rasakan. Bagi Melisa, ini seperti terkena angin p****g beliung. Tapi anehnya, hanya dirinya saja yang merasakan akibat dari angin jahat tersebut. Bahkan pohon kecil yang berada di sekitarnya, sama sekali tidak bergoyang ataupun bergerak.
"Ah, apa-apaan ini?" tanya Melisa dalam penglihatan Maya. Namun apa yang Maya lihat adalah kejadian nyata, sama seperti Joya sebelumnya.
Melisa berdiri sambil terus memperhatikan sekitar. Perasaannya mulai tidak enak dan ia baru menyadari bahwa dirinya sudah cukup jauh dari jalan besar beraspal. Lalu Melisa berniat untuk meninggalkan daerah tersebut dan kembali ke jalanan yang ramai kendaraan lalu lalang.
Sayang, pada saat yang bersamaan, beberapa batu kerikil yang berada tidak jauh dari Melisa, melayang. Melisa terus menatap fenomena aneh tersebut. Ia pun tampaknya menyadari bahwa batu kerikil tersebut hanya mengarah kepadanya dan hendak menghujam wajahnya yang cantik.
"Tidak-tidak!" kata Melisa sambil menggelengkan kepala dengan mata yang penuh dengan ketakutan serta basah. Tubuhnya sudah gemetaran dan kakinya mulai mundur beberapa langkah dengan gerakan kecil.
Ujung-ujung batu kerikil itu tampak jelas di mata Melisa, seolah ingin menghantam kulitnya yang halus dan mulus. Di dalam ketakutan, Melisa memikirkan cara untuk terbebas dari penglihatan yang ia kira adalah halusinasi akibat alkohol yang yang baru saja ia teguk dan mungkin saja berhasil memambukan dirinya.
Melissa menampar-nampar pipinya perlahan untuk memahami situasi yang ia hadapi. Namun ketika ia merasakan sakit pada kedua pipinya tersebut, Melisa baru menyadari bahwa apa yang ada di hadapannya bukanlah hasil halusinasi ataupun permainan alkohol yang sudah merasuki tubuhnya.
Beberapa batu kerikil tersebut melayang dan semakin dekat mengarah kepada Melisa. Ia tidak mampu untuk mengelak lemparan yang seolah sudah terkunci dan hanya mengintai wajahnya saja. Teriakan keluar dari bibir Melisa yang merah karena pewarna dunia.
"Tidaaak!" teriaknya sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Tapi hantaman batu kerikil dalam jumlah banyak tersebut mampu menurunkan topeng tangan dari wajahnya dan beberapa batu berhasil menancap di pipi, dahi, dan dagu Melisa.
Melisa kembali terjatuh setelah mencoba untuk berlari dan menghindar. Kaki kanannya tanpa sengaja menendang kaki kiri, hingga ia tersungkur dan ujung hidungnya menghantam batu bata yang tergeletak di atas tanah merah.
"Auh," keluh Melisa bersama air mata yang semkain mengalir deras dalam ketakutan. "Tolooong!" teriaknya terdengar histeris. Namun 'tak ada satupun yang mendengarkan dirinya.
"Papaaa ... mamaaa, tolooong!" pintanya tanpa henti, seolah kedua orang tuanya mampu memberikan pertolongan. Tapi ia salah kali ini karena sejatinya, Melisa hanya seorang diri, tanpa teman saat ini.
Merasa tidak punya pilihan, Melisa dengan cepat kembali berdiri dan berlari. Namun setelah ia berhasil meninggalkan tempat jatuhnya pertama kali, tiba-tiba saja ranting pohon yang cukup rimbun terjatuh di hadapannya dan menghentikan langkah Melisa. Tangan Melisa kembali gemetaran, lalu ia menagis sambil menutup mulut yang juga sama bergetar dengan tangannya.
Pada saat yang bersamaan, Maya melihat sosok yang menakutkan dan misterius tersebut, kembali mendekati Melisa. Seolah ia ingin mengakhiri permainannya terhadap gadis seumurannya Maya tersebut.
Tampaknya, sosok itu ingin menghempas Melisa ke pohon besar tidak jauh dari tragedi buruk itu terjadi. Maya seperti mampu memprediksikan rencana makhluk tersebut, atau mungkin memang Maya lah yang mengarahkan gerakan iblis menakutkan tersebut.
Ketika bayangan tangan yang tampak begitu besar dengan kuku panjang dan terus saja mengeluarkan lendir itu hampir mencengangkan Melisa, Maya mendengar suara tangisan yang sangat dalam dan lirih dari sosok yang tidak dikenali.
Pikiran Maya terganggu, ia tidak lagi terfokus kepada Melisa. Di dalam hatinya mulai bertanya, siapa orang yang berada di sisi pintu dengan wajah yang tertunduk dan air mata yang sangat banyak runtuh hingga berhasil menciptakan kolam kecil di atas lantai rumahnya?
"Siapa kamu?" tanya Maya yang merasa aneh, tapi ia sama sekali tidak ketakutan saat itu. Ini adalah perasaan yang berbeda jika dibandingkan saat Maya melihat sosok lainnya yang tampak asing.
Tanpa menjawab, sosok misterius itu terus saja menangis sesegukan. Kelihatannya ia begitu sakit dan menderita. Dan saat itu, Maya kehilangan penglihatannya terhadap Melisa.
Bersambung.
Selamatkah Melisa malam ini? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Maya? Yuk baca episode selanjutnya. Jangan lupa tab love, tinggalkan komentar, dan follow aku ya. Biar tambah semangat. Makasih.