Wanita Misterius

1214 Words
Suasana semakin menakutkan dan menyakitkan bagi Melisa dan teman-temannya. 'Tak lama, Maya tertawa sejadi-jadinya hingga memekakkan telinga ketiga musuh yang sejak awal berniat untuk menyakitinya. Setelah lebih dari lima menit tertawa keras, Melisa, Andini, dan Joya kehilangan kesadaran mereka. Begitu juga dengan Maya, ia terjatuh dan tergeletak di atas lantai kamar mandi yang cukup bersih. Handphone Maya berbunyi beberapa kali dan itu berhasil menyadarkannya. Saat itu, Maya tampak terkejut dan ketakutan dengan apa yang terjadi kepada Melisa dan teman-temannya. Tidak ingin terlibat masalah, Maya membuang jauh sifat baiknya dan ia lebih memilih untuk merapikan diri dan meninggalkan yang lainnya di dalam kamar mandi dalam kondisi yang buruk. "Tidak, ini semua bukan salahku. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini," ucap Maya yang langsung keluar dari kamar mandi dan kembali ke depan kampus untuk menunggu Amanda. Handphone Maya kembali berbunyi, ternyata dari Azam. Maya pun segera mengangkatnya dengan suara yang bergetar karena masih terkejut dan ketakutan. "Maya, kamu kemana saja? Amanda menelepon, dia mencari kamu." "Maaf, Azam. Aku tadi ke kantin dan makan beberapa potong roti di sana. Maaf." "Ya ampun, Sayang. Buat apa minta maaf? Ya sudah, tunggu saja Amanda di depan ruang perpustakaan. Dia sedang mencari buku penunjang laporan di sana!" "I-iya, Azam. Baiklah." "Sayang, kamu baik-baik saja kan?" "Iya, Azam." "Oke, hati-hati di jalan ya." "Iya, Azam." Setelah lebih dari sepuluh menit, Maya memutuskan untuk menyusul Amanda ke dalam perpustakaan. Ternyata Amanda hampir selesai dan ia hanya sedang mencatat beberapa buku yang sudah ia pilih. "Amanda." "Maya, dari mana saja kamu?" "Ma-maaf." "Tidak apa-apa. Ayo bantu aku! Kita butuh empat buku dan aku butuh nama kamu di sini. Soalnya satu mahasiswa kan, hanya boleh pinjam dua buku." "Iya." "Yang dua ini atas nama kamu ya!?" Maya mengangguk dan langsung menulis buku pinjaman di tersebut. "Sudah, Amanda." "Oke, ayo kita pergi sekarang!" Maya ikut ke lapangan bersama Amanda. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Melisa dan teman-temannya. Pikiran Maya berusaha berfokus pada pekerjaannya, namun hati Maya selalu kembali pada Melisa, Andini, dan Joya. Semoga mereka bertiga baik-baik saja, ucap Maya tanpa suara. "May, kamu kok melamun terus sih? Kalau ada masalah, cerita aja!" "Nggak ada apa-apa kok, Manda." "Kamu bukan pembohong yang ulung, Maya." "Aku hanya sedang bingung." "Kenapa?" "Tiba-tiba saja, aku tidak mengenali diriku sendiri atau tidak tahu apa yang terjadi kepadaku." "Aku pernah merasakan seperti itu," tukas Amanda yang tampak sangat santai dalam menanggapi perkataan Maya. "Masak sih?" Amanda mengangguk. "Kapan?" "Dulu, saat pertama kali menjalani hidup tanpa papa. Aku kan manja banget ya sama beliau.Terus waktu papa meninggal dunia, aku kayak orang lain. Gak ada keinginan, gak ada cita-cita, bahkan untuk makan saja malas sekali rasanya." "Heeemh, begitu ya?" "Begitulah jika kita tengah tertekan, Maya." "Berarti aku tidak gila atau kelainan ya, Amanda?" "Tidak. Memangnya, sejak kapan kamu merasa seperti itu?" "Baru beberapa hari saja, Amanda." "Sebaiknya, kamu banyak istirahat dan berusahalah untuk bahagia, Maya! Lakukan beberapa hal yang bisa membuatmu tersenyum. Karena hanya kita sendiri saja yang bisa mengatasinya." "Iya, Amanda. Makasih ya." "Sama-sama." Sore menjelang magrib, kegiatan lapangan pun selesai di laksanakan. Sebelumnya, Amanda sudah mengatakan kepada Azam bahwa dialah yang akan mengantar Maya pulang. Azam sama sekali tidak keberatan. Bagi Azam, hal itu sangat bagus agar Maya memiliki teman. Sejak kejadian kemarin, beberapa teman pria Maya sering kali mencuri pandang ke arahnya. Mereka mulai tampak simpatik dengan Maya. Mereka juga baru menyadari bahwa sebenarnya Maya adalah wanita yang sangat cantik, apalagi ketika ia melepaskan hijabnya. "Maya, ayo pulang!" ajak Amanda dan saat itu yang lainnya juga menawarkan tumpangan kepada Maya. Hanya saja, Maya tetap memilih Amanda. Maya bukanlah perempuan yang