Misterius

1521 Words
Matahari menghilang, cahaya kehidupan berganti bulan. Sama halnya dengan apa yang Maya rasakan. Ia hampir mati, namun terselamatkan oleh sesuatu yang tidak ia ketahui. Napasnya masih terengah-engah, matanya memerah dan mengeluarkan air bening hingga membasahi sebagian pipinya. Di dalam hati, ia terus menyebut nama Azam berkali-kali. Sebab, Maya pikir semua ini akan berakhir. "Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Maya memegang lehernya yang masih menyisakan rasa nyeri, bahkan ada rasa seperti sedikit terbakar. "Kalung ini, menyelamatkan aku." Setelah 15 menit, sakitnya sudah menghilang. Namun Maya belum mampu menggerakkan tubuhnya dari atas lantai yang terasa dingin dan beku. Tapi air matanya sudah tidak lagi menetes. Suara azan terdengar kuat, kemudian dilanjutkan dengan suara ketukan pintu yang cepat. Maya tahu itu Azam dan ia berusaha untuk berdiri, walaupun rasanya ia sangat pusing dan kupingnya menjadi berdengung seiring dengan suara azan. "Assalamu'alaikum. Assalamu'alaikum, Maya." Azama mengetuk pintu sembari berteriak memanggil namaku. "Waalaikumsalam, Azam. Sebentar!" Maya berjalan lambat sembari merapikan diri dan mengenakan hijabnya. "Maya, kenapa kamu pulang lebih dulu?" tanya Azam yang tampaknya tidak mengetahui tentang tragedi apa yang terjadi sejak tadi sore dengan Maya. "Maaf, Azam." "Tidak apa-apa, Sayang. Sebenarnya aku cukup tenang karena rekan-rekanmu itu adalah anak-anak baik. Jadi mereka akan perduli kepadamu, Maya." "Iya, kamu benar." "Aku mandi dulu ya, Maya." Maya menganggukkan kepalanya. Setelah Azam membersihkan diri, Maya pun langsung membereskan dirinya. Seperti biasa, ia melakukan pekerjaan seorang istri dengan sangat baik. Ia melayani Azam selama di meja makan dan menjadi teman diskusi yang baik. "Sayang, kapan kamu bersihnya?" tanya Azam yang sepertinya sudah merindukan masa-masa b******a dalam sentuhan cinta. "Maaf, Azam. Ini baru dua hari," sahut Maya yang tersenyum malu. Semua itu karena ia tahu arah tujuan dari pertanyaan suaminya tersebut. "Rasanya sudah lama sekali." "Sabar, Azam!" "Baiklah, tapi kalau peluk dan cium saja boleh, kan?" Maya mengangguk sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya. "Besok kita ke kampus dulu ya sebelum ke lapangan? Ada yang ingin aku ambil." "Iya, Azam." Makan malam yang sederhana dan tenang berakhir dengan kebersamaan. Azam membantu Maya membersihkan dan merapikan meja makan beserta piring kotornya. Kemudian mereka memilih tempat tidur untuk bercerita tentang banyak hal sambil saling menyentuh. "Sayang, sudah malam. Ayo kita tidur!" ajak Azam dan Maya pun melakukannya sambil memeluk erat Azam. Malam ini semua terasa tenang dan nyaman. Bahkan bisikan-bisikan, atau suara garukan, serta langkah misterius tidak lagi Maya dengarkan. Nyaman tanpa gangguan, itulah yang Maya rasakan. Hingga ia dapat tertidur sangat pulas. Setelah sekian lama, akhirnya Maya dapat menikmati rasanya tidur nyenyak. Apalagi Azam terus memberikan kehangatan melalui dekapannya. Kalung ini sangat membantu. Aku tidak akan pernah melepaskannya, kata Maya di dalam hatinya sambil terus menutup mata. ***** Pagi harinya, Maya dan Azam sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Wajah Maya terlihat cerah dan matanya yang biasa sayu, menjadi tampak begitu terang dan besar. Sepertinya Maya mendapatkan istirahat terbaiknya tadi malam. "Sayang, kamu terlihat sangat bersemangat." "Masak sih, Azam." "Iya." "Heeemh. Entahlah, tapi rasanya tubuhku ini ringan sekali seperti kapas. Mungkin karena asem alam, aku tidur sangat pulas, Azam." "Alhamdulillah." "Iya, ayo kita berangkat!" "Peluk!" pinta Azam manja sambil mengintip Maya dari kaca spion motor. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit, Maya dan Azam tiba di kampus. Ternyata Amanda juga berada di sana dan ia mengatakan kepada Azam, supaya Maya berangkat ke lapangan dengan dirinya saja dan Azam mengizinkan. "Maya, aku duluan ya? Jangan lupa makan siangnya!" "Kamu juga ya, Azam." "Iya," sahut Azam sambil memegang kepala Maya dan saat itu, Amanda melihat apa yang Azam lakukan. "May, apa kamu dan Azam pacaran?" tanya Amanda mulai penasaran. "Eeemh." "Jangan ragu! Aku hanya ingin tahu. Soalnya, Azam tidak pernah bersikap manis seperti itu terhadap wanita. Boro-boro, nyapa perempuan aja ogah-ogahan dia. Bahkan, dulu ada yang gosipin, katanya Azam itu bisu, ada juga yang bilang kalau dia nggak suka sama perempuan. Macam-macam deh," jelas Amanda sambil tertawa. "Ternyata dia bisa berbicara lembut dan bersikap manis kepadamu." "Iya, Amanda. Di adalah laki-laki yang sempurna bagiku." "Adeeeh, gitu deh kalau sedang jatuh cinta." Amanda terus menggoda dan Maya semakin tersipu malu hingga kedua pipinya memerah. "Ada yang malu nih." "Amanda." "Ha ha ha ha ha." Amanda terus tertawa, tanpa terlihat iri pada tatapan matanya. "Maya, kamu tunggu di sini sebentar ya?! Aku ambil surat izin dan draf laporan dulu." "Iya, baiklah." Sesaat setelah Amanda meninggalkan Maya, tiba-tiba Maya merasakan sesuatu yang tajam berada di punggung bawah bagian kanannya. "Ikut sekarang!" bisik seseorang. Maya sepertinya mengenali suara itu, tapi ia tidak berani untuk menebak dan memilih mengikuti perintah seseorang tersebut. "Nggak usah melawan!" Ujung pisau masih terasa di punggung Maya. Sedikit saja bergerak, kemungkinan besar ia akan terluka. Tapi saat itu, sama sekali tidak ada ketakutan di dalam diri Maya. Bahkan ia seolah menanti, apa yang akan terjadi beberapa menit kedepannya. Kamar mandi? Sudah kuduga. Kata Maya pada dirinya sendiri. Seperti tidak ada tempat lain saja. "Masuk!" Maya masuk ke dalam kamar mandi, dimana ia pernah dihajar oleh Melisa dan teman-temannya. Benar saja, di ujung ruang kamar mandi, sudah menunggu Melisa dan Andini. "Good job, Joy," puji Melisa. "Bawa dia ke sini!" Maya berjalan lambat dan pintu kamar mandi langsung dikunci. Atmosfer di dalam kamar mandi pun berubah, Maya merasakan sensasi baru dan dia sangat bersemangat. "Mungkin lo sangat puas setelah kita semua dapat hukuman ya?" "Kalian belum kapok juga? Malah semakin membuat masalah." Maya menatap tajam, tanpa rasa takut dan kebencian. "Belagu kamu ya sekarang." Andini mendorong d**a kiri Maya dengan tangan kanannya cukup kuat, tapi Maya sama sekali tidak bergerak. Merasa kesal karena Maya sama sekali tidak kelihatan takut dan kesakitan, Joya berniat untuk menampar Maya dari samping. Namun pada saat tangan Joya melayang, Maya dapat menangkapnya dengan baik. Lalu Maya menggenggam tangan Joya kuat-kuat hingga Joya meringis kesakitan. "Auuuh," keluh Joya. Kemudian Melisa dan Andini langsung membantu dan mereka mengeroyok Maya. Tubuh Maya terpojok, ketiga musuhnya menarik hijab yang Maya pakai dan mencekik Maya seperti sangat ingin membunuhnya. Melisa juga menendang perut Maya hingga Maya lemas, tanpa perlawanan. Ketiganya tertawa seraya mengumpat. Wajah Maya bersimbah keringat dan berantakan, bersama rambutnya yang berserakan di wajahnya yang cantik. "Masih mau melawan lo?" tanya Melisa yang sudah melepaskan tubuh Maya dari genggaman tangannya. Maya yang sudah lemas, tiba-tiba merasa dingin di sekujur tubuhnya. Rasa sakit yang semula sudah berhasil merajai tubuhnya, berangsur-angsur menghilang. Kepalanya terasa kecil dan kesemutan hingga sembab. 'Tak lama, Maya mengangkat wajahnya sambil menarik pipi kirinya dengan mata yang melotot. Pandangannya tegas dan jelas mengarah kepada Melisa. Orang yang sudah menyakitinya lebih daripada yang lainnya. "Lo, lo masih nantangin gue?" tanya Melisa yang tiba-tiba merinding saat melihat ekspresi Maya yang misterius. "Hajar lagi aja, ayo!" kata Joya yang memang sangat beringasan dan emosional. Padahal merekalah yang bersalah. Joya maju dan melayangkan tamparan nya sekali lagi ke arah Maya, tapi gerakannya terhenti, ketika mendengar suara leher Maya seperti patahan tulang yang kuat. "Apa'an tuh?" tanya Joya seraya menatap tajam. Lalu mereka bertiga saling menatap dan menyerang. Namun Maya sama sekali tidak tersentuh kali ini. Entah dari mana asal kekuatan megic yang maya miliki saat ini? Bahkan Maya sendiri tidak tahu. Mungkin lebih tepatnya lagi, Maya tidak menyadarinya. Marah, Joya berniat untuk menusuk Maya dan menguras darahnya. Namun, lagi-lagi, pisau yang Joya genggam, malah berbalik menyerangnya. Bahkan tampak jelas, Joya melawan pisau tersebut hingga punggungnya melekat pada tembok dan ia tidak lagi bisa lari. Pipi kiri Joya tersayat tampak dalam dan Joya pun berteriak karena kesakitan dan ketakutan. Melisa dan Andini sudah berusaha menolong, tapi semuanya sia-sia. Bahkan Joya terlihat ingin menikam kedua sahabatnya dengan pisau yang berada di dalam genggaman tangannya. Pada saat yang bersamaan, terdengar suara tawa yang sangat bahagia dari mulut Maya yang tertutup sehingga menghasilkan bunyi yang sangat menakutkan hingga menusuk ke tulang. "Iblis," teriak Andini sambil menatap Maya. Lalu tiba-tiba saja, mulut Andini tertutup oleh rambut panjangnya sendiri. Tidak, bukan hanya mulut, tapi juga hidung dan juga wajahnya. Hanya tinggal matanya saja yang tampak. Melisa mulai sangat ketakutan, Joya masih berlaga dengan pisaunya, sementara Maya sedang asik tertawa dengan mata yang terbuka lebar dan ekspresi yang semakin misterius. Melisa mundur perlahan dan berniat untuk meninggalkan rekan-rekannya di dalam kamar mandi tersebut. Ia berhasil membuka kunci pintunya, tapi kunci itu kembali tertutup dengan sendirinya. Lalu Maya terdiam, tanpa tawa. "Nggak, jangan ganggu gue!" Melisa gemetaran dengan tubuh yang menempel di pintu keluar. Saat itu, Maya bergerak sangat cepat ke arah Melisa. Seolah tubuhnya begitu ringan dan bisa ditiup oleh angin. "Manusia pengusik, tapi ndak suka diusik," bisik Maya dengan suara yang terdengar tipis di telinga Melisa, namun dari telinga tersebut, keluar darah segar seperti mata air yang baru saja muncul hingga muncrat dan berserakan. "Tidaaak, sakiiit!" teriak Melisa dengan matanya yang lama-kelamaan, hanya terlihat bagian putihnya saja. Tubuh Melisa menggelepar, seperti ayam yang baru saja dipotong lehernya. "Jangan mati!" bisik Maya sekali lagi. "Ha ha ha ha ha," disambung dengan suara tawa yang terdengar berat. Melisa menangis dan terus berteriak. Begitu juga dengan Joya dan Andini. Namun sayang, tidak ada satu pun yang mendengarkan mereka. Walau banyak mahasiswa atau pun masyarakat kampus lainnya yang lalu lalang. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD