Pagi ini Sandra dan Dea berangkat bersama supir karena mobil Dea sedang dalam masa rehabilitasi alias modifikasi. Sempat terjadi percekcokan sengit antara Sandra dan Dea karena supir itu biasanya hanya mengantar jemput Dea.
Di mobil pun kedua orang itu sama-sama diam dan menunjukkan muka yang sama-sama kusut. Sampai di sekolah aksi saling cuek itu pun masih berlanjut.
Dea masuk ke kelas dengan wajah sebal dan. Sylvia menghampirinya.
"Kenapa lu De? Pagi-pagi lecek amat kayak pakaian belum di strika." ujar Sylvia.
"Tau ah!" Jawab Dea seadanya. "Syl, balik jalan yuk! kemana gituuuu..... "
Sylvia mengangguk tanda menyetujui ajakan temannya tersebut.
Tama tiba-tiba datang dengan muka jutek dan terlihat sedikit pucat. Dea tersenyum, "Pagi Tamaaa.... kok mukanya pucet amat?"
Tama melirik sinis, "Ngapain lu nanya-nanya? Sok akrab banget."
Dea tersentak dan berkata dalam hati "Gile, jutek amat nih cowok!"
"Galak amat, gue kan tanyanya baik-baik Tam." balas Dea.
"Setelah kejadian kemarin di toko buku, lu minta gue ngomong baik-baik ke lu?!" Sinis Tama ke Dea.
Dea mengernyitkan keningnya kemudian memandang Sylvia, Sylvia pun mengangkat bahunya tanda tidak paham.
"Kemarin di toko buku? jam berapa?" Tanya Dea jutek.
"Sok lupa lagi lu!"
"Bener! gue kemarin gak ke toko buku!"
"Emmm... kayaknya lu salah orang deh, Tam!" Sela Sylvia, yang membuat Tama terdiam.
"Mungkin yang lu liat itu Sandra, saudara kembar Dea, anak kelas IPA." sambung Sylvia.
"Oh ya?" Tama menjawab cuek begitu saja. Dia memegang kepalanya yang semakin terasa berat sejak kejadian semalam.
"Lu kenapa, Tam? sakit ya?" Tanya Dea kali ini dengan nada khawatir.
Tama menggeleng sambil memegang kepalanya.
Dea berjalan mendekati Tama kemudian memegang lengan cowok itu "Kita ke UKS yuk. muka lu udah pucet banget. udah kayak zombie tau!"
Tama menggeleng lagi.
"Badan lu panas Tama! Nurut kenapa sih?" gerutu Dea yang kali ini mulai tegas.
Dea segera menarik badan cowok itu dibantu Sylvia menuju ke UKS.
*DI UKS*
Riana sedang memberikan plester di lutut, lengan dan jari-jari Sandra yang semuanya punya goresan dan berdarah. Riana adalah anak PMR dan sedang praktek.
"Lu ngapain aja sih mpe penyok semua gini?!" ujar Riana sambil memasang plester campur kasa ke luka Sandra yang sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol.
"Ri, pelan-pelan! gue ini manusia beneran bukan boneka praktek lu!" Suara Riana terdengar agak panik.
"Gini doang!" lantas Rian menekan plester yang sudah melekat di lutut Sandra dengan sangat kuat.
"AAAARRRRGGGGHHHHH.....!!!" Hup! mulut Sandra yang sedang teriak kesakitan langsung buru-buru dibungkam oleh Riana.
Riana nyengir, "Maaf maaf... Jangan teriak histeris gitu dong, ntar dikirain orang lu di apa-apain sama gue." Riana melepaskan tangannya dari mulut Sandra.
Sandra meniup-niup lututnya "Gila lu Di! s***s banget, jangan-jangan kalau lu udah jadi dokter ntar gue jadi korban mal praktek lu!" gerutu Sandra.
"Tenang aja, kalau gue udah nemu obat baru, nanti lu orang yang paling pertama gue suruh cobain." ujar Riana.
"Kalau gue mati gimana gara-gara obat lu?! Lu kira gue kelinci percobaan apa?!"
Tiba-tiba dari arah pintu ada tiga orang manusia yang datang, Dea, Tama dan Sylvia. wajah Tama terlihat sangat pucat. dengan terburu-buru Dea membaringkan Tama di ranjang UKS.
"Ri, tolongin Tama dong! Badannya panas banget." Pinta Dea.
Riana mengangguk kemudian memegang kening cowok itu, dalam hati dia mengucap berjuta terimakasih karena udah boleh pegang-pegang nih cowok keren.
"Kayaknya Tama kena flu deh. Sandra, tolong ambilin kotak obat yang ijo itu dong!"
"Males ah! kaki gue kan masih perih banget." jawab Sandra.
"Gue cabut ke kelas dulu ya. see ya!" sambung Sandra.
"Yeeeee.... ni anak, dimintain tolong malah kabur! gue aja yang ambilin deh Ri" Ujar Dea.
Dari brangkar tempat tidurnya, Tama memandangi Dea dan Sandra secara bergantian.
Sandra juga sebelum pergi memandangi Tama yang terkulai lemah di atas tempat tidur.
Mampus lu cowok jutek! moga-moga aja Dea salah ngambil obat, terus lu keracunan, masuk rumah sakit karena parah, terus mati deh lu! hehehehehe...! Sandra membuang wajahnya sambil tersenyum nakal dan berjalan tertatih menuju kelasnya sambil memegangi lututnya yang masih terasa perih itu.