nakal dan centil. Sepanjang perjalanan, Amanda berusaha mengajak Maya berkelakar. Saat itu, Maya terpancing untuk terus melebarkan senyumnya, hingga sesuatu terjadi. Tanpa sengaja, Amanda menabrak seseorang yang menyebrang dengan sangat cepat. Sebenarnya, ini bukanlah kesalahan Amanda karena ia bergerak dengan kecepatan pelan. Sementara orang tersebut seolah menabrakkan dirinya dengan sengaja ke arah mobil yang Amanda tunggangi. "Astaghfirullah hal azim, Amanda." "Maya, apa itu tadi? Apa yang terjadi?" "Aku tidak tahu, Amanda. Ayo kita lihat bersama-sama!" "Aku takut, Maya." "Bawa payung itu, Amanda! Kalau dia perampok, kita bisa menghajarnya bersama-sama. Tapi kalau dia bukan manusia, kita ... ." "Aduh, Maya. Kamu malah buat aku tambah takut," tukas Maya yang memang terlihat sudah sangat pucat. "Amanda, aku akan ikut bersamamu. Ayo!" "Tidak. Lebih baik, telepon polisi saja." Amanda tetap memilih untuk diam di dalam mobil. Namun Maya ingin memastikan semuanya karena jika manusia, tentunya ia membutuhkan pertolongan sebelum mati karena kehabisan darah. Maya turun dengan hati yang berdebar. Saat itu, tiba-tiba saja udara terasa dingin hingga menusuk tembus ke dalam tulang. Pohon-pohon besar bergerak ke kiri dan ke kanan snagat kuat hingga tampak seperti ingin rubuh. Maya pun memperhatikan sekeliling yang terasa begitu aneh dan misterius. Setibanya di bagian depan mobil, Maya tidak melihat siapa pun. Ia menunduk dan mengintip bagian kolong mobil, demi memastikan semuanya. "Hah, tidak ada siapa-siapa. Tapi aku sangat yakin dengan apa yang aku lihat sebelumnya," ucap Maya samar-samar terdengar. Merasa aman karena tidak ada korban, Maya pun segera berdiri dan berniat untuk masuk ke dalam mobil. Saat itu, Maya menatap Amanda dan tersenyum sebagai tanda bahwa semuanya aman dan baik-baik saja. Maya melangkah ke arah pintu mobil bagian kiri. Tapi pada saat yang bersamaan, sesuatu menarik kedua kaki Maya dan menyeretnya hingga ke tepi jalan yang masih banyak pohon serta semak belukar. Teriakan Maya terdengar sangat kuat. Namun anehnya, tidak ada satupun kendaraan lain yang lalu lalang. "Mayaaa!" teriak Amanda yang berusaha mengejar Maya. Entah dimana mana Maya saat ini? Yang jelas ia sangat ketakutan dan hanya dapat melihat sejumlah pohon besar yang menyeramkan. Maya terduduk dan berusaha memberanikan diri untuk melihat musuhnya. "Lepaskan!" bisik makhluk misterius tersebut sembari menarik hijab dan leher Maya. "Tidak! Jangan tarik hijab ku! Siapa kamu?" Lalu Maya tidak lagi dapat bersuara karena lehernya terasa dicekik, namun sebenarnya makhluk tersebut sedang menarik kalung emas berleontin segi enam tersebut. Maya batuk beberapa kali hingga rasanya ia ingin mati. Sementara makhluk tersebut terus saja menarik bagian belakang leher Maya hingga sesuatu melintas sangat cepat. Samar-samar Maya melihat makhluk tersebut menarik wanita misterius yang tengah mencekik leher Maya. Maya tergeletak di atas tanah yang dilapisi rumput tipis. Matanya selalu tertuju pada bayangan yang tidak terlalu jelas tampilannya. Teriakan misterius terdengar sangat kuat. Wanita itu terdengar sangat kesakitan dan pada saat yang bersamanya, Maya pun seperti dapat merasakan rasa sakit yang sama dengan wanita tersebut. Kenapa? Sakit sekali, kata Maya sambil menatap tangannya yang sama sekali tidak terluka. Tiba-tiba saja, wajah wanita misterius tersebut, terbayang di mata Maya. Kenapa? Siapa dia? tanya Maya sekali lagi. Namun ia tidak mampu menegakkan tubuhnya "Mayaaa! Maaay!" panggil Amanda yang terus berjalan mendekati Maya. "Ya Tuhan, tolong. Mayaaa!" "Aaa ... ." Maya sulit untuk berbicara banyak dan ia hanya berteriak agar Amanda mengetahui dimana lokasinya. "Astaga, Maya? May, kamu nggak apa-apa?" Maya menangis tanpa suara dan matanya selalu menatap Amanda. "Ayo kita pergi dari sini! Kamu harus berdiri, May!" "A ... ." "Iya, ayo kita pulang?" Amanda berusaha memapah Maya dan setelah ia mampu berdiri, Maya kembali mendengar suara teriakan yang terdengar histeris dan kesakitan. Mata Maya pun menangis, tanpa ia sadari. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD