Warna langit yang semula cerah, walau sudah hampir gelap, berganti hitam kelam dan sayup. Bulan pun tampak jauh dari keinginannya memberi terang bagi bumi. Sementara Maya terus melangkah bersama Amanda. Walau terseok dan penuh ketakutan, Amanda tidak melepaskan Maya.
"Sebentar lagi kita tiba di dekat mobil, Maya. Ayo!"
Maya dapat dengarkan ucapan Amanda, tapi ia sangat sulit untuk menjawabnya. Mata Maya terus menatap sekitar seolah curiga pada alam. Terkadang, ia melihat sesuatu yang berbeda dengan dirinya tiba-tiba terlihat ketakutan saat menatap wajahnya.
Ini terkesan terbalik, biasanya manusia lah yang menciut nyalinya jika melihat makhluk tak kasat mata dan buruk rupa. Namun saat ini yang Maya lihat adalah mereka menghilang dengan ekspresi wajah ketakutan ketika Maya menatap ataupun melintasi mereka.
Tubuh Maya semakin bergetar, Amanda dapat merasakan hal tersebut dan ia juga merasakan takut yang sama dengan Maya. Setibanya di jalanan besar, Amanda langsung membuka pintu mobil dan membawa Maya pergi dari tempat yang memang terkenal angker tersebut.
Ini adalah lokasi lintas antar kota yang sering sekali memakan korban jiwa di setiap musimnya. Namun demikian, selama ini Maya dan Amanda tidak pernah merasa terganggu dengan apapun selama melintasi jalan tersebut.
"Ayo, Maya!" Maya mengangguk dengan tatapan yang semakin dingin. "Aku akan mengantarkan kamu pulang. Atau kamu ingin ke rumah sakit?"
"Pulang saja," sahut Maya dengan suara yang semakin lemah.
Setelah melintasi jalanan yang terasa sepi, Maya dan Amanda tiba di rumah. Namun saat itu, sama sekali tidak terlihat sosok Azam yang biasanya sudah pulang.
"Maya, sebaiknya kamu segera beristirahat!"
"Iya. Hati-hati ya, Amanda!?"
"Baiklah."
Maya sengaja tidak menawarkan Amanda untuk masuk ke dalam rumah. Semua itu karena Maya tidak ingin Amanda melihat Azam pulang dan tinggal bersama dirinya. Sebab, walau bagaimanapun, Azam belum memberitahu Amanda bahwa mereka sudah menikah.
Setelah Amanda pergi, Maya langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumah dengan lampu yang yang masih belum menyala. Saat itu hanya ada bias dari cahaya malam dan sinar lampu tetangga yang masuk menembus ventilasi rumah.
Sambil berjalan ke arah kontak lampu, Maya diikuti oleh sosok yang sangat besar dengan tangan yang hitam dan memiliki kuku yang panjang. Saat itu, makhluk tersebut tampak seperti ingin memayungi kepala Maya dengan tangan kanannya tersebut. Entahlah, memayungi atau ingin mencengangkan? Hanya Allah saja yang tahu.
Lampu sudah menyala sempurna, Maya pun memutuskan untuk membersihkan diri. Tapi ia merasa sekujur tubuhnya terasa kaku dan sakit. Karena hal itu, Maya memutuskan untuk duduk di kursi meja makan sambil menatap ke arah dinding berwarna putih yang tampak bersih.
Tiba-tiba saja bayangan Melisa dan teman-temannya kembali terulang di dalam pikiran dan tercermin pada mata Maya. Seolah ia dapat melihat layar lebar dengan berbagai peran di hadapannya.
Maya melihat dirinya sendiri dan Melisa serta rekan-rekannya di dalam kamar mandi kampus. Semuanya terlihat, sama persis dengan keadaan ketika Maya dianiaya.
Saat itu Maya menjadi bingung dan juga merasa ketakutan. Lama-kelamaan, Maya merasa sangat marah dengan rencana dan kelakuan Melisa beserta teman-temannya. Maya pun sangat ingin menghabisi Joya yang tampak begitu ingin menyakiti dirinya sejak awal.
Setelah 5 menit, tiba-tiba layar yang menampilkan dirinya dan Melisa beserta teman-temannya tersebut, berubah menjadi situasi sebuah ruangan yang tidak ia kenali. Maya semakin bingung, tapi hatinya terus menyala dan marah. Keinginannya untuk menghabisi Joya pun, lebih daripada keinginannya untuk makan dan minum saat ini.
Maya mendesis seperti ular, matanya bagaikan elang buas yang tengah membidik buruannya. Di dalam layar itu, tampak Joya yang sedang meringkuk kesakitan di atas tempat tidur.
'Tak lama, Joya yang semula tampak tenang, tiba-tiba terseret oleh sesuatu yang Maya dan Joya sendiri tidak ketahui. Joya berteriak sangat keras, hingga terdengar begitu dekat di telinga Maya.
"Aaak, tolooo ... ."
Belum sampai diujung permintaan, mulut Joya sudah tertutup oleh alas kasur di kamarnya sendiri. Saat itu, Maya melihat tubuh Joya terseret dan terlempar ke sana kemari, seperti bola yang sengaja dimainkan tanpa henti oleh pemiliknya.
Kedua mata Joya sudah berair dengan binar ketakutan yang luar biasa dalam. Sayangnya, Maya sama sekali tidak merasa iba kepada Joya. Bahkan Maya tampak puas dengan penderitaan Joya yang tampak tanpa henti. Maya hanya terus menatap, seakan ia tengah menikmati acara aksi laga kesayangannya yang memukau.
Setelah puas memainkan tubuh Joya seperti kupu-kupu kecil yang tidak berdaya. Sesuatu yang 'tak tampak wujudnya tersebut melempar Joya ke dinding hingga wajahnya beradu dengan dinding. Darah segar mewarnai dinding kamar Joya yang mewah dan indah.
Joya berusaha mengangkat wajahnya dan keluar dari kamar tersebut. Ia menatap ke ayah pintu kamar sambil mengumpulkan tenaga untuk berlari ke luar. Matanya melirik dan memperhatikan sekitar. Setelah merasa aman, tanpa pergerakan misterius seperti sebelumnya, Joya langsung melepaskan penyumbat mulutnya dan berlari ke luar.
Baru tiba di tepi pintu, tubuh Joya kembali terdorong ke belakang dan ia berteriak secara spontan. Pada saat yang bersamaan, sesuatu masuk ke dalam mulut Joya, seperti merobek paru-paru serta jantungnya, hingga tampak darah segar keluar paksa dari dalam mulutnya yang terus mengangga.
'Tak perlu waktu lama, Joya tergeletak di atas lantai kamarnya dengan mulut yang bersimbah darah sampai membasahi baju tidurnya, serta mata yang terbuka lebar (melotot).
"Ajal yang menyakitkan," tukas Maya dengan suara yang halus dan tipis, tapi hatinya sama sekali tidak kasihan dengan sosok Joya yang begitu tampak menderita karena ulah sesuatu yang tidak terlihat. "Hem heem heeem ... ." Maya terus bersenadung, tanpa membuka mulutnya sembari menikmati darah Joya yang terus mengalir dan membentuk kolam kecil yang menggenang di sekitar wajahnya.
Letih, puas, dan mengantuk. Maya terpejam sambil meletakkan wajah di atas meja makan yang terlebih dahulu dialasi kedua tangan yang ia lipat.
Maya menarik napasnya dalam-dalam beberapa kali dan ia pun langsung tertidur pulas. Sementara Azam, ia masih mendorong motornya yang tiba-tiba saja mogok sambil mencari bengkel terdekat.
Bersambung.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Maya? Apakah itu hanya hayalan atau halusinasi akibat rasa marah yang sudah ia pendam sangat lama? Atau Maya memang tengah diperalat oleh sesuatu yang tidak ia ketahui?Lalu siapa dan apa hubungannya makhluk asing tersebut dengan Maya? Yuk, baca terus ceritanya. Hanya di dream/Innovel.
Jangan lupa tinggalkan komentar, tab love, dan follow aku ya. Makasih.